Tantangan pengembangan indusri pakan selalu dikaitkan dengan pangan dan energi. Kompetisi antar ketiga sektor tersebut yakni feed, food and fuel saat ini kian ketat. Hal tersebut diperburuk dengan terjadinya perubahan iklim global, sehingga terjadi perubahan secara masif pola tanam, produksi dan distribusi pangan termasuk bahan pakan di dalamnya. Isu lain adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, sehingga menuntut terjaminnya keamanan pakan yang berpengaruh langsung terhadap keamanan pangan asal hewan.

Jaminan ketersediaan pakan secara tidak langsung akan mampu menjamin ketahanan pangan hewani. Industri pakan di Indonesia, secara umum cukup berkembang, namun untuk industri pakan ternak ruminansia dan ternak lainnya masih memerlukan perhatian yang lebih serius. Hal ini disebabkan, sebagian besar masih dilakukan secara individu atau kelompok dalam skala kecil.

Hal tersebut mengemuka dalam sebuah diskusi tentang sistem logistik pakan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Bogor pada akhir Desember 2015 lalu. Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain Dr. Mursyid Mas’um dan Dr. Maradoli Hutasuhut (Direktorat Pakan), Dr. Arnold Sinurat dan Dr. Winugroho (Balitnak), Prof Nahrowi (AINI), dan sejumlah narasumber penting lainnya.

Pemerintah pusat melalui APBN telah mendukung pengembangan logistik pakan melalui fasilitasi unit pengolah pakan ruminansia dan unggas, unit lumbung pakan ruminansia, unit usaha hijauan pakan ternak, unit usaha bahan pakan, serta integrasi ternak tanaman. Di sisi lain, sistem pemeliharaan ternak (khususnya ruminansia) yang dilakukan oleh peternakan skala menengah ke bawah yang masih mengalami kendala signifikan dalam penyediaan bibit dan bahan pakan.

Fakta tersebut menjadi penyebab belum maksimalnya produksi ternak lokal. Kecukupan pakan pada usaha ternak ruminansia masih menjadi kendala yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan musim di mana pada musim tertentu tingkat ketersediaan pakan akan menurun tajam dan sebaliknya. Ketersediaan pakan juga dipengaruhi oleh pola penggunaan/pemilikan lahan serta menyebarnya lokasi-lokasi sumberdaya pakan yang berjauhan dengan kawasan-kawasan usaha peternakan sehingga diperlukan sinkronisasi keterkaitannya sebagai sebuah sistem. Sistem yang dimaksud adalah suatu model pengelolaan sumberdaya pakan sesuai dengan supply-demand dan potensinya secara terintegrasi.

Sistem Logistik Pakan (LSP) secara teknis terkait dengan bagaimana mendapatkan pakan yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan jumlah yang tepat, kondisi yang tepat dengan biaya terjangkau dan memberikan nilai tambah bagi semua pihak. Kondisi ini tentu saja memerlukan
jaminan ketersediaan secara kuantitas dan kualitas. Substansi logistik pakan juga harus dilihat dari sisi manajemen ternak sehingga penggunaan pakan lebih efektif dan efisien, sesuai dengan kondisi ternak, misalnya bunting tua, laktasi, dan lain-lain. Andang – AINI.