Perkembangan Pembibitan Ayam Lokal

article-image

Populasi ayam lokal terus berkembang, berbagai dukungan dari banyak pihak membantu peternak ayam lokal Indonesia untuk terus melebarkan sayapnya.

Seperti yang pernah dilansir majalah Poultry Indonesia pada edisi April 2013 bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang jumlah penduduknya relatif besar, keempat terbesar di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat yakni sekitar 259 juta jiwa. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk relatif tinggi, sekitar 1,48 persen per tahun dalam 5 tahun terakhir. Dengan jumlah kebutuhan standar kalori/kapita sebesar 2.500 (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII Tahun 2000), maka hasil kalkulasi akan menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan pangan dalam jumlah yang begitu besar.

Berbicara tentang pangan, ayam merupakan salah satu bahan pangan yang akan mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia seperti ayam lokal. Hal ini juga telah dipublikasikan oleh majalah Poultry Indonesia edisi November 2010, di mana ayam lokal mempunyai nilai gizi yang baik. Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khas dan nikmat dibanding dengan jenis ayam pedaging maupun petelur. Serat yang liat dan kenyal menjadi ciri utamanya. Bahkan setiap lebaran ayam lokal identik dengan berbagai macam masakan.

Penggunaan istilah ayam buras sudah tidak digunakan kembali. Karena ayam lokal bisa menjadi ayam ras lokal nantinya. Seperti yang dikembangkan oleh balitnak yakni ayam KUB, sudah bisa dikatakan sebagai ayam ras lokal.

Ayam kampung sendiri merupakan salah satu rumpun ayam lokal di Indonesia, yang tidak khas alias beragam dalam warna bulu, bentuk jengger, ukuran tubuh dan kapasitas produksinya. Ayam kampung dahulu dan sebagian sekarang hidupnya di perkampungan dipelihara di pedesaan.

Rumpun ayam lokal di antaranya ialah ayam Sentul, ayam Kampung, ayam Kedu, ayam Merawang, ayam Gaok, ayam Wareng, dll. “Sementara ayam Arab termasuk dalam kategori ayam lokal pendatang, karena baru. Sama dengan ayam Merawang yang juga merupakan pendatang, namun ayam Merawang sudah cukup lama, jadi dianggap lokal asli,” ungkap Prof. Sofjan Iskandar, peneliti Balitnak, Kementerian Pertanian.

Bagi masyarakat Indonesia, tentunya ayam lokal sudah bukan komunitas yang asing. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Basis Data Statistik Pertanian, Kementerian Pertanian (BDSP) populasi ayam lokal secara nasional pada tahun 2010 berjumlah 257.544.000 ekor. Dalam rentang waktu setahun berdasarkan angka sementara Kementan, tepatnya tahun 2011 telah terjadi peningkatan populasi menjadi 274.893.000 ekor.

Peningkatan ini, tentunya memperlihatkan bahwa semakin tingginya keinginan peternak nasional untuk melakukan usaha peternakan ayam lokal. Jika dilihat dari angka produksi secara nasional, sudah barang tentu angka produksi untuk periode 2010/2011 akan terus meningkat. Seperti data yang juga telah dilansir oleh BDSP di mana sebanyak 267,60 ton daging ayam lokal nasional telah diproduksi pada tahun 2010 dan angka sementara pada tahun 2011 tercatat sebanyak 283,10 ton.

Kemajuan angka prosuksi ayam lokal tidak hanya pada produksi daging, telur juga terus meningkat. Angka produksi telur ayam lokal nasional pada tahun 2010 terdata sebanyak 175,50 ton. Pada tahun 2011 berdasarkan data sementara dari Kementan angka produksi telur sebanyak 179,60 ton.

Walau saat ini ayam lokal di kota-kota besar sudah jarang terlihat berkeliaran bebas, bukan berarti keberadaannya punah. Di pinggiran kota masih banyak orang memelihara ayam lokal. Pemeliharaan ayam lokal telah memperlihatkan perubahan. Pada beberapa tahun yang lalu, umumnya usaha peternakan ayam lokal masih dilakukan secara ekstensif tradisional atau secara diumbar di halaman dan di kebun sekitar rumah.

Namun akhir-akhir ini, pemeliharaan seperti itu tidak dianjurkan lagi dan lebih dianjurkan untuk dipelihara secara intensif. Bahkan saat ini telah banyak bermunculan pembibitan ayam lokal yang memanfaatkan teknologi terkini untuk menghasilkan anakan yang berkualitas. Sebut saja PT. Unggul, PT. AKI, Citra Lestari Farm, Jimmy’s Farm, Kuda Hitam. Kehadiran mereka tentunya telah meramaikan perkembangan ayam lokal untuk dapat memenuhi kebutuhan ayam lokal. Harapannya, ayam lokal ini akan terus berkembang dan dapat memenuhi kebutuhan protein hewani.        

Berdasarkan informasi dari para ahli, bahwa sistem pemeliharaan semi intensif dan pemeliharaan intensif akam mampu meningkatkan produksi yang maksimak. Hal ini juga di rasakan oleh salah satu peternak yang pernah di kunjungi oleh majalah poultry di Serang, menurutnya dengan pola pemeliharahaan semi intensif yang dilakukan saat ini kemampuan produksi telur cukup tinggi, didukung lagi dengan jenis ayam yang dibudidayakannya merupakan salah satu jenis bibit unggul.        

Setiap perubahan yang dilakukan terhadap segala aspek kehidupan termasuk pola beternak, tentunya tidak luput dari berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang pernah dihadapi dalam pengembangan ayam lokal secara intensif, adalah sulitnya memperoleh bibit yang unggul, karena belum banyak yang mengusahakan bibit ayam lokal dalam jumlah banyak. Untuk itu, pada edisi Mei 2013 majalah Poultry Indonesia akan mengulas mengenai pengembangan usaha ayam lokal nasional, seperti apakah potensi peluang usaha, perkembangan pembibitan ayam lokal hingga pergeseran pola pemeliharaan seperti apakah yang sudah atau akan terjadi dimasa yang akan datang.

Comments

No comments yet.

Be first to leave your comment!

Nickname:

E-mail:

Homepage:

Your comment:

Add your comment