Program CHICK DAY merupakan salah satu bentuk pelayanan dari Ceva Animal Health Indonesia untuk memberikan edukasi kepada pelanggan mengenai vaksinasi di hatchery dan perkembangannya. Acara kali ini mengusung tema “Raising Broiler Without Antibiotic” untuk merespon isu terkini di industri peternakan.
“Pada tahun ini Ceva menghadapi tantangan baru dan kami selalu berusaha untuk terus meningkatkan pelayanan agar dapat memuaskan pelanggan,” ujar Edy Purwoko, Country Manager Ceva Animal Health Indonesia, dalam sambutannya pada acara yang berlangsung di Santika Hotel Premiere Bintaro, 7 Maret 2018. Edy menambahkan, pada acara kali ini terdapat satu sesi yang berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu adanya Ceremony Award untuk C.H.I.C.K (Ceva Hatchery Immunization Control Keys) program berupa Attestation of Recognition dari Bureau Veritas Group, lembaga sertifikasi manajemen yang independen dan bergerak di bidang jasa, testing, inspeksi serta sertifikasi.
Perusahaan kesehatan hewan pertama
Pada 17 Desember 2017, Ceva Animal Health Indonesia telah mendapatkan pengakuan (Attestation of Recognition) dari Bureau Veritas Group, atas pemenuhan standard operating procedure (SOP) C.H.I.C.K Program dalam hal kualitas, kinerja, dan inovasi yang dilakukan oleh Ceva. Penyerahan simbolis apresiasi ini diberikan secara langsung oleh Bureau Veritas kepada Ceva dalam acara CHICK DAY 2018.
Pengakuan (Attestation of Recognition) untuk Ceva.
Penyerahan plakat apresiasi dari Bureau Veritas kepada Ceva.
C.H.I.C.K program merupakan program service yang diberikan oleh Ceva sebagai support untuk para pelanggan hatchery-hatchery mulai dari perawatan baksin, teknik vaksinasi, perawatan peralatan, audit dan monitoring dan yang terakhir adalah training berkelanjutan.
Dengan adanya pengakuan ini, maknanya pelayanan yang diberikan oleh Ceva Indonesia sudah diakui dan berstandar internasional. Hal itulah yang menjadi added value dan unggul dibanding dengan kompetitor yang ada.
Leader vaksinasi di hatchery
Sementara itu, drh. Ayatullah M. Natsir, Technical and Marketing Manager Ceva Animal Health Indonesia, memaparkan seputar program vaksinasi hatchery dari Ceva yang dinamakan Ceva Hatchery Immunisation Control Keys. Lebih dari 15 ribu peralatan vaksinasi Ceva telah beroperasi di seluruh dunia serta didukung para profesional di bidang ini untuk mengontrol kualitas vaksinasi.
Ceva menyediakan inovasi vaksin yang lengkap dan didukung peralatan yang aman dan efektif untuk proses vaksinasi di hatchery. “Kunci kesuksesan vaksinasi di hatchery ada tiga hal, yaitu peralatan, kontrol proses, dan vaksin itu sendiri,” ujar Ayatullah. Melalui C.H.I.C.K Program, Ceva memiliki tujuan untuk membuat ayam dapat 100% tervaksinasi dengan baik.
Dengan mengakuisisi Ecat dan ID project pada tahun 2016, Ceva semakin memantapkan diri untuk lebih fokus di hatchery melalui proses otomatisasi sekaligus vaksinasi di hatchery. Dimana Ecat-ID project akan lebih fokus di otomatisasi di hatchery yang salah-satunya untuk mendukung Ceva dalam teknologi vaksinasi hatchery antara lain vaksinasi in-ovo yaitu Egginject.
Peran vaksinasi dalam mengurangi AGP
Penyakit pada ayam terus berkembang seiring dengan pertumbuhan industri perunggasan yang kian pesat di berbagai negara. Tantangan ini menimbulkan keresahan bagi peternak terutama dalam memelihara broiler di era AGP-free seperti saat ini.
Dr. Marcelo Paniago, Director Veterinary Services Ceva Animal Health Asia, mengatakan bahwa vaksinasi bisa menjadi solusi untuk mengendalikan penyakit. “Vaksinasi bisa membantu mencapai tujuan tersebut, tetapi faktor lainnya juga harus menjadi bahan pertimbangan,” jelasnya. Faktor yang dimaksud, antara lain manajemen dan biosekuriti.
Marcelo melanjutkan, kontrol penyakit akan lebih baik melalui biosekuriti ketat, peningkatan higienitas pada level breeder/hatchery, menghentikan penggunaan antibiotik yang tidak perlu, dan penerapan vaksinasi yang aman. Kualitas vaksinasi berkontribusi untuk mengurangi infeksi bergulir pada ayam dan menurunkan reaksi setelah vaksinasi (post-vaccination reactions/PVR). Ciri-ciri ayam yang mengalami reaksi berlebihan setelah vaksinasi, yaitu lemah, lesu, dan nafsu makan menurun sehingga bisa menghambat pertumbuhan ayam. “Infeksi bergulir ini bisa meningkatkan penggunaan antibiotik,” imbuh Marcelo.
Sejumlah uji telah dilakukan di peternakan dengan program vaksinasi dari Ceva dengan menggunakan Cevac® IBird. Salah satunya diaplikasikan pada suatu peternakan di Malaysia. Hasilnya, terjadi pengurangan 50% dari biaya pengobatan berkat pengendalian Infectious Bronchitis (IB) yang lebih baik.
Tantangan lain dalam membesarkan broiler tanpa antibiotik adalah manajemen kandang. Kebersihan dan desinfeksi perlu dilakukan untuk mengurangi tantangan penyakit yang akan dihadapi oleh ayam. “Manajemen ventilasi kandang yang tepat juga sangat penting untuk mengurangi PVR,” tandas Marcelo.
Perspektif manajemen dan biosekuriti
Narasumber lainnya, Amin Suyono, S.Pt., Regional Technical Manager Cobb Vantress Asia Pacific, menjelaskan topik tentang membesarkan broiler tanpa antibiotik dilihat dari perspektif biosekuriti dan manajemen. Dalam pemaparannya, meski antibiotik pada broiler dihapuskan, stabilitas masih bisa dijaga dengan pemberian nutrisi pada broiler serta penerapan manajemen dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak yang terkait.
“Kuncinya adalah teamwork. Misalnya, anak ayam harus dalam kondisi sehat saat tiba di farm dan tetap sehat dalam pemeliharaan. Ini akan melibatkan setiap departemen untuk menjalankan bagiannya,” pungkas Amin. Artinya, komunikasi antara Breeder Farm, Hatchery, Nutrition, Veterinary, dan Broiler Farm harus berjalan baik.
Pada breeder, poin penting yang harus diperhatikan, yaitu kebersihan telur tetas dengan melakukan desinfeksi. Lapisan kutikula yang merupakan lapisan terluar pada telur ketika mengering akan menutup pori-pori di permukaan sehingga membuatnya menjadi lebih kecil. Karena itu, telur tetas tanpa kutikula memiliki kontaminasi bakteri yang lebih tinggi di dalam telur.
Sedangkan pada broiler, manajemen air sangat vital untuk keberhasilan produksi boiler tanpa AGP. Air merupakan lingkungan yang sempurna untuk mikroba. Oleh karena itu, sistem air minum harus dibersihkan dengan benar. “Pipa dibersihkan dengan dibersihkan dengan acid,” ucap Amin.
Ia juga menjelaskan, suhu air idealnya berada di bawah 20 derajat celcius, terutama saat vaksinasi melalui air minum. “Jaga selalu suhu di bawah 25 derajat celcius,” lanjut Amin. Pada akhirnya, penting bagi berbagai pihak—tidak hanya peternak—untuk menjaga kondisi unggas di era tanpa AGP. Adv