POULTRY INDONESIA, Bantul – Erzani merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di bagian Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbagai karya yang telah dihasilkan Erzani menjadi alasan untuk menyebutnya sebagai inisiator di bidang peternakan kalkun. Bahkan, ia telah mampu meng-gerakkan orang-orang di sekitar rumahnya untuk turut serta mengembangkan bisnis peternakan kalkun. Erzani yang lahir pada 26 Mei 1974 tinggal di Dusun Pandes, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, DIY. Hingga kini, setidaknya ia telah menggerakkan sekitar 10 orang di Kecamatan Jetis menjadi pengusaha kalkun. Omzet penjualan daging dan telur kalkun yang dikelolanya bisa mencapai Rp 7 juta per bulan. Tentu jumlah tersebut mampu terus meningkat seiring bertambahnya pula stok kalkun yang ada.
Bisnis peternakan kalkun di Indonesia belum begitu banyak. Padahal, potensi mendulang rupiah dari bisnis ini sangat besar, karena potensi pasar masih terbuka lebar. Restoran ternama di pusat wisata seperti Bali, Kota Bandung dan juga Kota Jakarta, masih memenuhi kebutuhan daging kalkun dengan cara impor. Hal tersebut disebabkan pasokan daging kalkun dari peternak lokal belum sesuai dengan kriteria pengusaha kuliner. Misal, dalam hal konsistensi kuantitas.
Erzani membangun peternakan kalkun berawal dari pemanfaatan lahan kosong di belakang rumah­nya. Bahan baku untuk pakan kalkun cukup melimpah, seperti pohon pisang, lumbu, ketela pohon, dedak, eceng gondok, dan lain sebagainya. Dalam bisnis kalkun, Erzani boleh dibilang sukses. Keberhasilan itu dia bangun dari bawah. Ketika membuka peternakan kalkun, Erzani hanya punya lahan seluas 10 meter persegi, diisi empat ekor kalkun yang dibeli di bawah harga Rp 2 juta. Kini dia sukses membangun kandang kalkunnya di areal yang lebih luas dan kini telah memiliki 20 ruangan kandang dengan luas total 1.000 meter persegi.
Learning by doing adalah cara ampuh yang dipilih Erzani dalam beternak.
Melihat peluang usaha
Erzani memulai usahanya pada akhir tahun 2010. Saat itu kalkun masih dikenal oleh masyarakat sebagai ayam hias. Erzani yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, kemudian mencari cara untuk memberdayakan masyarakat, salah satunya dengan peternakan kalkun. Berawal dari empat ekor indukan betina dan satu ekor indukan jantan, setelah dipelihara selama tiga bulan, dua ekor kalkun ternyata mati. Namun Erzani tidak menyerah. Kemudian dalam waktu enam bulan ia sudah bisa balik modal hingga mendapat keuntungan Rp 7 juta per bulan. Karena tidak punya latar belakang pendidikan peternakan, dia belajar secara otodidak dengan cara learning by doing dari internet seperti Youtube dan website mancanegara. Referensi di Indonesia dari pengalaman peternak tidak begitu banyak, sehingga ia terpaksa belajar dari referensi luar negeri. Namun pada akhirnya ia harus mencoba sendiri di lapangan. “Saya harus mencoba sendiri karena dari luar negeri agak berbeda,” jelasnya.
Terdapat tantangan tersendiri dalam beternak kalkun. Oleh karenanya, Erzani terus mencari referensi dengan berbagai macam bacaan, serta mempraktikkan di kandang. Semisal, mengenai jumlah kalkun dalam kandang. Perbandi­ngan yang ia ketahui adalah 5 ekor betina dan 1 jantan. Namun setelah dicoba, ternyata tidak proporsional. Terdapat kalkun yang bersifat dominan. Akibatnya, ada telur-telur yang kosong dan juga tidak bisa ditetaskan. Kemudian juga me­ngenai tinggi kandang. Telur kalkun juga dipengaruhi oleh tata letak kandang, karena hal itu berkaitan dengan cuaca. “Akhirnya saya menemukan cara terbaik dalam breeding kalkun,” tuturnya.
Salah satu kandang milik Erzani yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Bagi Erzani, kalkun bukan sekadar ayam hias. Namun setelah sukses breeding kalkun, permintaan kalkun sebagai konsumsi terus meningkat, dan ia memandang bisnis kalkun sebagai tambang emas. Kini, ia dibanjiri pesananan kalkun untuk konsumsi khususnya dari usaha rumah makan serta hotel di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Dengan segala upaya yang telah dilakukan, Erzani dipercaya oleh Pemkab Bantul dalam Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Saat ini ia melihat prospek bisnis kalkun semakin baik. “Dari segi usaha untuk ke depannya, ada kecenderungan arahnya bukan ke hias, tapi ke potong,” ka­tanya.
Erzani memperkirakan, ada kecenderungan konsumsi kalkun terus meningkat. Jika dahulu kalkun di Eropa hanya dikonsumsi para raja, sekarang, kalkun bisa dikonsumsi siapa saja. Di Yogyakarta sudah mulai banyak hotel, restoran, kafe, warung bahkan lesehan menawarkan menu rica-rica, steak, mie, bubur, dan opor da­ging berbahan kalkun.
Menarik perhatian masyarakat
Karena kalkun dianggap barang baru, para tetangga Erzani menilainya sebagai ternak yang cukup aneh. Mereka bertanya kalkun itu pasaranya di mana, dan apakah ada yang mau membelinya. Namun, Erzani tetap melangkah dengan yakin. Kini bisnis yang dianggap aneh itu sudah dianggap luar biasa, dan banyak juga yang tertarik untuk budi daya kalkun. Karena keunikannya, beberapa stasiun televisi juga datang ke Bantul untuk meliput kegiatan ternak kalkun Erzani.
Erzani juga kerap mencarikan proposal bantuan dana untuk masyarakat sekitar di Wonokromo. Tahun 2016, ia mendapat bantuan Rp 10 juta dan pada 2017 mendapat Rp 21 juta untuk peternak di Wonokromo. Kelompok ini terdiri dari 10 orang yang memelihara 50 ekor ayam kalkun. “Saya mengawasi langsung manajemen dan pemasarannya,” tuturnya.
Sebagai inisiator breeding kalkun, Erzani sering diundang ke daerah lain untuk memberi pelatihan. Tahun 2015, ia diundang oleh Dinas Peternakan Yogyakarta untuk memberikan pelatihan pada warga Kelurahan Gedungkiwo, Yogyakarta. Belum lama ini pula, komunitas peternak di Klaten mengumpulkan anggotanya untuk mengadakan pemberdayaan terhadap warga kurang mampu yang bekerja sama dengan Pundi Duafa, dan meminta Erzani memberi pelatihan budi daya kalkun. Selain memberikan pelatihan, banyak juga yang tertarik untuk belajar pada Erzani, seperti para mahasiswa dari Universitas Mercubuana, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta perangkat desa dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Mereka semua datang ke kandang milik Erzani di Bantul karena ingin belajar manajemen pemeliharaan kalkun secara langsung.
Pernah gagal dan ditipu
Menurut Erzani, setiap orang yang ingin sukses harus belajar dari kegagalan. Dalam breeding kalkun, dia juga melewati proses ujian itu dan tidak selamanya niat baik disambut baik pula oleh orang lain. Orang dengan niatan jahat tetap saja ada. Erzani juga pernah mengalami pengalaman buruk pada 2014. Ketika itu, ada orang datang dari daerah Wonosobo, Jawa Tengah, mengutarakan bahwa ternak ayam kalkun miliknya diserang Newcastle Desease (ND), karena dipelihara dekat dengan peternakan bebek. Tak lama, orang itu pun pindah ke Bantul. Erzani membantu menyewakan lahan, dan memberi bantuan 90 ekor kalkun. Lalu nahas, setelah ayam kalkun tersebut berkembang biak, orang dari Wonosobo itu pun kabur. Penipu itu meninggalkan sewa lahan serta meninggalkan utang pakan kepada sejumah peternak. Erzani mengaku tidak kecewa, dia hanya akan lebih berhati-hati lagi jika ada orang yang datang kepadanya dengan niat serupa. Karena menurut Erzani, pengalaman adalah guru yang paling mahal. Dengan terus belajar dari pengalaman, Erzani mampu menjadi sosok inspiratif seperti sekarang ini. Mila