www.poultryindonesia.com. Pemanasan global telah menjadi
kepedulian masyarakat dunia karena dampaknya dapat mengubah iklim dan dapat
meningkatkan suhu bumi. Kondisi ini dapat melelehkan kutub-kutub es, menaikkan
muka air laut dan memperkuat intensitas badai. Meningkatnya suhu bumi
ditengarai karena semakin besarnya lepasan gas-gas rumah kaca(green house
gasses) seperti karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (N2O),
gas-gas flour dan metana (CH4) baik karena prose salami dan terutama
karena kegiatan manusia.
Berkurangnya tegalkan hutan, semakin besarnya penggunaan
bahan bakar fosil (minyak dan batubara), penggunaan chlorofluorcarbons (CFC) di
industri pendingin, elektronik dan kemasan, serta gas metana (CH4)
yang dihasilkan selama proses produksi dan transportasi batubara, gas alam, dan
minyak bumi serta kegiatan peternakan dan usaha agriculture lainnya dapat
meningkatkan gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Kondisi semacam ini mengharuskan
semua pihak berusaha untuk memperkecil dampak perubahan iklim tersebut. PT.
Santosa Agrindo (SANTORI), anak perusahaan JAPFA group mengatasi masalah
tersebut melalui proses pengolahan limbah organic untuk mengurangi pelepasan
gas metana, pada lahan penampungan limbahnya. Dengan merancang dan
mengoperasikan CIGAR (Covered In-Ground Anaerobic Reactor), gas mentana yang
dihasilakn dapat diproses menjadi sumberdaya yang lebih produktif dala bentuk
energi terbarukan.
Setiap tahunnya, dari usaha
penggemukan sapi dapat menampung dan mengolah kotoran ternak sapi menjadi 900
ton gas metana yang digunakan untuk mengahsilakn energi terbarukan. Dengan
diresmikannya CIGAR akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca setara 200
ribu ton karbon dioksida dalam periode satu dasawarsa. Pengurangan emisi gas
rumah kaca sebesar 200 ribu ton tersebut sama nilanya dengan emisi karbon yang
dikeluarkan oelh 35.000 mobil penumpang.
“Pemanfaatan kotoran sapi menjadi
sumber energi terbarukan bukan hal baru, peternak sapi perah di Jawa Timur
sudah banyak memanfaatkannya untuk penerangan dan memasak. Pada dasarnya
prinsipnya sama, hanya di SANTORI dibuat skala besar untuk 22.000 ekor sapi,”
ujar Presiden Direktur PT. Santosa Agrindo, Samuel Wibisono.