Seperti Diduga, Harga DOC Melonjak

PoultryIndonesia.com, InfoPinsar. SEPEKAN ini peternak broiler di berbagai daerah dikejutkan dengan harga DOC broiler yang melonjak naik cepat. Bibit ayam pedaging yang sebelumnya diperdagangkan dengan harga Rp 1200/ekor itu (25/8), tiba-tiba berubah menjadi Rp 1500/ekor (26/8), lalu Rp 1750/ekor (28/8) dan Senin (1/9) direncanakan Rp 2000/ekor.

Pasal punya cerita, akhir-akhir ini harga broiler besar memang sedang macet, bahkan cenderung tertekan. Di Jakarta, situasi pasar sedang dirundung sepi permintaan, meski pasok ayam juga tidak bergelimang. Terpantau harga Senin (25/8) Rp 6400/kg, Selasa (26/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6200/kg.

Sementara itu di JATIM harga broiler hidup naik, tetapi lebih banyak disebabkan oleh pasok ayam besar yang kurang, akibat dampak banyak ayam sakit selama kemarau ini. Harga terpantau Senin (25/8) dan Selasa (26/8) Rp 5700/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6000/kg. Dan di Semarang belum juga beranjak dari kisaran Rp 5900/kg (29/8).<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kemudian pasal lain biang pembuat peternak berang adalah kenaikkan ini tidak berjalan sesuai logika atau mekanisme pasar bebas yang normatif. “Yo opo rek, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba harga naik”, begitu celetuk seorang peternak di Jombang.

Dalam hukum pasar persaingan bebas, sudah pasti ada logika normatif yang mudah dimengerti dan wajar diterima oleh pelaku pasar. Logikanya jelas berbeda dengan logika penyimpangan mekanisme pasar persaingan bebas seperti dalam praktek kartel, monopoli ataupun oligopoli. Kenaikkan harga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu permintaan yang naik atau kurangnya jumlah pasokan penyebab barang langka di pasar.

Lalu ada apa gerangan ? Usut punya usut, ternyata tidak terlepas dari rasa optimisme pelaku pasar pada pekan depan. Masa akhir bulan ini adalah masa tanggung menanti harapan naiknya permintaan ayam besar. Karena tanggal muda bulan September pada pekan depan, bertepatan dengan awal bulan Rajab. Maka, pembibit-pun ikut membidik, sekalian untuk mencuri start harga tinggi DOC untuk target munggah puasa nanti. Jadi bukan soal kampanye saja yang curi mencuri start.

UNTUK kesekian kalinya harga telur ayam ras di pasar terbesar seperti DKI Jakarta seperti ‘dicucuk hidungnya’ oleh harga telur di daerah Blitar. Dalam pekan ini harga telur ayam ras (ex-farm) di pasar Jakarta cenderung turun. Terpantau Senin (25/8) Rp 6000/kg, Selasa (26/8) Rp 5900/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 5700/kg. Bahkan sebagian peternak sudah melepas di bawah itu karena termakan adu domba sang agen telur. Maka, peternak di JABOTABEKSUCI-pun seperti dipaksa menelan pil pahit.

Karakteristik mudah panik pedagang pengepul telur di Blitar menyebabkan perubahan harga berlangsung bisa seketika anjlok. Bisa dicatat, bila pukul sepuluh pagi mereka tidak mendapat order penjualan, maka seketika itu pula harga langsung dibanting. Jadi, tidak heran pula ketika hari Rabu (27/8) lalu masih Rp 5200/kg, tiba-tiba turun menjadi Rp 4900/kg (28/8) hingga Jumat (29/8).

Lalu, bagaimana harga telur dari sentra produksi telur Palembang ? Peternak layer di Palembang sekarang juga terus memantau perkembangan harga di Blitar. Menurut narasumber PINSAR, ini untuk menentukan berapa harga telur mereka lepas untuk kirim ke Jakarta. Untuk lokal mereka memiliki harga tersendiri. Tentunya sesuai trend permintaan di pasar lokalnya. “Mudah-mudahan saja, pekan depan seiring bulan Rajab, ada nasib baik bergelayung pada peternak”, harap seorang peternak.

hedol/pinsar

Musim Kemarau yang Menyengsarakan Peternak

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. DI musim kemarau panjang ini, berita duka akibat kekeringan tidak saja dialami oleh petani. Peternak di kawasan JABOTABEKSUCI yang lokasi kandangnya umumnya berada di daerah perbukitan sudah mengalami kelangkaan juga. Maka, air minum buat ternak ayamnya juga sudah mulai dipasok melalui mobil-mobil tangki yang dipesan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan ? Yang jelas ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan dan dan ini berarti biaya produksi meningkat.

Tetapi bagaimana situasi pasar broiler di tengah ancaman kekeringan dan merajalelanya penyakit yang menyerang ayam ? Menurut pelaku pasar, selama pekan ini perdagangan broiler terus mengalami kelesuan. Pelaku pasar dihadapkan pada permintaan yang cenderung melemah. Di pasar Jakarta harga broiler ditingkat peternak turun menjadi Rp 6400/kg (22/8) dari sebelumnya Rp 6600/kg yang berlangsung sejak akhir pekan lalu. Demikian juga di JATIM Rp 5700/kg dari Rp 6300/kg dan JATENG Rp 6000/kg dari  Rp 6200/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Situasi ini disebabkan oleh faktor daya beli, masa tanggung bulan, dan acara-acara hajatan di daerah yang berlangsung hanya pada momen long weekend kemarin saja. Jadi tidak ada lagi faktor yang bisa menyangga kestabilan harga.

Sementara di pasar kota-kota P. Sumatera, Makassar dan P. Kalimantan kecuali Pontianak harga broiler mulai tertekan lagi. Harga pada pekan lalu yang sedikit ada perbaikan, kini macet tak bergerak. Pasalnya, sepinya permintaan mengganjal peluang naiknya harga, padahal pasok ayam relatif sedikit.

Di tengah makin lesunya perdagangan broiler, kemarau panjang, dan ancaman kelangkaan sekam padi harga DOC broiler diperdagangkan dengan harga terus menurun. Awal pekan lalu harga ditawarkan sudah Rp 1800/ekor (19/8), lalu turun menjadi Rp 1500/ekor. Dan kini di JATIM dikabarkan hanya dijual Rp 1000/ekor. Ini berarti kesempatan buat peternak untuk mengisi kandangnya kembali dengan segala perhitungannya.

BAGI peternak layer musim kemarau ini juga sudah menimbulkan kesulitan air. Ketersediaan air yang masih bisa dimanfaatkan juga terkendala dengan kualitas yang menurun. Sehingga ancaman penyakit banyak menyerang ternaknya besar kemungkinan terjadi.

Namun di sisi lain harga telur ayam ras ex-farm dibandingkan beberapa pekan lalu sudah cukup menggembirakan, meski bukan tanpa ancaman. Di pasar DKI harga telur selama pekan ini masih bisa dipertahankan Rp 6000/kg (22/8). Kecenderungan harga menurun seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu lebih disebabkan oleh harga telur dari Blitar yang melemah.

Terpantau harga telur di Blitar Rp 5600/kg (22/8), meloncat dari Rp 5300/kg (21/8). Menurut narasumber di sana, kenaikan ini disebabkan permintaan lokal yang meningkat dan ke luar pulau Jawa yang cukup lancar. Sementara itu di harga telur Palembang terpantau Rp 5500/kg (22/8), naik dari pekan lalu Rp 4900/kg (15/8). Kenaikan ini juga amat terkait harga telur dari Blitar yang memasuki pasar Jakarta. Karena sebagian besar telur yang diproduksi Palembang juga dipasok ke sentra perdagangan di Jakarta. hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Harga Telur Menguat

Poultryindonesia.com, InfoPinsar.  APA yang diharapkan peternak layer di Jakarta dan JABAR pada pekan lalu ternyata kini terwujud. Harga telur ayam ras ditingkat peternak mulai menguat setelah beberapa pekan mengalami tekanan cukup berat. Terpantau di pasar DKI dan sekitarnya Jumat (15/8) Rp 5900/kg. Ini merupakan loncatan dari pekan sebelumnya Rp 5200/kg (9/8).

Pasal penyebabnya adalah karena harga telur di sentra produksi Blitar melonjak drastis dari Rp 5200/kg pada Kamis (14/8) lalu menjadi Rp 5600/kg pada Jumat (15/8). Dan telur dari Palembang yang masuk ke pasar Jakarta mampu disesuaikan yaitu Rp 5800/kg, meski di pasar lokal harga masih di kisaran Rp 4900/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Jika ditinjau dari indikasi permintaan, menurut beberapa keterangan pelaku pasar, sesungguhnya di pasar Jakarta belum ada peningkatan. Omset peternak maupun agen dalam sehari masih biasa saja. Akan tetapi karena pasok dari Blitar lebih ditujukkan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI), Jakarta menjadi kekurangan pasok. Sementara, peternak di Palembang juga cukup kerepotan melayani pasar lokal. Maka tidak heran, harga juga ikut terangkat.

Pada pekan depan, diperkirakan permintaan telur, khususnya di pasar daerah masih bisa dipertahankan cukup kuat. Sehingga harga telur di pasar Jakarta dan daerah akan terus cenderung menguat. Apalagi angin pembawa kabar di daerah mulai marak hajatan sudah berhembus.

UNTUK pekan ini, ‘cuaca’ bisnis broiler agak berlawanan dengan telur. Perdagangann broiler mulai meredup kembali, setelah hanya beberapa hari bergairah. Dari pandangan peternak, ini ditandai dengan mulai turunnya kembali harga broiler ex-farm. Terpantau di pasar DKI cenderung turun, Senin (11/8) Rp 6500, Selasa (12/8) s.d Rabu (13/8) Rp 6700/kg, dan Kamis (14/8) s.d Jumat (15/8) Rp 6500/kg.

Berdasarkan keterangan para pelaku pasar tergambar bahwa pasok ayam yang kini sering menjadi biang fluktuasi harga sebenarnya tidak mengalami over. Ayam tidak terlalu banyak di pasar, tetapi berdasar pantauan di lapangan permintaan memang tergolong sepi. Ditandai dengan ayam-ayam yang masih tersisa dalam keranjang milik pedagang. Bila permintaan ramai, biasanya tidak tersisa sama sekali.

Agak berbeda  situasi di pasar daerah JATIM dan JATENG. Di JATIM dan JATENG, sesungguhnya permintaan cukup kencang. Tetapi karena ayam kecil yang sakit membludak, pedagang memanfaatkan untuk menekan harga. “Kalau mereka beli yang sehat, minta dikasih potongan Rp 300. Kalau tidak, mereka belinya yang sakit”, kata narasumber PINSAR d Surabaya. Terpantau di Surabaya Jumat (15/8) Rp 6300/kg dan di Semarang Rp 6200/kg. Padahal di awal pekan bisa di kisaran Rp 6500/kg.

Sementara itu, perdagangan brolier di luar pulau Jawa, kecuali di Pontianak/Singkawang, ada sedikit perubahan. Pekan lalu laju pergerakan harga cenderung menurun, kini harga mulai membaik. Pasalnya, ayam besar mulai sedikit yang nongkrong di pasar.

Jika melihat situasi secara keseluruhan, logikanya saat ini di pasar P. Jawa lebih banyak mendapat jatah distribusi DOC broiler. Terlihat dari harganya yang juga naik menjadi Rp 1900/ekor (13/8) dari Rp 1500/ekor (12/8). Namun, optimisme harus tetap dijaga. Sebab kabarnya juga seiring long weekend, pas banyak syukuran 17-an, dan juga mulai muncul hajatan keluarga. Permintaan diharap akan semakin ramai. Semoga.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Siklus Lima tahunan yang Bikin Pusing Peternak

PoultryIndonesia.com, Pinsar. SIKLUS lima tahunan sedang melanda perunggasan nasional”, demikian komentar singkat seorang peternak Surabaya melihat jeleknya kondisi bisnis ayam selama hampir delapan bulan ini. Apa yang dimaksud dengan siklus tersebut adalah sejak dahulu setiap lima tahun sekali peternak seakan diseleksi oleh “alam” untuk diuji daya tahannya dalam bisnis ayam ini.

Namun jalan seleksi bisa saja bermacam-macam. Ditinjau dari faktor permintaan seperti daya beli masyarakat yang lemah. Atau dari segi pasokan seperti over produksi bibit sehingga ayam besarpun berlimpah, sampai pada gangguan produksi seperti oleh musim kemarau. Prinsipnya adalah peternak dihadapkan berbagai macam situasi yang selalu tidak nyaman untuk usaha.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Terhitung tahun 2003 ini sudah dua kali harga broiler di tingkat peternak terpuruk di kepala Rp 3000-an, yaitu Bulan Februari dan Maret lalu. Dan kini, sepekan terakhir tanda-tanda harga akan anjlok juga mulai nampak. Harga terpantau di pasar Jakarta turun drastis, Jumat (1/8) resminya tinggal Rp 5400/kg, tetapi realisasinya ada yang lempar ke pasar Rp 4500/kg, di JATIM Rp 4200/kg dan JATENG Rp 4600/kg.

Sedangkan di pasar luar P. Jawa sedang dalam proses jatuh bebas, Jumat (1/8) rata-rata harga broiler Rp 5000-an, terkecuali di Pontianak. Aksi banting harga menurut berbagai sumber lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan budidaya yang memiliki basis pembibitan.

Jalan apa yang sedang dilalui dalam rangka seleksi ini ? Musim lesunya permintaan selama bulan Juli-September yang berbeda dibanding tahun lalu yang cukup baik. Berdekatan tahun ajaran baru anak sekolah, musim ikan yang segera memuncak, atau masa pancaroba cuaca yang mengganggu produksi atau yang lain ?

Bercermin dari situasi harga di Pontianak yang masih fantastis yaitu Rp 8700/kg. Menurut informasi, ini disebabkan karena pasok DOC broiler ke sana sangat memperhitungkan kapasitas serap pasar. Maka dapat disimpulkan, faktor yang menyebabkan harga jatuh adalah lebih karena kelebihan pasok. Artinya ada indikasi bahwa jumlah bibit yang diproduksi tidak memperhitungkan daya tampung pasar.

Dari mana peternak broiler mulai berharap untuk bisa bertahan ? Cuma satu, yaitu harapan turunnya harga DOC broiler. Dan saat ini harga DOC ternyata juga terus melorot. Terpantau secara resmi ditawarkan Rp 1250/ekor, tetapi transaksi bisa ditawar hingga Rp 700-850/ekor. Dengan begitu peternak broiler betul-betul bisa mengisi ulang kandangnya.

TAK jauh beda dengan kondisi perbroileran, kini peternak layer juga sudah masuk pada perulangan mengalami tekanan harga yang kelewat murah. Di pasar Jakarta Jumat (1/8) tinggal Rp 5100/kg, di sentra produksi Blitar dan Palembang Rp 4500/kg. Dengan harga di tingkat peternak tersebut, ditingkat konsumen hanya Rp 6000/kg. Apa yang bisa dilakukan oleh peternak ? Tidak ada, sebab kekuatan mekanisme pasar bebas tidak mungkin bisa dikontrol.

Maka dari itu, saat ini tepat waktunya bagi peternak layer untuk mulai ikat pinggal dalam pengelolaan usahanya. Sebab dalam beberapa waktu ke depan, hampir tidak ada momen yang bisa mengangkat harga.

hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Ketika Puncak Produksi DOC Broiler Tiba

Poultryindonesia.com, Pinsar. LIBUR panjang sekolah sudah tiba. Saat yang lama dinanti siswa ini, menjadi momen untuk melepas kejenuhan disiplin sekolah. Biasanya, bagi siswa yang tinggal di daerah, tur wisata akan dilakukan menuju kota-kota besar. Tetapi, bagi siswa di kota besar lebih banyak digunakan bermain di pusat-pusat pertokoan ataupun mal. Maka tidak heran, saat ini outlet-outlet restoran siap saji fried chicken makin sesak dipenuhi sekumpulan anak-anak usia sekolah.

Logikanya, omset restoran juga melonjak. Dan pada galibnya peternak broiler juga ikut senang, karena produk usahanya juga makin laku. Maka pasal harga broiler di tingkat peternak naik juga wajar.

Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, harga broiler hidup ex-farm malah cenderung turun. Di pasar Jakarta dan sekitarnya terpantau harga resmi untuk ayam ukuran 1,6 kg ke atas macet, Senin (9/6) s.d Jumat (13/6) Rp 6400/kg. Jika dilihat terlihat stabil, tetapi sesungguhnya potongan harga sudah dimainkan secara kacau. Hal ini menurut pelaku pasar disebabkan permintaan ayam besar di pasar tradisional masih sepi. Jadi secara keseluruhan penyerapan broiler di pasar masih lemah. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Demikian juga di pasar JATIM, dibanding pekan lalu harga dalam pekan ini cenderung turun, meski selama pekan ini masih tak bergeming di Rp 6000-6100/kg. Harga broiler lebih parah lagi di daerah pertempuran dua perusahaan kemitraan terbesar. Yaitu di Tulunggagung, Trenggalek, Pare-Kediri dan Blitar, harga broiler besar di sana hanya Rp 5500/kg.

Tidak berbeda di JATENG harga broiler hidup bertahan di Rp 6000/kg.

Diprediksikan pada pekan depan situasi belum banyak berubah, bahkan resiko harga lebih terpuruk sangat besar peluangnya. “Pertengahan Juni ini, adalah puncak produksi DOC. Jadi pasok broiler sedang memasuki skala banjir ayam”, demikian ungkap narasumber PINSAR di Surabaya.

MASA libur di daerah ternyata juga banyak dimanfaatkan untuk mengadakan hajatan, karena bertepatan dengan bulan Bakda Mulud. Dari anak laki-laki yang akan dikhitan sampai ngunduh mantu (menikahkan).

Meski hajatan keluarga marak dan permintaan telur sedang mengalami kenaikan, akan tetapi harga tidak juga ada perubahan. Memasuki pekan ke-5 ini harga telur di pasar Jakarta dan sekitarnya masih bertahan di Rp 6500/kg. Padahal produksi ditengarai mulai turun, karena banyaknya ayam usia afkir sulit keluar, akibat harga jual yang terlalu murah.

 Keadaan yang sama dialami juga di daerah sentra produksi Blitar, Solo, dan Palembang. Harga adem ayem di Rp 6100/kg, Rp 5900 dan Rp 5700/kg. Sungguhpun demikian situasi pasar seperti ini lebih disukai peternak layer. “Saya lebih suka stabil seperti ini, meski tidak terlalu besar marginnya, namun hati lebih tenang”, ungkap peternak di Blitar.

DI sisi lain, harga layer afkir di Rp 5200/kg cukup mengganggu peternak. Kini sedikit melegakan. Pasalnya, kabar angin makin kencang bahwa harga DOC layer akan segera turun. Narasumber PINSAR di JATIM menuturkan harga DOC layer saat ini sudah berjalan di Rp 1000-1500/ekor. “Meski dijual tanpa merk, sesungguhnya itu produksi breeding bonafit.

Katanya, sih agar tidak merusak harga pasar”, ungkapnya. Ia juga menambahkan, jika peternak mau menahan dua minggu lagi membeli DOC layer, harga resmi pasti akan di kisaran Rp 1500-an/ekor. sam/pinsar