Penggunaan teknologi modern closed house system dalam pemeliharaan broiler saat ini dan di masa depan dinilai mampu meningkatkan produksi secara signifikan. PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) sebagai pemain di industri broiler yang telah lama menggunakan teknologi closed house berkomitmen untuk ikut berkontribusi dalam dunia pendidikan untuk mempersiapkan generasi baru yang andal khususnya di industri perunggasan.
CPI melalui Lembaga Karya Pokphand (LKP) telah menyatakan komitmennya untuk menghibahkan kandang closed house kepada empat universitas, antara lain Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar, dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Penandatanganan perjanjian kerja bersama Surat Kesepakatan Pemberian Hibah Pengadaan Kandang dan Surat Perjanjian Pendampingan Pengelolaan Kandang tersebut telah berlangsung pada 15 Mei 2016 di Gedung BPPT yang dihadiri oleh Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti, Dirjen PKH, dan Ketua Dewan Riset Nasional.
Peresmian pertama hibah closed house
Penandatanganan prasasti menandai resminya hibah closed house di Undip.
Peresmian sekaligus penandatanganan prasasti hibah kandang closed house yang pertama dilangsungkan di Universitas Diponegoro, Semarang pada 23 September 2017. “Kami sangat mengapresiasi atas gerak yang luar biasa cepat dari FPP karena closed house ini dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan, dan menjadi closed house pertama yang kita resmikan,” ungkap Tjiu Thomas Effendy, Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia dalam sambutannya pada kesempatan tersebut.
Dengan adanya program ini, CPI ingin berpartisipasi dalam dunia pendidikan yang mengarah kepada implementasi sehingga mahasiswa lebih siap ketika masuk ke dalam industri. Thomas mengatakan, teknologi peternakan akan selalu berkembang sehingga setiap insan yang berada pada industri ini perlu membuka wawasan, sampai dimana perkembangan perunggasan kita terutama dalam hal teknologi. 
“Dengan adanya closed house ini, tidak hanya sekadar sarana untuk praktik pembelajaran, tetapi yang kami harapkan lebih adalah bagaimana memunculkan inovasi-inovasi baru yang dihasilkan dari closed house itu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat,” harap Thomas.
Sementara itu, Yos Johan Utama selaku Rektor Undip menyambut baik hadirnya closed house tersebut. “Ini menjadi awal bagi Undip untuk menuju ke industri yang lebih maju kedepannya. Sehingga ketika mahasiswa masuk ke industri, mereka sudah siap,” ujarnya. Ia juga menuturkan bahwa ia mengapresiasi industri yang peduli dengan pendidikan untuk kemajuan industri perunggasan.
Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) yang turut hadir dalam peresmian tersebut menuturkan di dalam sambutannya bahwa industri peternakan sangat penting bagi Indonesia. Sehingga seluruh pihak, baik dari pemerintah maupun swasta, perlu mendorong bagaimana menciptakan peternakan menjadi lebih baik. “Saya berharap bantuan dari CPI ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Kedepan mahasiswa harus betul-betul bisa mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Peresmian closed house ini menjadi satu rangkaian dengan acara Reuni Akbar 53th Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip yang dimeriahkan oleh alumni FPP Undip mulai dari angkatan 1964-2000.
Kerja sama hibah closed house dengan universitas lainnya
Peresmian hibah kandang closed house di Unsoed.
Bertempat di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto pada Kamis, 14 Desember 2017, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) meresmikan hibah kandang sistem closed house yang kedua. Thomas Effendy mengatakan bahwa program kerja sama ini merupakan kepedulian CPI untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Ia menambahkan, Unsoed dipilih sebagai salah satu perguruan tinggi yang mendapat hibah karena banyak menghasilkan sarjana andal. “Sampai saat ini alumni peternakan Unsoed yang ada di CPI mencapai 307 orang. Saya senang karena alumni Unsoed mau bekerja di desa,” ujar Thomas.
Dari informasi yang disampaikan, CPI berharap dengan adanya program bantuan pemberian closed house ke beberapa perguruan tinggi, akan meningkatan skill mahasiswa dalam berbudi daya ayam. “Jika sudah terbiasa dengan teknologi closed house, nanti saat lulus sudah tidak kaget dan siap kerja,” harapnya.
Kandang berkapasitas 20.000 ekor tersebut memiliki fasilitas lengkap dengan teknologi closed house modern yang disediakan oleh CPI. Teaching Farm kandang closed house ini diharapkan bisa menjadi sarana bagi mahasiswa untuk belajar mengenai perkembangan teknologi di industri perunggasan.
Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU selaku Ketua Dewan Riset Nasional yang hadir juga pada acara peresmian, mengatakan dengan adanya hubungan perguruan tinggi dengan korporasi, maka kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan dari adanya kerja sama tersebut. “Dengan adanya closed house di Unsoed, maka dosen dapat melakukan riset di sana. Lantas untuk korporasinya dapat memanfaatkan riset yang dihasilkan nanti,” ujar Bambang.
Rektor Unsoed, Dr. Ir. Achmad Iqbal, M.Si dalam sambutannya berujar, perguruan tinggi tidak dapat berkembang jika tidak bekerja sama dengan pihak luar termasuk swasta. “Unsoed sebagai kampus yang memiliki basis karakter perdesaan sangat cocok dengan CPI yang sebagian besar unit bisnisnya berada di desa,” ungkap Iqbal.
Iqbal juga menyampaikan ucapan terima kasih dengan adanya hibah closed house yang diberikan oleh CPI kepada Unsoed. “Saya berpesan kepada mahasiswa yang hadir di ruang ini, manfaatkan sebaik-baiknya fasilitas ini agar nanti saat kalian lulus dan masuk dunia kerja, kalian sudah siap,” harap Iqbal saat kuliah umum berlangsung di sela-sela acara peresmian.
Sebagai informasi, selain program hibah closed house kepada empat universitas termasuk Unsoed, CPI juga telah lama memiliki perhatian lebih terhadap dunia pendidikan. Hingga 2017, CPI sudah mengasuh sebanyak 3.500 anak, dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi. Ada pula pemberian beasiswa untuk ratusan mahasiswa yang tersebar di berbagi universitas di Indonesia. Adv