Sengketa Dagang AS – Cina

article-image

Ketika wakil presiden Cina Xi Jinping hendak melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu sejumlah harapan akan terurainya perselisihan dagang komoditas pertanian antara kedua negara sempat menyemburat. Namun tampaknya harapan tersebut tinggal harapan. Kedua negara masih menyimpan duri-duri ketidaksepakatan.

Apakah itu untuk komoditi apel, daging sapi, daging ayam ataupun strawberry, persoalan perdagangan antara Cina dan AS masih terlalu rumit. Kedua negara merupakan mitra dagang paling penting satu sama lain. Ekspor AS ke Cina tumbuh 33% dari tahun 2009 ke 2010, melampaui US$ 100 milyar untuk pertama kalinya. Pada saat yang sama, ekspor Cina ke AS tumbuh 23% atau mencapai US$ 365 milyar.

Namun keduanya menginginkan hal yang sama, yakni menjual lebih banyak kepada mitranya. AS mengeluhkan pajak impor yang diterapkan Cina dan penolakan Cina akan daging sapi AS, sementara Cina ingin AS membuka larangan impor ayam sejak negeri Tirai Bambu itu bebas dari wabah flu burung.

Bian Zhenhu, presiden kamar dagang Cina menyatakan bahwa diskusi tentang ekspor impor komoditi kedua negara masih perlu dilakukan lebih lanjut. “Kami masih perlu menjaga hubungan baik dan saling menguntungkan, serta berharap para pejabat lebih banyak membantu perdagangan kami di sini,” ujar Bian.

Cina dan AS menghentikan perdagangan produk unggas sekitar 8 tahun lalu saat wabah avian influenza merebak. Ketika wabah berhenti, Cina telah membuka kembali ‘keran’ impor untuk produk ayam AS, namun AS masih terus menutup pasarnya bagi produk Cina. Pada saat yang sama, para pejabat perdagangan AS mengatakan bahwa Cina menerapkan larangan impor di tingkat provinsi untuk produk unggas AS serta menerapkan standar yang terlalu ketat untuk impor daging mentah dan produk unggas AS.

“Mereka memiliki sejumlah masalah untuk mengekspor produknya ke sini dan kami juga memiliki sejumlah isu untuk mengekspor produk unggas ke Cina,” ujar Michael Scuse, salah satu pejabat Departemen Pertanian AS. Para peternak sapi AS juga merasa frustrasi dengan larangan impor daging sapi yang diterapkan Cina, sementara mereka mengetahui tumbuh pesatnya kelas menengah Cina berarti meningkatnya permintaan daging sapi. Bill Donald, salah seorang peternak sapi mengatakan, ”Banyak orang di Cina menginginkan daging sapi kami, namun larangan pemerintah jadi kendala bagi industri ini,”

Cina berhenti membeli daging sapi AS pada tahun 2003, setelah kasus penyakit sapi gila (mad cow disease), namun kantor  Perwakilan Perdagangan AS menyatakan bahwa daging sapi AS telah memenuhi standar kesehatan ilmiah internasional selama lebih dari 4 tahun. Donald mengatakan sekitar 22 isu, termasuk mad cow disease, dijadikan alasan Cina untuk melanjutkan larangan impor.

“Cina juga menerapkan larangan impor buah dan sayuran AS,” ujar Scuse. Namun AS tidak ingin terlalu banyak memprotes. Cina merupakan importir besar untuk biji-bijian AS. Scuse menyatakan bahwa dalam kunjungan wakil presiden Cina kali ini mereka berjanji membeli kedelai AS senilai US$ 4,31 milyar.

Cina juga merupakan pemegang terbesar surat hutang Amerika Serikat dengan nilai US$ 1,1 triliun. Oleh karenanya AS harus hati-hati mengambil langkah sambil terus berupaya membuka pasar dan perdagangannya.

Presiden AS Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden menyampaikan pesan agar Cina lebih menunjukkan tanggungjawab ekonomi. Obama mengatakan Cina harus memainkan “aturan yang sama di jalan’” sebagaimana seluruh negara di dunia. Sementara itu Biden mengingatkan Xi bahwa kerjasama hanya akan saling menguntungkan jika permainannya adil.

Dalam sebuah simposium pertanian di Iowa – salah satu acara dari rangkaian kunjungannya ke AS –  Xi menanggapi  bahwa Cina telah menaati peraturan Organisasi  Perdagangan Dunia (WTO) dan menerima segala keputusannya.

Cina bergabung dengan WTO pada tahun 2001 setelah selama 15 tahun berusaha menjadi anggota. Untuk memperoleh keanggotaannya Cina setuju mengurangi tarif impor produk industri dan pertanian serta mengurangi subsidi pemerintah untuk produk pertaniannya. Kedua hal tersebut mengemuka kembali dalam perselisihan dagangnya dengan AS yang kemudian dilaporkan ke WTO.

Xi mengatakan bahwa negaranya menghormati komitmen dengan WTO selama lebih dari satu dekade dan telah mengurangi subsidi pertanian sebagaimana dijanjikan. “Dukungan pemerintah Cina terhadap sektor pertanian cukup rendah, dan hal ini tidak mengganggu perdagangan internasional,” ujarnya. *Elis.

 

 

Comments

No comments yet.

Be first to leave your comment!

Nickname:

E-mail:

Homepage:

Your comment:

Add your comment