Maulud Nabi Picu Kenaikan Harga Telur

28 May, 2003 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com, Makassar. Maraknya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) memicu melonjaknya harga telur dan beras ketan di daerah itu sejak akhir pekan lalu.

Harga telur ayam di sejumlah pasar di Makassar, Senin, naik dari Rp450/butir menjadi Rp600/butir, telur itik naik dari Rp600 menjadi Rp700/butir.

Selain telur, beras ketan putih juga mengalami kenaikan dari Rp4.000 menjadi Rp5.000/kg dan beras ketan hitam/merah rata-rata Rp6.000/kg Harga telur setiap bulan Maulid mengalami kenaikan dan berlangsung hanya beberapa hari karena kebutuhan telur untuk peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad berlangsung hampir disemua kawasan pemukiman penduduk, kata H Hasman Ali, Iman Masjid Istiqomah.

Perayaan Maulid tahun ini, selain di gelar oleh Majelis Taqlim di setiap Rukun Warga (RW), juga diselenggarakan sejumlah Paguyuban dan kerukunan keluarga dari berbagai wilayah yang berada di Makassar.

Salah satu ciri khas perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Sulsel antara lain ditandai dengan telur hias yang dipadu dengan nasi ketan dikemas dalam bentuk bakul berisi sekitar lima hingga sepuluh kilogram nasi kemudian dihiasi tumpukan telur berwarna-warni.

Bakul yang berisi nasi ketan dan telur ayam hias kemudian di pajang di depan para tamu dan undangan, setelah perayaaan selesai telur dan nasi dibagi-bagikan kepada semua tamu untuk disantap bersama dalam suasana suka cita.

Peternak Pertanyakan Harga DOC Broiler

26 May, 2003 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com, Pinsar. TERHITUNG tiga pekan terakhir kecenderungan naiknya harga DOC broiler menjadi pembicaraan kalangan peternak broiler. Apa sesungguhnya yang diinginkan oleh para pembibit ? Begitu pertanyaan yang selalu muncul dibenak peternak broiler.

PINSAR mencatat harga DOC broiler di pasar DKI Jakarta, JABAR, JATIM dan JATENG terpatau Senin (19/5) lalu sudah naik menjadi Rp 2200/ekor, berselang sehari naik menjadi Rp 2250/ekor (20/5), kemudian Kamis (21/5) menjadi Rp 2500/ekor dan Senin (26/5) harga mulai dipatok Rp 2750 per ekor.  <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Perihal jawaban atas pertanyaan tersebut diakui sangat sulit dijawab. Namun menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, hal itu disebabkan pembibit mengalami penurunan produksi DOC. Banyaknya kasus internal pada ayam parent stock (PS) menyebabkan produksi turun dan kualitas DOC rendah, terutama untuk breeding di wilayah JATIM.

Faktor inilah yang menyebabkan pasokan DOC broiler mengalami penurunan, bahkan isu mengalirnya DOC dari JABOTABEK dikirim ke JATIM sudah terdengar reporter PINSAR sejak dua pekan lalu. Ini juga bisa dilihat dari proses kenaikan harga DOC broiler yang cenderung lebih cepat terjadi di wilayah JATIM.

Apa pasal yang membuat peternak makin gerah akibat kenaikan harga DOC broiler ? Sayang seribu sayang ini berlangsung di tengah situasi harga broiler besar yang terus mengalami penurunan, tepatnya sejak akhir April lalu.

Masa bulan Maulid yang menjadi ‘mitos’ untuk mengais rezeki sudah tidak ada artinya lagi. “Permintaan memang ramai, tetapi herannya kenapa harga malah turun ?” begitu kata peternak melihat situasi pasar broiler bulan Maulid kali ini.

Perdagangan broiler hidup sebulan terakhir ini memang menunjukkan perubahan harga yang cenderung menurun. Terpantau selama pekan ini di pasar Jakarta dan sekitarnya Senin (19/5) s.d Rabu (21/5) Rp 6800/kg, lalu Kamis (22/5) s.d Jumat (23/5) Rp 6600/kg untuk ayam ukuran 1,6 – 1,8 kg.

Untuk ukuran > 1,8 kg selisih Rp 200/kg, bahkan pemberlakuan potongan harga juga sudah berlangsung, terutama untuk ayam dari perusahaan fully integrator.

Kecenderungan harga turun disebabkan pasar yang makin sepi akibat masa tanggung bulan. Permintaan masih cukup ramai hanya untuk ayan ukuran < dari 1,4 kg, sehingga harganya juga relatif stabil di Rp 7300/kg – Rp 8200/kg.

Sementara itu agak berbeda situasi pasar broiler di JATIM, terpantau harga pada awal pekan ini mengalami kenaikan, meski turun kembali memasuki akhir pekan. Senin (19/5) 7300/kg, Selasa (20/5) s.d Rabu (21/5) Rp 7500/kg, lalu Kamis (22/5) Rp 7300/kg dan Jumat (23/5) Rp 7000/kg.

Kenaikan ini menurut narasumber PINSAR lebih disebabkan pasok ayam yang sangat kurang. Pasok DOC broiler yang kurang, kasus-kasus penyakit akibat iklim panas dan sebagian peternak mandiri yang meliburkan kandangnya ditengarai menyebabkan ayam sepi di pasar.

Sedangkan di wilayah JATENG dan Yogyakarta, perubahan harga berlangsung variatif. Sebagian daerah mengalami kenaikan terutama yang memiliki akses langsung ke pasar JATIM. Pasokan ayam yang kurang di sana bisa di manfaatkan pemilik kandang di kedua wilayah tersebut untuk mensuplainya.

UNTUK perdagangan telur ayam ras selama pekan ini relatif stabil karena antara pasokan dan permintaan telur terlihat berimbang perubahannya. Terlihat dari perubahan harga yang cenderung tetap. Di pasar DKI dan sekitarnya berkisar di Rp 6400-6500/kg dan di Palembang Rp 5600/kg.

Agak berbeda di sentra produksi telur di Blitar yang kisaran harganya Rp 5800-6100/kg. Hal ini mengingat kemampuan Blitar memasok kebutuhan telur di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Meskipun tidak kontinyu, sesekali pengiriman barang ke luar pulau terjadi cukup deras, sehingga hargapun akan ikut terangkat.

hedol/pinsar

Permintaan Telur Tinggi

12 May, 2003 Uncategorized No comments

PoultryIndonesia.com, Pinsar. KONTROVERSI goyang ngebor Inul – sang artis dangdut fenomenal – akhir-akhir ini bisa jadi akan menjadi catatan sejarah bagi Indonesia, khususnya di dunia entertaiment. Pasalnya, heboh goyangan artis asal ‘kampung’ yang tak tertandingi artis ibukota ini, sudah melibatkan tokoh-tokoh nasional di berbagai bidang. Inilah lazimnya di dunia hiburan, beda dengan heboh di dunia perunggasan, yang hampir pasti membikin ayam atau telur makin tidak laku dijual.

PINSAR mencatat satu pekan terakhir perdagangan broiler hidup ex-farm mengalami kelesuan. Meski tanggung bulan sudah habis dan bulan Maulid sudah menjelang. Harga ayam hidup tercatat di pasar DKI mengalami penurunan. Senin (28/4) dan Selasa (29/4) Rp 7600/kg, Rabu (30/4) s.d Jumat (2/5) Rp 7400/kg. Meski terlihat stabil, tetapi sesungguhnya terjadi penurunan, sebab potongan harga oleh peternak sudah diberlakukan, terutama untuk ayam dari kandang kemitraan.

Di pasar JATIM dan JATENG secara umum juga tidak berbeda terpantau di Surabaya Senin (28/4) dan Selasa (29/4) Rp 7000/kg, Rabu (30/4) Rp 6700/kg, Kamis (1/5) Rp 6500/kg, dan Jumat (2/5) Rp 6300/kg. Dan Semarang diawal pekan masih Rp 7000/kg (28/4), tetapi Jumat (2/5) tercatat Rp 6400/kg. Kecenderungan turunnya harga broiler hidup di pasar P. Jawa secara keseluruhan dipengaruhi faktor yang sama. Yaitu pasok ayam yang mulai membengkak dan permintaan yang masih biasa saja, bahkan dibeberapa daerah menunjukkan indikasi makin sepi.

Sementara perdagangan broiler hidup di luar pulau Jawa seperti di Kalimantan dan Sulawesi belum banyak mengalami perubahan. Di P. Kalimantan terpantau hanya di Pontianak yang mencatat kenaikan harga dari pekan lalu Rp 6000/kg (26/4), pekan ini Rp 7500/kg (3/5). Kondisi ini disebabkan pasok ayam besar yang mulai berkurang, sedangkan di kota-kota lainnya pasokan masih berlebihan dengan ukuran rata-rata di atas 2 kg.

Sedangkan di P. Sumatera seperti di Medan, Lampung, Padang, Palembang, dan Jambi secara umum perdagangan broiler hidup menampilkan perubahan harga yang menurun. Tercatat hanya di Jambi saja yang menampakan sedikit kenaikan harga, dari Rp 6200/kg (26/4) menjadi Rp 6500/kg (3/5). Kecenderungan turunnya harga broiler di sana juga hampir sama dengan di Kalimantan yaitu ayam yang masih cukup banyak di pasar, karena daya serap pasar yang rendah.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

MEMASUKI pekan ini, perdagangan telur ayam ras seakan mengalami booming. “Laris manis seperti lebaran saja”, ujar peternak layer asal Palembang yang merasa kewalahan melayani pesanan telur dari Jakarta. Kencangnya permintaan telur pekan ini merupakan kelanjutan pekan lalu yang berakhir di harga Rp 6500/kg (26/4). Memasuki pekan ini di pasar DKI Senin (28/4) Rp 6700/kg, Selasa (29/4) Rp 6900/kg, Rabu (30/4) dan Kamis (1/5) Rp 7000/kg, dan Jumat (2/5) Rp 6800/kg.

Kenaikan ini sebagian memang dampak melambungnya permintaan di pasar lokal sentra produksi Palembang dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tetapi juga akibat aksi timbun telur oleh para agen di Jakarta dalam rangka menyambut masa Maulidan di pekan depan. Sehingga tak mengherankan, setelah harga  naik secara fantastis, di akhir pekan harga turun kembali.

Harga Telur Sekonyong-Konyong naik

29 April, 2003 Uncategorized No comments

PoultryIndonesia.Com, Analisa Pasar. Setelah  hampir dua bulan harga telur ayam ras ex-farm mengalami keterpurukan, pekan ini mulai terjadi perbaikan. Masa tanggung bulan dan dampak bulan Sapar yang ‘tabu’ bagi masyarakat Sunda, ternyata masih kalah dengan faktor maraknya acara-acara keluarga di hampir sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini diperkirakan akan semakin baik sampai menjelang bulan Maulid. Salah satu bulan “terbaik” untuk mengadakan hajatan keluarga bagi umat Muslim.

Sentra produksi telur di Blitar, Pare-Kediri dan Malang mencatat kenaikan harga secara beruntun. Senin (21/4) dan Selasa (22/4) Rp 5300/kg, Rabu (23/4) Rp 5600/kg, Kamis (24/4) Rp 5800/kg dan Jumat (25/4) Rp 6000/kg. Kenaikan ini disebabkan permintaan lokal wilayah JATIM dan luar pulau (Kawasan Timur Indonesia) yang makin deras. Maraknya permintaan juga tidak terlepas dari faktor musim giling padi dan panen hasil pertanian lain akhir-akhir ini.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Harga telur di pasar Jakarta yang sebagian telurnya dipasok dari daerah, secara spontan pada medio pekan ini juga mengalami kenaikan. Hal ini cukup mengagetkan peternak DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Pasalnya, sejak Kamis (24/4) harga langsung bergerak naik dua kali dalam sehari. Tercatat Senin (21/4) s.d Rabu (23/4) Rp 5800/kg, Kamis (24/4) Rp 6000-6200/kg, dan Jumat (25/4) 6200-6400/kg.

Kenaikan harga telur di Jakarta juga didukung oleh penyesuaian harga telur dari Palembang dan Lampung. Meski di pasar lokal kedua wilayah itu masih di Rp 5200/kg dan Rp 5400/kg, tetapi untuk pengiriman ke Jakarta bisa Rp 6000/kg. Pasar lokal seperti di Palembang  hanya terpengaruh sedikit dari sebelumnya Rp 5000/kg (23/4), Jumat (25/4) 5200/kg.

“PERMINTAAN sepi, tapi ayam juga tidak banyak. Jadi harga cenderung tetap”, kata Arifin. Komentar peternak broiler asal Mojokerto itu menjadi gambaran umum situasi perdagangan broiler dua pekan terakhir. Meski begitu, peluang harga broiler ex-farm akan anjlok bukan berarti sudah nihil. Bahkan memasuki akhir pekan ini sebagian besar daerah di JATIM, JATENG dan JABAR sudah menunjukkan tanda-tanda itu.

Terpantau di JATIM Senin (21/4) s.d Kamis (24/4) masih Rp 7200/kg, tetapi Jumat (25/4) Rp 7000/kg. Kemudian di pasar Jakarta, meski terlihat stabil di Rp 8000/kg sepanjang pekan ini, tetapi potongan harga Rp 100-200/kg sudah berjalan. Sementara di JATENG secara keseluruhan stabil di Rp 7500/kg, bahkan di DI Yogyakarta dan Magelang sedikit ada sebesar Rp Rp 100/kg.

Sedangkan situasi pasar di wilayah di P. Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, perubahan harga broiler berlangsung variatif. Sebagian mengalami kenaikan dan sebagian lagi turun. Namun secara umum situasi perdagangan broiler di Samarinda, Banjarmasin, Makassar, dan Jambi belum cukup menguntungkan bagi peternak. Daya beli yang rendah dan syndrom akhir bulan bagi masyarakat daerah masih tetap menjadi ganjalan utama.

BILA kita mau sedikit ‘bermain’ membaca siklus produksi DOC broiler selama ini, hingga saat ini sesungguhnya belum mengalami perubahan. Biasanya siklus produksi didasarkan pada hitungan per-triwulan-an.  Setidaknya itu disampaikan oleh seorang pengamat dari Surabaya.

Menurutnya produksi DOC untuk triwulan ke-2 ini yang dimulai April ini, akan mengalami puncak pada Mei ini. “Jadi wajar saat ini trend harga DOC broiler menurun”, ujarnya. Di JATIM diinformasikan, harga DOC broiler sudah ditawarkan Rp 1500/ekor, sedangkan peternak banyak yang tidak mau. “Nggak tahu apa peternaknya tidak punya uang atau takut harga ayam nanti akan jatuh. Kalau saya memang tidak punya uang”, seloroh Arifin mengaku.

Telur Malaysia Hantui Pasar Jakarta

17 April, 2003 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com. Pinsar. HARGA telur turun berapa, pak ? Telur Malaysia kan masuk, harga bisa turun, dong, tanya seorang agen telur dengan PD-nya. Apa yang terjadi? Beredarnya isu telur Malaysia masuk ke pasar Jakarta ternyata masih menjadi phobia. Karena ini tidak saja termakan oleh para agen telur yang lain, tetapi juga ditakuti sebagian peternak layer di Jabotabek.

Sayangnya, isu itu boleh dibilang sedikit ngawur. Pasalnya, telur tersebut sesungguhnya berasal dari peternak layer di Singkawang, Kalimantan Barat. Yang orientasi pasarnya lebih ditujukan ke Malaysia Timur. Hanya saja, pasar Malaysia menghendaki telur ukuran besar, sedangkan orang Jakarta menghendaki telur ‘sisa’ yang satu kilo isi 18 butir. Beruntung isu ini tak didengar Bu Menperindag yang sedang dibuat kalang kabut oleh harga gula dan masuknya pakaian bekas dari Malaysia.

Ditengah terpuruknya harga telur ayam ras ex-farm di pasar DKI dan sekitarnya, kiriman telur yang sudah berlangsung sekali pada pekan kemarin, kini terjadi lagi. Padahal harga telur di sana Rp 6000/kg, Rp 300-400/kg lebih tinggi dibanding di pasar Megapolit Jakarta. Tetapi untuk kali ini dikabarkan banyak yang mengalami kebusukan. Perjalanan yang panjang, proses sortiran dan pengumpulan yang makan waktu menyebabkan telur mudah rusak.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Tak pelak, kekhawatiran peternak sedikit agak berkurang, karena situasi harga telur di pasar DKI yang macet di Rp 5700/kg, sangat tidak diharapkan akan turun lagi. Sedangkan untuk pasar daerah Palembang, permintaan telur lokal masih cukup ramai, sehingga harga masih terpaku di Rp 5000/kg. Ini berarti juga sedikit mengurangi pegiriman ke Jakarta.

Sementara di pasar sentra produksi Blitar dan sekitarnya harga tidak beringsut di kisaran Rp 5200/kg. Agaknya, cukup lancarnya permintaan luar pulau, cukup mengurangi beban stok dari penumpukan. Untuk pekan depan, situasi diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan. Potensi turunnya harga karena faktor makin dekatnya tanggung bulan, bisa diimbangi dengan makin diminatinya ayam tua yang diafkir, tak heran harganya-pun mulai bergerak naik, terutama di pasar daerah.

KONDISI perdagangan broiler hidup ex-farm di pasar DKI dan sekitarnya pada pekan ini makin mengalami kelesuan. Meski harga masih menampakan kenaikan, karena pasok ayam besar (1,6 kg ke atas) yang terlalu terbatas. Harga Rp 8200/kg (17/4) bagi konsumen dianggap sudah terlalu mahal, sehingga peminat makin dijauhi konsumen. Apalagi saat ini harga ikan sedang jatuh hingga 50%, akibat wabah SARS yang menghentikan ekspor ikan ke kawasan negara-negara yang terkena wabah itu.

Tidak jauh beda dengan situasi di JATENG, harga broiler hidup di sana masih dalam kisaran Rp 7400-7600/kg (17/4) dalam pekan ini. Meski permintaan tidak begitu bagus, tetapi karena stok ayam besar tergolong kekurangan, maka harga masih saja berkibar. Berbeda dengan di JATIM, meski saat ini sedang musim panen komoditas pertanian, tetapi permintaan tetap sepi. Menurut narasumber PINSAR di Mojokerto, penyebabnya adalah harga ayam yang sudah dianggap terlalu mahal. Padahal menurut penjelasan Trina – pengelola poultry shop di Madiun tidak kurang hajatan keluarga sudah cukup ramai.

Sedangkan untuk pasar Kalimantan, harga broiler hidup belum juga mengalami perbaikan berarti. Di Samarinda dan Balikpapan harga Rp 3200-3500/kg, dan di Banjarmasin Rp 5700/kg, penyebabnya ayam menumpuk di kandang sampai ukuran 3kg lebih. Hal ini mendorong DOC broiler akan mengalir ke P. Jawa. Maka, perlu diwaspadai, karena pekan depan harga broiler diperkirakan akan sedikit mengalami penurunan seiring masuknya masa tanggung bulan.

hedol

Silakan mengutip dan atau mengkopi artikel ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com