Edisi Terbaru




Menu Utama
· Laporan Utama
· Internasional
· Analisa pasar
· Riset
· Tip & Trik
· Opini
· Referensi
· Otonomi Daerah
· Info PI
· Lowongan Kerja
· Boleh Tertawa

· News In English
. Poultry Product

Interaksi
· Forums Diskusi
· Buku Tamu
· Web Links

· Beritahu Teman

ad PI






Languages
Select Interface Language:

English Indonesian

About Us
· Profil PI
· Tim Redaksi
· Berlangganan
· FAQ
· Feedback

PI Address
POULTRY INDONESIA
KOMPLEK MANGGA DUA SQUARE
Blok E NO. 23
Jl. Gunung Sahari Raya No. 1
Jakarta Utara - 14430
Phones. 62-21-62318153/70749491
Faks. 62-21-62318154
e-mail:



 Siaga Menghadapi Implementasi ACFTA

Referensi

www.poultryindonesia.com. MEMASUKI bulan Pebruari 2010 ini Kabinet Indonesia Bersatu II menggenapi agendanya melaksanakan Program 100 Hari yang dicanangkan pada awal kiprahnya. Mengusung tiga program besar yang meliputi 1) pengadaan lahan bagi pertanian, perkebunan dan perikanan; 2) perbaikan iklim investasi pertanian dan perikanan, dan 3) kesinambungan swasembada pangan, program-program tersebut merupakan kristalisasi dari Pertemuan Nasional (National Summit) 2009 yang menghimpun pemikiran-pemikiran menyangkut berbagai aspek kehidupan, -- bagi terwujudnya hari depan yang lebih baik.



Yakni hari depan negara dan bangsa Indonesia yang makmur, sejahtera dan adil serta bermartabat di tengah pergaulan bangsa-bangsa. Seratus hari berlalu sudah dan seraya berharap program-program tersebut berjalan sesuai yang direncanakan, Kabinet Indonesia Bersatu II sekarang merambah menyusun program lanjutan sekaligus menjaga keteguhan tekad dalam upaya merealisasikannya.

Apa program lanjutan tersebut?  Disampaikan dalam acara penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2010 di Istana Negara 5 Januari lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan lima prioritas pembangunan yang akan menjadi langkah operasional rencana kerja tahun 2010, yang disebutnya bertemakan Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat. Lima prioritas pembangunan 2010 tersebut meliputi 1) pemeliharaan kesejahteraan rakyat serta penataan kelembagaan dan pelaksanaan sisrtem perlindungan sosial; 2) peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia; 3) pemantapan reformasi birokrasi dan hukum serta pemantapan demokrasi dan keamanan nasional; 4) pemulihan ekonomi yang didukung oleh pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi, dan 5) peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan penanganan perubahan iklim. Kelima program yang menjadi prioritas tersebut, menurut Presiden, diarahkan terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan, serta mengurangi kemiskinan.

Sebagai program kegiatan berjangka pendek, rencana kerja 2010 yang mencakup lima prioritas tersebut pastilah mensyaratkan kesungguhan serta kerja keras seluruh jajaran pemerintahan sebagai perangkat pembangunan. Menjadi demikian, karena selain adanya batasan waktu (satu tahun), ada sejumlah faktor eksternal yang berpotensi menjadi penghambat bagi pencapaian program-program yang ditetapkan. Menunjuk sejumlah faktor penghambat, sebut saja dua ”ancaman” paling nyata yang hari-hari ini kita hadapi bersama. Yang pertama, perubahan iklim bernama pemanasan global (global warming) yang harus diwaspadai dampaknya karena dapat menggagalkan program pembangunan, -- terutama pembangunan sektor pertanian. Yang kedua implementasi liberalisasi pasar dalam kerangka Asean  China Free Trade Agreement (ACFTA), yang akan berdampak mempercepat terjadinya proses deindustrialisasi yang memicu lonjakan angka pengangguran. Baik pemanasan global maupun implementasi ACFTA sejak Januari 2010 ini, dua-duanya menuntut kesiagaan untuk menangkal atau setidaknya mengurangi dampak buruk pencapaian lima prioritas pembangunan yang diagendakan operasional tahun ini. 

Ancaman banjir dan bencana kekeringan menjadi perlu disikapi dengan cermat, untuk menangkal terjadinya gagal produksi di sektor pertanian, sementara dihadapkan dengan pemberlakuan perdagangan bebas China – Asean (ACFTA) mulai tahun 2010 ini mengharuskan kita bekerja lebih keras dalam upaya memperkuat daya saing berbagai komoditas hasil produksi nasional kita untuk mampu ‘membendung’ serbuan produk-produk asal China yang membanjiri pasar Indonesia. Diperkirakan, produk manufaktur impor dari China yang masuk menggunakan skema ACFTA dengan tarif bea masuk 0% akan mulai membanjiri pasar kita pada Pebruari ini. Itu artinya, pasar Indonesia akan segera dijejali produk industri aneka asal China  (alas kaki, mainan anak, kerajinan, tekstil, permesinan, dll.) yang harganya jauh lebih murah dibanding produk hasil  industri nasional kita. Perspektif dari keadaan yang demikian kiranya cukup jelas, yakni bakal terpuruknya industri manufaktur dan industri kecil menengah mengingat belum sepadannya daya saing produk yang dihasilkan bila dibanding dengan produk asal China. Nah, situasi inilah yang kita hadapi saat bersamaan  pemerintah menggelar lima program yang diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan, serta mengurangi kemiskinan.

Bagaimana kita menyikapi tantangan ini? Menggembirakan dan sangat dipujikan, bahwa untuk mencegah dan menangkal masuknya produk hasil pertanian yang tidak aman di Tanah Air, Menteri Pertanian menerbitkan Permentan 27/2009 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT). Penerapan peraturan ini diyakini sebagai instrumen efektif untuk membendung derasnya arus produk asal China yang masuk pasar Indonesia dalam hubungannya dengan Pasar Bebas Asean China. Dengan kata lain, Permentan 27/2009 merupakan palang pintu bagi perlindungan hasil-hasil pertanian dalam negeri menghadapi derasnya impor produk pertanian asal China. Untuk diketahui, di China terdapat 134 jenis penyakit di bidang pertanian/tumbuhan, yang hingga kini belum ditemukan di Indonesia. Dengan demikian, terkait dengan implementasi ACFTA, pemerintah sudah bersiaga menangkal masuknya produk impor kualitas rendah ke Indonesia.

Bagaimana perlindungan terhadap dan bagi penguatan kinerja agribisnis peternakan kita? Di luar pengaruh pelaksanaan perdagangan bebas Asean – China, yang menjadi perlu mendapatkan perhatian adalah dampak pemanasan global khususnya terkait dengan ketersediaan pakan dan ancaman penyakit, sementara dalam hubungannya dengan program swasembada daging yang ditargetkan tercapai tahun 2014, yang menjadi tantangan adalah konsistensi dalam melaksanakan berbagai tahapan langkah kebijakan yang sudah ditetapkan. Yang terakhir itu menjadi pertaruhan, untuk tidak lagi mengulang-ulang alasan, kilah, bahkan pembenaran, mengapa sebuah target gagal dicapai. Maka, mari kita atasi tantangan yang menghadang di depan. Dampak pemanasan global maupun implementasi perdagangan bebas Asean – China.




 
Login
Nickname

Password

Security Code: Security Code
Type Security Code

Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.

Related Links
· More about Referensi
· News by poultry


Most read story about Referensi:
Pola Pengembangan dan Budidaya Peternakan Nasional


Article Rating
Average Score: 0
Votes: 0

Please take a second and vote for this article:

Excellent
Very Good
Good
Regular
Bad


Options

 Printer Friendly Printer Friendly


Associated Topics

Referensi

Poultry Indonesia Edisi Online, sejak 2002 © Majalah Poultry Indonesia - jakarta
Design by imajixnet.com.
Syndicate our news using the file backend.php or ultramode.txt