POULTRY INDONESIA, Bekasi – Sudut Kota Solo, lebih dari 30 tahun silam, terdapat sesosok anak muda yang serba berkecukupan. Hari ini ia menjelma sebagai sosok masyhur di dunia perunggasan. Namun siapa sangka, di tengah perjalanan hidupnya, tepatnya saat kuliah di Semarang, usaha orang tuanya sempat mengalami kemunduran. Demi menyambung hidup sebagai anak kost, ia pun rela berdagang dan melakukan berbagai cara yang ia sanggup. Kondisi ini tentu berbeda saat usaha orang tuanya masih bersinar. Kadang kala, cara Tuhan memang sulit ditebak dalam menyutradarai jalan hidup seseorang.
Begitulah sekelumit pengantar kehidupan Bambang Krista, salah satu tokoh perunggasan Tanah Air. Selain aktif sebagai Ketua Gabungan Pembibitan Ayam Lokal Indonesia (GAPALI), Bambang Krista telah lama berkecimpung di dunia ayam sejak awal tahun 90-an. Bambang lahir dan besar di Kota Solo, Jawa Tengah. Sejak SD hingga SMA, semua ditamatkan di kota kelahirannya.
Sejak muda Bambang bercita-cita menjadi insinyur teknik. Namun, takdir terus berkata lain. Tiga kali Bambang mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa teknik Institut Teknologi Bandung (ITB), namun perburuan itu selalu gagal. “Sejak lulus saya mendaftar di ITB, tapi tidak lolos, yang lolos malah peternakan Undip. Ya sudah saya masuk ke Undip daripada tidak kuliah,” tutur Bambang di peternakannya yang terletak di Cileungsi, Bogor, Jumat (5/1).
Ternyata semangat Bambang untuk menjadi mahasiswa ITB masih terus menyala, walaupun saat itu Bambang telah berstatus menjadi mahasiswa peternakan Universitas Diponegoro (Undip). Setahun kemudian Bambang mencoba peruntungan lagi untuk masuk ITB, hingga ketiga kalinya selalu gagal. “Saat itu saya berpikir, mungkin Tuhan lebih rela kalau saya di peternakan Undip, akhirnya saya berusaha menerimanya,” terang pria bersuku Jawa ini. Ketidakikhlasannya menjalani diri sebagai mahasiswa peternakan, membuat kuliahnya tak berjalan mulus. Nilainya jelek, kehidupannya sebagai mahasiswa justru terjerumus ke dalam lembah hitam. “Saat itu, masa muda saya penuh kejelekan, hobinya minum-minuman. Suatu ketika, terjadi kejadian yang membuat saya kapok dan akhirnya berusaha menjalani hidup yang lebih lurus,” ujar Bambang.
Keterpurukan saat itu diperparah dengan usaha orang tua mengalami kemunduran, hingga membuatnya sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Pada titik itulah, Bambang berusaha hijrah menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri. “Saya berjualan sepatu dan lain-lain untuk menghidupi diri, saat itu saya ndak mau lagi meminta uang kepada orang tua,” kenangnya.
Tak habis akal
Selepas lulus kuliah dari Fakultas Peternakan Undip, Bambang merantau ke Jakarta. Entah karena sudah menjadi garis takdir, ayah tiga anak yang sejak kuliah tidak menyukai dunia unggas ini, justru bekerja di sektor perunggasan. “Saya itu waktu kuliah tidak paham dunia unggas karena memang tidak suka. Makanya saat pertama kerja, saya tidak mengerti sama sekali apa yang harus saya kerjakan,” kenangnya. Bambang tak kehabisan akal saat hari-hari pertamanya bekerja. Berbekal gelar insinyur peternakan yang disandangnya, tentu membuatnya harus menjaga wibawa di depan anak-anak kandang. Siasatnya dengan menyuruh anak-anak kandang menyiapkan persiapan bagaimana cara chick in dan sebagainya berjalan sukses. “Awalnya ada yang berseloroh, katanya belum waktunya chick in kok harus disiapkan ini itu,” tutur Bambang mengikuti perkataan salah satu anak kandang.
Bambang yang memang cerdik dengan penuh wibawa menjawab bahwa dia ingin melihat anak-anak kandang dalam menyiapkan kandang seperti apa selama ini, apakah sudah sesuai teori yang selama ini ada di perkuliahan ataukah belum. “Padahal sebenarnya saya yang ndak tahu harus apa jika mulai chick in. Tapi demi menjaga harga diri, saya mencari cara agar tidak terkesan saya itu insinyur yang tidak ngerti apa-apa,” katanya.
Setelah melihat dengan saksama apa saja yang dilakukan anak kandang dalam menyiapkan semuanya, Bambang lantas mengulanginya di malam hari. “Jadi begini, siangnya saya melihat mereka menyiapkan ini itu, malam harinya saya ulangi lagi saat mereka terlelap tidur. Saya akhirnya menjadi paham, tapi juga tidak merasa malu,” ujarnya kepada Poultry Indonesia sambil terkekeh.
Mendalami usaha peternakan ayam telah membawa Bambang pada kehidupan yang lebih baik.
Merintis usaha ayam
Pemilik Citra Lestari Farm ini memulai usaha ayam sejak awal tahun 90-an. Berbekal pengalaman kerja di perusahaan unggas, Bambang memberanikan diri untuk merintis usaha ayam. Saat itu yang dia pelihara adalah ayam ras pedaging (broiler). “Kapasitas kandang saat itu 4 ribu ekor, namun hanya saya isi 2 ribu ekor saja,” katanya. Bambang mengaku bahwa pengalaman bekerja di perusahaan unggas membuatnya banyak mendapatkan ilmu tata cara berbudi daya. Itulah yang membuat usahanya berjalan lancar hingga banyak membuka kandang setiap tahunnya. “Sampai tahun 1997 usaha berjalan lancar, namun saat itu terjadi krisis moneter yang membuat usaha saya juga bangkrut,” kenang Bambang.
Bambang bercerita, awalnya, krisis moneter tak membuatnya gentar. Dia berkeyakinan bahwa usahanya akan tetap berjalan walau badai krisis melanda Indonesia saat itu. “Saya salah menduga, saya pikir usaha pangan ini akan tetap tumbuh karena mustahil orang tidak pada makan. Namun harga jual ternyata rendah dan tidak bisa menutup ongkos produksi,” ujarnya. Bambang saat itu salah dalam menganalisa naiknya kurs dolar yang berimbas pada naiknya bahan pakan, hingga membuat harga pakan membubung tinggi.
Kenyataan itu tak dapat ditepis. Pakan yang sudah terlanjur masuk kandang harus segera dibayar. “Dalam waktu satu minggu mobil saya habis dijual untuk menutupi utang, sisanya saya tabung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya. Setelah hancurnya usaha saat itu, Bambang berhenti total dalam beternak broiler. Dalam keadaan sulit, Bambang membuka warung kecil-kecilan untuk bertahan hidup. “Saat itu yang terpenting dapur tetap ngebul. Saya usaha menjual motor. Bekerja di kemitraan broiler juga saya lakukan,” ungkapnya.
Garis takdirnya harus dekat dengan ayam memang terbukti. Kini, usahanya dalam beternak ayam lokal menjadi roda bisnis utamanya. Jatuh bangun dalam beternak ayam sejak tahun 90-an membawanya sebagai salah satu tokoh perunggasan yang namanya terkenal dalam belantika bisnis perunggasan nasional. Citra Lestari Farm yang kini menjadi inspirasi bagi banyak orang, telah rutin menyelenggarakan workshop tentang tata cara beternak ayam lokal. “Setiap dua bulan sekali Citra Lestari Farm mengadakan workshop, selama dua hari mereka tinggal di sini,” tuturnya.
Bambang mengatakan bahwa para peserta workshop berasal dari latar belakang keilmuan dan asal daerah yang beragam. “Bahkan ada yang dari Malaysia dan Brunei yang pernah mengikuti pelatihan di sini,” katanya. Bambang mengaku senang dapat berbagi ilmu kepada siapa pun. “Banyak anak-anak muda dari perkotaan yang kini mau belajar beternak dan kotor-kotoran di kandang. Saya cukup sering menemukan peserta yang asalnya dari kota dan bukan sarjana peternakan,” tandas pria berkacamata itu.