a href="http://www.poultryindonesia.com/pi/wp-content/plugins/adrotate/adrotate-out.php?track=NTIsMCwxLGh0dHA6Ly93d3cua2FsYmUuY28uaWQ" targe="_blank">

Harga Livebird Terjun Bebas

article-image

Kondisi harga broiler livebird saat ini seperti naik ke puncak menggunakan andong, tapi ketika turun menggunakan mobil Alphard.

Ungkapan ini keluar dari seorang peternak mandiri di wilayah Bogor, Joko Susilo. Peternak muda ini menggambarkan kondisi perunggasan terkini yang dirasa sangat memberatkan bagi seorang peternak mandiri.

“Ketika harga mau naik nggremet bikin gemes, padahal kalau jual ayam sendiri peternak diajak kompak susah. Kalau pas turun, berlomba kenceng-kencengan saling nyalip,” ungkap Joko.

Realitanya, tambah Joko, harga di wilayah Jabodetabek hari ini (16/5) tidak terlalu jelek. Berada di kisaran Rp.15.800 sampai 16.500 per kg. Tapi sebenarnya sudah mulai dari hari selasa kemarin (14/5) sudah mendapatkan tekanan. Di mana dengan tekanan itu bisa menurunkan harga Rp.200, Rp.400 bahkan bisa mencapai Rp.1.000.

Lebih parah lagi menurut Joko, di tingkat RPA (Rumah Potong Ayam) dapat menekan lebih rendah dari harga di pasaran. Pihak RPA bisa menawar sampai Rp.14.000 per kg, kecuali pihak yang telah mejalin kontrak sehingga bisa mendapatkan harga Rp.15.000 per kg. Tentunya dengan kondisi seperti itu sangat merugikan bagi para peternak mandiri. Seharusnya dengan pihak RPA, para peternak dapat terbantukan jika dibandingkan langsung dilepas ke broker.

HPP pada bulan Mei mencapai harga di kisaran Rp.14.800 sampai Rp.15.200, tergantung efisiensi masing-masing peternak. Di mana kondisi harga DOC pada bulan lalu di harga Rp.5.850.

“Harga mulai mengalami ancur-ancuran pada bulan Maret. Anehnya, DOC dilapangan tetap kenceng di harga Rp.5.850, bahkan ada yang bisa sampai di harga Rp.6.000. Minggu kedua bulan Maret atau diatas tanggal 20 kalau tidak salah, sampai minggu pertama bulan Mei ini peternak mandiri mengalami kerugian terus,” terang Joko.

Saat inilah, kata Joko, waktu yang tepat untuk semua pihak membenahi diri. Diperlukan kejujuran semua pihak, mulai dari peternak sampai pemerintah untuk dapat melihat situasi yang ada. Mengukur serapan yang ada dan berapa produksi yang ada, sehingga tidak terjadi over suplai. Karena efek dari kondisi harga yang sedang terjun bebas ini akan mengakibatkan pembayaran pakan, obat mengalami kemunduran. “Cash flow akan sangat terganggu jika kondisi seperti ini. Bulan Maret sampai bulan April diperkirakan kerugian peternak sekitar 20 persen,” jelas Joko.

Joko juga mengatakan bahwa kondisi ini merupakan kondisi di Jabodetabek, akan lebih rendah lagi di luar Jabodetabek, seperti di Tasik, Kuningan, dll. Terlebih lagi jika di luar jawa, sempat rendah sekali seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan yang pernah mencapai harga di Rp.7.000 per kg. Sudah 3 bulan ini kondisi buruk, jika terus rugi apakah peternak tetap mau meneruskan usaha.

Situasi sekarang ini dipandang oleh peternak asal Kalimantan sebagai moment yang tepat untuk mengosongkan kandangnya. Karena untuk istirahat kandang memakan waktu dua minggu, sehingga ketika awal Juni nanti dapat chick in yang dipersiapkan untuk munggahan puasa nanti di bulan Juli.

Beban HPP peternak akan bertambah lagi jika kenaikan harga BBM dipastikan terjadi untuk mengurangi subsidi dari pemerintah. Sekitar 20 persen ongkos angkut akan mengalami kenaikan jika harga BBM naik.

Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2013.

Comments

No comments yet.

Be first to leave your comment!

Nickname:

E-mail:

Homepage:

Your comment:

Add your comment