Peradangan atau inflamasi dapat mengurangi profitabilitas dan membahayakan kesehatan serta kualitas produk ternak. Inflamasi sering terjadi pada produksi ternak modern, terutama ketika penggunaan antibiotik mulai dikurangi. Mngendalikan inflamasi menjanjikan return on investment (ROI) dalam hal konversi pakan dan memberi manfaat kesehatan bagi ternak. Sistem untuk mengendalikan inflamasi ini diusulkan untuk menggantikan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan. Dengan mengelola pemicu inflamasi dan mengurangi peradangan secara aktif, peternak bisa mencapai hasil produksi yang baik dengan alternatif antibiotik, sekaligus menjaga kesejahteraan hewan.
Dimana dan kapan inflamasi terjadi?
Peningkatan inflamasi sudah menjadi perhatian dalam sistem produksi ternak sejak penggunaan antibiotik dihentikan. Peningkatan inflamasi ini menjadi tantangan dalam produksi ternak modern di berbagai negara.
Ada berbagai pemicu yang bisa memunculkan inflamasi, seperti stres oksidatif, mikotoksin, stres lingkungan, tingkat pertumbuhan hewan yang cepat, dan disbakteriosis usus. Beberapa titik awal inflamasi juga memicu inflamasi lainnya (misalnya stres lingkungan mengakibatkan disbakteriosis) yang dapat menyebabkan siklus peradangan yang lebih ganas.
Cara kerja AGP
Pada awalnya, penemuan efek AGP merupakan ketidaksengajaan. Namun setelah itu, muncul beberapa penjelasannya (setelah Niewold, 2007):
1) Penghambatan infeksi subklinis,
2) Pengurangan metabolit yang tidak diinginkan
(misalnya, amonia),
3) Berkurangnya penggunaan nutrisi primer oleh mikroba, dan
4) Penyerapan nutrisi yang meningkat.
Akan tetapi, semua ini tidak bisa menjelaskan efek AGP pada berbagai macam zat antibiotik yang berbeda. Salah satu faktor umum yang dimiliki AGP adalah efek non-antibiotik. Dalam dosis rendah, AGP bisa bertindak sebagai anti-inflamasi. Regulasi di banyak negara, termasuk di Indonesia, telah mengatur penggunaan antibiotik atau melarang antibiotik karena efeknya terbukti anti-inflamasi.
Mengapa modulasi inflamasi relevan dengan produksi ternak modern?
Terdapat beberapa hal yang menyatakan bahwa modulasi inflamasi relevan dengan produksi ternak modern. Pertama, Inflamasi membutuhkan energi. Kenaikan suhu sebesar satu derajat saja memang tidak memperlihatkan dampak yang besar. Akan tetapi, kenaikan tersebut memerlukan energi yang besar, terutama pada hewan yang relatif kecil seperti unggas. Semua pengeluaran energi berkaitan dengan biaya konversi pakan yang dapat memengaruhi produksi.
Sementara itu, di antara perdebatan panjang di kalangan ilmuwan, telah disepakati bahwa fisiologi hewan memprioritaskan pemanfaatan energi. Selama seekor hewan mengalami kekurangan energi karena peningkatan energi akibat inflamasi, hewan tidak dapat mencapai potensi genetik secara optimal dalam hal pertumbuhan maupun hasil produksi seperti susu atau telur.
Inflamasi juga menyebabkan rusaknya integritas usus. Pada kasus disbakteriosis parah, hal tersebut bisa dilihat secara makroskopis. Pada tingkat seluler, efeknya bisa dilihat dari tight junctions yang tidak tertutup sempurna, produksi mucus yang berlebihan, dan hilangnya struktur usus (berkurangnya panjang villi dan kedalaman crypt). Rusaknya dinding usus membuat patogen seperti Enterococcus cecorum atau Campylobacter lebih mudah untuk berpindah tempat ke dinding epitel. Pada saat yang sama, zat tambahan seperti mikotoksin atau kontaminan, pada tingkat yang lebih tinggi saat peradangan, akan semakin melemahkan struktur.
Bagaimana ciri-ciri efek anti-inflamasi?
Ada berbagai tes yang digunakan untuk mengevaluasi respons pro- dan anti-inflamasi. Standar terbaik untuk mengevaluasi efek anti-inflamasi adalah dengan menginduksi inflamasi, misalnya dengan menggunakan 2,4,6-trinitro benzene sulfonic acid TNBS (Foligné et al 2012) dan mengendalikan efek berbahaya peradangan dengan obat anti-inflamasi, seperti prednisolon. Dalam sebuah penelitian, PB6 (CLOSTAT™) dibandingkan dengan prednisolon diperoleh hasil yang positif dan signifikan.
Mengatasi inflamasi
Inflamasi secara langsung dapat memengaruhi produktivitas, kualitas produk perunggasan (misalnya, potensi bakteri invasif, seperti Salmonella atau Campylobacter), dan kesejahteraan hewan. Solusi terbaik adalah memanfaatkan imbuhan pakan alami yang telah terbukti memberikan hasil positif terhadap ROI. Dengan kata lain, solusi anti-inflamasi akan memberi dampak positif pada ekonomi dan kesehatan. Namun, karena sifat inflamasi multi-faktor, maka membutuhkan solusi lengkap. Manajemen mikotoksin yang cerdas dengan mengikat mikotoksin di hewan daripada mengurangi efek sesudahnya (misalnya, TOXFIN™) dan mengelola mikrobioma untuk mencegah disbakteriosis semuanya harus dipertimbangkan. CLOSTAT™ telah menunjukkan efektivitasnya dalam mengelola disbakteriosis dan peradangan pada beberapa penelitian (Abdelqader, et al 2012 dan Foligné et al 2012). Inflamasi bisa ditangani dengan sukses jika beberapa faktor yang memicunya dikelola secara tangkas. Adv