Harga Telur Masih Dibawah BEP

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. Harga telur sepanjang tahun ini  terus mengalami tekanan. Hingga sepekan terakhir, terpantau  di pasar DKI Jakarta turun menjadi Rp 5100/kg sejak awal pekan ini dari Rp 5400/kg pada pekan lalu. Sementara di sentra produksi Blitar dan Palembang hanya Rp 4500 dan Rp 4550/kg, bahkan sempat sampai Rp 4200/kg. Dan ini masih sangat jauh dari harga impas (BEP), yang menurut salah seorang peternak sesungguhnya Rp 6600/kg.

BEBERAPA surat kabar ibukota memberitakan pernyataan menteri keuangan yang mengatakan bahwa situasi perekonomian Indonesia saat ini mulai membaik dan stabil. Indikatornya yang bermacam-macam itu sepertinya tidak klop dengan cara ‘mata’ peternak melihat kenyataan. Di mata peternak, situasi bisnis telur ayam ras seperti ini bisa dijadikan salah satu cara membaca keadaan ekonomi kita. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Bagaimana tidak makin parah, rakyat untuk membeli telur saja sudah kesulitan”, demikian komentar peternak dalam melihat kondisi ekonomi kita. Pasalnya, hampir sepanjang tahun ini harga telur ayam ras terus mengalami tekanan. Dan diduga penyebabnya adalah daya beli masyarakat yang makin melemah.

Berdasarkan catatan PINSAR, harga telur sepanjang tahun ini memang terus mengalami tekanan. Hingga sepekan terakhir ini, terpantau  di pasar DKI Jakarta turun menjadi Rp 5100/kg sejak awal pekan ini dari Rp 5400/kg pada pekan lalu. Sementara di sentra produksi Blitar dan Palembang hanya Rp 4500 dan Rp 4550/kg, bahkan sempat sampai Rp 4200/kg. Dan ini masih sangat jauh dari harga impas (BEP), yang menurut salah seorang peternak sesungguhnya Rp 6600/kg.

Benarkah penyebab rusaknya harga telur selama ini hanya karena faktor daya beli masyarakat yang makin lemah ? Pendapat peternak di atas belum sepenuhnya benar. Kondisi ini juga tidak terlepas dari jumlah populasi yang meningkat tajam. Setelah banyak peternak layer meningkatkan populasi kandang sejak awal tahun ini. Maka tidak heran bila ada yang memperkirakan pasar Jakarta saat ini kelebihan pasok telur sampai 600 ton/hari.

Salah satu indikator yang memperkuat alasan ini adalah harga DOC layer yang juga terus tertekan hanya Rp 1500/ekor. Ini disebabkan oleh produksi DOC yang sudah terlalu berlebih. Oleh sebab itu, hingga akhir tahun ini, kecil harapan harga telur akan membaik.

BELUM juga peternak broiler beranjak dari tekanan situasi harga broiler yang macet, kini dikejutkan dengan kenaikan harga DOC broiler yang melonjak. Dari sebelumnya Rp 1800/ekor (8/9) menjadi Rp 2300/ekor (11/9) dan Senin (15/9) direncanakan Rp 2500/ekor.

Padahal sudah dua pekan terakhir ini harga broiler ex-farm di pasar Jakarta stagnan Rp 6500/kg. Demikian juga di pasar JATENG Rp 6000/kg dan JATIM Rp 5800/kg. Menurut narasumber PINSAR, jumlah pasokan broiler hidup sesungguhnya tidak terlalu banyak, tetapi karena daya beli yang sangat lemah menyebabkan harga tak beranjak.

Sementara itu situasi perdagangan broiler di luar P. Jawa sepekan terakhir mengalami lesu darah. Di P. Kalimantan kecuali Pontianak dan P. Sumatera harga broiler cenderung menurun. Padahal harga DOC di sana relatif mahal, rata-rata di atas Rp 2000/ekor. Sedangkan di Makassar harga broiler mulai menanjak kencang setelah dua pekan lalu dihantam pasok yang berlebih. Di sana kini harga broiler hidup Rp 7300/kg (12/9) naik dari sebelumnya Rp 5800/kg (6/9).

Melihat kondisi tersebut pekan depan harga broiler diperkirakan tidak banyak berubah. Tetapi resiko turun akan terbuka lebar, disebabkan tanggung bulan akan menjelang, dan bulan Rajab yang ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Itulah bukti masyarakat makin miskin.

hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Produksi Telur Nasional Sudah Melebihi Kebutuhan

PoultryIndonesia.Com, InfoPasar. BULAN Rajab salah satu bulan baik bagi umat Muslim dan awal bulan September pun telah menjelang. Maka, sejak pekan lalu, momen ini diharapkan peternak bisa membuka peluang permintaan ayam maupun telur ayam ras mulai menanjak.

Untuk telur ayam ras, situasi pasar – khususnya di pasar DKI –diliputi persoalan tersendatnya proses replacement ayam petelur. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Pasalnya beberapa bulan terakhir, harga ayam tua masih juga berkutat di kisaran rendah Rp 5000-an/kg (5/9), sehingga memaksa peternak JABOTABEKSUCI menahan pengafkiran, meski produksi menjadi menurun. Dengan begitu, pasokan barang tidak terlalu banyak dan harga bisa sedikit terangkat.

Tetapi, pada kenyataan harga yang diharapkan peternak dapat naik malah cenderung tertekan. Usaha menaikkan harga dari titik kritis (BEP) ternyata gagal. Karena mekanisme pasar berlangsung secara wajar. Telur dari berbagai daerah yang cenderung over (berlebihan) dari kebutuhan daerah itu sendiri seperti : Semarang, Solo, Blitar, Lampung, Singkawang, Medan dan Palembang mengalir deras ke Jakarta. Pantas saja, harga telur ayam ras ditingkat peternak di pasar Ibukota ini mentok Rp 5400/kg selama pekan ini.

Sementara di pasar daerah sentra produksi terbesar seperti di Palembang dan Blitar masih tetap Rp 4800/kg. Usaha menaikkan menjadi Rp 5000/kg tidak juga mampu, karena permintaan telur untuk kawasan Timur Indonesia (KTI) masih ‘dingin-dingin’ saja. Bagaimana untuk pekan depan ? Seorang peternak layer di Jakarta mengatakan : “Saat ini populasi ayam petelur sudah berlebihan. Jadi produksi telur secara nasional sudah melebihi kebutuhan. Bahkan, jangan harap munggah puasa dan lebaran nanti harga akan bagus”, ungkapnya.

UNTUK broiler, situasi pasar dikabarkan dengan jumlah pasokan yang tidak terlalu banyak. Pasalnya beberapa pekan lalu, kasus kelangkaan air akibat kemarau dan buruknya cuaca mampu mengurangi produksi. Dengan begitu, seharusnya harga broiler bisa mambaik. Tetapi yang terjadi adalah tarik ulur harga terutama peternak mandiri dengan integrator, khususnya di pasar JABOTABEK.

Peternak mandiri melepas harga relatif stabil di Rp 6500/kg untuk ayam ukuran ukuran 1,6 ke atas. Sedangkan ayam dari kandang perusahaan kemitraan (PT) dilepas dengan memberi potongan Rp 200-300/kg. Dengan situasi permintaan yang stabil, seharusnya itu tidak terjadi. Bahkan saat awal pekan ini (2/9), harga broiler sempat naik menjadi Rp 6700/kg.

Keadaan yang sama juga dialami pasar JATIM dan JATENG. Di JATIM harga menurun dari Rp 6200/kg (1/9) menjadi Rp 5800/kg dan di JATENG dari Rp 6000/kg di awal pekan menjadi Rp 5900/kg. Sedangkan untuk pasar di luar P. Jawa perubahan harga broiler bervariasi. Di kota-kota P. Sumatera perdagangan broiler makin melemah. Di tandai dengan harga yang cenderung menurun. Kondisi paling parah dialami Makassar, harga broiler di sana sempat anjlok Rp 3500/kg. Menurut narasumber PINSAR di sana, keadaan ini disebabkan over supplay, khususnya dari kandang-kandang kemitraan besar.

DI pekan ini isu bahwa harga DOC layer mengalami penurunan drastis dari Rp 2300/ekor menjadi Rp 1500/ekor menjadi berita yang terbuka. Ini berarti penawaran masih Rp 2300/ekor, tetapi bisa diterima Rp 1500/ekor. hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Gejolak Broiler Belum Akan Reda

Poultryindonesia.com, AnalisaPasar. Dalam 8 (delapan) bulan pertama  di tahun 2003, harga ayam broiler ex-farm mengalami penurunan harga selama dua kali. Yang pertama dalam tempo yang agak panjang, yaitu Februari – Maret – April, berikutnya Juli – Agustus. Pada pusat-pusat produksi peternakan mempunyai angka ekstrim (terendah) berbeda-beda. Namun yang pasti,  peternak broiler menderita rugi bila panen kala itu karena harga jualnya di bawah pokok produksi.

Poultry Online melihat, penyebab penurunan harga pada periode pertama, tidak terlepas dari lewatnya masa peak seasons tahun 2002, yakni Puasa, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. (yang dimulai Oktober sampai Desember). Celakanya, libur kerja dalam rangkaian itu menjadi terlalu panjang. Masyarakat urban umumnya mengambil cuti panjang dan pulang kampung untuk bersenang-senang dengan keluarga.

Setelah itu mereka harus bekerja kembali untuk mendapatkan penghasilan. Jadi memasuki tahun 2003 daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok hidup sebenarnya pada kondisi ‘prihatin’. Kemudian ditambahi lagi oleh pengumuman rencana kenaikan biaya listrik dan telpon dan BBM, yang belum apa-apa sudah memicu kenaikan kebutuhan pokok hidup lainnnya. Lengkap sudah keprihatinan masyarakat.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Rendahnya harga broiler di Jawa Timur – sebagai propinsi pusat peternakan kedua – juga diperparah dengan Tragedi Bom di Bali, ayam-ayam hidup yang secara berkala dikirim ke Bali, karena industri pariwisata di sana ‘lumpuh’, akhirnya membanjiri pasar setempat atau putar arah ke barat (Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta) yang masing-masing sebenarnya sudah punya jatah pasokan sendiri-sendiri.

Terpuruknya harga ayam broiler, secara langsung mengganggu permintaan DOC broiler. Ayam yang seharusnya dipanen, terlambat diambil sehingga menumpuk di kandang. Harga DOC broiler mau tidak mau turun. Bahkan dalam puncak kemerosotan harga DOC broiler,  peternak tidak mau membeli karena harga ayam besarnya masih belum menguntungkan.

Dengan kemerosotan harga yang berlangsung hampir tiga bulan penuh, bisa dibayangkan kerugian peternakan broiler yang melakukan pemanenan seminggu sekali, seminggu dua kali, bahkan setiap hari.

Setelah ayam terjual habis, melewati periode ini biasanya harga merangkak naik. Pemasukan ayam di kandang biasanya tidak penuh,  bahkan ada yang kosong karena kehabisan modal. Produksi DOC dari pembibitan juga terkurangi.

Maka dalam kurva harga pada Mei – Juni harga kembali tinggi, bahkan di beberapa tempat di luar pulau Jawa harga broiler  bisa mencapai Rp 9000/kg (Kaltim) – bandingkan dengan harga di tempat yang sama ketika jatuh (Maret – April) bisa mencapat Rp 3500 – 4000/kg.

Saat harga ayam besar bagus, produsen DOC ikut menaikkan harga jual produknya. Bukan lantaran panen ayam besarnya nanti dipastikan bagus, tapi karena peternak sudah punya modal untuk membeli bibit berikutnya. Alasan berikutnya, menaikkan harga dalam suasana hati peternak happy adalah perbuatan yang masuk di akal.

Sayang sekali kenaikan harga pada kali ini tidak berlangsung lama, akhir Juli – awal Agustus adalah libur akhir sekaligus awal tahun ajaran baru. Sudah mentradisi, pada masa-masa ini anggaran keluarga dialokasikan untuk keperluan pendidikan anak. Makan daging dan telur yang untuk masyarakat tertentu masih dianggap mewah, jelas dikurangi.

Lebih seru lagi, setelah diberlakukan otonomi kampus, sejumlah perguruan tinggi negeri menaikkan biaya pendidikan di awal tahun ajaran baru ini.

Dari sisi produksi bibit, sejumlah pembibitan mengaku masih mengurangi produksi sebagai program lanjutan periode sebelumnya, dan peternak mengakui jumlah pemasukan bibit tidak banyak, tapi karena semata-mata serapan pasar yang lemah, harga broiler hidup dan DOC broiler turun lagi pada Juli – Agustus ini.

Harga ayam jelek dan di sejumlah tempat mengalami kekeringan. Kedua faktor ini mengurangi minat beternak. Maka akhir Agustus atau awal September harga ayam akan naik, apalagi akan disambung dengan awal puasa yang jatuh pada Oktober, dilanjutkan Idul Fitri (November) dan Natal (Desember). Semoga puncak permintaan pasar broiler pada 2003 itu dapat membahagiakan pelaku bisnis peternakan.mul/and

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Seperti Diduga, Harga DOC Melonjak

PoultryIndonesia.com, InfoPinsar. SEPEKAN ini peternak broiler di berbagai daerah dikejutkan dengan harga DOC broiler yang melonjak naik cepat. Bibit ayam pedaging yang sebelumnya diperdagangkan dengan harga Rp 1200/ekor itu (25/8), tiba-tiba berubah menjadi Rp 1500/ekor (26/8), lalu Rp 1750/ekor (28/8) dan Senin (1/9) direncanakan Rp 2000/ekor.

Pasal punya cerita, akhir-akhir ini harga broiler besar memang sedang macet, bahkan cenderung tertekan. Di Jakarta, situasi pasar sedang dirundung sepi permintaan, meski pasok ayam juga tidak bergelimang. Terpantau harga Senin (25/8) Rp 6400/kg, Selasa (26/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6200/kg.

Sementara itu di JATIM harga broiler hidup naik, tetapi lebih banyak disebabkan oleh pasok ayam besar yang kurang, akibat dampak banyak ayam sakit selama kemarau ini. Harga terpantau Senin (25/8) dan Selasa (26/8) Rp 5700/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6000/kg. Dan di Semarang belum juga beranjak dari kisaran Rp 5900/kg (29/8).<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kemudian pasal lain biang pembuat peternak berang adalah kenaikkan ini tidak berjalan sesuai logika atau mekanisme pasar bebas yang normatif. “Yo opo rek, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba harga naik”, begitu celetuk seorang peternak di Jombang.

Dalam hukum pasar persaingan bebas, sudah pasti ada logika normatif yang mudah dimengerti dan wajar diterima oleh pelaku pasar. Logikanya jelas berbeda dengan logika penyimpangan mekanisme pasar persaingan bebas seperti dalam praktek kartel, monopoli ataupun oligopoli. Kenaikkan harga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu permintaan yang naik atau kurangnya jumlah pasokan penyebab barang langka di pasar.

Lalu ada apa gerangan ? Usut punya usut, ternyata tidak terlepas dari rasa optimisme pelaku pasar pada pekan depan. Masa akhir bulan ini adalah masa tanggung menanti harapan naiknya permintaan ayam besar. Karena tanggal muda bulan September pada pekan depan, bertepatan dengan awal bulan Rajab. Maka, pembibit-pun ikut membidik, sekalian untuk mencuri start harga tinggi DOC untuk target munggah puasa nanti. Jadi bukan soal kampanye saja yang curi mencuri start.

UNTUK kesekian kalinya harga telur ayam ras di pasar terbesar seperti DKI Jakarta seperti ‘dicucuk hidungnya’ oleh harga telur di daerah Blitar. Dalam pekan ini harga telur ayam ras (ex-farm) di pasar Jakarta cenderung turun. Terpantau Senin (25/8) Rp 6000/kg, Selasa (26/8) Rp 5900/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 5700/kg. Bahkan sebagian peternak sudah melepas di bawah itu karena termakan adu domba sang agen telur. Maka, peternak di JABOTABEKSUCI-pun seperti dipaksa menelan pil pahit.

Karakteristik mudah panik pedagang pengepul telur di Blitar menyebabkan perubahan harga berlangsung bisa seketika anjlok. Bisa dicatat, bila pukul sepuluh pagi mereka tidak mendapat order penjualan, maka seketika itu pula harga langsung dibanting. Jadi, tidak heran pula ketika hari Rabu (27/8) lalu masih Rp 5200/kg, tiba-tiba turun menjadi Rp 4900/kg (28/8) hingga Jumat (29/8).

Lalu, bagaimana harga telur dari sentra produksi telur Palembang ? Peternak layer di Palembang sekarang juga terus memantau perkembangan harga di Blitar. Menurut narasumber PINSAR, ini untuk menentukan berapa harga telur mereka lepas untuk kirim ke Jakarta. Untuk lokal mereka memiliki harga tersendiri. Tentunya sesuai trend permintaan di pasar lokalnya. “Mudah-mudahan saja, pekan depan seiring bulan Rajab, ada nasib baik bergelayung pada peternak”, harap seorang peternak.

hedol/pinsar

Musim Kemarau yang Menyengsarakan Peternak

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. DI musim kemarau panjang ini, berita duka akibat kekeringan tidak saja dialami oleh petani. Peternak di kawasan JABOTABEKSUCI yang lokasi kandangnya umumnya berada di daerah perbukitan sudah mengalami kelangkaan juga. Maka, air minum buat ternak ayamnya juga sudah mulai dipasok melalui mobil-mobil tangki yang dipesan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan ? Yang jelas ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan dan dan ini berarti biaya produksi meningkat.

Tetapi bagaimana situasi pasar broiler di tengah ancaman kekeringan dan merajalelanya penyakit yang menyerang ayam ? Menurut pelaku pasar, selama pekan ini perdagangan broiler terus mengalami kelesuan. Pelaku pasar dihadapkan pada permintaan yang cenderung melemah. Di pasar Jakarta harga broiler ditingkat peternak turun menjadi Rp 6400/kg (22/8) dari sebelumnya Rp 6600/kg yang berlangsung sejak akhir pekan lalu. Demikian juga di JATIM Rp 5700/kg dari Rp 6300/kg dan JATENG Rp 6000/kg dari  Rp 6200/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Situasi ini disebabkan oleh faktor daya beli, masa tanggung bulan, dan acara-acara hajatan di daerah yang berlangsung hanya pada momen long weekend kemarin saja. Jadi tidak ada lagi faktor yang bisa menyangga kestabilan harga.

Sementara di pasar kota-kota P. Sumatera, Makassar dan P. Kalimantan kecuali Pontianak harga broiler mulai tertekan lagi. Harga pada pekan lalu yang sedikit ada perbaikan, kini macet tak bergerak. Pasalnya, sepinya permintaan mengganjal peluang naiknya harga, padahal pasok ayam relatif sedikit.

Di tengah makin lesunya perdagangan broiler, kemarau panjang, dan ancaman kelangkaan sekam padi harga DOC broiler diperdagangkan dengan harga terus menurun. Awal pekan lalu harga ditawarkan sudah Rp 1800/ekor (19/8), lalu turun menjadi Rp 1500/ekor. Dan kini di JATIM dikabarkan hanya dijual Rp 1000/ekor. Ini berarti kesempatan buat peternak untuk mengisi kandangnya kembali dengan segala perhitungannya.

BAGI peternak layer musim kemarau ini juga sudah menimbulkan kesulitan air. Ketersediaan air yang masih bisa dimanfaatkan juga terkendala dengan kualitas yang menurun. Sehingga ancaman penyakit banyak menyerang ternaknya besar kemungkinan terjadi.

Namun di sisi lain harga telur ayam ras ex-farm dibandingkan beberapa pekan lalu sudah cukup menggembirakan, meski bukan tanpa ancaman. Di pasar DKI harga telur selama pekan ini masih bisa dipertahankan Rp 6000/kg (22/8). Kecenderungan harga menurun seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu lebih disebabkan oleh harga telur dari Blitar yang melemah.

Terpantau harga telur di Blitar Rp 5600/kg (22/8), meloncat dari Rp 5300/kg (21/8). Menurut narasumber di sana, kenaikan ini disebabkan permintaan lokal yang meningkat dan ke luar pulau Jawa yang cukup lancar. Sementara itu di harga telur Palembang terpantau Rp 5500/kg (22/8), naik dari pekan lalu Rp 4900/kg (15/8). Kenaikan ini juga amat terkait harga telur dari Blitar yang memasuki pasar Jakarta. Karena sebagian besar telur yang diproduksi Palembang juga dipasok ke sentra perdagangan di Jakarta. hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com