www.poultryindonesia.com. Kemitraan pemerintah dan swasta akan berperan utama membantu para
petani yang miskin sumber daya untuk menghasilkan pangan yang lebih berlimpah
dan bergizi. Penggunaan
tanaman bioteknologi secara global terus meningkat, seperti yang diumumkan
International
Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) bahwa 14
juta petani di 25 negara menanam tanaman bioteknologi di atas 134 juta hektar
lahan pada tahun 2009.
Hal ini merupakan peningkatan sebesar tujuh persen
(7%) dari tahun 2008, dan termasuk penggunaan tanaman bioteknologi di sebuah
negara baru, Costa Rica.
Semakin banyak varietas tanaman bioteknologi baru yang dikembangkan di dalam
negeri dan melalui lembaga-lembaga pemerintah, seringkali melalui kemitraan
pemerintah dan swasta yang menggabungkan teknologi dan penelitian guna
mengembangkan perbaikan varietas yang memenuhi kebutuhan daerah.
“Para petani diseluruh dunia ditantang dengan
pencapaian keamanan pangan untuk pertumbuhan penduduk dalam menghadapi
perubahan iklim dan tekanan hama,
“kata Denise Dewar, Executive Director for Plant Biotechnology at CropLife
International. “Terus meningkatnya luas lahan tanaman bioteknologi
diseluruh dunia menjanjikan kebenaran yang sesungguhnya para petani tersebut,
ketika diberikan pilihan, memilih tanaman bioteknologi karena manfaat yang
diberikan. Dimasa yang akan datang, kita akan melihat banyak lagi varietas-varietas
penting tanaman lokal yang ditingkatkan, banyak diantaranya dikembangkan oleh
lembaga penelitian umum, maupun melalui kemitraan pemerintah-swasta,”
tambahnya.
Beberapa varietas tanaman bioteknologi yang
dikembangkan di dalam negeri telah disetujui pada tahun 2009 dan menyimpan
potensi besar bagi negara-negara berkembang untuk mencapai kemandirian pangan :
· Kementerian Pertanian Cina menerbitkan
izin keamanan biologi untuk dua varietas padi bioteknologi yang tahan terhadap
serangga – yang merupakan kali pertama persetujuan Cina untuk tanaman pangan
utama yang dikonsumsi lebih dari 50 persen penduduk negara tersebut.
· Kementrian Pertanian Cina juga menyetujui
pengolahan komersial dari satu verietas jagung phytase bioteknologi, makanan hewan
yang dapat meningkatkan produksi daging dan mengurangi polusi posfat oleh
pembuangan hewan.
· Kemitraan di Brazil telah mengembangkan
kedelai bioteknologi tahan herbisida yang memenuhi kebutuhan khusus petani
lokal.
“Pada tahun terakhir, kami telah melihat meningkatnya
komitmen dari pemerintah di seluruh dunia untuk mendukung ilmu dan teknologi
pertanian,” ungkap Dewar. “Pertumbuhan dalam temuan penelitian adalah
pembuktian terhadap kenyataan bahwa negara-negara terus mengakui pentingnya
penanaman modal dalam pertanian untuk mengarahkan peningkatan kepedulian pada
keamanan pangan. Petani yang hanya memiliki lahan terbatas di negara-negara
berkembang perlu sekali mengarahkan keamanan pangan dan mereka terus menjadi
petani utama dalam tanaman bioteknologi di tahun 2009, 90 persen (90%) petani
mengembangkan tanaman bioteknologi yang kini berada di dunia berkembang (13
juta petani),” jelasnya.
Beberapa contoh kemitraan yang dapat membantu memberi
makan jutaan orang mencakup:
· Sebuah tim multi-nasional yang terdiri dari
para ilmuwan pemerintah dan sektor swasta saat ini tengah mengembangkan pisang
bioteknologi di Uganda
dengan peningkatan muatan vitamin A, vitamin E dan zat besi. Pisang merupakan
tanaman pangan utama di Uganda,
sehingga riset yang sukses dapat secara dramatis memperbaiki pola makan jutaan
orang.
· The African Agricultural Technology
Foundation (AATF) tengah bekerja dalam proyek Water Efficient Maize for
Africa (WEMA), yang melibatkan kemitraan pemerintah dan swasta. Kemitraan
WEMA dibentuk sebagai jawaban terhadap meningkatnya permintaan dari para petani,
pemimpin dan ilmuwan Afrika untuk mengatasi dampak kekeringan dengan cara yang
efektif biaya bagi para petani yang hanya memiliki lahan yang terbatas.
Kekeringan adalah kendala utama terhadap pertanian Afrika yang secara serius
memengaruhi produksi jagung, tanaman pangan utama yang terpenting di benua
tersebut.
· The BioCassava Plus project memfokuskan
pada peningkatan kualitas gizi dari singkong/ubi, sumber utama kalori bagi lebih
dari 250 juta orang di Sub-Saharan Afrika.
· The Africa
Biofortified Sorghum project merupakan konsorsium pemerintah swasta yang
mengembangkan banyak gizi dan sorghum yang lebih mudah dicerna yang
mengandung tingkat asam amino, vitamin, besi dan seng. Sorghum adalah tanaman
biji-bijian terpenting kelima dan merupakan bahan pokok utama bagi lebih dari
500 juta orang.
Tanaman bioteknologi memiliki potensi yang tidak
terbatas untuk mendukung para petani yang miskin sumber daya di negara-negara
berkembang karena mereka menjadi cukup diri dan pengusaha pertanian. Di dunia
yang dihadapkan dengan meningkatnya kekurangan makanan, bertambahnya tekanan
kepada lingkungan, dan kebutuhan yang jelas untuk menghemat sumber daya alam
yang terbatas dan keanekaragaman hayati, perlu sekali membawakan semua upaya
kami untuk menghasilkan – pemerintah dan swasta – terus mengembangkan teknologi
yang inovatif dan solusi pertanian.
Bahkan untuk beberapa tahun lagi, mayoritas jumlah
petani yang menanam tanaman bioteknologi berada di negara-negara berkembang. Pada
2009, 46 persen (46%) dari jumlah hektar lahan tanaman bioteknologi di dunia
ditanam di 16 negara berkembang. Tingginya tingkat penggunaan tanaman
bioteknologi oleh beberapa para petani termiskin di dunia mencerminkan manfaat
signifikan yang mereka peroleh dengan menanam tanaman hasil peningkatan
bioteknologi, seperti bertambahnya pendapatan, meningkatnya kualitas dan
kuantitas hasil panen, dan kemampuan memanfaatkan praktek pertanian yang
berkesinambungan.
CropLife
International dan para anggotanya berkomitmen untuk memperluas penerimaan
teknologi ilmiah pangan pada 2010 dan tahun-tahun selanjutnya, dan meneruskan
kemitraan-kemitraan yang memberikan para petani akses luas terhadap inovasi,
termasuk pengetahuan dan keterampilan untuk menjadikan perangkat baru tersebut
bernilai di lahan pertanian.