Harga Telur Menguat

Poultryindonesia.com, InfoPinsar.  APA yang diharapkan peternak layer di Jakarta dan JABAR pada pekan lalu ternyata kini terwujud. Harga telur ayam ras ditingkat peternak mulai menguat setelah beberapa pekan mengalami tekanan cukup berat. Terpantau di pasar DKI dan sekitarnya Jumat (15/8) Rp 5900/kg. Ini merupakan loncatan dari pekan sebelumnya Rp 5200/kg (9/8).

Pasal penyebabnya adalah karena harga telur di sentra produksi Blitar melonjak drastis dari Rp 5200/kg pada Kamis (14/8) lalu menjadi Rp 5600/kg pada Jumat (15/8). Dan telur dari Palembang yang masuk ke pasar Jakarta mampu disesuaikan yaitu Rp 5800/kg, meski di pasar lokal harga masih di kisaran Rp 4900/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Jika ditinjau dari indikasi permintaan, menurut beberapa keterangan pelaku pasar, sesungguhnya di pasar Jakarta belum ada peningkatan. Omset peternak maupun agen dalam sehari masih biasa saja. Akan tetapi karena pasok dari Blitar lebih ditujukkan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI), Jakarta menjadi kekurangan pasok. Sementara, peternak di Palembang juga cukup kerepotan melayani pasar lokal. Maka tidak heran, harga juga ikut terangkat.

Pada pekan depan, diperkirakan permintaan telur, khususnya di pasar daerah masih bisa dipertahankan cukup kuat. Sehingga harga telur di pasar Jakarta dan daerah akan terus cenderung menguat. Apalagi angin pembawa kabar di daerah mulai marak hajatan sudah berhembus.

UNTUK pekan ini, ‘cuaca’ bisnis broiler agak berlawanan dengan telur. Perdagangann broiler mulai meredup kembali, setelah hanya beberapa hari bergairah. Dari pandangan peternak, ini ditandai dengan mulai turunnya kembali harga broiler ex-farm. Terpantau di pasar DKI cenderung turun, Senin (11/8) Rp 6500, Selasa (12/8) s.d Rabu (13/8) Rp 6700/kg, dan Kamis (14/8) s.d Jumat (15/8) Rp 6500/kg.

Berdasarkan keterangan para pelaku pasar tergambar bahwa pasok ayam yang kini sering menjadi biang fluktuasi harga sebenarnya tidak mengalami over. Ayam tidak terlalu banyak di pasar, tetapi berdasar pantauan di lapangan permintaan memang tergolong sepi. Ditandai dengan ayam-ayam yang masih tersisa dalam keranjang milik pedagang. Bila permintaan ramai, biasanya tidak tersisa sama sekali.

Agak berbeda  situasi di pasar daerah JATIM dan JATENG. Di JATIM dan JATENG, sesungguhnya permintaan cukup kencang. Tetapi karena ayam kecil yang sakit membludak, pedagang memanfaatkan untuk menekan harga. “Kalau mereka beli yang sehat, minta dikasih potongan Rp 300. Kalau tidak, mereka belinya yang sakit”, kata narasumber PINSAR d Surabaya. Terpantau di Surabaya Jumat (15/8) Rp 6300/kg dan di Semarang Rp 6200/kg. Padahal di awal pekan bisa di kisaran Rp 6500/kg.

Sementara itu, perdagangan brolier di luar pulau Jawa, kecuali di Pontianak/Singkawang, ada sedikit perubahan. Pekan lalu laju pergerakan harga cenderung menurun, kini harga mulai membaik. Pasalnya, ayam besar mulai sedikit yang nongkrong di pasar.

Jika melihat situasi secara keseluruhan, logikanya saat ini di pasar P. Jawa lebih banyak mendapat jatah distribusi DOC broiler. Terlihat dari harganya yang juga naik menjadi Rp 1900/ekor (13/8) dari Rp 1500/ekor (12/8). Namun, optimisme harus tetap dijaga. Sebab kabarnya juga seiring long weekend, pas banyak syukuran 17-an, dan juga mulai muncul hajatan keluarga. Permintaan diharap akan semakin ramai. Semoga.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Siklus Lima tahunan yang Bikin Pusing Peternak

PoultryIndonesia.com, Pinsar. SIKLUS lima tahunan sedang melanda perunggasan nasional”, demikian komentar singkat seorang peternak Surabaya melihat jeleknya kondisi bisnis ayam selama hampir delapan bulan ini. Apa yang dimaksud dengan siklus tersebut adalah sejak dahulu setiap lima tahun sekali peternak seakan diseleksi oleh “alam” untuk diuji daya tahannya dalam bisnis ayam ini.

Namun jalan seleksi bisa saja bermacam-macam. Ditinjau dari faktor permintaan seperti daya beli masyarakat yang lemah. Atau dari segi pasokan seperti over produksi bibit sehingga ayam besarpun berlimpah, sampai pada gangguan produksi seperti oleh musim kemarau. Prinsipnya adalah peternak dihadapkan berbagai macam situasi yang selalu tidak nyaman untuk usaha.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Terhitung tahun 2003 ini sudah dua kali harga broiler di tingkat peternak terpuruk di kepala Rp 3000-an, yaitu Bulan Februari dan Maret lalu. Dan kini, sepekan terakhir tanda-tanda harga akan anjlok juga mulai nampak. Harga terpantau di pasar Jakarta turun drastis, Jumat (1/8) resminya tinggal Rp 5400/kg, tetapi realisasinya ada yang lempar ke pasar Rp 4500/kg, di JATIM Rp 4200/kg dan JATENG Rp 4600/kg.

Sedangkan di pasar luar P. Jawa sedang dalam proses jatuh bebas, Jumat (1/8) rata-rata harga broiler Rp 5000-an, terkecuali di Pontianak. Aksi banting harga menurut berbagai sumber lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan budidaya yang memiliki basis pembibitan.

Jalan apa yang sedang dilalui dalam rangka seleksi ini ? Musim lesunya permintaan selama bulan Juli-September yang berbeda dibanding tahun lalu yang cukup baik. Berdekatan tahun ajaran baru anak sekolah, musim ikan yang segera memuncak, atau masa pancaroba cuaca yang mengganggu produksi atau yang lain ?

Bercermin dari situasi harga di Pontianak yang masih fantastis yaitu Rp 8700/kg. Menurut informasi, ini disebabkan karena pasok DOC broiler ke sana sangat memperhitungkan kapasitas serap pasar. Maka dapat disimpulkan, faktor yang menyebabkan harga jatuh adalah lebih karena kelebihan pasok. Artinya ada indikasi bahwa jumlah bibit yang diproduksi tidak memperhitungkan daya tampung pasar.

Dari mana peternak broiler mulai berharap untuk bisa bertahan ? Cuma satu, yaitu harapan turunnya harga DOC broiler. Dan saat ini harga DOC ternyata juga terus melorot. Terpantau secara resmi ditawarkan Rp 1250/ekor, tetapi transaksi bisa ditawar hingga Rp 700-850/ekor. Dengan begitu peternak broiler betul-betul bisa mengisi ulang kandangnya.

TAK jauh beda dengan kondisi perbroileran, kini peternak layer juga sudah masuk pada perulangan mengalami tekanan harga yang kelewat murah. Di pasar Jakarta Jumat (1/8) tinggal Rp 5100/kg, di sentra produksi Blitar dan Palembang Rp 4500/kg. Dengan harga di tingkat peternak tersebut, ditingkat konsumen hanya Rp 6000/kg. Apa yang bisa dilakukan oleh peternak ? Tidak ada, sebab kekuatan mekanisme pasar bebas tidak mungkin bisa dikontrol.

Maka dari itu, saat ini tepat waktunya bagi peternak layer untuk mulai ikat pinggal dalam pengelolaan usahanya. Sebab dalam beberapa waktu ke depan, hampir tidak ada momen yang bisa mengangkat harga.

hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Ketika Puncak Produksi DOC Broiler Tiba

Poultryindonesia.com, Pinsar. LIBUR panjang sekolah sudah tiba. Saat yang lama dinanti siswa ini, menjadi momen untuk melepas kejenuhan disiplin sekolah. Biasanya, bagi siswa yang tinggal di daerah, tur wisata akan dilakukan menuju kota-kota besar. Tetapi, bagi siswa di kota besar lebih banyak digunakan bermain di pusat-pusat pertokoan ataupun mal. Maka tidak heran, saat ini outlet-outlet restoran siap saji fried chicken makin sesak dipenuhi sekumpulan anak-anak usia sekolah.

Logikanya, omset restoran juga melonjak. Dan pada galibnya peternak broiler juga ikut senang, karena produk usahanya juga makin laku. Maka pasal harga broiler di tingkat peternak naik juga wajar.

Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, harga broiler hidup ex-farm malah cenderung turun. Di pasar Jakarta dan sekitarnya terpantau harga resmi untuk ayam ukuran 1,6 kg ke atas macet, Senin (9/6) s.d Jumat (13/6) Rp 6400/kg. Jika dilihat terlihat stabil, tetapi sesungguhnya potongan harga sudah dimainkan secara kacau. Hal ini menurut pelaku pasar disebabkan permintaan ayam besar di pasar tradisional masih sepi. Jadi secara keseluruhan penyerapan broiler di pasar masih lemah. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Demikian juga di pasar JATIM, dibanding pekan lalu harga dalam pekan ini cenderung turun, meski selama pekan ini masih tak bergeming di Rp 6000-6100/kg. Harga broiler lebih parah lagi di daerah pertempuran dua perusahaan kemitraan terbesar. Yaitu di Tulunggagung, Trenggalek, Pare-Kediri dan Blitar, harga broiler besar di sana hanya Rp 5500/kg.

Tidak berbeda di JATENG harga broiler hidup bertahan di Rp 6000/kg.

Diprediksikan pada pekan depan situasi belum banyak berubah, bahkan resiko harga lebih terpuruk sangat besar peluangnya. “Pertengahan Juni ini, adalah puncak produksi DOC. Jadi pasok broiler sedang memasuki skala banjir ayam”, demikian ungkap narasumber PINSAR di Surabaya.

MASA libur di daerah ternyata juga banyak dimanfaatkan untuk mengadakan hajatan, karena bertepatan dengan bulan Bakda Mulud. Dari anak laki-laki yang akan dikhitan sampai ngunduh mantu (menikahkan).

Meski hajatan keluarga marak dan permintaan telur sedang mengalami kenaikan, akan tetapi harga tidak juga ada perubahan. Memasuki pekan ke-5 ini harga telur di pasar Jakarta dan sekitarnya masih bertahan di Rp 6500/kg. Padahal produksi ditengarai mulai turun, karena banyaknya ayam usia afkir sulit keluar, akibat harga jual yang terlalu murah.

 Keadaan yang sama dialami juga di daerah sentra produksi Blitar, Solo, dan Palembang. Harga adem ayem di Rp 6100/kg, Rp 5900 dan Rp 5700/kg. Sungguhpun demikian situasi pasar seperti ini lebih disukai peternak layer. “Saya lebih suka stabil seperti ini, meski tidak terlalu besar marginnya, namun hati lebih tenang”, ungkap peternak di Blitar.

DI sisi lain, harga layer afkir di Rp 5200/kg cukup mengganggu peternak. Kini sedikit melegakan. Pasalnya, kabar angin makin kencang bahwa harga DOC layer akan segera turun. Narasumber PINSAR di JATIM menuturkan harga DOC layer saat ini sudah berjalan di Rp 1000-1500/ekor. “Meski dijual tanpa merk, sesungguhnya itu produksi breeding bonafit.

Katanya, sih agar tidak merusak harga pasar”, ungkapnya. Ia juga menambahkan, jika peternak mau menahan dua minggu lagi membeli DOC layer, harga resmi pasti akan di kisaran Rp 1500-an/ekor. sam/pinsar

Pembibit Naikkan Harga DOC, Peternak Resah

PoultryIndonesia.com, Pinsar. PERSOALAN klasik berulang lagi. Peternak broiler resah, akibat pembibit menaikan harga DOC broiler terlalu tinggi, tepatnya Senin (26/5) menjadi 2750/ekor, bahkan di lapangan ditawarkan Rp 2900/ekor. Tak pelak, pehimpunan peternak broiler dari Tasik-Ciamis, Yogyakarta, Bogor, Bandung dan Sukabumi, Banyumas, Garut dan Banjar memboikot pembelian DOC selama beberapa pekan.

Seperti biasa, pembibit beralasan “klise” bahwa produksi DOC broiler sedang turun, jadi absah secara hukum pasar. Tetapi beberapa  peternak berkomentar : “Inilah dampak dari unjuk gigi kepengurusan GPPU terbaru, yang mentargetkan harga DOC selalu fantastis”, ujar soerang peternak. Lalu yang lain : “Ini tidak lain dari upaya penghancuran peternak mandiri, agar terpaksa mengikuti kemitraan”, kata peternak narasumber PINSAR sudah beberapa kali dirayu ikut kemitraan, terutama untuk kandang-kandangnya yang sudah lama menganggur.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Apapun spekulasi negatif yang muncul dari peternak mandiri, sesungguhnya tidak terlepas rasa gerah mereka dari situasi tekanan yang selalu tidak menguntungkan. Dan keadaan ini tercipta karena sampai saat ini tidak ada perangkat hukum yang jelas dan aparat yang tegas untuk mengatur bisnis ini. “Elok”-nya, momen pelambungan harga DOC broiler berlangsung di tengah situasi harga broiler besar sedang terpuruk.

Di pasar Jakarta dan sekitarnya harga broiler ukuran 1,6-1,8 kg terpantau Senin (26/5) s.d Kamis (29/5) Rp 6400/kg. Harga terkesan stabil, tapi sesungguhnya pemberlakuan potongan harga terus berjalan semakin tinggi, dari Rp 100/kg sampai Rp 400/kg. Sedangkan di pasar JATIM terlihat lebih ekstrim Senin (26/5) Rp 6800/kg, Selasa (27/5) Rp 6200/kg, Rabu (28/5) Rp 5800/kg dan Kamis (29/5) Rp 5700/kg. Untuk pasar JATENG Senin (26/5) Rp 6800/kg, Selasa (27/5) Rp 6500/kg, Rabu (28/5) Rp 6000/kg dan Kamis (29/5) Rp 5600/kg.

Terpuruknya harga broiler di tingkat peternak selama pekan ini disebabkan karena daya serap pasar yang sangat lemah. Ini mendorong ayam makin membanjir di pasar, karena penundaan panen juga sudah berlangsung sejak lama. Kondisi awal bulan agaknya tidak banyak berpengaruh. Apalagi bertepatan dengan masa pendaftaran murid baru sudah berlangsung, yang sudah pasti menyedot banyak anggaran rumah tangga. Maka pada pekan-pekan depan harga broiler ex-farm perlu lebih dicermati perubahannya.

HAMPIR selama tiga pekan terakhir ini harga telur ayam ras di tingkat peternak tak bergeming di kisaran Rp 6400-6500/kg. Khususnya di pasar DKI dan sekitarnya. Demikian juga di sentra-sentra produksi telur. Seperti di Blitar harga masih dalam kisaran Rp 5900-6100/kg dan di Palembang di Rp 5700/kg.

Kecenderungan stabilnya harga telur ini menurut berbagai sumber disebabkan permintaan masih cukup lancar. Meski pasang surut permintaan terjadi, lebih disebabkan faktor proses distribusi yang kurang lancar. Seperti pengiriman telur dari daerah Blitar ke luar pulau yang tergantung oleh keterbatasan kapal angkut.

Khusus di pasar Bandung dan Jakarta, keberadaan telur dari Medan yang terkenal murah, terkadang sedikit menjadi gangguan stabilitas harga, meski jumlah dan intensitas pengirimannya tidak banyak. Apalagi situasi di Aceh yang sudah memungkinkan pengiriman barang dilakukan

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Maulud Nabi Picu Kenaikan Harga Telur

Poultryindonesia.com, Makassar. Maraknya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) memicu melonjaknya harga telur dan beras ketan di daerah itu sejak akhir pekan lalu.

Harga telur ayam di sejumlah pasar di Makassar, Senin, naik dari Rp450/butir menjadi Rp600/butir, telur itik naik dari Rp600 menjadi Rp700/butir.

Selain telur, beras ketan putih juga mengalami kenaikan dari Rp4.000 menjadi Rp5.000/kg dan beras ketan hitam/merah rata-rata Rp6.000/kg Harga telur setiap bulan Maulid mengalami kenaikan dan berlangsung hanya beberapa hari karena kebutuhan telur untuk peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad berlangsung hampir disemua kawasan pemukiman penduduk, kata H Hasman Ali, Iman Masjid Istiqomah.

Perayaan Maulid tahun ini, selain di gelar oleh Majelis Taqlim di setiap Rukun Warga (RW), juga diselenggarakan sejumlah Paguyuban dan kerukunan keluarga dari berbagai wilayah yang berada di Makassar.

Salah satu ciri khas perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Sulsel antara lain ditandai dengan telur hias yang dipadu dengan nasi ketan dikemas dalam bentuk bakul berisi sekitar lima hingga sepuluh kilogram nasi kemudian dihiasi tumpukan telur berwarna-warni.

Bakul yang berisi nasi ketan dan telur ayam hias kemudian di pajang di depan para tamu dan undangan, setelah perayaaan selesai telur dan nasi dibagi-bagikan kepada semua tamu untuk disantap bersama dalam suasana suka cita.