Oleh: Kurt Van de Mierop (Nutrex, Belgium)
Di banyak Negara Asia penggunaan xilanase sering dikaitkan dengan periode ketika pakan berbasis gandum (wheat) digunakan, dimana xilanase diyakini penting karena dapat me­ngurangi viskositas dalam saluran pencernaan dan hal ini memiliki keterkaitan dengan kualitas litter. Ketika periode penggunaan gandum telah berlalu, dan jagung yang tersedia dengan harga lebih murah, penggunaan xilanase seringkali ditinggalkan atau hanya dilihat sebagai alternatif kedua yang sangat bagus. Akan tetapi yang sering dilupakan, baik jagung dan berbagai bahan baku (raw material) nabati lainnya juga memiliki kandungan arabinoxylan (AX), yakni substrat untuk xilanase, dengan jumlah yang signifikan. Perlu diketahui, sebagian besar arabinoxylan tidak dapat larut dan sulit untuk didegradasi se­hingga membutuhkan xilanase dengan kriteria tertentu agar memberikan efek atau hasil yang menguntungkan pada ransum tersebut.
Tidak sedikit dari kita yang lupa atau tidak sadar dengan fakta bahwa jumlah yang sulit untuk menurunkan AX yang tidak larut yang terdapat dalam bahan nabati (gandum, jagung, dan bahan baku sejenisnya) menawarkan potensi unik untuk enzim yang dimediasi oleh produksi in vivo (prebiotik oligosakarida). Hidrolisis parsial AX terlarut dan tidak larut menjadi arabinoxylan-oligosaccharides (AXOS) yang le­bih kecil membuat mereka berfermentasi lebih cepat dan mendapatkan mikrobiota yang diinginkan. Hal ini menghasilkan produksi pada level short-chain fatty acids (SCFAs) yang diinginkan, terutama butirat. Selain itu juga memperbaiki perubahan morfologi dan histologi pada usus halus.
Efek pada kesehatan usus dan kualitas kerabang telur
Peningkatan kesehatan usus tidak hanya mempengaruhi kecernaan nutrisi, namun juga mempengaruhi komposisi karkas dan kualitas telur maupun kerabang telur itu sendiri. Kualitas kerabang yang buruk merupakan salah satu per­­so­alan terpenting dalam industri perunggasan, karena dapat mempengaruhi profitabilitas dari segi produksi telur maupun daya tetas (hatchability). Kerabang retak atau rusak me­nyumbang 80-90% telur yang masuk ke dalam lower grade secara rutin. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah penurunan kualitas telur seiring dengan bertambahnya usia ayam, kasus telur rusak dapat melampaui 20% pada akhir periode produksi. Lebih lanjut, tingginya kekuatan untuk telur meretas dan tidak adanya kerusakan pada kerabang sangat penting untuk perlindungan terhadap pe­netrasi bakteri patogen ke dalam telur. Beberapa waktu lalu, sejumlah penelitian telah menunjukkan efek positif dari Nutrase Xyla pada komposisi mikrobiota. Alireza et al. (2015) merancang sebuah penelitian untuk mengungkap mekanisme sebenarnya dimana mikrobiota usus dipengaruhi oleh penambahan enzim pada pakan. Bakteri penghasil xilanase secara signifikan mampu meningkatkan jumlah bakteri yang termasuk dalam Clostridium cluster IV (penghasil butirat) dan butyryl CoA-acetate CoA-transferase genes (Tabel 1).

Usus ayam yang menerima ransum berbasis jagung dan enzim menunjukkan tinggi villus yang lebih sehat dan kedalaman crypth (gambar atas) dibandingkan dengan ayam yang tidak menerima enzim di dalam makanannya. (Hasil percobaan ditunjukkan pada tabel 1).
Selain efek pada mikrobiota, morfologi usus juga sangat terpengaruh, panjang villus dan rasio villus/crypt masing-masing meningkat 24% dan 42%. Hasilnya menunjukkan bahwa Nutrase Xyla mampu bekerja dengan baik dalam mempengaruhi profil microbial melalui kombinasi dalam menyediakan fragmen AX yang mudah difermentasi bersamaan dengan perubahan komposisi digesta secara keseluruhan sebagai substrat untuk mikrobiota usus.
Peningkatan kesehatan usus dan feed intake yang baik dapat membantu mendapatkan kualitas kerabang telur yang baik pula. Ketika pH lebih rendah disebabkan oleh peningkatan produksi SCFA, kita bisa mengharapkan peningkatan ketersediaan mineral. Pada saat yang bersamaan, peningkatan produksi butirat dapat memperbaiki kapasitas penyerapan mukosa usus.
Hasil uji coba
Untuk mempelajari ‘side effect’ xilanase pada kualitas telur, sejumlah percobaan dilakukan atas kerja sama dengan berbagai lembaga penelitian ternama. Hasil utama dari uji coba ini dirangkum pada tabel 2. Pada tahap pertama, telah diamati pada ayam pada masa produksi kelompok bacterial endo-xilanase dan kelompok kontrol negatif, terjadi peningkatan yang signifikan pada laying rate (92.4% vs 95.3%). Feed conversion ratio (FCR) juga meningkat secara signifikan sebesar 5,1% untuk kelompok enzim dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Selain berpengaruh pada performa, efek enzim secara signifikan juga dapat terlihat pada kerabang. Kasus telur yang pecah atau retak menurun dari 2,33% menjadi 1,63%.

Tujuan uji coba yang kedua adalah untuk mengevaluasi apakah ­enzim non-starch polysaccharides (NSP) dari asal-usul yang berbeda memiliki efek yang serupa pada parameter performa dan kerabang telur pada layer komersial. Pemberian pakan pada ayam yang dilengkapi ­de­ngan enzim fungal cocktail (FX) atau Nutrase Xyla tidak berpengaruh secara signifikan terhadap performa mereka. Namun, laying rate dan massa telur setiap hari secara jumlah lebih tinggi untuk suplemen Nutrase Xyla dibandingkan dengan suplemen FX lainnya. Telur yang diberikan suplemen Nutrase Xyla dalam pakan memiliki kerabang yang jauh lebih tebal dan memiliki potensi kerabang yang pecah lebih sedikit dibandingkan dengan ayam yang diberikan FX.
Uji coba ketiga dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh Nutrase Xyla pada performa dan kualitas kerabang pada layer apkir (umur 54 – 74 minggu). Memberikan suplemen pada pakan dengan Nutrase Xyla secara signifikan mampu meningkatkan persentase periode produksi (87.9% vs 83.7%) dan massa telur (58.3 g vs 55.3 g), menghasilkan rasio konversi pakan yang jauh lebih baik (1.974 vs 2.085).
Kasus telur yang pecah dan kotor sebanding di antara kelompok perlakuan, sedangkan kasus soft-shelled eggs secara signifikan lebih rendah (0.04% vs 0.47%) pada kelompok Nutrase Xyla. Selain itu, nilai haugh units (HU) secara signifikan lebih tinggi untuk ayam pada masa produksi yang diberi pakan dilengkapi dengan Nutrase Xyla (90.14 vs 87.60). Menambahkan bacterial endo-1,4-b-xylanase dalam pakan dapat menghasilkan produksi telur yang lebih efisien dan meningkatkan HU bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang menggunakan pakan saja (Delezie et al. 2015).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil tersebut, kami menyimpulkan bahwa Nutrase Xyla tidak hanya mengurangi efek anti-nutrisi dari polisakarida non-pati, namun juga berkontribusi pada pembentukkan prebiotik AXOS secara in vivo yang difermentasi di dalam ceca untuk menghasilkan kadar butirat yang tinggi. Manfaat butirat dalam hal kualitas kerabang telur telah diakui secara luas. Dengan demikian, jika penggunaan Nutrase Xyla dapat mengurangi atau mengganti penambahan butirat, harga pakan akan turun secara nyata seiring dengan dampak positif yang dihasilkan. Dikarenakan kualitas kerabang telur memiliki dampak yang signifikan terhadap profitabilitas di peternakan layer, pilihan enzim harus dilakukan dengan mempertimbangkan efek yang dihasilkan, tidak hanya dari segi peningkatan energi dan performa, namun juga efeknya pada kualitas telur.
Sejak bertahun-tahun, Nutrex telah bekerja secara intensif untuk meneliti cara kerja Nutrase Xyla secara detail dan berbagai sifat unik yang dimilikinya untuk menunjukkan bahwa Nutrase Xyla memiliki kapasitas untuk meningkatkan performa produksi dan kesehatan usus ayam dalam segala jenis ransum dan sistem produksi.