Edisi Terbaru




Menu Utama
· Laporan Utama
· Internasional
· Analisa pasar
· Riset
· Tip & Trik
· Opini
· Referensi
· Otonomi Daerah
· Info PI
· Lowongan Kerja
· Boleh Tertawa

· News In English
. Poultry Product

Interaksi
· Forums Diskusi
· Buku Tamu
· Web Links

· Beritahu Teman

ad PI






Languages
Select Interface Language:

English Indonesian

About Us
· Profil PI
· Tim Redaksi
· Berlangganan
· FAQ
· Feedback

PI Address
POULTRY INDONESIA
KOMPLEK MANGGA DUA SQUARE
Blok E NO. 23
Jl. Gunung Sahari Raya No. 1
Jakarta Utara - 14430
Phones. 62-21-62318153/70749491
Faks. 62-21-62318154
e-mail:



 DAYA SAING PERUNGGASAN INDONESIA

Opini

www.poultryindonesia.com. Mungkin sebagian dari kita masih ingat bagaimana resahnya masyarakat perunggasan  Indonesia awal 2005 ketika masuknya CLQ (chicken leg quarter) melalui Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai bantuan AS atas musibah tsunami. Walau menuai reaksi keras dari masyarakat luas karena sangat dapat dipastikan hal itu akan menghancurkan usaha dan industri perunggasan nasional, ‘toh’ CLQ tersebut tetap masuk dengan harga jual sangat murah, disamping pemerintah hanya menetapkan Bea Masuk (BM) 25%. Padahal waktu itu HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) sudah mengusulkan 120%, selain tingkat kehalalannya juga diragukan.



Hal serupa pernah juga pernah terjadi di tahun 1999, CLQ asal AS muncul di pasar Indonesia (mulai swalayan di Jakarta hingga pasar tradisional di beberapa kota di Jawa Timur). Lucunya ditemukan banyak CLQ asal AS yang seharusnya diekspor ke Rusia, dijual dengan harga sangat murah. Ternyata saat itu Rusia, sebagai pasar utama CLQ asal AS mulai mengurangi impor CLQ, yang membuat AS mengalihkan sebagian besar ekspor CLQ ke ASEAN termasuk Indonesia, sebagai pasar yang sangat potensial karena besarnya jumlah penduduk.

Walau sejak 2002 isu impor CLQ sudah mereda, ternyata hal ini bukanlah akhir sebuah ceritera. Karena ternyata mereka menempatkan CLQ sebagai pending matters, alias suatu masalah yang belum tuntas dan kembali mencuat ke permukaan. Dan benar saja, Kementerian Perdagangan AS, melalui dialog Menlu AS ketika melakukan kunjungan ke Indonesia tahun ini menanyakan kembali hal itu. Kembali masyarakat perunggasan mulai diresahkan lagi oleh kemungkinan masuknya CLQ ke pasar Indonesia. Yang lebih mencengangkan, munculnya pendapat yang menyatakan dukungannya terhadap ide untuk memasukkan CLQ AS ke negara ini. Mereka yang mendukung tersebut ‘membonceng’ ide masyarakat perunggasan yang menyatakan bahwa perlu peningkatan konsumsi protein hewani (ayam) dengan cara menyediakan ayam dengan harga murah! Beberapa orang dan intansi tertentu bahkan menyuarakan hal senada, dengan asumsi mengapa harus ditolak jika memang dapat menyediakan ayam dengan harga murah? Mereka menyatakan bahwa kebijakan harusnya pro konsumen, dengan demikian akan mampu mendongkrak konsumsi per kapita. Gayung bersambut, maka para pedagang (traders) menyambutnya dengan senyum sangat lebar!

Komoditi apakah CLQ itu? Perlu diketahui bahwa konsumen di Amerika Serikat sangat menyukai daging dada ayam dari pada bagian yang lain. Cara pandang, persepsi dan budaya memasak serta mengonsumsi ayam masyarakat AS adalah sangat berbeda dengan kita, sehingga mereka sama sekali tidak tertarik dengan CLQ. Dengan demikian paha ayam tersebut merupakan pilihan ke-sekian atau bahkan sebagai last option dalam mengonsumsi ayam. Oleh karena itu CLQ di negara AS hampir tak ada harganya, karena hampir semua biaya produksi sudah dibebankan pada harga jual daging dada, sehingga CLQ dapat diekspor oleh AS dengan harga sangat murah (USD 0,40–0,50/kg). Bandingkan dengan dada ayam yang sangat disukai masyarakat AS dijual dengan harga sangat tinggi (sekitar USD 3-4/kg).

Perunggasan termasuk subsektor peternakan yang paling cepat pulih setelah diterpa krisis, baik ketika krisis moneter 1998 maupun krisis keuangan global 2008. Perunggasan menunjukkan perannya yang sangat penting dalam pembangunan kualitas bangsa, terbukti bahwa dari total konsumsi protein hewani oleh masyarakat Indonesia 64% adalah berasal dari unggas. Tidak ada di dunia ini bangsa yang sehat dan cerdas yang rendah konsumsi proteinnya. Dengan kata lain, untuk membangun manusia yang sehat dan cerdas tidak hanya membutuhkan karbohidrat, tetapi terlebih utama adalah kebutuhan asupan protein!

Masalah di bangsa kita ini adalah, kalau kita berbicara aspek pangan, selalu konotasinya adalah beras (karbohidrat). Bahkan sering kita dengar anekdot yang mengatakan bahwa selama belum makan nasi, merasa belum makan! Mari kita bandingkan dengan negara tetangga serumpun kita, Malaysia. Mereka sudah mengonsumsi daging unggas sebesar hampir 40 kg dan telur sebanyak lebih dari 300 butir per kapita per tahun; sementara bangsa Indonesia masih mengunsumsi daging unggas sekitar 5 kg dan telur sebanyak 70 butir per kapita per tahun!

Aspek lain dari industri ini adalah bahwa perunggasan mampu menciptakan lapangan kerja yang besar dan menumbuhkan ekonomi pedesaan karena kebanyakan peternakan unggas berada di desa. Dengan demikian perunggasan memberikan kontribusi dalam meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya yang ekonomi lemah, berarti meningkatkan daya beli masyarakat! Disektor hilir, perlu diingat pula bahwa seiring dengan perkembangan industri perunggasan telah memberikan efek ganda (multiplier effects) yang sangat besar dalam sektor pertanian. Karena hampir seluruh bahan baku pakan terdiri dari hasil pertanian seperti jagung, dedak, bungkil kelapa sawit/kopra, tepung gaplek, dll. Telah pula dinyatakan Menteri Pertanian sendiri menyatakan bahwa peternakan adalah tulang-punggung pembangunan. Bahkan akhir-akhir ini dikatakan bahwa peternakan (unggas) dapat digunakan sebagai sarana untuk pengentasan kemiskinan! Hal itu bukan merupakan sesuatu yang berlebihan, mengingat akan eksistensi, peran, dan manfaat ganda dari usaha perunggasan telah membuktikannya, bukan sekedar menjanjikan! Dengan mengetahui peran perunggasan dan posisinya yang sangat strategis dalam pembangunan bangsa, maka tidaklah berlebihan jika usaha perunggasan harus diberi dukungan konkrit untuk mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya. Ditulis oleh Dr. Desianto B. Utomo, Staf Ahli Poultry Indonesia.

 

 



 
Login
Nickname

Password

Security Code: Security Code
Type Security Code

Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.

Related Links
· More about Opini
· News by poultry


Most read story about Opini:
RPA sebagai Bagian dari Kesmavet


Article Rating
Average Score: 0
Votes: 0

Please take a second and vote for this article:

Excellent
Very Good
Good
Regular
Bad


Options

 Printer Friendly Printer Friendly


Associated Topics

Opini

Poultry Indonesia Edisi Online, sejak 2002 © Majalah Poultry Indonesia - jakarta
Design by imajixnet.com.
Syndicate our news using the file backend.php or ultramode.txt