Gejolak Broiler Belum Akan Reda

Poultryindonesia.com, AnalisaPasar. Dalam 8 (delapan) bulan pertama  di tahun 2003, harga ayam broiler ex-farm mengalami penurunan harga selama dua kali. Yang pertama dalam tempo yang agak panjang, yaitu Februari – Maret – April, berikutnya Juli – Agustus. Pada pusat-pusat produksi peternakan mempunyai angka ekstrim (terendah) berbeda-beda. Namun yang pasti,  peternak broiler menderita rugi bila panen kala itu karena harga jualnya di bawah pokok produksi.

Poultry Online melihat, penyebab penurunan harga pada periode pertama, tidak terlepas dari lewatnya masa peak seasons tahun 2002, yakni Puasa, Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. (yang dimulai Oktober sampai Desember). Celakanya, libur kerja dalam rangkaian itu menjadi terlalu panjang. Masyarakat urban umumnya mengambil cuti panjang dan pulang kampung untuk bersenang-senang dengan keluarga.

Setelah itu mereka harus bekerja kembali untuk mendapatkan penghasilan. Jadi memasuki tahun 2003 daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok hidup sebenarnya pada kondisi ‘prihatin’. Kemudian ditambahi lagi oleh pengumuman rencana kenaikan biaya listrik dan telpon dan BBM, yang belum apa-apa sudah memicu kenaikan kebutuhan pokok hidup lainnnya. Lengkap sudah keprihatinan masyarakat.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Rendahnya harga broiler di Jawa Timur – sebagai propinsi pusat peternakan kedua – juga diperparah dengan Tragedi Bom di Bali, ayam-ayam hidup yang secara berkala dikirim ke Bali, karena industri pariwisata di sana ‘lumpuh’, akhirnya membanjiri pasar setempat atau putar arah ke barat (Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta) yang masing-masing sebenarnya sudah punya jatah pasokan sendiri-sendiri.

Terpuruknya harga ayam broiler, secara langsung mengganggu permintaan DOC broiler. Ayam yang seharusnya dipanen, terlambat diambil sehingga menumpuk di kandang. Harga DOC broiler mau tidak mau turun. Bahkan dalam puncak kemerosotan harga DOC broiler,  peternak tidak mau membeli karena harga ayam besarnya masih belum menguntungkan.

Dengan kemerosotan harga yang berlangsung hampir tiga bulan penuh, bisa dibayangkan kerugian peternakan broiler yang melakukan pemanenan seminggu sekali, seminggu dua kali, bahkan setiap hari.

Setelah ayam terjual habis, melewati periode ini biasanya harga merangkak naik. Pemasukan ayam di kandang biasanya tidak penuh,  bahkan ada yang kosong karena kehabisan modal. Produksi DOC dari pembibitan juga terkurangi.

Maka dalam kurva harga pada Mei – Juni harga kembali tinggi, bahkan di beberapa tempat di luar pulau Jawa harga broiler  bisa mencapai Rp 9000/kg (Kaltim) – bandingkan dengan harga di tempat yang sama ketika jatuh (Maret – April) bisa mencapat Rp 3500 – 4000/kg.

Saat harga ayam besar bagus, produsen DOC ikut menaikkan harga jual produknya. Bukan lantaran panen ayam besarnya nanti dipastikan bagus, tapi karena peternak sudah punya modal untuk membeli bibit berikutnya. Alasan berikutnya, menaikkan harga dalam suasana hati peternak happy adalah perbuatan yang masuk di akal.

Sayang sekali kenaikan harga pada kali ini tidak berlangsung lama, akhir Juli – awal Agustus adalah libur akhir sekaligus awal tahun ajaran baru. Sudah mentradisi, pada masa-masa ini anggaran keluarga dialokasikan untuk keperluan pendidikan anak. Makan daging dan telur yang untuk masyarakat tertentu masih dianggap mewah, jelas dikurangi.

Lebih seru lagi, setelah diberlakukan otonomi kampus, sejumlah perguruan tinggi negeri menaikkan biaya pendidikan di awal tahun ajaran baru ini.

Dari sisi produksi bibit, sejumlah pembibitan mengaku masih mengurangi produksi sebagai program lanjutan periode sebelumnya, dan peternak mengakui jumlah pemasukan bibit tidak banyak, tapi karena semata-mata serapan pasar yang lemah, harga broiler hidup dan DOC broiler turun lagi pada Juli – Agustus ini.

Harga ayam jelek dan di sejumlah tempat mengalami kekeringan. Kedua faktor ini mengurangi minat beternak. Maka akhir Agustus atau awal September harga ayam akan naik, apalagi akan disambung dengan awal puasa yang jatuh pada Oktober, dilanjutkan Idul Fitri (November) dan Natal (Desember). Semoga puncak permintaan pasar broiler pada 2003 itu dapat membahagiakan pelaku bisnis peternakan.mul/and

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Seperti Diduga, Harga DOC Melonjak

PoultryIndonesia.com, InfoPinsar. SEPEKAN ini peternak broiler di berbagai daerah dikejutkan dengan harga DOC broiler yang melonjak naik cepat. Bibit ayam pedaging yang sebelumnya diperdagangkan dengan harga Rp 1200/ekor itu (25/8), tiba-tiba berubah menjadi Rp 1500/ekor (26/8), lalu Rp 1750/ekor (28/8) dan Senin (1/9) direncanakan Rp 2000/ekor.

Pasal punya cerita, akhir-akhir ini harga broiler besar memang sedang macet, bahkan cenderung tertekan. Di Jakarta, situasi pasar sedang dirundung sepi permintaan, meski pasok ayam juga tidak bergelimang. Terpantau harga Senin (25/8) Rp 6400/kg, Selasa (26/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6200/kg.

Sementara itu di JATIM harga broiler hidup naik, tetapi lebih banyak disebabkan oleh pasok ayam besar yang kurang, akibat dampak banyak ayam sakit selama kemarau ini. Harga terpantau Senin (25/8) dan Selasa (26/8) Rp 5700/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 6000/kg. Dan di Semarang belum juga beranjak dari kisaran Rp 5900/kg (29/8).<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kemudian pasal lain biang pembuat peternak berang adalah kenaikkan ini tidak berjalan sesuai logika atau mekanisme pasar bebas yang normatif. “Yo opo rek, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba harga naik”, begitu celetuk seorang peternak di Jombang.

Dalam hukum pasar persaingan bebas, sudah pasti ada logika normatif yang mudah dimengerti dan wajar diterima oleh pelaku pasar. Logikanya jelas berbeda dengan logika penyimpangan mekanisme pasar persaingan bebas seperti dalam praktek kartel, monopoli ataupun oligopoli. Kenaikkan harga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu permintaan yang naik atau kurangnya jumlah pasokan penyebab barang langka di pasar.

Lalu ada apa gerangan ? Usut punya usut, ternyata tidak terlepas dari rasa optimisme pelaku pasar pada pekan depan. Masa akhir bulan ini adalah masa tanggung menanti harapan naiknya permintaan ayam besar. Karena tanggal muda bulan September pada pekan depan, bertepatan dengan awal bulan Rajab. Maka, pembibit-pun ikut membidik, sekalian untuk mencuri start harga tinggi DOC untuk target munggah puasa nanti. Jadi bukan soal kampanye saja yang curi mencuri start.

UNTUK kesekian kalinya harga telur ayam ras di pasar terbesar seperti DKI Jakarta seperti ‘dicucuk hidungnya’ oleh harga telur di daerah Blitar. Dalam pekan ini harga telur ayam ras (ex-farm) di pasar Jakarta cenderung turun. Terpantau Senin (25/8) Rp 6000/kg, Selasa (26/8) Rp 5900/kg, lalu Rabu (27/8) s.d Jumat (29/8) Rp 5700/kg. Bahkan sebagian peternak sudah melepas di bawah itu karena termakan adu domba sang agen telur. Maka, peternak di JABOTABEKSUCI-pun seperti dipaksa menelan pil pahit.

Karakteristik mudah panik pedagang pengepul telur di Blitar menyebabkan perubahan harga berlangsung bisa seketika anjlok. Bisa dicatat, bila pukul sepuluh pagi mereka tidak mendapat order penjualan, maka seketika itu pula harga langsung dibanting. Jadi, tidak heran pula ketika hari Rabu (27/8) lalu masih Rp 5200/kg, tiba-tiba turun menjadi Rp 4900/kg (28/8) hingga Jumat (29/8).

Lalu, bagaimana harga telur dari sentra produksi telur Palembang ? Peternak layer di Palembang sekarang juga terus memantau perkembangan harga di Blitar. Menurut narasumber PINSAR, ini untuk menentukan berapa harga telur mereka lepas untuk kirim ke Jakarta. Untuk lokal mereka memiliki harga tersendiri. Tentunya sesuai trend permintaan di pasar lokalnya. “Mudah-mudahan saja, pekan depan seiring bulan Rajab, ada nasib baik bergelayung pada peternak”, harap seorang peternak.

hedol/pinsar

Musim Kemarau yang Menyengsarakan Peternak

Poultryindonesia.com, InfoPinsar. DI musim kemarau panjang ini, berita duka akibat kekeringan tidak saja dialami oleh petani. Peternak di kawasan JABOTABEKSUCI yang lokasi kandangnya umumnya berada di daerah perbukitan sudah mengalami kelangkaan juga. Maka, air minum buat ternak ayamnya juga sudah mulai dipasok melalui mobil-mobil tangki yang dipesan. Berapa biaya yang harus dikeluarkan ? Yang jelas ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan dan dan ini berarti biaya produksi meningkat.

Tetapi bagaimana situasi pasar broiler di tengah ancaman kekeringan dan merajalelanya penyakit yang menyerang ayam ? Menurut pelaku pasar, selama pekan ini perdagangan broiler terus mengalami kelesuan. Pelaku pasar dihadapkan pada permintaan yang cenderung melemah. Di pasar Jakarta harga broiler ditingkat peternak turun menjadi Rp 6400/kg (22/8) dari sebelumnya Rp 6600/kg yang berlangsung sejak akhir pekan lalu. Demikian juga di JATIM Rp 5700/kg dari Rp 6300/kg dan JATENG Rp 6000/kg dari  Rp 6200/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Situasi ini disebabkan oleh faktor daya beli, masa tanggung bulan, dan acara-acara hajatan di daerah yang berlangsung hanya pada momen long weekend kemarin saja. Jadi tidak ada lagi faktor yang bisa menyangga kestabilan harga.

Sementara di pasar kota-kota P. Sumatera, Makassar dan P. Kalimantan kecuali Pontianak harga broiler mulai tertekan lagi. Harga pada pekan lalu yang sedikit ada perbaikan, kini macet tak bergerak. Pasalnya, sepinya permintaan mengganjal peluang naiknya harga, padahal pasok ayam relatif sedikit.

Di tengah makin lesunya perdagangan broiler, kemarau panjang, dan ancaman kelangkaan sekam padi harga DOC broiler diperdagangkan dengan harga terus menurun. Awal pekan lalu harga ditawarkan sudah Rp 1800/ekor (19/8), lalu turun menjadi Rp 1500/ekor. Dan kini di JATIM dikabarkan hanya dijual Rp 1000/ekor. Ini berarti kesempatan buat peternak untuk mengisi kandangnya kembali dengan segala perhitungannya.

BAGI peternak layer musim kemarau ini juga sudah menimbulkan kesulitan air. Ketersediaan air yang masih bisa dimanfaatkan juga terkendala dengan kualitas yang menurun. Sehingga ancaman penyakit banyak menyerang ternaknya besar kemungkinan terjadi.

Namun di sisi lain harga telur ayam ras ex-farm dibandingkan beberapa pekan lalu sudah cukup menggembirakan, meski bukan tanpa ancaman. Di pasar DKI harga telur selama pekan ini masih bisa dipertahankan Rp 6000/kg (22/8). Kecenderungan harga menurun seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu lebih disebabkan oleh harga telur dari Blitar yang melemah.

Terpantau harga telur di Blitar Rp 5600/kg (22/8), meloncat dari Rp 5300/kg (21/8). Menurut narasumber di sana, kenaikan ini disebabkan permintaan lokal yang meningkat dan ke luar pulau Jawa yang cukup lancar. Sementara itu di harga telur Palembang terpantau Rp 5500/kg (22/8), naik dari pekan lalu Rp 4900/kg (15/8). Kenaikan ini juga amat terkait harga telur dari Blitar yang memasuki pasar Jakarta. Karena sebagian besar telur yang diproduksi Palembang juga dipasok ke sentra perdagangan di Jakarta. hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Harga Telur Menguat

Poultryindonesia.com, InfoPinsar.  APA yang diharapkan peternak layer di Jakarta dan JABAR pada pekan lalu ternyata kini terwujud. Harga telur ayam ras ditingkat peternak mulai menguat setelah beberapa pekan mengalami tekanan cukup berat. Terpantau di pasar DKI dan sekitarnya Jumat (15/8) Rp 5900/kg. Ini merupakan loncatan dari pekan sebelumnya Rp 5200/kg (9/8).

Pasal penyebabnya adalah karena harga telur di sentra produksi Blitar melonjak drastis dari Rp 5200/kg pada Kamis (14/8) lalu menjadi Rp 5600/kg pada Jumat (15/8). Dan telur dari Palembang yang masuk ke pasar Jakarta mampu disesuaikan yaitu Rp 5800/kg, meski di pasar lokal harga masih di kisaran Rp 4900/kg.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Jika ditinjau dari indikasi permintaan, menurut beberapa keterangan pelaku pasar, sesungguhnya di pasar Jakarta belum ada peningkatan. Omset peternak maupun agen dalam sehari masih biasa saja. Akan tetapi karena pasok dari Blitar lebih ditujukkan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI), Jakarta menjadi kekurangan pasok. Sementara, peternak di Palembang juga cukup kerepotan melayani pasar lokal. Maka tidak heran, harga juga ikut terangkat.

Pada pekan depan, diperkirakan permintaan telur, khususnya di pasar daerah masih bisa dipertahankan cukup kuat. Sehingga harga telur di pasar Jakarta dan daerah akan terus cenderung menguat. Apalagi angin pembawa kabar di daerah mulai marak hajatan sudah berhembus.

UNTUK pekan ini, ‘cuaca’ bisnis broiler agak berlawanan dengan telur. Perdagangann broiler mulai meredup kembali, setelah hanya beberapa hari bergairah. Dari pandangan peternak, ini ditandai dengan mulai turunnya kembali harga broiler ex-farm. Terpantau di pasar DKI cenderung turun, Senin (11/8) Rp 6500, Selasa (12/8) s.d Rabu (13/8) Rp 6700/kg, dan Kamis (14/8) s.d Jumat (15/8) Rp 6500/kg.

Berdasarkan keterangan para pelaku pasar tergambar bahwa pasok ayam yang kini sering menjadi biang fluktuasi harga sebenarnya tidak mengalami over. Ayam tidak terlalu banyak di pasar, tetapi berdasar pantauan di lapangan permintaan memang tergolong sepi. Ditandai dengan ayam-ayam yang masih tersisa dalam keranjang milik pedagang. Bila permintaan ramai, biasanya tidak tersisa sama sekali.

Agak berbeda  situasi di pasar daerah JATIM dan JATENG. Di JATIM dan JATENG, sesungguhnya permintaan cukup kencang. Tetapi karena ayam kecil yang sakit membludak, pedagang memanfaatkan untuk menekan harga. “Kalau mereka beli yang sehat, minta dikasih potongan Rp 300. Kalau tidak, mereka belinya yang sakit”, kata narasumber PINSAR d Surabaya. Terpantau di Surabaya Jumat (15/8) Rp 6300/kg dan di Semarang Rp 6200/kg. Padahal di awal pekan bisa di kisaran Rp 6500/kg.

Sementara itu, perdagangan brolier di luar pulau Jawa, kecuali di Pontianak/Singkawang, ada sedikit perubahan. Pekan lalu laju pergerakan harga cenderung menurun, kini harga mulai membaik. Pasalnya, ayam besar mulai sedikit yang nongkrong di pasar.

Jika melihat situasi secara keseluruhan, logikanya saat ini di pasar P. Jawa lebih banyak mendapat jatah distribusi DOC broiler. Terlihat dari harganya yang juga naik menjadi Rp 1900/ekor (13/8) dari Rp 1500/ekor (12/8). Namun, optimisme harus tetap dijaga. Sebab kabarnya juga seiring long weekend, pas banyak syukuran 17-an, dan juga mulai muncul hajatan keluarga. Permintaan diharap akan semakin ramai. Semoga.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Siklus Lima tahunan yang Bikin Pusing Peternak

PoultryIndonesia.com, Pinsar. SIKLUS lima tahunan sedang melanda perunggasan nasional”, demikian komentar singkat seorang peternak Surabaya melihat jeleknya kondisi bisnis ayam selama hampir delapan bulan ini. Apa yang dimaksud dengan siklus tersebut adalah sejak dahulu setiap lima tahun sekali peternak seakan diseleksi oleh “alam” untuk diuji daya tahannya dalam bisnis ayam ini.

Namun jalan seleksi bisa saja bermacam-macam. Ditinjau dari faktor permintaan seperti daya beli masyarakat yang lemah. Atau dari segi pasokan seperti over produksi bibit sehingga ayam besarpun berlimpah, sampai pada gangguan produksi seperti oleh musim kemarau. Prinsipnya adalah peternak dihadapkan berbagai macam situasi yang selalu tidak nyaman untuk usaha.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Terhitung tahun 2003 ini sudah dua kali harga broiler di tingkat peternak terpuruk di kepala Rp 3000-an, yaitu Bulan Februari dan Maret lalu. Dan kini, sepekan terakhir tanda-tanda harga akan anjlok juga mulai nampak. Harga terpantau di pasar Jakarta turun drastis, Jumat (1/8) resminya tinggal Rp 5400/kg, tetapi realisasinya ada yang lempar ke pasar Rp 4500/kg, di JATIM Rp 4200/kg dan JATENG Rp 4600/kg.

Sedangkan di pasar luar P. Jawa sedang dalam proses jatuh bebas, Jumat (1/8) rata-rata harga broiler Rp 5000-an, terkecuali di Pontianak. Aksi banting harga menurut berbagai sumber lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan budidaya yang memiliki basis pembibitan.

Jalan apa yang sedang dilalui dalam rangka seleksi ini ? Musim lesunya permintaan selama bulan Juli-September yang berbeda dibanding tahun lalu yang cukup baik. Berdekatan tahun ajaran baru anak sekolah, musim ikan yang segera memuncak, atau masa pancaroba cuaca yang mengganggu produksi atau yang lain ?

Bercermin dari situasi harga di Pontianak yang masih fantastis yaitu Rp 8700/kg. Menurut informasi, ini disebabkan karena pasok DOC broiler ke sana sangat memperhitungkan kapasitas serap pasar. Maka dapat disimpulkan, faktor yang menyebabkan harga jatuh adalah lebih karena kelebihan pasok. Artinya ada indikasi bahwa jumlah bibit yang diproduksi tidak memperhitungkan daya tampung pasar.

Dari mana peternak broiler mulai berharap untuk bisa bertahan ? Cuma satu, yaitu harapan turunnya harga DOC broiler. Dan saat ini harga DOC ternyata juga terus melorot. Terpantau secara resmi ditawarkan Rp 1250/ekor, tetapi transaksi bisa ditawar hingga Rp 700-850/ekor. Dengan begitu peternak broiler betul-betul bisa mengisi ulang kandangnya.

TAK jauh beda dengan kondisi perbroileran, kini peternak layer juga sudah masuk pada perulangan mengalami tekanan harga yang kelewat murah. Di pasar Jakarta Jumat (1/8) tinggal Rp 5100/kg, di sentra produksi Blitar dan Palembang Rp 4500/kg. Dengan harga di tingkat peternak tersebut, ditingkat konsumen hanya Rp 6000/kg. Apa yang bisa dilakukan oleh peternak ? Tidak ada, sebab kekuatan mekanisme pasar bebas tidak mungkin bisa dikontrol.

Maka dari itu, saat ini tepat waktunya bagi peternak layer untuk mulai ikat pinggal dalam pengelolaan usahanya. Sebab dalam beberapa waktu ke depan, hampir tidak ada momen yang bisa mengangkat harga.

hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com