www.poultryindonesia.com. Dengan tersusunnya Kabinet
Indonesia Bersatu Jilid II (KIB II) oleh pemerintahan SBY-Boediono diharapkan
dapat membawa perekonomian Indonesia
menjadi lebih baik dari kabinet sebelumnya. Saat ini pula masyarakat dunia
tengah menanti langkah pasti dari pemerintahan SBY yang terpilih oleh rakyat
secara langsung untuk kedua kalinya.
Dalam
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I permasalahan dalam sektor riil masih kurang
diperhatikan oleh pemerintahan terpilih dibandingkan dengan sektor non riil
seperti finansial. Permasalahan pengangguran yang sejak dahulu tak
terselesaikan memang sepertinya akan menjadi pekerjaan rumah yang utama bagi
KIB II. Oleh karenanya sector riil harus diperhatikan secara serius oleh
pemerintah.
Tanpa
kerjasama antara pihak pemerintah dengan swasta dalam menciptakan lapangan
pekerjaan sepertinya mejadi hal yang mustahil jika sektor riil ini tak
diperhatikan karena memang paling banyak menyerap tenaga kerja. Tentunya,
orientasi masyarakat juga jangan hanya bisa menjadi seorang karyawan saja,
melainkan juga berorientasikan bagaimana caranya membuka lapangan pekerjaan
baru.
Sampai
saat ini, masih belum terlihat langkah nyata dari para menteri yang menjabat di
bidang perekonomian. Walaupun beberapa hari lalu, beberapa menteri telah
melakukan koordinasi untuk membahas program 100 hari kerja setelah menjabat.
Program
100 hari kerja merupakan salah satu kontrak kerja yang dibuat para menteri bidang
perekonomian kepada Presiden. Para menteri
tersebut dituntut untuk bisa memenuhi kontrak kerja yang telah dibuatnya.
Permasalahan
perizinan sepertinya juga harus menjadi program kerja yang ditetapkan dalam
program 100 hari kerja. Karena banyak pihak yang mengeluhkan ekonomi
menghabiskan biaya tinggi yang disebabkan oleh proses administrasi
berkepanjangan dan tidak lancar.
Berbagai
instansi seperti Departemen Pertanian melalui Badan Karantina yang mengeluarkan
perizinan, Departemen Keuangan yang mengatur berbagai pungutan kemudian di
pelabuhan yang juga melibatkan Departemen Perhubungan sepertinya diperlukan
suatu pengkoordinasian untuk dapat menyederhanakan dan memperlancar sehingga
tidak menimbulakn inefisiensi.
Menteri
negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarifuddin Hasan mengaku
telah siap mengucurkan dana sebesar Rp20 triliun untuk meneruskan program
Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 100 hari kerjanya. Selain itu, pihaknya juga
akan menciptakan lebih banyak tenaga entrepreneur baru dan pelaku bisnis.
Tentunya
hal ini akan menjadi angin segar bagi dunia peternakan khususnya perunggasan
yang selama ini masih membutuhkan perhatian oleh pemerintah. Selain itu,
menteri pertanian baru yang terpilih dalam KIB Jilid II merupakan salah seorang
yang berasal dari dunia peternakan sendiri. Menteri pertanian Ir. H. Suswono,
MMA merupakan seorang lulusan sosial ekonomi peternakan, Fakultas Peternakan,
IPB.
Sebuah
angin segar dan harapan yang bersinar didepan bagi dunia perunggasan dengan
terpilihnya Suswono sebagai menteri pertanian terpilih. Harapan dimana Suswono
begitu memahami akan dunia peternakan sehingga akan membantu perkembangan dunia
peternakan yang selama ini hanya dianak tirikan dalam penentuan kebijakan oleh
pemerintah.
Ketika
masih menjabat sebagai wakil ketua komisi IV DPR RI periode 2004-2009, Suswono
pernah mengatakan bahwa pemerintah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar
rakyatnya dapat dikatakan government
failure.
Negara
harus dapat melindungi industri peternakan di dalam negeri, apalagi sebagian
besar pelakunya adalah peternakan rakyat yang memiliki modal kecil. “Kalau
sampai terjadi impor pastinya akan membunuh peternakan dalam negeri,” urai
lulusan S2 Magister Manajemen Agribisnis IPB ini.
Suswono
menyadari, bahwa daya saing industry peternakan dalam negeri masih sangat
lemah. Karena itu, pemerintah harus memberikan subsidi kepada peternak baik
dalam bentuk bibit, harga atau malah kucuran dana untuk modal kerja.”Kalau
selama ini yang mendapatkan insentif hanya petani dalam bentuk subsidi pupuk
Rp17,5 triliun, peternakan terus terang masih terabaikan,” lanjut Suswono.
Suswono
mencontohkan, saat ini peternakan sapi perah dalam posisi ditentukan oleh
industry pengolahan susu (IPS). Misalnya, kalau harga susu di pasar internasional
jatuh, harga susu ditingkat peternak juga jatuh. Sebaiknya, urai Suswono, ada
patokan harga susu ditingkat peternak. Kalau harga luar negeri dibawah harga
domestic, selisih harga beli IPS itu disubsidi pemerintah.
Atau,
kalau tidak mau memberikan subsidi harga, kata pria kelahiran tahun 1978 ini,
pemerintah bisa menciptakan pasar langsung susu segar. Missal, Departemen
Pendidikan Nasional memberikan subsidi agar anak-anak SD sampai SMU minimal
dapat minum susu seminggu sekali. “Selain membantu peternak, hal itu juga dapat
menambah protein bagi pelajar sehingga anak-anak dapat lebih cerdas,” jelas
Suswono.
Selengkapnya simak di Majalah
Poultry Indonesia
Edisi November 2009.