www.poultryindonesia.com.
Pada
sepuluh tahun mendatang negara eksportir/produsen unggas seperti Amerika
Serikat dan Cina akan mengalami kemunduran dalam produksi unggas kecuali Brazil. Ini
disebabkan berkurangnya air dan lahan yang tersedia. Bahkan Cina diperkirakan
sudah tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan sendiri sehingga akan impor.
Sedangkan Amerika Serikat walau masih menjadi produsen besar tetapi perlahan
akan menuju stagnan. Sementara produksi unggas Brazil
justru akan meningkat tajam karena di samping ketersediaan air dan lahan yang
cukup, Brazil
juga cepat mengadopsi teknologi dengan jaminan kesehatan hewan yang baik.
Salah
satu negara yang berpeluang besar memasok kebutuhan produk unggas dunia adalah Indonesia. Ini
disebabkan dukungan lahan yang sangat luas dan air yang masih tersedia cukup di
berbagai daerah di Indonesia.
Namun semuanya perlu didukung kesiapan dan pembenahan dalam kesehatan hewan dan
manajemen produksi.
Hal
ini merupakan salah satu kesimpulan yang cukup menarik dari Kongres Dokter
Hewan Perunggasan Dunia ke-16 yang berlangsung 8-12 November 2009 di Marakesh,
Maroko. Hadir dari Indonesia Drh. Djayadi Gunawan dan praktisi dari beberapa
perusahaan perunggasan seperti Drh. Edy Purwoko, Drh. Sudirman, Drh.
Dharmasyah, dan Jusmeinidar.
Presiden Dokter Hewan Perunggasan, Prof. Dr. H. M.
Hafez mengatakan Kongres Dokter Hewan Perunggasan Dunia ke-16 ini dilakukan
bertepatan dengan anniversary asosiasi yang ke-50 tahun. Terbentuknya asosiasi
ini sebagai bentuk kepedulian akan dunia kesehatan hewan. “Melalui asosiasi ini
kita dapat berbagi dan bertukar pengetahuan di kalangan ahli penyakit unggas,
ilmuwan, industri, pemerintah dan masyarakat umum, sehingga memajukan ilmu
pengetahuan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan dari berbagai aspek
ilmu pengetahuan unggas.
Kongres yang diselenggarakan dua tahun
sekali ini dihadiri 1400 peserta dari 84 negara dan membahas 372 makalah
tentang unggas. Kongres berikutnya direncanakan akan digelar tahun 2011 di
Meksiko. Liza