www.poultryindonesia.com. Mungkin sebagian dari kita masih
ingat bagaimana resahnya masyarakat perunggasan Indonesia awal 2005 ketika masuknya CLQ (chicken
leg quarter) melalui
Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai
bantuan AS atas musibah tsunami.
Walau menuai reaksi keras dari masyarakat luas karena sangat dapat dipastikan hal itu akan menghancurkan usaha
dan industri perunggasan nasional,
‘toh’ CLQ tersebut tetap masuk dengan harga jual sangat murah, disamping pemerintah hanya
menetapkan Bea Masuk (BM) 25%. Padahal waktu itu HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)
sudah mengusulkan 120%, selain tingkat kehalalannya juga diragukan.
Hal serupa pernah juga pernah terjadi di tahun 1999, CLQ
asal AS muncul di pasar
Indonesia (mulai swalayan di Jakarta hingga pasar tradisional di beberapa kota
di Jawa Timur).
Lucunya ditemukan banyak CLQ asal AS yang seharusnya diekspor ke Rusia, dijual dengan
harga sangat murah.
Ternyata saat itu Rusia, sebagai pasar utama CLQ asal AS mulai mengurangi impor CLQ, yang
membuat AS mengalihkan sebagian besar ekspor CLQ ke ASEAN termasuk Indonesia, sebagai pasar
yang sangat potensial karena besarnya jumlah penduduk.
Walau sejak 2002 isu impor CLQ sudah mereda, ternyata hal
ini bukanlah akhir sebuah ceritera. Karena ternyata mereka menempatkan CLQ
sebagai pending matters, alias suatu
masalah yang belum tuntas dan kembali mencuat ke permukaan. Dan benar saja,
Kementerian Perdagangan AS, melalui dialog Menlu
AS ketika melakukan kunjungan ke Indonesia tahun
ini menanyakan kembali hal itu. Kembali masyarakat perunggasan mulai
diresahkan lagi oleh
kemungkinan masuknya CLQ ke pasar Indonesia. Yang lebih mencengangkan, munculnya pendapat yang menyatakan
dukungannya terhadap ide untuk memasukkan CLQ
AS ke negara ini. Mereka yang
mendukung tersebut ‘membonceng’ ide masyarakat perunggasan yang menyatakan
bahwa perlu peningkatan konsumsi protein hewani (ayam) dengan cara menyediakan
ayam dengan harga murah! Beberapa orang dan intansi tertentu bahkan menyuarakan
hal senada, dengan asumsi mengapa harus ditolak jika memang dapat menyediakan
ayam dengan harga murah? Mereka menyatakan bahwa kebijakan harusnya pro
konsumen, dengan demikian akan mampu mendongkrak konsumsi per kapita. Gayung
bersambut, maka para pedagang (traders) menyambutnya dengan senyum sangat
lebar!
Komoditi apakah CLQ
itu? Perlu diketahui bahwa konsumen di Amerika
Serikat sangat menyukai daging dada ayam dari pada bagian yang lain. Cara
pandang, persepsi dan budaya memasak serta mengonsumsi ayam masyarakat AS
adalah sangat berbeda dengan kita, sehingga mereka sama sekali tidak tertarik
dengan CLQ. Dengan demikian paha ayam tersebut merupakan pilihan ke-sekian atau bahkan sebagai last
option dalam mengonsumsi ayam. Oleh karena itu CLQ di negara AS hampir tak ada
harganya, karena hampir semua biaya produksi sudah dibebankan pada harga jual
daging dada, sehingga CLQ dapat
diekspor oleh AS dengan harga sangat murah (USD 0,40–0,50/kg).
Bandingkan dengan dada ayam yang sangat disukai masyarakat AS dijual dengan
harga sangat tinggi (sekitar USD 3-4/kg).
Perunggasan termasuk subsektor peternakan yang paling
cepat pulih setelah diterpa krisis, baik ketika krisis moneter 1998 maupun krisis keuangan global 2008. Perunggasan menunjukkan perannya
yang sangat penting dalam pembangunan kualitas bangsa, terbukti bahwa dari total konsumsi protein hewani
oleh masyarakat Indonesia
64% adalah berasal dari unggas. Tidak ada di dunia ini bangsa yang sehat dan
cerdas yang rendah konsumsi proteinnya. Dengan kata lain, untuk membangun
manusia yang sehat dan cerdas tidak hanya membutuhkan karbohidrat, tetapi
terlebih utama adalah kebutuhan asupan protein!
Masalah di bangsa kita ini adalah, kalau kita berbicara
aspek pangan, selalu konotasinya adalah beras (karbohidrat). Bahkan sering kita
dengar anekdot yang mengatakan bahwa selama belum makan nasi, merasa belum
makan! Mari kita bandingkan dengan negara tetangga serumpun kita, Malaysia.
Mereka sudah mengonsumsi daging unggas sebesar hampir 40 kg dan telur sebanyak
lebih dari 300 butir per kapita per tahun; sementara bangsa Indonesia masih
mengunsumsi daging unggas sekitar 5 kg dan telur sebanyak 70 butir per kapita
per tahun!
Aspek lain dari industri ini adalah bahwa perunggasan
mampu menciptakan lapangan kerja yang besar dan menumbuhkan ekonomi pedesaan karena kebanyakan peternakan unggas
berada di desa. Dengan demikian perunggasan memberikan kontribusi dalam
meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya yang ekonomi lemah, berarti meningkatkan daya beli masyarakat! Disektor hilir,
perlu diingat pula bahwa seiring dengan perkembangan industri perunggasan
telah memberikan efek
ganda (multiplier effects) yang sangat besar dalam sektor
pertanian. Karena hampir
seluruh bahan baku
pakan terdiri dari hasil pertanian seperti jagung, dedak, bungkil kelapa sawit/kopra, tepung
gaplek, dll. Telah pula dinyatakan Menteri Pertanian sendiri menyatakan
bahwa peternakan adalah tulang-punggung pembangunan. Bahkan akhir-akhir ini dikatakan bahwa
peternakan (unggas) dapat digunakan sebagai sarana untuk pengentasan
kemiskinan! Hal itu bukan merupakan sesuatu yang berlebihan, mengingat akan
eksistensi, peran, dan manfaat ganda dari usaha perunggasan telah
membuktikannya, bukan sekedar menjanjikan! Dengan mengetahui peran
perunggasan dan posisinya yang sangat strategis dalam pembangunan bangsa, maka tidaklah berlebihan jika usaha perunggasan
harus diberi
dukungan konkrit untuk
mempertahankan dan
mengembangkan eksistensinya. Ditulis oleh Dr. Desianto B. Utomo, Staf
Ahli Poultry Indonesia.