Maka, Melonjaklah Harga Telur

PoultryIndonesia.com, Pinsar. PUKULAN wabah penyakit yang diduga Very Virulent Newcasttle Disease (VVND) yang diderita peternak di Legok, Tangerang pekan lalu ternyata lebih dulu menghantam peternak layer di sentra produksi telur Blitar. Sisi positifnya adalah, harga telur terangkat.

PINSAR mencatat, salah satu farm berpopulasi 30.000 ekor hanya menyisakan 800 ekor hanya dalam kurun waktu sepekan. Selanjutnya isu penyebaran wabah juga sudah mencapai Pare-Kediri, Malang, Magelang dan Purwokerto dengan berbagai angka kematian yang simpang siur.

Namun begitu sebagian besar pihak yang terkait masih bertanya-tanya apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Sementara isu penyebaran lebih gencar terjadi di kalangan technical service (TS), khususnya dari perusahaan obat hewan. 

Sedangkan dari hasil investigasi lapangan oleh beberapa wartawan perunggasan hanya menunjukkan kematian yang tidak berarti. Apapun yang sesungguhnya terjadi, pihak pemerintah seharusnya segera menyimpulkan jenis penyakit yang sangat ditakutkan peternak layer itu. Dalam hal ini pihak Dirjen Kesehatan Hewan harus segera memberi penjelasan secara terbuka jenis penyakit apa yang sesungguhnya sedang mewabah. Dan sejauh mana tingkat resiko yang ditimbulkannya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Meskipun untuk sementara, dampak dari banyaknya kasus kematian menimbulkan lonjakan harga telur yang sangat fantastis. Hasil pantauan PINSAR di pasar DKI harga telur ex-farm Jumat (17/10) melonjak tajam menjadi Rp 8000/kg dari pekan sebelumnya Rp 5800/kg (11/10). Menurut peternak tingginya kematian ayam dalam kasus penyakit kali ini berakibat produksi telur terpangkas, sehingga pasok barang cenderung kosong. Apalagi peristiwa ini terjadi di tengah permintaan yang cukup tinggi berkenaan dengan masa ruwahan.

Di pasar daerah JATIM yang menjadi salah satu daerah endemi situasi harga juga menujukkan perubahan sangat ‘radikal’. Harga telur di Blitar pekan lalu hanya Rp 5150/kg (10/10), hari ini Jumat (17/10) Rp 7200/kg. Berdasar keterangan pelaku pasar di sana, faktor penyebabnya dampak wabah penyakit yang sama. Apalagi permintaan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI) sedang melonjak. Agaknya acara semacam megengngan (menyambut bulan Ramadhan) bagi orang Jawa masih cukup kuat mendongkrak permintaan telur.

Sejauh mana kenaikan ini akan terus berlanjut ? Dipastikan juga akan memukul balik bahwa konsumen mulai enggan makan telur.

UNTUK situasi bisnis broiler pekan ini, kenaikan harga broiler hidup yang disebabkan cukup tingginya permintaan berlangsung sejak tujuh hari terakhir. Tetapi memasuki akhir pekan ini, keadaannya mulai diliputi makin sepinya permintaan. Terpantau di Jakarta Senin (13/10) Rp 7500/kg, Selasa (14/10) Rp 7700/kg, Rabu (15/10) s.d Kamis (16/10) Rp 7800/kg, dan Jumat (17/10) Rp 7600/kg. Cukup tingginya permintaan, tidak terlepas dengan masa ruwahan yang berlangsung.

Sedang di pasar JATIM dan JATENG juga menunjukkan situasi yang tidak berbeda. Terppantau di Surabaya naik menjadi Rp 7200/kg (17/10) dari pekan lalu Rp 6100/kg (11/10) dan Semarang naik menjadi Rp 7100/kg dari sebelumnya Rp 6300/kg (11/10).

Namun keadaan ini sangat disayangkan peternak broiler, sebab kenaikan ini sebelumnya disambut kenaikan harga bibitnya menjadi Rp 3000/ekor (13/10) dari sebelumnya Rp 2500/ekor. hedol

 

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Persiapan Pasokan Daging Hari Raya Cukup untuk 90 Hari

PoultryIndonesia.Com, Jakarta. Pemerintah akan menyiapkan pasokan daging sapi, daging ayam, dan telur untuk kebutuhan hari raya Lebaran dan Natal 2003, serta Tahun Baru 2004, yang cukup untuk kebutuhan 90 hari. Jumlah pasokan yang disiapkan ini lebih panjang dibandingkan dengan persiapan hari raya sebelumnya yang hanya cukup untuk 50 hari. Agar pasokan tak terganggu, ekspor ayam berumur sehari (DOC) dilarang diekspor selama Oktober. Untuk menutup kekurangan pasokan daging sapi, akan diimpor sapi bakalan dan daging beku. Masalah sebenarnya bukan : apakah sudah cukup atau tidak. Tapi, masalah yang menghantui adalah, berlebihnya pasokan sehingga membuat harga produk peternakan jatuh.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian Sofjan Sudardjat di Jakarta, Kamis (9/10), mengatakan, pemerintah telah menghitung dan menyiapkan pasokan kebutuhan daging sapi, daging ayam, dan telur ayam untuk hari raya Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

“Untuk kali ini tidak lagi disiapkan selama 50 hari, tetapi untuk 90 hari. Jadi, untuk kali ini lebih berat. Dasar penyiapannya adalah 15 hari sebelum puasa dan 15 hari setelah puasa. Selain itu, juga 15 hari sebelum Natal dan Tahun Baru, juga 15 hari setelah Natal dan Tahun Baru,” katanya.

Penyiapan seperti ini dilakukan karena jarak antara satu hari raya dan hari raya lainnya hanya sekitar satu bulan sehingga harus disiapkan lebih panjang.

Selama masa itu dibutuhkan daging sapi berupa 116.930 sapi dengan rincian 79.570 sapi lokal dan 37.360 ekor sapi bakalan impor. Adapun daging beku impor diperkirakan mencapai 7.400 ton. Jumlah ini merupakan jumlah kebutuhan rutin dan tambahan untuk hari raya.

Kebutuhan sapi dari dalam negeri akan dipasok antara lain dari Lampung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT.) Adapun daging impor diperkirakan dari Australia.

Dengan pasokan itu, diperkirakan daging yang tersedia sebanyak 41.000 ton. Jumlah ini sudah memadai karena kebutuhan daging selama hari raya sekitar 32.125 ton. “Ketersediaan daging selama itu diperkirakan aman serta tidak akan mengalami lonjakan harga,” kata Sofjan.

Sementara itu, pasokan daging ayam sekitar 104 juta ekor. Seluruh pasokan berasal dari dalam negeri antara lain dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. “Sentra- sentra industri perunggasan di wilayah tersebut kapasitasnya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hari raya,” kata Sofjan.

Larangan impor DOC

Agar pasokan dalam negeri tetap terjamin, rapat perunggasan yang dilakukan pemerintah telah memutuskan bahwa ayam umur sehari (day old chicken/DOC) sejak minggu pertama hingga minggu ketiga Oktober dilarang diekspor.

Adapun pasokan telur ayam selama 90 hari diperkirakan mencapai 108.900 ton. Kebutuhan selama hari raya diperkirakan meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan pada hari-hari biasa.

Impor diperketat

Meski sebagian kebutuhan daging selama hari raya harus dipenuhi dari impor, Sofjan menegaskan pihaknya tetap memperketat pemeriksaan impor daging, terutama dari negara endemik penyakit.

Munculnya daging selundupan dan daging impor dari beberapa negara yang tidak terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), menjadikan pihaknya mewaspadai masuknya daging impor.

“Peti kemas-peti kemas yang berisi produk-produk makanan meragukan akan diperiksa untuk mencegah masuknya daging ilegal. Bahkan, kami meminta agar produk yang dibawa dengan ditenteng diperiksa,” kata Sofjan.

Masalah lain yang mungkin muncul terkait dengan penyiapan daging untuk hari raya, menurut Sofjan, adalah adanya pungutan resmi dan tidak resmi di sepanjang jalur transportasi produk peternakan yang belum tuntas penyelesaiannya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar semua pihak memberi dukungan terhadap kelancaran transportasi produk peternakan seperti gerbong untuk angkutan ternak dan bongkar muat di pelabuhan.

Untuk pengamanan kesehatan hewan, Departemen Pertanian telah melakukan pemberantasan dan pengendalian penyakit hewan menular terutama penyakit antraks. “Kita berharap tidak ada lagi keluhan daging yang tidak sehat. Kita berusaha menjamin ketersediaan produk pangan hewani yang aman, sehat, utuh, dan halal,” kata Sofjan.

Isu kenaikan harga juga akan terjadi pada saat menjelang hari raya, terutama terkait dengan masuknya sapi bakalan impor. Ia mengaku kemungkinan harga daging tidak akan naik drastis. Akan tetapi, perlu dipikirkan insentif untuk peternak sapi dalam negeri. and/kcm

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Harga Broiler ‘Rada’ Membaik

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. HARGA broiler yang mengalami stagnasi selama beberapa pekan terakhir, memasuki awal pekan ini sudah mulai bergeliat. Di pasar DKI harga broiler ex-farm menjadi Rp 6600/kg (1/10) dari sebelumnya Rp 6400/kg (30/9). Demikian juga di Surabaya dari Rp 5800/kg menjadi Rp 6100/kg dan di Semarang dari Rp 6000/kg menjadi Rp 6400/kg.

Tetapi kecenderungan naik ini lebih banyak disebabkan kurangnya pasok ayam besar (1,6 kg >). Pasalnya, disamping faktor kondisi cuaca, karena kualitas bibit yang kurang baik menyebabkan tingkat mortalitas ayam tinggi. Faktanya, banyak dilaporkan peternak tingkat kematian lebih dari 10 persen. Dan performan broiler yang mampu bertahan juga jelek. “Ayam saya satu kandang mati 3000 ekor dari 10 ribu, yang tersisa ternyata juga tidak bisa besar”, ungkap sang peternak asal Madiun.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Dari segi permintaan sendiri, patut diakui ada sedikit kenaikan. Setidaknya ini diakui oleh kalangan pedagang dan peternak sendiri. Salah seorang pedagang ayam di Bekasi menuturkan bahwa saat ini permintaan ayam cukup bagus dibanding bulan September lalu. “Mungkin karena awal bulan ini bertepatan dengan Ruwahan (bulan Ruwah), sehingga acara-acara hajatan keluarga cukup menjamur di mana-mana” ujarnya.

Jika mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan pasokan, sepantasnya kenaikan harga broiler bisa lebih dari yang terjadi sekarang ini. Dan peternak pantas berharap demikian, sebab sepanjang tahun ini peternak sudah jungkir balik menjalankan usahanya tanpa hasil.

Tetapi karena secara keseluruhan produksi DOC sudah melebihi kapasitas serapan pasar ( > 25 juta ekor/minggu), maka hampir tidak mungkin itu terjadi. Atas dasar inilah salah satu pelaku di Surabaya yakin pekan depan bahkan menjelang munggahan, harga broiler tidak bisa menembus Rp 7000/kg. Harga yang pantas untuk meng-cover harga bibitnya yang selangit yaitu Rp 2600/ekor.

DARI dunia bisnis telur ayam ras nasional hingga saat ini keadaannya terus “digelayuti awan mendung”. Tercatat sudah lima pekan terakhir harga telur di tingkat peternak, khususnya di pasar megapolit Jakarta tertekan di bawah Rp 5500/kg. Bahkan sejak awal Juli 2003 lalu harga tidak lebih dari Rp 6000/kg. Maka tidak heran sebagian kalangan peternak layer menilai tahun 2003 ini menjadi tahun krisis bagi peternak layer.

Sedangkan di pasar daerah, khususnya di daerah sentra produksi telur, kondisi ini sudah mulai membuat peternak gerah. Dari Blitar diberitakan bahwa harga telur lokal di tingkat peternak Rp 4800/kg (3/10) sudah membuat peternak ‘berteriak’ keras. Apalagi harga pakan kabarnya akan dinaikkan lagi sebesar Rp 50/kg (6/10), padahal baru naik Rp 25/kg (29/10). 

Meski menurut catatan Pinsar trend perubahan harga naik, tetapi dipastikan tidak akan berlanjut. Ini menjadi bukti bahwa pasar sudah tidak mampu lagi menyerap semua telur yang diproduksi. Tragisnya bagi peternak di JABOTABEKSUCI, Jakarta menjadi tempat pembuangan telur dari berbagai penjuru. Jadi, tidak terasa ‘banjir telur’ sudah melanda Jakarta sejak kemarin. Tapi, korbannya hanya sebatas peternak layer.

DI pasar DOC dalam pekan ini, bibit ayam layer secara resmi ditawarkan Rp 1500/ekor, tetapi deal transaksi hanya Rp 800/ekor, sedangkan bibit ayam broiler penawaran oleh pembibit Rp 2000/ekor, tetapi hanya laku Rp 1800/ekor.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Tahun ini, Peternak Layer Tidak ‘Happy’

Poultryindonesia.com, InfoPinsar.  BILA dibandingkan tahun 2002 lalu, situasi bisnis telur ayam ras tahun ini jauh lebih buruk, khususnya pada bulan September seperti ini. Pasalnya hingga saat ini rata-rata harga telur ayam ras -sebagai contoh di pasar Jakarta- selama bulan September ini hanya mencapai Rp 5300/kg, bandingkan dengan tahun lalu pada bulan yang sama sebesar Rp 6500/kg.

Bagi sebagian kalangan yang kurang cermat dan hanya didasarkan pada analisis cash flow, harga impas (BEP) telur hanya Rp 5200/kg. Akan tetapi bila dihitung secara teliti yang memperhitungkan biaya tetap (fixed cost) terutama penyusutan BEP menjadi Rp 6600/kg. “Jadi tidak heran, bila saat ini peternak terpaksa nombokin bila ada peralatan kandang yang rusak atau onderdil mobil angkutannya yang harus diganti”, ungkap narasumber PINSAR.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Pengungkapan peternak layer senior di Jakarta ini cukup mengejutkan. Karena bila itu benar, maka situasi seperti sekarang ini merupakan masa seleksi alam peternak petelur di Indonesia. Siapa yang mampu bertahan pada waktu mendatang, dia yang akan bisa berkembang.

Ada fakta yang melatarbelakangi kesimpulan itu. Yaitu banyaknya peternak layer yang melakukan ekspansi besar-besaran sejak akhir tahun 2002 lalu dengan menyebabkan produksi telur secara nasional surplus hingga 30%. Seorang narasumber di Palembang dan JABOTABEK membenarkan hal itu. “Di Palembang setidaknya seorang peternak kini memiliki populasi ayam 20% lebih banyak dibanding tahun lalu”, ungkapnya.

Faktor inilah yang sesungguhnya menyebabkan harga telur selama ini macet, tidak juga beranjak dari keterpurukan. Karena bila faktor utamanya sudah kelebihan populasi, maka tidak ada yang bisa menghindari proses seleksi, kecuali bila ada peningkatan daya beli masyarakat yang mencolok, sehingga penyerapan telur di pasar meningkat.

Selama pekan ini kondisi harga juga belum menukkan perubahan yang berarti. Di pasar Jakarta terpantau Senin (22/9) s.d selasa (23/9) Rp 5100/kg, Rabu (24/9) Rp 5300/kg, dan Kamis (25/9) s.d Jumat (26/9) Rp 5500/kg. Meski terlihat naik, tetapi masih jauh dari harga impas. Di Blitar Senin (22/9) Rp 4800/kg, Jumat (26/9) Rp 5000/kg, sedang Palembang di pasar lokal Rp 4900/kg (26/9), namun untk pengiriman ke Jakarta Rp 5400/kg.

APA yang terjadi di bisnis telur sudah lebih dulu terjadi di bisnis broiler. Secara keseluruhan produksi DOC broiler saat ini sudah lebih dari 25 juta ekor/minggu. Ini melebihi kebutuhan untuk penyediaan daging broiler yang tidak lebih dari 19 juta ekor/minggu. Pasalnya kondisi harga broiler yang menjadi cermin daya serap dan pasokan menunjukkan indikasi demikian.

Saat ini tinggal dibawa kemana DOC sisa dari kebutuhan didistribusikan, dipastikan daerah itu akan klebihan pasok dan harga brpoiler hidup akan anjlok. Saat ini harga broiler yang paling terpuruk di Pekanbaru, Riau, dan Medan yaitu berkisar Rp 4000/kg, penyebabnya karena kelebihan pasok. Beberapa lalu dialami oleh Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara di pasar P. Jawa selama pekan ini harga masih stagnan Rp 6400/kg di Jakarta, Rp 6000/kg di JATENG dan Rp 5800/kg di JATIM. Meski begitu, menurut beberapa peternak karena harga DOC broiler saat itu Rp 2000/ekor, ada sedikit margin yang bisa menjamin usaha mereka tetap berjalan. Bagaimana beberapa pekan ke depan hingga munggah puasa, karena harga DOC saat itu antara Rp 2300-3000/ekor ? “Mudah-mudahan bisa Rp 7000/kg”, harap seorang peternak di Jember.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Harga Broiler Jeblok, Harga DOC Melambung

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. Megawati mengeluh pusing mengurus negara ini. Sebagai seorang kepala negara, tidak sepatutnya itu terjadi.Loyo bener dia. Maka wajar bila presiden kita yang menurut MEDIA disebut sebagai presiden ‘ayam sayur’  ini menuai banyak kecaman dari berbagai pihak. Mengeluh dalam konteks kenegaraan hanya boleh dilakukan oleh rakyat seperti peternak. Bukan untuk menjadi kebiasaan, tetapi karena fakta sumber ‘periuk nasinya’ terancam gulung tikar. Seperti dua pekan terakhir ini, peternak broiler dikejutkan lagi oleh kenaikan harga DOC broiler yang dirasa kurang wajar.

Salah satunya dirasakan oleh narasumber PINSAR di Tulungagung. Di tengah situasi harga broiler yang macet, harga DOC naik cukup fantastis. Dari Rp 2300/ekor (13/9) menjadi Rp 2600/ekor (15/9) lalu Rp 3000/ekor (17/9).<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Alasan utama kenaikan ini sesungguhnya adalah karena sebulan mendatang bertepatan dengan jatuhnya tradisi munggah puasa. Dan patut diakui, ternyata daya tarik momen tersebut masih kuat dalam benak peternak broiler. Sehingga tak luput dibidik kalangan pembibit untuk menaikkan harga bibit ayamnya.

PINSAR mencatat harga broiler hidup sebulan terakhir di tingkat peternak memang bisa dibilang menujukkan stagnansi, khususnya di pasar P. Jawa. Di wilayah  Jakarta, Banten dan sebagian JABAR tak beringsut dari Rp 6200-6500/kg, di JATIM tak bergerak dari Rp 5700-5800/kg dan di JATENG Rp 6000/kg. Meskipun pasokan ayam besar (1,6 kg >) terbilang kosong, tetapi karena situasi permintaan masih sepi, maka harga tak mampu mengikuti pergerakan DOC broiler.

Sementara di pasar kota-kota P. Sumatera dan Kalimantan, perubahan harga broiler hidup selama pekan ini bervariatif. Harga broiler hidup cenderung turun di kota-kota Makassar, Medan, Padang dan Pekanbaru. Sementara di Lampung, Palembang, Denpasar, Banjarmasin dan Samarinda cenderung naik. Akan tetapi ternyata bukan faktor permintaan yang menyebabkan perubahan tersebut, tapi lebih disebabkan pasokan.

Bagaimana situasi perubahan harga broiler hidup di pekan depan ? Sebagian kalangan pesimis, karena masa tanggung bulan sudah menjelang. Dengan daya beli yang rendah, kondisi keuangan rakyat terpuruk, maka keinginan mengenyam makan daging ayam mungkin dalam daftar acara sebulan sekali saja.

MASIH terpuruknya harga telur ayam ras di tingkat peternak hingga saat ini sangat membuat frustasi peternak. Di pasar Jakarta harga hanya sedikit bergerak naik yaitu dari Rp 5000/kg (17/9) menjadi Rp 5200/kg (19/9). Sedangkan di Palembang tetap Rp 4500/kg dan di Blitar Rp 4500/kg.

Menurut sebagian kalangan, situasi ini adalah dampak dari populasi yang produksinya sudah melebihi batas kebutuhan telur (over suplai). Keadaan ini sangat mudah dimanfaatkan para agen telur, sebab akses mereka terhadap sentra-sentra produksi semakin kuat. Di sisi lain peternak yang mudah panik dan diadu domba menurunkan posisi tawar dalam negosiasi harga.

Khusus di JABOTABEK, meski harga DOC layer kini melorot sampai Rp 1500/ekor, tidak juga membuat peternak cukup bergairah untuk membelinya. Pasalnya, harga layer afkir masih juga terpuruk, harga terpantau PINSAR bervariasi antara Rp 4800-5200/kg.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com