Di dalam sambutannya pada kegiatan yang berlangsung di Hotel Atria, Malang pada 26 Oktober 2017 ini, Nisha Sharma selaku Country Head Bayer Animal Health for Indonesia, Malaysia, and Singapore mengungkapkan, beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh industri perunggasan setelah bebas AGP, salah satunya adalah vektor parasit yang dapat membawa berbagai penyakit masuk ke dalam farm.
Di sisi lain, dikatakan oleh drh. Hedy Rachman, Area Sales Manager PT SHS International, kondisi perunggasan tanpa AGP merupakan hal yang cukup menantang. Oleh karena itu, pihaknya sangat mendukung berbagai kegiatan pendidikan berkelanjutan untuk industri perunggasan melalui Bayer Poultry Academy.

Seminar yang menghadirkan sejumlah narasumber ahli.
Kontrol penyakit secara holistik
Praktisi dan konsultan kesehatan unggas, Drs. Tony Unandar, M.Si, dalam kesempatan ini menjelaskan tentang kontrol penyakit hewan. Menurutnya ada tiga strategi kunci yang bisa diterapkan. Pertama, mengurangi agen patogen dengan terlebih dahulu mengetahui secara pasti epidemiologi agen patogen tersebut.
Pengurangan agen patogen juga dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkah laku vektor, termasuk mencari siklus hidupnya yang paling lemah. “Contohnya, kita tidak akan bisa mengontrol cacing pita, kalau kita tidak bisa kontrol lalat. Sebab, lalat merupakan vektor biologis dari cacing pita. Jika menggunakan obat cacing terus-menerus tanpa kontrol lalat bisa dikatakan boros,” terang Tony.
Strategi kedua, kontrol penyakit adalah dengan meminimalkan kontak patogen dengan induk semang di dalam tempat yang sama. Sehingga peternak harus mengatur dan membatasi lalu lintas, kendaraan, orang, serta peralatan. Ketiga, melakukan kontrol vektor. Menurutnya, vektor ada tiga kelompok, meliputi insekta (lalat), mollusca (siput), rodentia (tikus).
“Mengontrol penyakit itu secara holistik, tidak sebagian, sedangkan untuk keberadaan vektor harus diamati betul, yang perlu diwaspadai adalah vektor mekanis, karena bisa melalui apapun. Sedangkan kalau vektor biologis hanya tertentu, contoh penyakit malaria ayam hanya ditularkan oleh nyamuk tertentu,” tegasnya. Begitu juga dengan vektor lalat dan parasit cacing yang berbahaya. “Strategi untuk melakukan kontrol pada vektor ini adalah dengan mencari titik yang terlemah,” terangnya.
Bayer Parasite Solution
Sementara itu, drh. Aura Maulana, Product Manager Animal Health Business PT Bayer Indonesia mengungkapkan, untuk penanganan parasit pihak Bayer memiliki konsep Bayer Parasite Solution. Konsep ini berusaha untuk memberikan solusi secara komprehensif terhadap serangan parasit, mulai dari ektoparasit, endoparasit, hingga environmental parasite.
“Produk kami sangat lengkap untuk mengatasi parasit ini mulai dari pencegahan dan pengobatan ektoparasit, seperti kutu dan gurem, lalu pencegahan dan pengobatan endoparasit seperti koksidia dan cacing, hingga kontrol environment parasite, seperti lalat, tikus, nyamuk, rayap, dan kumbang franky,” ungkapnya.
Khusus untuk pencegahan dan pengobatan cacing pada ternak menggunakan strategic deworming, strategi ini merupakan pengobatan cacing dengan menggunakan jenis obat yang tepat, pada interval yang telah ditentukan, disesuaikan dengan epidemiologi dan siklus dari parasit cacing, serta dengan praktik manajemen kandang yang baik.
“Strategi ini bisa diterapkan dengan cara all in all out, melakukan manajemen biosekuriti melalui pembersihan kandang, dan desinfeksi. Sebaiknya seluruh unggas di peternakan dilakukan deworming sebelum cacing mencapai tahapan dewasa dan mulai mengeluarkan telur,” terangnya.
Strategi ini bisa menggunakan produk Bayer berupa Rintal Granules 10%, produk ini berisi Febantel, obat cacing berspektrum luas yang diaplikasikan dengan dicampur pakan ternak. Keuntungan menggunakan obat ini sangat efektif terhadap cacing gelang maupun cacing pita, efektif membunuh cacing pada stadium dewasa, larva, maupun telur cacing, tidak mempunyai dampak negatif terhadap produksi telur maupun kualitas telur. Selain itu, mampu memperbaiki beberapa parameter produksi ayam seperti feed intake, bobot badan, dan hen day.
Pondasi pengendalian hama terpadu
Didi Suwandi, SP, Sales and Operation Manager di Environmental Science Business PT Bayer Indonesia, konsep pengendalian hama terpadu yang menggabungkan beberapa metode sekaligus. Setidaknya ada tiga metode yang bisa digunakan, antara lain secara fisik, mekanik, dan kimiawi.
Menurutnya, keberhasilan mengendalikan hama pada suatu area, tergantung kuat atau tidaknya pondasi dasar sistem pengendalian hama terpadu, yaitu proofing, cleaning, dan sanitasi. Sebab, ada atau tidaknya populasi hama tergantung dari adanya sumber makanan, sumber air, dan sarang tempat untuk berkembang biak. Jika semua tersedia, maka populasi hama akan semakin mudah untuk meningkat. “Adapun tiga pondasi itulah yang akan mampu untuk menghilangkan pendukung keberadaan hama,” tegasnya.
Target pengendalian hama pada siklus hidup hama terletak pada dua fase yang paling memungkinkan, yakni fase larva dan dewasa. Konsep pengendalian lalat dewasa yang ditawarkan oleh Bayer dengan produk QuickBayt adalah dengan cara memberi umpan dengan tujuan mengundang lalat pada suatu tempat, kemudian membunuhnya. Produk ini dipergunakan di tempat dimana lalat berkembang biak. Misalnya, produk ini disemprotkan di karung, sehingga lalatnya mengumpul di karung hingga akhirnya mati.
“Selain pemberian umpan seperti itu, kami juga menyediakan produk untuk semprot serta untuk fogging, yang menarik adalah di fogging ini pelarutnya tidak menggunakan minyak, seperti penggunaan solar yang biasa beredar. Kita fogging dengan menggunakan pelarut air, jadi bisa menghemat solar, asap tidak terlalu tebal, serta tingkat stres ayam juga berkurang,” pungkasnya. Adv