Integrasi Vertikal, antara Mitos dan Fakta

POULTRY INDONESIA-- Lebih dari seabad lalu, sebagian besar penduduk Amerika adalah petani dan mayoritas dari mereka memelihara ayam. Pada akhir 1800-an hingga awal 1900-an, sebagian besar rumah tangga memiliki ayam untuk dikonsumsi sendiri, dan dijual ke tetangga sekitarnya jika ada kelebihan daging atau telur.

Akibat permintaan telur yang meningkat, jumlah ayam jantan pun meningkat. Peternak kemudian menjual ayam jantan ini sebagai pedaging. Lama kelamaan peternak mengamati bahwa ada ayam yang bagus sebagai petelur dan yang lainnya bagus sebagai pedaging. Para peternak yang sebelumnya memelihara ayam untuk diambil daging dan telurnya, mulai khusus memelihara ayam pedaging saja atau petelur saja.

Tahun 1923 seorang wanita bernama Wilmer Steele dari wilayah Sussex, Delaware, memelihara 500 ekor anak ayam yang kemudian dijual dagingnya. Bisnis kecilnya ini sangat menguntungkan, sehingga pada tahun 1926 Steele mampu membangun kandang broiler dengan kapasitas 10.000 ekor. Hal ini menandai dimulainya produksi ayam pedaging (broiler) secara komersial. Pada masa ini masing-masing unit usaha yang berkaitan dengan ayam broiler masih berjalan sendiri-sendiri dengan pasar yang terpisah pula.

Pada tahun 1940-an produsen mulai menjual ayam yang telah diproses (disembelih, dan dibersihkan bulunya). Ayam ini dijual dengan nama “New York dressed”. Pada tahun 1942, sebuah plant di Illinois memperoleh persetujuan pemerintah untuk “on-line” evisceration (metode pengeluaran isi/jerohan dengan cara menggantung ayam). Sejak saat itu pemotongan, pencabutan bulu, pembersihan dan pengepakan ayam karkas utuh yang siap dimasak (ready-to-cook) menjadi umum dipraktekkan.

Perusahaan pun mulai meningkatkan skala bisnisnya dan mengintegrasikan (terlibat dalam semua area proses produksi dan membangun fasilitas). Hatchery, pabrik pakan, peternakan dan processing plant-nya dibangun di tempat yang terpisah. Kemudian perusahaan perunggasan mulai melakukan ekspansi baik dalam skala usaha maupun lokasi.

Pada tahun 1952, volume ayam broiler sudah melampaui ayam jenis lain sebagai sumber daging ayam utama di Amerika Serikat. Sistem integrasi vertikal pun kian banyak diadopsi perusahaan perunggasan. Peternak banyak yang bergabung dalam kontrak produksi karena meringankan beban biaya membeli anak ayam dan pakan ternak. Integrator terlibat dalam setiap tahap proses produksi, processing, hingga pemasaran. Semua itu dilakukan demi efisiensi, kecepatan respon dan keuntungan yang lebih besar. Maka pada pertengahan tahun 1960-an sekitar 90% produksi broiler dihasilkan oleh perusahaan terintegrasi (integrator) melalui sistem kontrak.

Mitos atau fakta

Sistem integrasi vertikal seringkali ditentang dan dikritisi sejak lama. Namun fakta bahwa sistem ini mampu menyediakan produk yang lebih murah ke masyarakat menjadikannya populer dan diadopsi oleh semakin banyak industri, mulai dari peralatan berat hingga pertanian/peternakan.

Berikut sejumlah mitos dan fakta tentang integrasi vertikal di Amerika Serikat:

Mitos: Integrasi vertikal hanya menguntungkan perusahaan besar dan merugikan peternak kontrak/mitra/plasma.

Fakta: Integrasi vertikal dalam industri ayam Amerika Serikat membantu peternak di tengah industri yang kian terkonsentrasi. Dengan menerapkan sistem yang mendorong kerjasama antara peternak dan perusahaan, efisiensi dan kualitas produk meningkat, dan konsumen bisa memperoleh produk dengan harga yang lebih murah. Sistem ini juga memberikan perlindungan kepada peternak dari harga komoditi (mulai dari jagung dan bahan baku pakan lain hingga ayam hasil produksi peternak) yang fluktuatif. Dengan sistem kontrak antara integrator dan peternak, maka ada jaminan harga beli/jual yang konsisten, apapun kondisi pasar.

Kredit macet pada peternak broiler juga tergolong rendah, jika tidak bisa dikatakan yang terendah, dibanding segmen pertanian lain. Fakta bahwa ribuan peternak masih bertahan sebagai peternak kontrak sudah cukup menunjukkan keberhasilan sistem integrasi vertikal.

Mitos: Sistem turnamen yang diterapkan sangat tidak adil bagi peternak broiler, karena menempatkan mereka seperti bermusuhan dengan rekan sesama peternak.

Fakta: Terminologi “turnamen” digunakan oleh para kritikus untuk mengesankan seolah-olah hanya ada satu pemenang dalam produksi broiler modern. Sejatinya, ini merupakan sistem berbasis performa yang menguntungkan semua pihak, termasuk peternak, yang diberikan kompensasi menurut kualitas dan penanganan ayamnya. 

Mitos: Integrasi vertikal memberikan kewenangan kepada perusahaan untuk bertindak bak raja pada zaman feodal. Perusahaan bisa membatalkan kontrak sepihak dan ‘menendang’ ke luar peternak.

Fakta: Setelah berjalan lebih dari setengah abad, model peternakan kontrak masih tetap kuat karena sistem ini saling menguntungkan kedua belah pihak. Kedua pihak juga memiliki kedudukan setara dalam kontrak. Peternak terlindung dari fluktuasi harga komoditi yang seringkali naik turun secara tajam.

Mitos: Perusahaan integrator bisa memilih DOC (anak ayam) yang sehat dan dengan sengaja memberikan DOC yang jelek/tidak sehat ke peternak kontrak.

Fakta: Hal tersebut tidak masuk akal secara ekonomis jika perusahaan secara sengaja menghalangi peternak untuk menghasilkan ayam yang paling sehat. Membesarkan anak ayam yang berkualitas prima merupakan keuntungan, baik bagi peternak maupun perusahaan.

Mitos: Keberhasilan peternakan ayam tergantung dari kualitas pakan dan DOC yang diberikan oleh perusahaan.

Fakta: Pendapat tersebut secara tidak langsung mengecilkan peran dan kerja keras peternak sebagai pemelihara ayam. Faktanya, manajemen budidaya berperan penting dalam keberhasilan peternakan ayam broiler.

Mitos: Pengawasan pemerintah federal (pemerintah pusat) terhadap industri perunggasan lemah.

Fakta: Untuk memastikan level konsentrasi industri tidak merugikan bagi terjadinya persaingan yang sehat, dua badan pemerintah pusat, yakni Departemen Kehakiman dan Komisi Perdagangan Federal, memastikan hukum antimonopoli, termasuk Undang-undang Antimonopoli Sherman dan Undang-undang Clayton, ditegakkan.

Praktek pengadaan dan pemasaran dalam industri peternakan dan perunggasan juga tunduk pada pengawasan/pemeriksaan tambahan yang diatur oleh bagian dari Departemen Pertanian yang bernama GIPSA (Grain Inspection, Packers and Stockyards Administration), yang mengatur dan menegakkan Undang-undang Packers dan Stockyards untuk melindungi peternak, ranchers dan konsumen.

Sistem kontrak masih menguntungkan

Beberapa waktu lalu, penulis sempat mengunjungi salah satu peternakan broiler kontrak di negara bagian Delaware. Dengan sejumlah informasi tentang plus minus sistem kontrak yang dilakukan oleh perusahaan integrator, penulis menanyakan langsung kepada pemilik peternakan tentang pengalamannya berbisnis dengan Allen Harim Foods, salah satu integrator terbesar di Delaware.

Waseem, sang pemilik, mulai beternak 5 tahun lalu, dengan mendirikan dua kandang broiler, masing-masing berkapasitas 33.000 ekor. Seperti umumnya peternakan broiler, sistem kontrak yang diperolehnya dirasakan menguntungkan. Ia tidak memiliki kekhawatiran akan dicurangi oleh perusahaan besar/integrator, karena menurut Waseem, kedua belah pihak diikat oleh persetujuan dan keduanya memiliki kekuatan setara. Peternak bisa saja melanggar kontrak, dan demikian juga sebaliknya, integrator. Namun semua sudah tertuang dalam kesepakatan hitam di atas putih dan dijamin kekuatan hukumnya.

Selain itu, menurut Waseem, peternak bisa memilih dengan integrator mana mereka ingin bermitra. Jika mereka tidak puas bermitra dengan salah satu integrator, mereka juga bisa pindah integrator kapan saja mereka mau.

Tentang kualitas DOC dan pakan yang kerap dikabarkan di bawah standar, Waseem menjawab bahwa hal itu hampir tidak mungkin, karena integrator berkepentingan agar modal yang dikeluarkannya untuk mengisi kandang mitranya (berupa DOC, pakan, obat-obatan) kembali dan memberi keuntungan bagi kedua pihak. Ia melanjutkan, jika peternak terus merugi, ada kemungkinan mereka berhenti beternak. Jika hal ini terjadi, perusahaan integrator juga rugi, karena kalau mereka membangun kandang sendiri tentu biayanya menjadi lebih besar.

Waseem mengisahkan dirinya pernah merugi ketika pegawai kandangnya lalai mengawasi panel kontrol yang ada di salah satu kandangnya, sehingga ayamnya banyak yang mati. Namun dengan kecelakaan yang diakibatkan oleh kelalaian pekerjanya pun, Waseem masih memperoleh bantuan dari integratornya.

Seiring berjalannya waktu, kini setelah lima tahun bekerjasama sebagai peternak kontrak, Waseem memiliki 12 unit kandang dengan kapasitas total lebih dari 400 ribu ekor broiler. Seluruh kandangnya juga bekerja dengan sistem kontrak.

Saat ini, lebih dari 90% ayam yang diproduksi Amerika Serikat dihasilkan oleh peternak dibawah sistem kontrak dengan perusahaan integrator. Sembilan persen sisanya dihasilkan oleh kandang-kandang milik perusahaan, dan kurang dari 1% diproduksi oleh peternak mandiri yang tidak terikat kontrak.

- Elis Helinna, New York, dari berbagai sumber dan hasil wawancara. -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com