Pembibitan Ayam Lokal Terus Berkembang

article-image

Bisnis kampung yang bukan kampungan, penggunaan ilmu dan teknologi juga telah diterapkan dalam bisnis ini. Walaupun masih ada beberapa tantangan, namun bisnis ayam lokal terus tumbuh secara pelan dan pasti.

Ayam lokal saat ini diperkirakan telah mencapai jutaan populasi yang tersebar diseluruh Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Drs. Ade M. Zulkarnaen, Ketua Umum Himpunan Peternak Unggul Lokal Indonesia (Himpuli), menurutnya populasi ayam lokal saat ini berdasarkan statistik Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencapai 290 juta ekor. Tetapi jumlah tersebut hanya mengacu pada populasi dari peternakan tradisional (backyard farming).

Populasi ayam lokal Indonesia saat ini berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2011 adalah 264,3 juta ekor dan pada 2012 naik menjadi 285,2 juta ekor atau terjadi peningkatan sebanyak 7,3%. Ayam kampung penting dikembangkan karena merupakan ternak yang banyak diusahakan oleh peternak terutama di pedesaan, sebagai sumber pendapatan keluarga dan merupakan ternak asli Indonesia yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan bibitnya tersedia (tidak impor).

Jika ditinjau dari penyebaran populasi, sentra ayam lokal asli saat ini ada di seluruh provinsi di pulau Jawa, Bali, Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. “Di provinsi tersebut mulai bermunculan peternakan ayam kampung asli pola intensif,” katanya.

Menurut Ir. Fauzi Luthan, Direktur Budidaya Ternak, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian, beberapa perusahaan pembibitan ayam lokal mulai bermunculan, melengkapi pembibitan yang sudah dulu ada, walaupun belum seperti yang dilakukan oleh ayam ras. Program yang ada adalah usaha pembiakan untuk menghasilkan bakalan dan indukan, dengan jumlah yang masih terbatas. Namun dalam memproduksi DOC sudah mulai digunakan mesin tetas modern serta mesin semi otomatis dan mesin manual dengan kapasitas mulai dari 100 butir sampai 10.000 butir per mesin.

Peternak yang khusus memproduksi DOC dalam jumlah besar masih sangat terbatas yaitu berada di provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Ada juga yang berbentuk perusahaan seperti PT. AKI dan CV. Kuda Hitam Perkasa. Untuk wilayah di luar Jawa masih mengandalkan DOC dari ketiga provinsi tersebut. Sedangkan UPT/UPTD  di Sumsel, Jabar dan Jateng masih belum mampu memproduksi  DOC  sesuai permintaan peternak.

Sejak 2008 mulai dikembangkan ayam kampung petelur yang dilakukan oleh Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi dengan nama Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) dan untuk ayam pedaging dengan nama ayam Sensi.

“Upaya-upaya  yang dilakukan untuk produksi telur dan daging kami dukung. Baik itu murni ayam lokal ataupun persilangan. Karena melalui persilangan akan didapatkan hasil yang lebih baik, telur lebih banyak dan perdagingan lebih tebal, ini kan menguntungkan untuk peternak,” ujar Fauzi. Jadi, tambahnya,  ini hanya untuk final stock saja, sedangkan jika diperuntukkan bibit tentu kita harus pertahankan genetik ayam lokal.

Ras lokal 

Ayam lokal di Indonesia sangat banyak jenisnya. Terkadang, hal ini menjadi perdebatan diantara peternak. Prof. Dr. Sofjan Iskandar seorang peneliti Balitnak mengatakan ayam kampung sendiri merupakan salah satu rumpun ayam lokal di Indonesia, yang tidak khas alias beragam dalam warna bulu, bentuk jengger, ukuran tubuh dan kapasitas produksinya.

Penggunaan istilah ayam buras sudah tidak digunakan kembali. Karena ayam lokal bisa menjadi ayam ras lokal nantinya. Seperti yang dikembangkan oleh balitnak yakni ayam KUB, sudah bisa dikatakan sebagai ayam ras lokal. “Penggunakan ayam buras sudah tidak digunakan lagi, cukup dikatakan ayam lokal saja. Jadi, nanti akan ada ayam ras lokal dan ayam ras impor seperti broiler. Memang saat ini belum ada ras lokal, namun Balitnak sedang mengembangkan ke arah ayam ras lokal,” kata Sofjan.

Rumpun ayam lokal diantaranya ialah ayam Sentul, ayam Kampung, ayam Kedu, ayam Merawang. Sementara ayam Arab termasuk dalam kategori ayam lokal pendatang, karena baru. Sama dengan ayam Merawang yang juga merupakan pendatang, namun ayam Merawang sudah cukup lama, jadi dianggap lokal asli.

Ayam Arab sudah dianggap ayam lokal walaupun pendatang, karena sudah tidak ada suntikan impor lagi. “Ayam pendatang bisa dijadikan ayam lokal kalau sudah bisa bergenerasi selama minimal 5 generasi tanpa adanya suntikan darah impor,” ungkap salah satu peneliti senior di Balitnak ini.

Nantinya, kata Sofjan, ayam lokal KUB dan Sensi akan dikembangkan kembali untuk menghasilkan pure line. Untuk mendapatkan pure line betina disilangkan antara KUB asli dengan KUB kaki kuning, pure line jantan didapatkan dengan menyilangkan ayam Sensi dengan ayam Gaok dari Madura. Minimal membutuhkan 3 generasi untuk mendapatkan pure line atau sekitar 3 tahun.

Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak Mei 2013.

Comments
  1. 6 / 18 / 2013 2:28 PM

    Terima Kasih atas artikelnya

    Reply

Nickname:

E-mail:

Homepage:

Your comment:

Add your comment