Harga Ayam Potong Merangkak Naik

Poultryindonesia.com, Jakarta. Memasuki minggu pertama bulan Ramadhan, harga ayam potong mulai merangkak naik. Harga ayam potong jenis broiler, yang sebelumnya hanya sekitar Rp 10.000/kilogram, kini sudah mencapai Rp 12.000/kilogram.

Ada juga pedagang yang menawarkan harga ayam potong jenis broiler, yang semula Rp 9.000/ekor, menjadi Rp 10.000/ ekor. Sementara itu, harga ayam kampung kini naik sekitar Rp 3.000-Rp 5.000/ekor. Biasanya, kata pedagang ayam kampung di Pasar Jatinegara, harga ayam kampung ukuran kecil hanya Rp 12.000/ekor, dan sekarang menjadi Rp 15.000-Rp 17.000/ ekor.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Ny Maria, pemilik warung makan di kawasan Jatinegara, kepada Kompas di Jakarta, Selasa (28/10) pagi, menyatakan, “Sebelum puasa, saya biasanya membeli ayam kampung ukuran besar hanya Rp 25.000 per ekor. Sekarang, harganya sudah Rp 30.000 per ekor.”

Meski terjadi kenaikan harga, minat masyarakat untuk membeli ayam potong tampaknya terus meningkat. Mereka tidak terpengaruh isu banyaknya ayam mati di beberapa daerah akibat penyakit tertentu. Juga tidak terpengaruh isu peredaran bangkai ayam.

Yamin, pedagang ayam potong di Pasar Jatinegara, mengatakan, jumlah ayam potong yang terjual mencapai 450 ekor setiap hari. Jumlah itu sangat meningkat tajam karena biasanya jumlah yang terjual hanya sekitar 300-350 ekor.

“Untungnya, stok ayam potong dari daerah-daerah sekitar Jawa Barat masih terus ada,” kata Yamin, sambil melayani konsumen.

Di Pasar Tanah Abang, harga daging kambing juga meningkat dari Rp 35.000/kilogram menjadi Rp 38.000/kilogram.

Kenaikan harga daging kambing dan ayam kontan membuat penjual sate pusing. “Kita enggak bisa naikin harga sate, tetapi harga dagingnya naik terus. Mau cari untung, eh malah harganya naik,” kata Udin, penjual sate di Pasar Tanah Abang.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian DKI Sukri Bey yang telah meninjau sejumlah pasar mengatakan, “Meski kenaikan harga kebutuhan pokok diperkirakan mencapai 10-15 persen, stok untuk warga DKI masih tergolong aman.”

Kebutuhan warga Jakarta, antara lain minyak goreng curah tercatat sebanyak 61.000 ton, gula pasir 57.439 ton, dan beras dari Dolog 164.125 ton. kcm/and

 

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

 

Pernyataan Pejabat dan Penderitaan Peternak

Poultryindonesia.com, InfoPinsar.  Akhir pekan lalu  Dirjen Bina Produksi Peternakan Deptan Sofjan Sudardjat mengatakan bahwa penyebab wabah penyakit misterius selama ini adalah virus New Casttle Disease (ND) varian velogenik yang memiliki tipe serangan ganas. Apa yang menjadi pertanyaan peternak kini terkuak. Sementara diberitakan juga Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat memberlakukan pemeriksaan ternak dan hasil produk ternak di perbatasan Jabar dan Jateng seperti di Losari dan Banjar. Ini dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.Tetapi tindakan pemerintah daerah ini malah menimbulkan jejak penderitaan bagi pelaku bisnis telur ayam.

Narasumber Pinsar mengisahkan bahwa pengiriman telur ke luar pulau yang melalui pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya harus diperiksa cukup ketat oleh Dinas Karantina. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel tiga butir telur. Bila ternyata mengandung virus, maka telur tidak diperbolehkan diangkut dan harus dimusnahkan.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Akan tetapi jalan cerita menjadi lain bila fulus ikut bicara. Pasalnya, telur yang sudah diperiksa, meski belum jelas ada virus atau tidak, maka bila sang saudagar telur mau sedikit ‘bersedekah’, barangpun aman melaju ke seberang pulau !

Inilah sekelumit kisah, cerita dibalik merebaknya penyakit yang sangat ditakuti peternak. Dan bukan mustahil, pungutan liar semacam ini ikut merebak menjadi wabah susulan.

Sementara pukulan balik kepada peternak yang dikhawatirkan Pinsar dengan melambungnya harga telur ternyata terjadi. Hasil pantauan harga telur ayam ras di pasar DKI Jakakarta sejak awal pekan ini terjun bebas dari ‘ketinggian’ harga Rp 8200/kg (18/10). Memasuki pekan ini telur ayam ras di tingkat peternak melorot tidak terkendali Senin (20/10) Rp 7200/kg, Selasa (21/10) Rp 6700/kg, Rabu (22/10) Rp 6500/kg, Kamis (23/10) Rp 6300/kg dan Jumat Rp 6500/kg.

Di akhir pekan ini memang terjadi kenaikan, ini tidak lebih karena  di pasar lokal Blitar yang sebelumnya anjlok dari Rp 8000/kg (18/10) menjadi Senin Rp 7600/kg, Selasa (21/10) Rp 6500/kg, Rabu (22/10) Rp 5500/kg, Kamis (23/10) Rp 4800/kg, Jumat (24/10) naik kembali Rp 5600/kg. Adapun penyebab anjloknya harga, karena barisan spekulan masih memiliki stok telur di gudang. Seberapapun sedikitnya stok, tapi gertakannya cukup ampuh untuk membuat peternak banting harga.

Di akhir pekan ini, harga telur berpeluang besar akan naik kembali, sebab saat media Warta Harga ini ditulis hingga besok Sabtu (25/10) momen munggahan mencapai titik puncaknya. Kabar berita permintaan telur makin kencang-pun bukan lagi hanya isapan jempol.

BISNIS broiler di pekan terakhir sebelum puasa ini mengarah pada naiknya harga. Di pasar JATIM broiler hidup ex-farm Jumat (24/10) seharga Rp 7500/kg, naik dari sebelumnya Kamis (23/10) Rp 7300/kg, sedang di Semarang dari Rp 7200/kg menjadi Rp 7400/kg. Tapi menurut peternak faktor penyebabnya karena merebaknya kematian ayam dan ayam kerdil sejak sebulan lalu. Jadi volume produksi secara keseluruhan terpangkas sampai 15 persen.

Di pasar DKI Jakarta Senin (20/10) s.d Jumat (24/10) harga cenderung stabil di Rp 7600/kg, khususnya untuk ayam ukuran 1,6 kg ke atas. Meski kabar memberitakan pasok ayam besar tidak terlalu banyak, tapi permintaan belum cukup mengangkat harga.

Untuk pasar DOC broiler, harga cenderung turun.  Kini di perdagangkan tinggal seharga Rp 1750/kg. Hal ini karena 30 hari kedepan bertepatan dengan lebaran. Sehingga banyak kandang yang dikosongkan karena anak kandang yang pulang mudik.

hedol/pinsar

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com

Harga Daging Ayam Turun, Karena Kelebihan Produksi?

Poultryindonesia.com, Purwokerto. Memasuki bulan Ramadhan, harga daging ayam di beberapa daerah cenderung turun. Di Purwokerto, Senin (27/10), daging ayam dapat diperoleh dengan harga Rp 7.300/kg di tingkat produsen. Padahal, sehari sebelumnya, harga masih berkisar Rp 7.400 hingga Rp 7.500/ kg. Penurunan harga ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga pertengahan bulan puasa.

Pimpinan PT Mitra Asih Abadi (MAA) Purwokerto-produsen ayam broiler yang memiliki 200 peternak plasma-Paulus Widjanarko mengatakan, penurunan harga ini disebabkan produksi berlimpah atau kelebihan produksi. Lebaran biasanya menjadi momen yang ditunggu-tunggu peternak untuk meningkatkan produksi daging. Ia memperkirakan, selama dua minggu (H-7 sampai H+7 Idul Fitri) produksi ayam hanya dari petani mandiri dapat mencapai 500.000 ekor.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

“Untuk mengejar Lebaran, peternak biasanya memproduksi secara besar-besaran. Tak ada yang mengatur hal ini, sehingga produk pun berlimpah. Padahal, permintaan dari Jakarta yang selama ini menjadi konsumen terbesar turun. Harga pun mau tak mau menurun. Dengan demikian, ada kemungkinan ayam itu tidak akan terserap pasar seluruhnya,” ujar Paulus.

Ia mengatakan, pasaran ayam selama beberapa hari terakhir memang terasa sepi. Apabila pada hari normal kebutuhan ayam di Banyumas dan sekitarnya mencapai 30.000 ekor/ hari, saat ini permintaan ayam turun tinggal 20.000 ekor/hari.

Selain harga daging ayam, harga telur pun anjlok. Di tingkat pengecer, harga telur hari Senin ini hanya Rp 5.700 hingga Rp 5.800/kg. Padahal, seminggu sebelumnya, harga telur berada di kisaran Rp 8.000/kg.

Di Pasar Johar, Semarang, telur ayam ras yang biasanya Rp 7.500/kg, sejak satu minggu terakhir pun turun menjadi Rp 6.500/kg. Menurut pedagang, penurunan harga telur ayam ini kemungkinan disebabkan stok yang cukup, sementara permintaan untuk keperluan Lebaran belum banyak.

Berbeda dengan daging ayam, harga sejumlah komoditas seperti minyak goreng; bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, gula kelapa, kelapa (santan), dan lain-lain, justru naik. Harga kelapa misalnya, pekan lalu sebutir kelapa dapat dibeli Rp 800, tetapi kini jadi Rp 2.000. Harga bawang merah juga naik dari Rp 3.000 jadi Rp 4.000, bawang putih dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.500. Sementara harga kemiri yang pekan lalu masih Rp 8.000, kini menjadi Rp 11.000, dan gula kelapa dari Rp 3.500 menjadi Rp 3.750.

Silakan mengkopi dan atau mengambil artikel ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com

Harga Telur Anjlok

Poultryindonesia.com, Banyumas. Selain harus menghadapi kerugian akibat serangan penyakit mematikan, peternak ayam petelur kini pun dihadapkan pada situasi yang tidak kalah rumitnya. Masyarakat kini mulai enggan mengonsumsi telur, permintaan pasar dalam dua hari terakhir mengalami penurunan cukup tajam yang mengakibatkan harga telur menjadi sangat fluktuatif.

Pada dua hari sebelumnya harga telur menanjak hingga Rp 8.400,00 diduga terjadi kekosongan pasokan dari sentra produksi telur. Namun, mulai hari ini (Rabu, 22/10) harga telur di tingkat produsen anjlok menjadi Rp 6.000,00-Rp 6.700,00/kg. “Permintaan pasar sangat sepi, ada kemungkinan masyarakat kini mulai enggan mengonsumsinya. Mungkin mereka khawatir tertulari penyakit ayam,” ungkap Gembong. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Anjloknya harga telur tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Jawa Timur (Blitar) yang merupakan sentra produksi telur terbesar di provinsi tersebut, harga telur menurun dari Rp 7.500,00 menjadi Rp 5.300,00/kg.

Penyakit yang menyerang ayam petelur di sejumlah provinsi tersebut diduga disebabkan oleh virus ganas, tetapi virus tersebut mudah mati pada suhu 30 derajat celsius selama tiga jam. “Telur tersebut aman dikonsumsi jika dimasak dengan benar. Jika dipanasi selama dalam suhu 60 derajat celsius selama 60 menit, virus tersebut akan mati,” jelas pemilik PT Sawung Sari.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kebupaten Banyumas drh. Mashuri Aldiah menguatkan keterangan Gembong bahwa penyakit yang menyerang ayam petelur disebabkan oleh sejenis virus. Mengingat penyebarannya sangat cepat dengan mortalitas yang tinggi. “Penyakit yang menghinggapi ayam petelur bukan penyakit kolera atau ND (Newcatle Desease), tetapi jenis virus baru. Virus tersebut akan mati dalam suhu 30 derajat cessius dalam tiga jam,” urai Mashuri kemarin.

Namun begitu, Mashuri membantah jika ayam tersebut terkena virus flu burung juga bukan zoo nosis. Virus tersebut hanya menulari ayam petelur. Untuk itu, diharapkan para pedagang, peternak, dan masyarakat tidak perlu berlebihan dalan menyikapi kasus ini.

Diharapkan melalui PAI, para peternak dan Disnakan mampu mengantsipasi penyebaran penyakit tersebut dengan cara memantau perkembangan penyakit tersebut khususnya di empat kabupaten, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Kedua, menutup lalu lintas kandang yang sudah tertulari virus serta memusnahkan semua ayam yang sudah terjangkiti termasuk bangkainya. Ketiga, untuk kandang yang masih sehat akan diawasi secara ketat oleh peternak dan Disnakan. pr/and

Silakan mengkopi dan atau mengambil artikel ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com

 

Maka, Melonjaklah Harga Telur

PoultryIndonesia.com, Pinsar. PUKULAN wabah penyakit yang diduga Very Virulent Newcasttle Disease (VVND) yang diderita peternak di Legok, Tangerang pekan lalu ternyata lebih dulu menghantam peternak layer di sentra produksi telur Blitar. Sisi positifnya adalah, harga telur terangkat.

PINSAR mencatat, salah satu farm berpopulasi 30.000 ekor hanya menyisakan 800 ekor hanya dalam kurun waktu sepekan. Selanjutnya isu penyebaran wabah juga sudah mencapai Pare-Kediri, Malang, Magelang dan Purwokerto dengan berbagai angka kematian yang simpang siur.

Namun begitu sebagian besar pihak yang terkait masih bertanya-tanya apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Sementara isu penyebaran lebih gencar terjadi di kalangan technical service (TS), khususnya dari perusahaan obat hewan. 

Sedangkan dari hasil investigasi lapangan oleh beberapa wartawan perunggasan hanya menunjukkan kematian yang tidak berarti. Apapun yang sesungguhnya terjadi, pihak pemerintah seharusnya segera menyimpulkan jenis penyakit yang sangat ditakutkan peternak layer itu. Dalam hal ini pihak Dirjen Kesehatan Hewan harus segera memberi penjelasan secara terbuka jenis penyakit apa yang sesungguhnya sedang mewabah. Dan sejauh mana tingkat resiko yang ditimbulkannya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Meskipun untuk sementara, dampak dari banyaknya kasus kematian menimbulkan lonjakan harga telur yang sangat fantastis. Hasil pantauan PINSAR di pasar DKI harga telur ex-farm Jumat (17/10) melonjak tajam menjadi Rp 8000/kg dari pekan sebelumnya Rp 5800/kg (11/10). Menurut peternak tingginya kematian ayam dalam kasus penyakit kali ini berakibat produksi telur terpangkas, sehingga pasok barang cenderung kosong. Apalagi peristiwa ini terjadi di tengah permintaan yang cukup tinggi berkenaan dengan masa ruwahan.

Di pasar daerah JATIM yang menjadi salah satu daerah endemi situasi harga juga menujukkan perubahan sangat ‘radikal’. Harga telur di Blitar pekan lalu hanya Rp 5150/kg (10/10), hari ini Jumat (17/10) Rp 7200/kg. Berdasar keterangan pelaku pasar di sana, faktor penyebabnya dampak wabah penyakit yang sama. Apalagi permintaan ke Kawasan Timur Indonesia (KTI) sedang melonjak. Agaknya acara semacam megengngan (menyambut bulan Ramadhan) bagi orang Jawa masih cukup kuat mendongkrak permintaan telur.

Sejauh mana kenaikan ini akan terus berlanjut ? Dipastikan juga akan memukul balik bahwa konsumen mulai enggan makan telur.

UNTUK situasi bisnis broiler pekan ini, kenaikan harga broiler hidup yang disebabkan cukup tingginya permintaan berlangsung sejak tujuh hari terakhir. Tetapi memasuki akhir pekan ini, keadaannya mulai diliputi makin sepinya permintaan. Terpantau di Jakarta Senin (13/10) Rp 7500/kg, Selasa (14/10) Rp 7700/kg, Rabu (15/10) s.d Kamis (16/10) Rp 7800/kg, dan Jumat (17/10) Rp 7600/kg. Cukup tingginya permintaan, tidak terlepas dengan masa ruwahan yang berlangsung.

Sedang di pasar JATIM dan JATENG juga menunjukkan situasi yang tidak berbeda. Terppantau di Surabaya naik menjadi Rp 7200/kg (17/10) dari pekan lalu Rp 6100/kg (11/10) dan Semarang naik menjadi Rp 7100/kg dari sebelumnya Rp 6300/kg (11/10).

Namun keadaan ini sangat disayangkan peternak broiler, sebab kenaikan ini sebelumnya disambut kenaikan harga bibitnya menjadi Rp 3000/ekor (13/10) dari sebelumnya Rp 2500/ekor. hedol

 

Silakan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya  : www.poultryindonesia.com