Industri pangan global perketat biosecurity

Industri pangan dunia saat ini tengah meningkatkan segala daya upaya untuk memperketat biosecurity, untuk mengantisipasi kehancuran yang diakibatkan wabah avian influenza seperti yang terjadi sebelumnya.

Awal Juni lalu, virus AI yang mematikan H7N7 terdeteksi di pasar di wilayah Tuen Mun di Hongkong, dan membuat otoritas setempat memusnahkan 4500 ekor unggas untuk menghentikan penyebarannya. Virus AI yang dua tahun lalu menyebabkan dimusnahkannya 20.000 ekor unggas menjadi kekhawatiran otoritas Hongkong karena penyebarannya yang sangat mudah dan tidak terdeteksi, tidak selalu menyebabkan kematian pada unggas serta tidak selalu menunjukkan gejala-gejala sakit.

Hongkong tidak sendiri, ada Mesir, Cina, Inggris, dan Amerika Serikat yang juga menderita akibat AI beberapa tahun terakhir, bukan hanya menghancurkan komunitas peternakan, namun juga industri pangan, dan bahkan lebih luas lagi merugikan ekonomi secara keseluruhan.

Kerusakan yang diakibatkan oleh virus AI membuat peternak, slaughterhouse dan pemroses unggas (poultry processes) meningkatkan upaya biosecurity mereka. Industri pangan kini menginvestasikan jutaan dollar untuk meng-upgrade unit-unit pemrosesan unggas (poultry processing plants) untuk memastikan standar hygiene dan keamanan pangannya mencapai tingkat maksimum.

Wabah flu burung di Amerika Serikat tahun 2015 merupakan yang terburuk dalam sejarah negara itu, tidak hanya berakibat dimusnahkannya 50 juta ekor unggas di 12 negara bagian, namun juga membawa kerugian $2,6 milyar dari hilangnya penjualan, sekitar $400 juta dari hilangnya pajak, dan hampir 16.000 hilangnya pekerjaan, demikian menurut sebuah studi.

Yang paling mengkhawatirkan bagi industri pangan adalah bahwa wabah, yang konon disebabkan oleh kotoran unggas air yang bermigrasi, menyebabkan kerugian demikian besar, namun ilmuwan dan pejabat pemerintah di Amerika Serikat masih belum bisa menemukan bagaimana demikian banyak peternakan bisa terinfeksi dengan sangat cepat dan bagaimana virus bisa menyebar sedemikian jauh dan luas, kendati setiap peternakan telah berupaya maksimal untuk menangkalnya.

Ketika virus AI terdeteksi di satu ekor unggas di sebuah peternakan, protokol yang berlaku adalah memusnahkan seluruh populasi unggas di peternakan tersebut untuk mencegah penyebaran infeksi. Berbicara kepada FoodIngredientsFirst, Suzanne McMillain, direktur The American Society for the Prevention of Cruelty to Animals percaya pemusnahan massal ternak erat kaitannya dengan cara pemeliharaan unggas yang memiliki tingkat kepadatan kandang tinggi. “Oleh karenanya bisa dimengerti jika orang bertanya-tanya apakah pemusnahan massal merupakan manifestasi dari sistem pemeliharaan yang tidak sustainable. Flu burung merupakan jendela untuk mengetahui bagaimana flok unggas hidup dari hari ke hari, di kandang intensif dan kondisi yang tidak sanitary. Situasi yang tidak alami dan tidak sustainable,” tambah MacMillain.

selengkapnya simak di edisi cetak majalah poultry Indonesia Agustus 2016

- Elis Helinna -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com