a href="http://www.poultryindonesia.com/pi/wp-content/plugins/adrotate/adrotate-out.php?track=NTIsMCwxLGh0dHA6Ly93d3cua2FsYmUuY28uaWQ" targe="_blank">

Pertanian Modern dan Ketahanan Pangan

20. November, 2002 Opini No comments

Poultryindonesia.com, Jakarta. DUA hari raya keagamaan kita sambut dan syukuri kehadirannya dalam bulan Desember ini. Yang pertama Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1423 H (6 Desember), menyusul kemudian Hari Natal (25Desember). Menyambut dua peristiwa penting tersebut, kepada seluruh umat Islam di tanah air kita ucapkan Selamat Idul Fitri – mohon maaf lahir batin, sementara kepada segenap umat Kristiani kita sampaikan Selamat Natal – semoga damai dan sejahtera turun ke bumi.

Salam dan harapan demikian kita sampaikan dengan khidmad, terlebih dalam kondisi kehidupan kita hari-hari ini yang penuh keprihatinan,  baik di bidang ekonomi akibat krisis yang tak kunjung teratasi maupun di bidang sosial – politik yang terus diwarnai benturan kepentingan.

Selain sebagai bulan yang kita harapkan penuh rahmat, sebagai penutup tahun kita juga melihat bulan Desember layak  dan semestinya dijadikan titik pijak untuk menyimak ulang perjalanan kita setahun ke belakang dan pada gilirannya melakukan tinjauan ke depan. Nah, apa yang kita lihat dari perjalanan kita di belakang ?

Bahwa, sebagai negeri dengan potensi sumberdaya alam yang melimpah  terutama di sektor pertanian  ternyata ketergantungan kita terhadap bahan pangan impor berkecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebutlah komoditas beras, jagung, kedelai dan belakangan juga gula, yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di sini harus didatangkan dari luar negeri. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa ketahanan pangan kita sesungguhnya sangatlah rentan. Sebuah kondisi yang tak seharusnya terjadi untuk Indonesia yang dikenal sebagai negeri subur gemah ripah lohjinawi.

Pertanyaannya, tentu : apa yang salah di sini ? Kita paham, ketahanan pangan bagi sesuatu negara ditentukan oleh kemampuannya meningkatkan produksi domestik bahan pangan secara efisien. Untuk mencapai itu, selain disyaratkan dilakukannya perluasan lahan pertanian juga diperlukan dukungan teknologi maju, serta di sisi lain terselenggaranya lingkungan agribisnis yang kondusif.

Nah, syarat-syarat itulah yang tak terpenuhi di sini. Dari aspek lahan, misalnya, bukannya terjadi perluasan justru berlangsung penciutan lahan pertanian, disebabkan dikonversi menjadi lahan perkebunan, permukiman penduduk, perluasan industri manufaktur ataupun keperluan lainnya. Sementara dukungan teknologi maju nyaris ibarat ‘jauh panggang dari api’, akibat terbatasnya jangkauan petani serta kurangnya dukungan lembaga keuangan untuk membiayai teknologi maju tersebut.

Dihadapkan kepada kondisi yang demikian, untuk langkah ke depan jelas diperlukan reorientasi visi pembangunan di mana sektor pertanian modern harus dijadikan motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,  dengan mewujudkan ketahanan pangan sesbagai sasaran awalnya.

Dimaksud dengan pertanian modern di sini adalah, pertanian dengan menerapkan sistem agribisnis secara terpadu sejak hulu, budidaya, pasca panen sampai kepada pengolahan dan sistem pemasarannya. Dengan secara bertahap mewujudkan pertanian modern inilah, dalam jangka waktu tertentu ke depan Indonesia dimungkinkan dapat berswasembada dalam komoditas beras dan jagung, dan lebih dari itu bahkan terbuka peluang menjadi net eksportir untuk kedua komoditas tersebut.

Dalam posisinya yang demikian, komoditas hasil-hasil peternakan utamanya daging dan telur akan ikut terangkat harkatnya  untuk memiliki keunggulan komparatif dan siap bersaing di pasar ekspor. Tidak seperti keadaannya sekarang, dimana industri peternakan yang berdaya saing di sini belum dapat diwujudkan disebabkan, di antaranya, ketergantungan yang masih besar terhadap bahan baku pakan impor khususnya jagung.

Tidak berarti bahwa dengan strategi pertanian modern, serta merta industri peternakan akan meningkat daya saingnya. Ada lagi sejumlah ‘keharusan’ yang justru dituntut melekat dalam sosok peternakan itu sendiri.

Yaitu, di antaranya, keniscayaan peternak meningkatkan produktivitas dan profesionalitasnya, selanjutnya pada tahap lebih tinggi : adanya dinamika internal sektor ini untuk mengembangkan kelembagaan yang kuat sehingga secara bertahap mampu mengelola usaha pembibitan, pakan ternak sampai kepada industri pasca panennya. Arah ke sana tak bisa tidak harus men-jadi pilihan masyarakat peternak di sini, sebagai jawaban untuk mewujudkan usaha yang efisien sekaligus meneguhkan kemandiri-an. Tidak mudah, tentunya, untuk mencapai semuanya itu.

Tapi itulah tantangan yang kita hadapi dan harus dipecahkan bersama.
Nah, demikian kiranya sebagian permasalahan yang masih akan kita hadapi dalam tahun 2003 mendatang ini. Tentu, ditambah dengan tuntutan yang juga berkembang, apa lagi dihadapkan kepada semakin intensifnya negara-negara maju ‘mengincar’ pasar domestik kita, akan lebih banyak lagi pekerjaan yang harus ditanggulangi.

Sebutlah menghadapi tuntutan peternak untuk terjaminnya pasokan anak ayam (DOC) dengan harga yang ekonomis, dan di pihak lain prediksi konsumsi daging ayam pada tahun 2005 yang diproyeksikan meningkat dua kali lipat sehingga produksi DOC harus mencapai dua milyar ekor,  semuanya ini harus diantisipasi melalui berbagai model pendekatan. Langkah ini diperlukan guna menangkal munculnya gejolak yang kita semua tentu tak menghendakinya.

Apa pun, itulah catatan akhir tahun kita sekaligus sebagai sumbangan pemikiran. Intinya, melalui pertanian modern mari kita wujudkan ketahanan pangan, termasuk pangan bergizi produk industri peternakan !

andang

Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com

Comments

No comments yet.

Be first to leave your comment!

Nickname:

E-mail:

Homepage:

Your comment:

Add your comment