Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melakukan inovasi. Kali ini, UGM menggandeng PT Ciomas Adisatwa yang juga merupakan anak perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk serta Pemerintah Kabupaten Sleman. UGM dan mitranya tersebut meresmikan Laboratorium Pasca Panen Peternakan yang berlokasi di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM, Madurejo, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, pada 18 Desember 2017. Peresmian itu dihadiri oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo; Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng.; Direktur PT Ciomas Adisatwa, Widihartomo Tri Kuncoro.
Sarana pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat

Laboratorium Pasca Panen Peternakan berlokasi di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM.
Diawali dari upaya UGM untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran khususnya di bidang peternakan, pada 19 September 2013 dilakukan rapat koordinasi pertama Bidang Agro di UGM. Selanjutnya, setelah melalui proses sosialiasi hingga kajian lingkungan, maka Laboratorium Pasca Panen Peternakan di PIAT ini mampu dibangun dan diresmikan pada 18 Desember 2017.
Laboratorium Pasca Panen Peternakan yang masih berada satu lokasi dengan area Kebun Pendidikan dan Penelitian Pertanian (KP4) UGM tersebut berkonsentrasi pada produk olahan daging unggas. Hargo Utomo, selaku Ketua Pelaksana Pembangunan Laboratorium sekaligus Dosen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, mengatakan bahwa gagasan pembangunan ini sudah mulai dikonsep sejak 2012. “Harapannya, laboratorium pasca panen ini bisa menjadi pusat pengembangan teknologi, sebagai Agro Science Techno Park di kawasan Kabupaten Sleman,” tambahnya.
Sementara itu, Widihartomo Tri Kuncoro selaku Direktur PT Ciomas Adisatwa mengungkapkan, dengan adanya laboratorium pasca panen peternakan ini bisa mengembangkan keterampilan (skill) mahasiswa agar pada saat lulus nanti menjadi tenaga siap pakai.
“Kita berharap dengan adanya laboratorium pasca panen ini, ekonomi masyarakat sekitar bisa lebih bergairah. By-product nanti kita bisa dibudidayakan atau dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar untuk bermitra. Misalnya, kita bisa membuat keripik dari usus atau ampela ati menjadi produk dari wilayah Sleman,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Sleman, Sri Purnomo berharap dengan adanya fasilitas ini akan memunculkan para wirausahawan yang dapat menciptakan lapangan kerja.
Acara peresmian ini dibuka dengan tarian dari Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta (UKJGS) UGM dan ditutup dengan penandatanganan serta pemotongan pita sebagai tanda diresmikannya Laboratorium Pasca Panen Peternakan UGM dilanjutkan dengan mengelilingi area laboratorium. Acara peresmian ini juga dihadiri pimpinan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk beserta jajarannya.
Didukung fasilitas mumpuni
Laboratorium pengolahan pasca panen daging ayam ini menempati area seluas 14.527 meter persegi. Di area laboratorium tersebut juga terdapat rumah potong ayam (RPA) yang mampu menampung 28 ribu ekor ayam per hari, dan memiliki storage dengan kapasitas 200 ton daging. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki di antaranya gedung utama, mesin pengolahan limbah, gedung administrasi, mes manajer, ruang kuliah, mes mahasiswa, mushola, kantin, serta ruang parkir truk dan peristirahatan ayam.
RPA di PIAT ini merupakan unit ke-16 yang dimiliki oleh JAPFA di seluruh Indonesia. Harapan dengan adanya Laboratorium Pasca Panen ini dapat dimanfaatkan oleh akademisi dan hasilnya bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Mahasiswa sendiri dapat memanfaatkan laboratorium ini sebagai media pembelajaran, yakni dapat digunakan sebagai teaching industry sekaligus teaching factory untuk mendukung proses pembelajaran teknologi pasca panen perunggasan. Mahasiswa diharapkan mampu mengikuti tuntutan zaman, yakni memiliki pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) yang mumpuni tentang industri pasca panen peternakan.
Dalam menjalankan proses pendidikan, teaching industry (TI) menjadi wahana pembelajaran publik berbasis riset dan pengembangan sumber daya manusia yang bersinergi dengan dunia industri. Di samping itu, teaching factory juga menjadi paradigma baru yang mengintegrasikan kegiatan akademik dengan pembelajaran berbasis industri (industry-based learning).
Adanya laboratorium pasca panen ini pun menjadi sarana kegiatan pemberdayaan masyarakat, pengembangan kewirausahaan berbasis perunggasan, dan kegiatan penguatan kapasitas lainnya yang melibatkan partisipasi masyarakat.
Dengan demikian, UGM ikut berperan aktif dalam upaya meningkatkan produktivitas pasca panen, baik di tingkat peternak maupun di laboratorium pasca panen peternakan, untuk memenuhi target volume dan kualitas produksi. Program social empowerment akan berjalan seiring dengan aktivitas operasional Laboratorium Pasca Panen Peternakan.
Keberadaan laboratorium pasca panen peternakan selanjutnya menjadi bagian penting dalam upaya untuk mewujudkan kawasan PIAT sebagai bagian dari rencana UGM mengembangkan taman sains dan teknologi bidang agro (Agro Science Techno Park). Dengan cara itu, keberadaan UGM semakin relevan dengan kebutuhan untuk kemajuan Indonesia, khususnya di industri peternakan. Adv