Poutryindonesia.com,Bandung.Kesepakatan harga day old chicken (DOC) antara pemilik breeding farm dan peternak rakyat yang difasilitasi Pemprov Jabar dinilai terlambat. Ketua Perhimpunan Peternak Ayam Nasional, Heri Dermawan, mengatakan, para peternak rakyat tidak dapat menikmati keuntungan dari turunnya harga DOC yang ditetapkan sebesar Rp 3.000 per ekor. Pasalnya, harga DOC yang turun itu tidak bisa dipanen sebelum perayaan Idul Fitri.

”Percuma saja, kalau beli DOC sekarang, panennya pasti setelah musim-musim marema. Sebab, ayam yang akan dipasarkan untuk lebaran ini harga DOC-nya mencapai Rp 3.650 per ekor,” ujar Heri di Bandung, Selasa (5/11).

Menurut Heri, tanpa imbauan dari pemerintah pun, harga DOC sekarang akan terus turun. Alasannya, kata dia, kandang-kandang ayam yang dikelola pemilik breeding farm saat ini sudah sangat penuh.

Selain itu, sambung dia, para pemilik breeding farm melepas DOC kepada peternak rakyat dengan harga rendah karena setelah lebaran para pekerja peternakan dipastikan akan libur. ”Pokoknya, harga DOC akan turun terus hingga para peternak rakyat mau beternak lagi,” tandasnya.

Sayangnya, lanjut Heri, para peternak yang ada di Priangan Timur sudah agak apatis untuk beternak ayam. Menurut dia, banyak peternak yang berhenti beternak akibat ketidakpastian harga DOC yang selalu dimainkan para pemilik breeding farm.

Meski demikian, Heri mengaku salut dan berterima kasih kepada Pemprov Jabar yang telah memperjuangkan dan mengimbau agar para pemilik breeding farm untuk memperhatikan nasib peternak rakyat.

Di tempat terpisah, Gubernur Jabar R Nuriana, mengatakan, kesepakatan harga DOC antara pemilik breeding farm dengan peternak rakyat di Priangan Timur merupakan salah satu jalan keluar. Kata dia, para pengusaha breeding farm sudah sepakat untuk mengalokasikan produksinya, baik DOC mapun pakan, sebesar 20 persen untuk peternak rakyat di Tasikmalaya dan Ciamis.

”Kita harapkan, dengan kesepakatan itu para pemilik breeding farm dan peternak rakyat dapat sama-sama untung,” ungkap Nuriana.

Selain itu, sambung gubernur, para pedagang dan bandar ayam tidak lagi berunjuk rasa apalagi melakukan boikot untuk berdagang ayam. Dengan adanya kesepakatan harga DOC itu, lanjut dia, tak perlu lagi ada rencana impor DOC.

Sebelumnya Nuriana mengatakan agar para pengusaha breeding farm tidak membebani dan memberatkan para peternak kecil. Sebab, kata dia, apabila para peternak rakyat tak mau lagi mengembangkan peternakannya, maka para pengusaha besar juga akan merasakan akibatnya.

”Apalagi kalau sampai diboikot. Kita minta agar pola kemitraan antara pengusaha besar dan rakyat bisa saling membantu,” ucapnya. andang/ rol

 <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

 Silakan mengutip dan atau meng-copy tulisan ini dengan menyebut sumbernya: www.poultryindonesia.com