Analisis Pasar Unggas 2016

POULTRY INDONESIA-- Masih rendahnya konsumsi daging dan telur ayam per kapita nasional merupakan sebuah peluang yang harus dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder perunggasan Indonesia. Jangan sampai momentum tersebut malah menjadi bumerang bagi Indonesia. Alih-alih dapat merebut pasar dalam negeri, yang terjadi malah sebaliknya, Indonesia menjadi pasar bagi produk-produk hasil perunggasan dari luar negeri.

 

Besanya peluang Indonesia

Kepada redaksi Poultry Indonesia, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Desianto B. Utomo menjelaskan bahwa kondisi perunggasan nasional saat ini memang tidak begitu menguntungkan bagi seluruh lapisan pihak. Masalah over supply yang tak kunjung menemukan jalan keluar, tingginya harga jagung sebagai bahan baku pakan, efisiensi, dan infrastruktur yang belum mendukung menurutnya masih menjadi hantu bagi perunggasan nasional.

“Bisa dibilang perunggasan Indonesia belum membaik, namun kita harus tetap optimis. Bisa survivedengan keadaan seperti ini merupakan hal yang sulit, namun kesempatan untuk maju masih ada”, tukas Desianto. Ia menyebutkan bahwa hingga kini terdapat sekitar 80-an pabrik pakan ternak di Indonesia yang total produksinya sekitar 21 juta ton per tahun. Jumlahnya diperkirakan akan bertambah mengingat potensi Indonesia yang masih belum tergali secara maksimal. “Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 4,9% tahun 2016, pertumbuhan populasi ternak kurang lebih 8%, seta pertumbuhan produksi pakan sebanyak 7%, diperkirakan dunia perunggasan masih terus berkembang,” papar Desianto.

Walaupun begitu, masih banyak juga hal yang harus dibenahi oleh Indonesia di tahun 2016 ini, terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN  (MEA). “Bukan cuma produk saja yang free flow, tenaga kerja, jasa, teknologi, semuanya juga. Indonesia masih berpeluang dalam hal tenaga kerja bahkan tenaga ahli, namun cukup sulit bersaing dalam hal produk. Hal ini juga berkaitan dengan masalah perunggasan dalam negeri juga,” katanya.

Hampir semua orang yang berkecimpung di dunia perunggasan sudah sangat mengerti bagaimana produk perunggasan dari negara-negara tetangga Indonesia, baik dari segi kualitas, harga dan efisiensi. Hal inilah yang ditakutkan oleh pelaku perunggasan Indonesia, tidak dapat bersaing dari segi efisiensi.

Redaksi Poultry Indonesia mencoba mencari data mengenai perbandingan harga daging dan telur ayam di beberapa negara ASEAN.  Berdasarkan sebuah situs yang menganalisis biaya hidup di beberapa negara di dunia (numbeo.com), harga daging dan telur ayam di Malaysia merupakan yang termurah di ASEAN. Di tingkat konsumen, harga rata-rata daging dada ayam (tanpa kulit dan tulang) yakni Rp.36.379, sedangkan harga rata-rata telur per 12 butirnya adalah Rp.16.013.  

Tabel 1. Perbandingan Harga Telur dan Daging Ayam pada Tingkat Konsumen di Beberapa Negara ASEAN.

Negara

Harga Rata-Rata Daging Dada Ayam (Tanpa Kulit dan Tulang)

 

Kisaran Harga

(Daging Ayam)

 

Harga Rata-Rata Telur Per 12 Butir

 

Range Harga Telur Ayam

 

 Indonesia

42.024

30.000 – 60.000

17.139

13.200 – 22.000

 Thailand

39.034

30.179 – 57.598

20.642

16.127 – 25.343

 Malaysia

36.379

25.722 – 48.229

16.013

12.861 – 19.291

 Vietnam

52.137

36.917 – 79.988

18.474

14.767 – 21.535

 Filipina

43.983

35.282 – 529.23

19.071

17.641 – 22.983

Sumber : www.numbeo.com

*Data terakhir tanggal 3 Januari 2016, data berubah-ubah setiap hari.

*Angka yang tertera dalam mata uang Rupiah.

 

Menghadapi gempuran dari Negeri Jiran

Sebagai negara dengan penduduk terbanyak di kawasan ASEAN, Indonesia sudah pasti menjadi tujuan pasar bagi negara-negara tetangga di ASEAN. Dua negara yang menjadi momok bagi Indonesia yakni Thailand dan Malaysia. Namun akhir-akhir ini, Malaysia lebih terasa “menggigit” Indonesia terutama dari segi produk olahan unggas.

Industri pengolahan daging di Indonesia terus bertumbuh. Makanan berbahan olahan daging ini makin digemari hampir semua lapisan masyarakat karena rasanya yang lezat dan mudah penyajiannya. Jadi jangan heran jika pedagang sosis panggang mudah dijumpai di mal, hotel, kafe, terminal, sekolah, bahkan pinggir jalan.

Meskipun ditengarai mengalami pertumbuhan, harga produk olahan lokal masih lebih mahal ketimbang daging olahan impor. Hal ini disebabkan lantaran bahan baku seperti Mechanical Deboned Meat(MDM) lokal jauh lebih mahal. Harga MDM ayam lokal sekitar Rp.16.245 per kg. Sedangkan harga MDM impor hanya sekitar Rp.10.000 per kg.

Lukman (2008) mendifinisikan MDM sebagai daging yang diperoleh dari pelepasan sisa-sisa daging yang melekat pada tulang (terutama dari tulang belakang, rusuk, bahu, dan pelvis) dengan menggunakan mesin bertekanan tinggi. MDM dapat mengandung beberapa bagian materi tulang dan atau sumsum tulang belakang. Kandungan kalsium, besi dan purin relatif lebih tinggi dibandingkan daging lain. MDM hanya dapat diperoleh dari pemisahan dengan mesin separator.

Tak hanya itu, dalam hal rasa (taste), daging olahan lokal juga masih kalah dengan daging olahan impor. “Daging olahan impor khususnya dari Malaysia, jauh lebih enak daripada daging olahan kita karena kandungan dagingnya lebih banyak,” ungkap Ketua Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA), Ishana Mahisa.

- Cholillurrahman -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com