Beberapa waktu lalu, PT Zoetis Animalhealth Indonesia menyelenggarakan Gut Health Seminar yang berlangsung pada 15 Maret 2018 di Fairmont Hotel Jakarta. Seminar kali ini menarik perhatian banyak peserta, karena menghadirkan narasumber dari pihak pemerintah dan juga para profesional di bidang perunggasan. Dengan demikian, peserta disuguhkan informasi yang padat dan mendapatkan informasi yang berimbang.
“Melalui seminar ini diharapkan bisa memberikan pemahaman agar kita sebagai stakeholder dalam mengimplementasikan Permentan mengenai pelarangan penggunaan AGP dan mengetahui bagaimana langkah menghadapinya dengan lebih baik,” ujar drh. Ulrich Eriki Ginting, MM., General Manager Zoetis Indonesia dalam sambutannya. Acara ini dimoderatori oleh drh. Yana Ariana, Strategic Account Manager, Zoetis Indonesia.
Seminar yang mengangkat topik menarik dan informatif.
Regulasi pemerintah
Pemerintah Indonesia telah mengatur penggunaan antibiotik pada hewan untuk meminimalisir risiko resistensi, yaitu dengan melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) sebagai imbuhan pakan. Konsekuensi penggunaan antibiotik tidak hanya bagi individu, tetapi juga di komunitas, jenis resisten yang dapat menginfeksi masyarakat. Hal itu disampaikan oleh drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, PhD., Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan di dalam presentasinya.
“Solusi alternatifnya yakni, penggunaan feed additive yang dapat meningkatkan feed conversion ratio (FCR) dan kesehatan unggas seperti yang sudah tersedia di market, menerapkan biosekuriti 3 zona, dan meningkatkan kualitas pakan,” ungkap Fadjar.
Melalui Kementerian Pertanian, regulasi mengenai pelarangan dan pengendalian penggunaan AGP dalam pakan serta klasifikasi obat hewan telah diatur dalam Permentan No. 14/2017.
Sementara itu, Ir. Ossy Ponsania sebagai Kasubdit Mutu, Keamanan, dan Pendaftaran Pakan – Direktorat Pakan Ditjen PKH menyatakan, arah kebijakan pakan nasional yakni menjamin ketersediaan pakan ternak (feed security) serta meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pakan yang diproduksi dan yang diedarkan (feed safety).
“Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah memiliki sejumlah strategi,” ujarnya saat menyampaikan presentasi. Beberapa diantaranya, ia menyebutkan, yaitu pengembangan HPT (hasil produksi tanaman), pengembangan pakan olahan dan bahan pakan, pengembangan mutu dan keamanan pakan dengan mengembangkan regulasi pakan, meningkatkan pengawasan mutu, dan mengembangkan laboratorium pengujian mutu pakan.
Dalam Permentan No. 22/2017 juga telah diatur mengenai pendaftaran dan peredaran pakan. Pasal 2 ayat 1 menyatakan pakan yang dibuat untuk diedarkan (untuk diperdagangkan) wajib memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP). Pada pasal 25 huruf a: pakan yang diedarkan harus memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Pakan Yang Baik (CPPB). Untuk mendukung CPPB, pemerintah juga menyediakan fasilitas laboratorium pakan daerah. Hadir pula mengisi diskusi dalam acara tersebut, drh. Ni Made Ria Isriyanthi, Ph.D. selaku Kasubdit Pengawasan Obat Hewan.
Resistensi antibiotik
Permasalahan resistensi tidak hanya menjadi tantangan bagi Indonesia, tetapi juga semua negara. Jon Schaeffer, DVM, PhD., Senior Director, US Poultry Technical Services Zoetis Inc. memaparkan perspektifnya mengenai hal tersebut melalui presentasi yang bertajuk “What can the poultry industry do to cope with the restriction on antibiotics use and AMR issues – global perspective”.
“Pasar di seluruh dunia memiliki regulasi mengenai antibiotik yang digunakan di pakan karena mereka concern terhadap resistensi antibiotik. Semua kebijakan menekankan peran dokter hewan dalam mendiagnosa penyakit dan memberikan resep terkait antibiotik,” jelas Jon Schaeffer.
Food and Drug Administration (FDA) mengklasifikasikan kategori penggunaan antibiotik, antara lain pengobatan penyakit, kontrol penyakit, sebagai pencegahan penyakit, dan pemacu pertumbuhan. Seperti dalam pengobatan pada manusia, sebagian besar antibiotik yang digunakan dalam peternakan perlu diresepkan — melalui resep atau Veterinary Feed Directive (VFD) — oleh dokter hewan.
Jon menguraikan produk dan tindakan Zoetis dalam menghadapi penggunaan antibiotik. Misalnya, produk LINCOMIX 110 Medicated dan BMD Granulated 10% yang memberikan pengobatan penyakit secara konsisten sekaligus memperbaiki performa unggas dengan withdrawal time (waktu henti) nol (0). Tindakan Zoetis atas kedua produk ini yaitu bekerja untuk menghapus pemacu pertumbuhan, hanya untuk penggunaan terapeutik.
Untuk mengantisipasi konsekuensi penghapusan AGP adalah peningkatan kebersihan dan maintenance di hatchery, termasuk segala peralatannya. Mengawasi kondisi lalu-lintas transportasi di kandang, pemantauan terhadap bakteri, serta manajemen brooding yang baik juga perlu dijalankan.
Sesi diskusi bersama para narasumber.
Tantangan nutrisi dan penyakit
Nutrisi memegang peran penting dalam sistem kekebalan hewan yang juga berdampak pada kesehatan hewan. Hal ini juga menjadi isu yang berkaitan dengan era tanpa AGP. Prof. (R) Ir. Budi Tangendjaja, M.S., M.App.Sc., Ph.D. selaku Nutrition and Feedtech Researcher Balai Penelitian Ternak (Balitnak) mengatakan bahwa nutrisi juga menjadi tantangan di era pelarangan penggunaan AGP seperti saat ini.
Sementara itu, Budi memberikan sejumlah saran yang dapat diterapkan untuk produksi pakan dalam era tanpa AGP, diantaranya memilih bahan baku berkualitas tinggi, meningkatkan kebersihan dan sanitasi pabrik pakan, kontrol kontaminasi mikotoksin yang mempengaruhi integritas dan kekebalan usus, terutama ketika panen jagung lokal selama musim hujan. Selain itu, gunakan bahan baku dengan daya cerna tinggi untuk mengurangi jumlah nutrisi bagi mikroorganisme yang tidak diinginkan di dalam usus, menggunakan formulasi yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan hewan pada tahap pertumbuhan fisiologis yang berbeda, dan penggunaan alternatif untuk menggantikan AGP. Produk-produk seperti organic acids, enzim, probiotik, dan lainnya dapat membentuk usus yang sehat.
“Peternak membutuhkan lebih banyak lagi pendidikan tentang penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab. Di samping itu, penting maintain kesehatan dan integritas usus di level farm dan melalui pakan yang berkualitas,” tegas Budi.
Pemberian tanda mata dari Zoetis kepada seluruh narasumber.
Pelarangan penggunaan AGP juga berdampak pada kesehatan hewan. Oleh karena itu, Tony Unandar selaku konsultan perunggasan, membahasnya dari sisi penyakit. Dengan tema “Gut health challenges in non-AGP era,” Tony menyampaikan mengenai segala hal yang berkaitan dengan produksi ayam modern dan potensi munculnya penyakit koksidiosis.
“Kesehatan gastrointestinal (GI) tract menjadi kunci yang penting untuk mencapai produktivitas ayam modern yang maksimal,” ujar Tony. Sedangkan kunci penting kesehatan integritas usus adalah dengan menjaga keseimbangan flora usus. Biosekuriti menjadi hal selanjutnya yang harus diimplementasikan oleh peternak.
Untuk mengoptimalkan kesehatan usus dan mengendalikan koksidiosis, Zoetis telah memiliki program Rotecc™ Coccidiosis Management. Program ini telah diaplikasikan di berbagai negara. Dengan manajemen terpadu ini, ayam dapat mencapai performa terbaiknya meski AGP telah dihapuskan.
“Mengontrol koksidiosis harus menjadi fokus utama karena merupakan gerbang begitu banyak patogen sekunder,” jelas Jon. Pada kasus infeksi koksidiosis yang sederhana sekalipun dapat menyebabkan peningkatan mortalitas, enteritis, dan membahayakan kesehatan unggas. Untuk mengoptimalkan kesehatan usus, perlu melakukan kontrol koksidiosis yang baik dan menggunakan antibiotik secara strategis sebagaimana peraturan yang berlaku. Adv