Seminar RPHU ini berujuan menciptakan produk unggas yang lebih berkualitas.
 
 
POULTRY INDONESIA, BOGOR – Bertempat di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB (28/01), Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) mengadakan seminar bertajuk “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU)”. Acara yang dilanjutkan dengan mengajak peserta ke salah satu RPHU yang ada di Bogor ini, diadakan dalam rangka pengenalan RPHU yang sudah terstandarisasi dan memenuhi mekanisme kehalalan yang ada di Indonesia.
 
Salah satu narasumber seminar, drh. Supratikno dalam paparannya menjelaskan bahwa proses pemotongan ayam yang sesuai dengan kaidah agama Islam, selain harus halal harus juga toyyib (baik). “Cara memotongnya bisa jadi sudah sesuai syariat (halal), namun jika masih ada yang dilempar atau langsung ditumpuk-tumpuk, itu yang akhirnya jadi tidak toyyib,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang juga merupakan trainer Juru Sembelih Halal.
 
Dia juga menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang sangat ketat terkait faktor kehalalan produk ayam jika dibandingkan negara muslim seperti Timur Tengah. “Negara kita itu sangat ketat terkait aturan halal pemotongan ayam. Strategi dan alasan itulah yang selama ini membuat Brasil susah memasukan produk ayamnya ke Indonesia, kita jauh lebih ketat ketimbang negara muslim lainnya,” tuturnya.
 
Senada dengan Supratikno, drh. Agus Jaelani dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Kementan menjelaskan bahwa proses pemotongan ayam yang ada di Indonesia belum sepenuhnya sesuai standar yang ditetapkan. “Kami mendorong pengusaha perunggasan yang memiliki kemampuan produksi di atas 300 ribu ekor per minggu untuk membangun RPHU sesuai amanat Permentan No.32/2017. Hal ini selain bertujuan untuk meminimalisir ayam yang masuk ke pasar becek, supaya ayam yang dipotong nanti juga lebih aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH),” ungkapnya.