Pemilihan bibit ayam sangat menentukan terhadap penampilan produksi dan pada akhirnya keuntungan suatu suaha peternakan. Memang biaya yang terbesar dalam usaha peternakan ayam adalah pakan, tetapi pakan yang sama ketika diberikan kepada strain atau jenis ayam berbeda, dapat menghasilkan performans produksi yang berbeda pula. Di samping itu, khusus untuk ayam petelur maka jumlah konsumsi pakan dapat berpengaruh terhadap keuntungan usaha petelur. Ayam yang mengkonsumsi pakan yang banyak kalau tidak disertai dengan produksi yang lebih tinggi, mengakibatkan pemborosan sehingga berpengaruh terhadap keuntungan. Perbandingan konsumsi pakan terhadap hasil produksi telur yang dikenal dengan konversi pakan (FCR) akan sangat menentukan biaya produksi.

Jenis atau strain ayam petelur yang ada di Indonesia adalah ISA, HyLine, Lohmann dan akhir-akhir ini Novogen mulai dipasarkan di Indonesia. Di samping itu, di luar negeri banyak dikenal strain lain yaitu Bovans, Hisex dan Tetra. Untuk mengetahui perbandingan penampilan ayam petelur dari berbagai strain, maka perlu dilakukan penelitian yang dikenal dengan Random Sample Test (RST).  RST sebaiknya dilakukan oleh lembaga independen untuk menjamin netralitas hasilnya. Pemerintah Indonesia seharusnya melakukan RST untuk strain ayam yang ada di pasaran sehingga peternak dapat menilai strain mana yang terbaik dan yang mampu memberi keuntungan maksimal dan akhirnya dapat memilih sendiri jenis ayam yang akan dipelihara. Sayangnya pekerjaan ini tidak dilakukan di Indonesia dan juga banyak Negara di dunia karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar. Di dunia ini, salah satu institusi yang secara konsisten melakukan RST adalah Universitas Carolina Utara (North Caroline State University) dan sudah berjalan 39 kali dan hasilnya dilaporkan setiap tahun. Ada baiknya jika hasil penelitian yang memakan waktu sampai hampir 2 tahun bisa dimanfaatkan oleh peternak untuk menilai suatu jenis/strain petelur. Di bawah ini disampaikan hasil penelitian tersebut hanya untuk periode produksi bertelur dan datanya hanya diambil untuk berbagai jenis petelur coklat yang ada di pasaran, ditambah satu jenis potensial yang belum ada di Indonesia.

 

Bagaimana RST dilakukan?

Berhubung penampilan produksi telur ditentukan juga oleh kondisi pemeliharaan pullet maka RST di NCSU diawali dengan mendapatkan telur tetas dari perusahaan pembibitan yang ada di dunia dan mau berperan serta dalam penelitian. Universitas melakukan penetasan sendiri dan juga memelihara pullet dalam kondisi standar. Penampilan pullet dari berbagai strain ayam baik petelur coklat maupun petelur putih juga dilaporkan, tetapi tidak disampaikan dalam tulisan ini. Ayam pullet yang sudah siap bertelur pada umur 15 minggu dimasukkan dalam sangkar yang ditempatkan dalam kandang tertutup (closed house). Setiap sangkar bisa diisi 4 dan 7 ekor sehingga mendapatkan kepadatan ayam 773 dan 442 cm2 per ekor ayamnya. Setiap ulangan percobaan terdiri dari 16 ekor dan 28 ekor untuk masing-masing kepadatan ayam. Untuk setiap strain ayam (8 strain yang diuji) percobaan diulang 9 kali untuk masing-masing kepadatan ayam.

Pemberian pakan mengikuti standard nutrient yang dipengaruhi oleh konsumsi dan produksi telur, tetapi disusun sedemikian rupa sehingga konsumsi gizi setiap harinya dipenuhi. Ada 4 jenis pakan yang digunakan selama produksi yaitu konsumsi protein 20, 19, 18 dan 17 gram untuk produksi Pre-peak, 87-80%, 80-70% dan

Pengamatan dilakukan terhadap penampilan produksi dan juga kualitas telur (grade, retak, pecah), sedangkan keuntungan dihitung berdasarkan harga telur/kualitas dan produksi telur yang dapat dijual dan biaya pakan dihitung dari harga pakan berdasarkan kontrak pembelian di lokasi percobaan. Perhitungan biaya atau pendapatan dilaporkan dalam US$ dan dikonversikan dengan kurs Rp.13.600 pada akhir November 2015.

 

Penampilan produksi

Penampilan produksi bebagai jenis/strain petelur coklat yang ada di Indonesia termasuk Bovans, yang dipelihara dalam 2 kepadatan berbeda selama 1 tahun produksi dikemukakan dalam Tabel 1. Meskipun kedua kepadatan pemeliharaan dilakukan dalam kandang tertutup tetapi kepadatan yang tinggi (773 cm2/ekor) umumnya berlaku di kandang terbuka di Indonesia sedangkan kepadatan 442 cm2/ekor berlaku untuk kandang tertutup. Ayam yang dipelihara dalam kepadatan tinggi mempunyai konsumsi pakan yang lebih rendah, demikian pula dengan produksi telur (HH dan HD) sehingga Egg Mass yang dihasilkan juga lebih tinggi. Ayam yang dipelihara dengan kepadatan tinggi mencapai umur produksi 50% lebih lambat 2 hari dibanding ayam dengan kepadatan rendah. Secara statistik, tidak ada perbedaan dalam kematian, tetapi ayam yang dipelihara dengan kepadatan tinggi mempunyai kematian yang lebih tinggi (5.84% vs 3.32%).

Sebagai kesimpulan, hampir semua jenis strain petelur coklat yang ada di Indonesia memberikan produksi telur yang tinggi yaitu >300 butir per tahun. Ayam yang dipelihara dengan kepadatan tinggi (442 cm2/ekor) menghasilkan produksi telur yang lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang dipelihara dengan kepdatan rendah (773 cm2/ekor). Di antara strain ayam terdapat sedikit perbedaan dalam berbagai parameter seperti konsumsi pakan, konversi pakan maupun kematian. Ketika semua parameter dihitung dan dikonversikan terhadap biaya pakan dan pendapatan dari telur maka ada perbedaan di antara strain ayam. Peternak dianjurkan untuk memperhatikan secara seksama parameter tersebut dan menentukan pemilihan strain ayam termasuk sistim pemeliharaan yang digunakan sehingga dapat memaksimalkan keuntungan ditinjau dari Income Over Feed Cost dan biaya investasi kandang. Ahli Nutrisi Ternak, Balai Penelitian Ternak Ciawi.