POULTRY INDONESIA – Sultan Hasanuddin memang kalah perang setelah berperang selama bertahun-tahun. Tetapi menurut pengakuan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Cornelius Speelman, pertempuran inilah yang paling dahsyat dan terbesar serta memakan waktu yang paling lama dari yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah di bumi nusantara waktu itu. Sultan Hasanuddin dan pasukannya kemudian dijuluki Ayam Jantan dari Timur (De Haantjes van Het Osten), karena semangatnya yang pantang mundur selama berperang.
Kini, Sulawesi Selatan telah berubah. Makassar sebagai ibu kota provinsi tempat di mana Sultan Hassanudin berjuang dalam menghadapi penjajah Belanda, telah menjadi kota metropolitan dengan segala ragam pernak-perniknya. Benteng Rotterdam menjadi saksi bisu bahwa masyarakat Sulawesi Selatan merupakan tipikal masyarakat yang berdaya juang tinggi. Wajah Makassar saat ini menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan tengah tumbuh pesat.
Arah pembangunan ekonomi yang semakin merata di Indonesia yang didukung oleh kebijakan presiden untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur, akan sangat bermanfaat untuk perkembangan sektor Industri. Salah satu provinsi di Indonesia Timur yang pertumbuhan ekonominya berjalan cepat adalah Sulawesi Selatan. Menurut databoks.katadata.co.id, media penyaji data ekonomi dan bisnis, mengatakan bahwa 50 persen penyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi adalah provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya adalah sebesar 50,81 persen, disusul oleh Sulawesi Tengah 14,97 persen dan Sulawesi Tenggara 12,49 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Sulawesi Selatan juga merupakan “ibu kota” untuk wilayah Indonesia Timur. Dengan adanya mega proyek Makassar New Port, yang digadang-gadang akan menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia Timur, hal ini akan memperlancar proses keluar masuknya barang dan jasa yang akan berimbas pada tumbuhnya sektor industri, salah satunya industri perunggasan. Bisnis perunggasan sebagai salah satu agroindustri yang perputaran uangnya terbilang cepat, membuat bisnis tersebut berkembang baik di Sulawesi Selatan.
Bisnis unggas yang ada di Sulawesi Selatan sudah berjalan puluhan tahun. Adanya berbagai korporasi perunggasan yang ada di sana, membuktikan bahwa iklim ekonomi Sulawesi Selatan mendukung untuk bisnis perunggasan. Hal ini bukan tanpa alasan, selain beberapa faktor ekonomi yang telah disebutkan di atas, budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang terkenal dengan berdagang sejak ratusan tahun silam, menjadikan masyarakat Sulawesi Selatan sudah terbiasa menjalankan bisnis dalam berbagai bidang sejak jaman nenek moyang.
Bisnis perunggasan yang ada di sana juga didukung dengan bahan pakan seperti jagung yang banyak tersedia. Sentra penghasil jagung seperti Bone, Wajo, Janeponto, Bantaeng, dan beberapa kabupaten lainnya merupakan penyuplai bahan pakan untuk industri pakan ternak di Sulawesi Selatan. Tak jarang jika kondisi dalam keadaan berlebih, jagung produksi Sulawesi Selatan juga dikirim untuk kebutuhan industri pakan ternak yang ada di Pulau Jawa.
Jagung merupakan salah satu komoditas utama hasil pertanian provinsi kelahiran Wakil Presiden Jusuf Kalla ini. Jauh sebelum harga jagung membaik pada beberapa bulan terakhir, masyarakat Sulawesi Selatan sudah terbiasa menanam jagung sebagai bahan pangan utama mereka sehari-hari selain beras. Oleh karena itu, jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan bertani, secara teknis maka budaya tanam jagung yang ada di Sulawesi Selatan sudah tidak ada masalah. Selain sudah menjadi budaya, harga jagung yang kini membaik, membuat para petani jagung di Sulawesi Selatan semakin semangat dalam menggenjot produksinya.
Berdasarkan pemaparan di atas, jika melihat data yang ada, baik dari angka ekonomi maupun daya dukung usaha seperti tersedianya bahan pakan yang cukup, akankah masa depan bisnis perunggasan di Sulawesi Selatan akan semakin cerah?.