Siklus Lima tahunan yang Bikin Pusing Peternak

PoultryIndonesia.com, Pinsar. SIKLUS lima tahunan sedang melanda perunggasan nasional”, demikian komentar singkat seorang peternak Surabaya melihat jeleknya kondisi bisnis ayam selama hampir delapan bulan ini. Apa yang dimaksud dengan siklus tersebut adalah sejak dahulu setiap lima tahun sekali peternak seakan diseleksi oleh “alam” untuk diuji daya tahannya dalam bisnis ayam ini.

Namun jalan seleksi bisa saja bermacam-macam. Ditinjau dari faktor permintaan seperti daya beli masyarakat yang lemah. Atau dari segi pasokan seperti over produksi bibit sehingga ayam besarpun berlimpah, sampai pada gangguan produksi seperti oleh musim kemarau. Prinsipnya adalah peternak dihadapkan berbagai macam situasi yang selalu tidak nyaman untuk usaha.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Terhitung tahun 2003 ini sudah dua kali harga broiler di tingkat peternak terpuruk di kepala Rp 3000-an, yaitu Bulan Februari dan Maret lalu. Dan kini, sepekan terakhir tanda-tanda harga akan anjlok juga mulai nampak. Harga terpantau di pasar Jakarta turun drastis, Jumat (1/8) resminya tinggal Rp 5400/kg, tetapi realisasinya ada yang lempar ke pasar Rp 4500/kg, di JATIM Rp 4200/kg dan JATENG Rp 4600/kg.

Sedangkan di pasar luar P. Jawa sedang dalam proses jatuh bebas, Jumat (1/8) rata-rata harga broiler Rp 5000-an, terkecuali di Pontianak. Aksi banting harga menurut berbagai sumber lebih banyak dilakukan perusahaan-perusahaan budidaya yang memiliki basis pembibitan.

Jalan apa yang sedang dilalui dalam rangka seleksi ini ? Musim lesunya permintaan selama bulan Juli-September yang berbeda dibanding tahun lalu yang cukup baik. Berdekatan tahun ajaran baru anak sekolah, musim ikan yang segera memuncak, atau masa pancaroba cuaca yang mengganggu produksi atau yang lain ?

Bercermin dari situasi harga di Pontianak yang masih fantastis yaitu Rp 8700/kg. Menurut informasi, ini disebabkan karena pasok DOC broiler ke sana sangat memperhitungkan kapasitas serap pasar. Maka dapat disimpulkan, faktor yang menyebabkan harga jatuh adalah lebih karena kelebihan pasok. Artinya ada indikasi bahwa jumlah bibit yang diproduksi tidak memperhitungkan daya tampung pasar.

Dari mana peternak broiler mulai berharap untuk bisa bertahan ? Cuma satu, yaitu harapan turunnya harga DOC broiler. Dan saat ini harga DOC ternyata juga terus melorot. Terpantau secara resmi ditawarkan Rp 1250/ekor, tetapi transaksi bisa ditawar hingga Rp 700-850/ekor. Dengan begitu peternak broiler betul-betul bisa mengisi ulang kandangnya.

TAK jauh beda dengan kondisi perbroileran, kini peternak layer juga sudah masuk pada perulangan mengalami tekanan harga yang kelewat murah. Di pasar Jakarta Jumat (1/8) tinggal Rp 5100/kg, di sentra produksi Blitar dan Palembang Rp 4500/kg. Dengan harga di tingkat peternak tersebut, ditingkat konsumen hanya Rp 6000/kg. Apa yang bisa dilakukan oleh peternak ? Tidak ada, sebab kekuatan mekanisme pasar bebas tidak mungkin bisa dikontrol.

Maka dari itu, saat ini tepat waktunya bagi peternak layer untuk mulai ikat pinggal dalam pengelolaan usahanya. Sebab dalam beberapa waktu ke depan, hampir tidak ada momen yang bisa mengangkat harga.

hedol

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Ketika Puncak Produksi DOC Broiler Tiba

Poultryindonesia.com, Pinsar. LIBUR panjang sekolah sudah tiba. Saat yang lama dinanti siswa ini, menjadi momen untuk melepas kejenuhan disiplin sekolah. Biasanya, bagi siswa yang tinggal di daerah, tur wisata akan dilakukan menuju kota-kota besar. Tetapi, bagi siswa di kota besar lebih banyak digunakan bermain di pusat-pusat pertokoan ataupun mal. Maka tidak heran, saat ini outlet-outlet restoran siap saji fried chicken makin sesak dipenuhi sekumpulan anak-anak usia sekolah.

Logikanya, omset restoran juga melonjak. Dan pada galibnya peternak broiler juga ikut senang, karena produk usahanya juga makin laku. Maka pasal harga broiler di tingkat peternak naik juga wajar.

Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, harga broiler hidup ex-farm malah cenderung turun. Di pasar Jakarta dan sekitarnya terpantau harga resmi untuk ayam ukuran 1,6 kg ke atas macet, Senin (9/6) s.d Jumat (13/6) Rp 6400/kg. Jika dilihat terlihat stabil, tetapi sesungguhnya potongan harga sudah dimainkan secara kacau. Hal ini menurut pelaku pasar disebabkan permintaan ayam besar di pasar tradisional masih sepi. Jadi secara keseluruhan penyerapan broiler di pasar masih lemah. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Demikian juga di pasar JATIM, dibanding pekan lalu harga dalam pekan ini cenderung turun, meski selama pekan ini masih tak bergeming di Rp 6000-6100/kg. Harga broiler lebih parah lagi di daerah pertempuran dua perusahaan kemitraan terbesar. Yaitu di Tulunggagung, Trenggalek, Pare-Kediri dan Blitar, harga broiler besar di sana hanya Rp 5500/kg.

Tidak berbeda di JATENG harga broiler hidup bertahan di Rp 6000/kg.

Diprediksikan pada pekan depan situasi belum banyak berubah, bahkan resiko harga lebih terpuruk sangat besar peluangnya. “Pertengahan Juni ini, adalah puncak produksi DOC. Jadi pasok broiler sedang memasuki skala banjir ayam”, demikian ungkap narasumber PINSAR di Surabaya.

MASA libur di daerah ternyata juga banyak dimanfaatkan untuk mengadakan hajatan, karena bertepatan dengan bulan Bakda Mulud. Dari anak laki-laki yang akan dikhitan sampai ngunduh mantu (menikahkan).

Meski hajatan keluarga marak dan permintaan telur sedang mengalami kenaikan, akan tetapi harga tidak juga ada perubahan. Memasuki pekan ke-5 ini harga telur di pasar Jakarta dan sekitarnya masih bertahan di Rp 6500/kg. Padahal produksi ditengarai mulai turun, karena banyaknya ayam usia afkir sulit keluar, akibat harga jual yang terlalu murah.

 Keadaan yang sama dialami juga di daerah sentra produksi Blitar, Solo, dan Palembang. Harga adem ayem di Rp 6100/kg, Rp 5900 dan Rp 5700/kg. Sungguhpun demikian situasi pasar seperti ini lebih disukai peternak layer. “Saya lebih suka stabil seperti ini, meski tidak terlalu besar marginnya, namun hati lebih tenang”, ungkap peternak di Blitar.

DI sisi lain, harga layer afkir di Rp 5200/kg cukup mengganggu peternak. Kini sedikit melegakan. Pasalnya, kabar angin makin kencang bahwa harga DOC layer akan segera turun. Narasumber PINSAR di JATIM menuturkan harga DOC layer saat ini sudah berjalan di Rp 1000-1500/ekor. “Meski dijual tanpa merk, sesungguhnya itu produksi breeding bonafit.

Katanya, sih agar tidak merusak harga pasar”, ungkapnya. Ia juga menambahkan, jika peternak mau menahan dua minggu lagi membeli DOC layer, harga resmi pasti akan di kisaran Rp 1500-an/ekor. sam/pinsar

Pembibit Naikkan Harga DOC, Peternak Resah

PoultryIndonesia.com, Pinsar. PERSOALAN klasik berulang lagi. Peternak broiler resah, akibat pembibit menaikan harga DOC broiler terlalu tinggi, tepatnya Senin (26/5) menjadi 2750/ekor, bahkan di lapangan ditawarkan Rp 2900/ekor. Tak pelak, pehimpunan peternak broiler dari Tasik-Ciamis, Yogyakarta, Bogor, Bandung dan Sukabumi, Banyumas, Garut dan Banjar memboikot pembelian DOC selama beberapa pekan.

Seperti biasa, pembibit beralasan “klise” bahwa produksi DOC broiler sedang turun, jadi absah secara hukum pasar. Tetapi beberapa  peternak berkomentar : “Inilah dampak dari unjuk gigi kepengurusan GPPU terbaru, yang mentargetkan harga DOC selalu fantastis”, ujar soerang peternak. Lalu yang lain : “Ini tidak lain dari upaya penghancuran peternak mandiri, agar terpaksa mengikuti kemitraan”, kata peternak narasumber PINSAR sudah beberapa kali dirayu ikut kemitraan, terutama untuk kandang-kandangnya yang sudah lama menganggur.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Apapun spekulasi negatif yang muncul dari peternak mandiri, sesungguhnya tidak terlepas rasa gerah mereka dari situasi tekanan yang selalu tidak menguntungkan. Dan keadaan ini tercipta karena sampai saat ini tidak ada perangkat hukum yang jelas dan aparat yang tegas untuk mengatur bisnis ini. “Elok”-nya, momen pelambungan harga DOC broiler berlangsung di tengah situasi harga broiler besar sedang terpuruk.

Di pasar Jakarta dan sekitarnya harga broiler ukuran 1,6-1,8 kg terpantau Senin (26/5) s.d Kamis (29/5) Rp 6400/kg. Harga terkesan stabil, tapi sesungguhnya pemberlakuan potongan harga terus berjalan semakin tinggi, dari Rp 100/kg sampai Rp 400/kg. Sedangkan di pasar JATIM terlihat lebih ekstrim Senin (26/5) Rp 6800/kg, Selasa (27/5) Rp 6200/kg, Rabu (28/5) Rp 5800/kg dan Kamis (29/5) Rp 5700/kg. Untuk pasar JATENG Senin (26/5) Rp 6800/kg, Selasa (27/5) Rp 6500/kg, Rabu (28/5) Rp 6000/kg dan Kamis (29/5) Rp 5600/kg.

Terpuruknya harga broiler di tingkat peternak selama pekan ini disebabkan karena daya serap pasar yang sangat lemah. Ini mendorong ayam makin membanjir di pasar, karena penundaan panen juga sudah berlangsung sejak lama. Kondisi awal bulan agaknya tidak banyak berpengaruh. Apalagi bertepatan dengan masa pendaftaran murid baru sudah berlangsung, yang sudah pasti menyedot banyak anggaran rumah tangga. Maka pada pekan-pekan depan harga broiler ex-farm perlu lebih dicermati perubahannya.

HAMPIR selama tiga pekan terakhir ini harga telur ayam ras di tingkat peternak tak bergeming di kisaran Rp 6400-6500/kg. Khususnya di pasar DKI dan sekitarnya. Demikian juga di sentra-sentra produksi telur. Seperti di Blitar harga masih dalam kisaran Rp 5900-6100/kg dan di Palembang di Rp 5700/kg.

Kecenderungan stabilnya harga telur ini menurut berbagai sumber disebabkan permintaan masih cukup lancar. Meski pasang surut permintaan terjadi, lebih disebabkan faktor proses distribusi yang kurang lancar. Seperti pengiriman telur dari daerah Blitar ke luar pulau yang tergantung oleh keterbatasan kapal angkut.

Khusus di pasar Bandung dan Jakarta, keberadaan telur dari Medan yang terkenal murah, terkadang sedikit menjadi gangguan stabilitas harga, meski jumlah dan intensitas pengirimannya tidak banyak. Apalagi situasi di Aceh yang sudah memungkinkan pengiriman barang dilakukan

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Maulud Nabi Picu Kenaikan Harga Telur

Poultryindonesia.com, Makassar. Maraknya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan (Sulsel) memicu melonjaknya harga telur dan beras ketan di daerah itu sejak akhir pekan lalu.

Harga telur ayam di sejumlah pasar di Makassar, Senin, naik dari Rp450/butir menjadi Rp600/butir, telur itik naik dari Rp600 menjadi Rp700/butir.

Selain telur, beras ketan putih juga mengalami kenaikan dari Rp4.000 menjadi Rp5.000/kg dan beras ketan hitam/merah rata-rata Rp6.000/kg Harga telur setiap bulan Maulid mengalami kenaikan dan berlangsung hanya beberapa hari karena kebutuhan telur untuk peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad berlangsung hampir disemua kawasan pemukiman penduduk, kata H Hasman Ali, Iman Masjid Istiqomah.

Perayaan Maulid tahun ini, selain di gelar oleh Majelis Taqlim di setiap Rukun Warga (RW), juga diselenggarakan sejumlah Paguyuban dan kerukunan keluarga dari berbagai wilayah yang berada di Makassar.

Salah satu ciri khas perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Sulsel antara lain ditandai dengan telur hias yang dipadu dengan nasi ketan dikemas dalam bentuk bakul berisi sekitar lima hingga sepuluh kilogram nasi kemudian dihiasi tumpukan telur berwarna-warni.

Bakul yang berisi nasi ketan dan telur ayam hias kemudian di pajang di depan para tamu dan undangan, setelah perayaaan selesai telur dan nasi dibagi-bagikan kepada semua tamu untuk disantap bersama dalam suasana suka cita.

Peternak Pertanyakan Harga DOC Broiler

Poultryindonesia.com, Pinsar. TERHITUNG tiga pekan terakhir kecenderungan naiknya harga DOC broiler menjadi pembicaraan kalangan peternak broiler. Apa sesungguhnya yang diinginkan oleh para pembibit ? Begitu pertanyaan yang selalu muncul dibenak peternak broiler.

PINSAR mencatat harga DOC broiler di pasar DKI Jakarta, JABAR, JATIM dan JATENG terpatau Senin (19/5) lalu sudah naik menjadi Rp 2200/ekor, berselang sehari naik menjadi Rp 2250/ekor (20/5), kemudian Kamis (21/5) menjadi Rp 2500/ekor dan Senin (26/5) harga mulai dipatok Rp 2750 per ekor.  <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Perihal jawaban atas pertanyaan tersebut diakui sangat sulit dijawab. Namun menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, hal itu disebabkan pembibit mengalami penurunan produksi DOC. Banyaknya kasus internal pada ayam parent stock (PS) menyebabkan produksi turun dan kualitas DOC rendah, terutama untuk breeding di wilayah JATIM.

Faktor inilah yang menyebabkan pasokan DOC broiler mengalami penurunan, bahkan isu mengalirnya DOC dari JABOTABEK dikirim ke JATIM sudah terdengar reporter PINSAR sejak dua pekan lalu. Ini juga bisa dilihat dari proses kenaikan harga DOC broiler yang cenderung lebih cepat terjadi di wilayah JATIM.

Apa pasal yang membuat peternak makin gerah akibat kenaikan harga DOC broiler ? Sayang seribu sayang ini berlangsung di tengah situasi harga broiler besar yang terus mengalami penurunan, tepatnya sejak akhir April lalu.

Masa bulan Maulid yang menjadi ‘mitos’ untuk mengais rezeki sudah tidak ada artinya lagi. “Permintaan memang ramai, tetapi herannya kenapa harga malah turun ?” begitu kata peternak melihat situasi pasar broiler bulan Maulid kali ini.

Perdagangan broiler hidup sebulan terakhir ini memang menunjukkan perubahan harga yang cenderung menurun. Terpantau selama pekan ini di pasar Jakarta dan sekitarnya Senin (19/5) s.d Rabu (21/5) Rp 6800/kg, lalu Kamis (22/5) s.d Jumat (23/5) Rp 6600/kg untuk ayam ukuran 1,6 – 1,8 kg.

Untuk ukuran > 1,8 kg selisih Rp 200/kg, bahkan pemberlakuan potongan harga juga sudah berlangsung, terutama untuk ayam dari perusahaan fully integrator.

Kecenderungan harga turun disebabkan pasar yang makin sepi akibat masa tanggung bulan. Permintaan masih cukup ramai hanya untuk ayan ukuran < dari 1,4 kg, sehingga harganya juga relatif stabil di Rp 7300/kg – Rp 8200/kg.

Sementara itu agak berbeda situasi pasar broiler di JATIM, terpantau harga pada awal pekan ini mengalami kenaikan, meski turun kembali memasuki akhir pekan. Senin (19/5) 7300/kg, Selasa (20/5) s.d Rabu (21/5) Rp 7500/kg, lalu Kamis (22/5) Rp 7300/kg dan Jumat (23/5) Rp 7000/kg.

Kenaikan ini menurut narasumber PINSAR lebih disebabkan pasok ayam yang sangat kurang. Pasok DOC broiler yang kurang, kasus-kasus penyakit akibat iklim panas dan sebagian peternak mandiri yang meliburkan kandangnya ditengarai menyebabkan ayam sepi di pasar.

Sedangkan di wilayah JATENG dan Yogyakarta, perubahan harga berlangsung variatif. Sebagian daerah mengalami kenaikan terutama yang memiliki akses langsung ke pasar JATIM. Pasokan ayam yang kurang di sana bisa di manfaatkan pemilik kandang di kedua wilayah tersebut untuk mensuplainya.

UNTUK perdagangan telur ayam ras selama pekan ini relatif stabil karena antara pasokan dan permintaan telur terlihat berimbang perubahannya. Terlihat dari perubahan harga yang cenderung tetap. Di pasar DKI dan sekitarnya berkisar di Rp 6400-6500/kg dan di Palembang Rp 5600/kg.

Agak berbeda di sentra produksi telur di Blitar yang kisaran harganya Rp 5800-6100/kg. Hal ini mengingat kemampuan Blitar memasok kebutuhan telur di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Meskipun tidak kontinyu, sesekali pengiriman barang ke luar pulau terjadi cukup deras, sehingga hargapun akan ikut terangkat.

hedol/pinsar