Leucocytozoonosis, Perusak Ketenteraman Peternak

POULTRY INDONESIA-- Bagi para peternak, ayam dalam kondisi sehat adalah sebuah hal yang sangat didambakan. Ayam yang sehat tentunya akan sangat menguntungkan, jika angka kematian ayam rendah, maka pundi-pundi keuntungan akan mengalir deras ke kantong peternak. Akan tetapi, ada saja kendala yang sering muncul pada masa pemeliharaan, wabah penyakit misalnya. Salah satu penyakit yang sering muncul adalah Leucocytozoonosis atau dikenal dengan sebutan malaria like. 

Kasus terus meningkat

Charles Rangga Tabu dalam bukunya Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2 (2002) menyatakan bahwa Leucocytozoonosis disebabkan oleh Protozoa yang tergolong genus Leucocytozoon dan famili Plasmodiidae. Penyakit ini serupa dengan malaria unggas, menyerang sel-sel darah dan jaringan tubuh unggas seperti Haemoproteus dan Plasmodium. Leucocytozoon mirip dengan Plasmodium, kecuali tidak adanya skison didalam darah yang bersirkulasi. Jenis penyakit ini sering muncul saat musim pancaroba tiba, baik musim hujan ke kemarau ataupun sebaliknya.

Leucocytozoonosis ditularkan oleh lalat hitam (Simulium sp.) dan serangga bersayap (Culicoides sp.), Kedua serangga tersebut bertugas sebagai vektor dan menginfeksi unggas sehat melalui gigitan. Simulium sp., atau lalat hitam, biasa hidup pada air yang mengalir dan menggigit pada siang hari, sedangkan Culicoides sp. hidup pada air yang menggenang dan kotoran ayam yang becek, serta biasa menggigit pada malam hari. Leucocytozoon caulleryi menyebar melalui serangga Culicoides sp., sedangkan spesies Leucocytozoon melalui lalat hitam.

Sejarah mencatat bahwa penyakit ini muncul pertama kali pada akhir abad ke-18. Tri Budi Akoso dalam bukunya Kesehatan Unggas (1998) menyebutkan bahwa penyakit Leucocytozoonosis untuk pertama kali dilaporkan oleh Dr. Theobold Smith tahun 1895 yang menyerang pada sekelompok kalkun di wilayah Asia bagian Timur. Indonesia sebagai salah satu negara produsen ayam pedaging terbesar di dunia juga tak luput dari serangan penyakit yang cukup mematikan ini. Walalupun tidak seganas CRD, penyakit Leucocytozoonosis atau yang biasa dikenal dengan sebutan malaria like juga perlu diwaspadai. Selain wabahnya yang cepat menular, angka kematiannya tergolong tinggi. Menurut pakar penyakit unggas Prof. Charles Rangga Tabbu, bahwasanya mortalitas (angka kematian) ayam yang terserang penyakit Leucocytozoonosis dapat mencapai 80 % pada kasus akut. Bisa dibayangkan jika penyakit ini muncul di kandang, berapa besar kerugian yang akan ditanggung peternak jika ayam peliharaannya banyak yang mati akibat wabah ini.

Penyakit Leucocytozoonosis atau malaria like sering disamaratakan dengan penyakit malaria, karena sama-sama disebabkan oleh Protozoa. Menurut informasi yang diperoleh dari situs info.medion.co.id, menyebutkan bahwa penyakit malaria adalah salah satu penyakit yang meningkat cukup signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan grafik yang ditampilkan dibawah ini, penyakit malaria masuk sepuluh besar wabah penyakit ayam yang masih ada di lapangan. Selain itu, angka kenaikan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun juga tidak dapat dipandang sebelah mata, jika dibiarkan dapat menjadi wabah serius yang harus dihadapi peternak pada beberapa tahun kedepan.

Gejala yang tampak

Tri Budi Akoso dalam bukunya Kesehatan Unggas (1998) menjelaskan bahwa gejala yang terlihat pada umumnya adalah penurunan nafsu makan, depresi, haus, bulu kusut, dan pucat. Ayam kehilangan keseimbangan dan terlihat lemah. Hal ini disebakan karena nafsu makan yang menurun sehingga ayam tidak bergerak lincah di kandang, seperti pada umumnya ayam-ayam yang sehat.

Salah satu cara mendiagnosanya adalah dengan melakukan pembedahan. Pembedahan ayam dilakukan untuk melihat secara kasat mata, tentang bagaimana ciri khas ayam yang terserang penyakit Leucocytozoonosis. Sumber ilmiah terpercaya Veterinary Protozoolgy menjelaskan bahwa terjadi perdarahan-perdarahan dalam paru-paru, hati dan ginjal mengalami pembengkakan serta berwarna merah hitam. Hal ini senada dengan temuan lapangan petugas medion yang dilansir pada halaman info.medion.co.id, dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa ayam yang terinfeksi Protozoa ini akan menunjukkan adanya perdarahan dengan ukuran yang sangat bervariasi pada kulit, jaringan subkutan, otot dan berbagai organ, misalnya ginjal, hati, paru-paru, usus dan bursa Fabricius. Hati dan ginjal biasanya membengkak dan berwarna merah hitam. Ayam muda di bawah umur 1 bulan (mulai umur 15 hari) lebih rentan terserang, biasanya mulai terlihat setelah 1 minggu terinfeksi. Beberapa penyakit yang memiliki gejala mirip dengan Leucocytozoonosis diantaranya ND, AI, ILT, kolera, Gumboro dan keracunan sulfonamida.

Siaga sebelum melanda

Penyakit Leucocytozoonosis memang tergolong penyakit musiman karena dipengaruhi oleh siklus perkembangbiakan vektor. Namun sebagai akibat cuaca Indonesia yang tidak menentu, tidak menutup kemungkinan wabah ini bisa menyerang sepanjang tahun. Lalat hitam (Simulium sp.) dan serangga penggigit bersayap dua (culicoides sp.) adalah pembawa Leucocytozoonosis. Semakin meningkatnya populasi kedua vektor ini maka akan semakin cepat penyakit Leucocytozoonosis menyebar ke peternakan ayam.   Secara umum jenis penyakit ini dapat menyerang peternakan ayam pedaging maupun petelur. Namun pada beberapa kasus lebih banyak ditemukan pada peternakan ayam pedaging.

Peningkatan kasus yang semakin meningkat dari tahun ke tahun membuktikan bahwa serangan Leucocytozoonosis cukup mengkhawatirkan dibenak para peternak. Selain angka kematian yang disebabkan oleh jenis penyakit ini terbilang tinggi hingga mencapai 80 %, untuk mencegahnya tidak bisa hanya dengan merawat ayam-ayamnya saja seperti dengan pemberian vitamin atau vaksin, melainkan kondisi lingkungan sekitar kandang juga harus disterilkan. Tindakan yang dapat diambil sebagai cara mencegah yang paling efektif adalah dengan spraying menggunakan insektisida di lingkungan sekitar kandang, mengingat bahwa penyakit ini disebabkan oleh pihak kedua (lalat hitam dan serangga), tanpa membasmi kedua vektor ini maka akan mustahil Leucocytozoonosis hilang dari wilayah kandang. Genangan air dan semak belukar yang tidak diperlukan juga sebaiknya dihilangkan dari sekitar kandang, karena kedua tempat itu adalah tempat yang nyaman bagi lalat hitam dan serangga penggigit untuk berkembang biak.

Fenomena wabah penyakit yang cenderung sangat cepat sudah seharusnya menjadi perhatian berbagai pihak. Tak terkecuali bagi para peternak itu sendiri sebagai pihak yang paling berkaitan. Jenis penyakit apapun tidak bisa dipandang sebelah mata, resiko kerugian materil yang akan ditanggung jauh lebih mengkhawatirkan jika wabah tersebut menghampiri seluruh kandang. Apalagi untuk peternakan ayam dengan kapasitas puluhan ribu  atau bahkan ratusan ribu ekor. Peternak mampu menghitung sendiri angka kerugian jika serangan Leucocytozoonosis memporak-porandakan aktivitas pemeliharaan, bukan untung yang didapat justru kepala pusing yang mendekat. Sedia payung sebelum hujan adalah pepatah yang sangat tepat untuk dipakai para peternak sebelum “hujan” yang sesungguhnya terjadi.

Sudah sepatutnya peternak ayam baik pedaging maupun petelur perlu siap siaga sebelum wabah melanda. Ada istilah lebih baik mencegah daripada mengobati. Kebersihan dan kenyamanan kandang mutlak dilakukan demi terwujudnya ayam-ayam yang sehat. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, melakukan spraying insektisida disekitar kandang penting dilakukan untuk mencegah berkembangnya vektor lalat hitam dan serangga, menjaga kepadatan kandang agar tidak terlalu padat, hindarkan kondisi kandang yang terlalu lembab dan basah agar tidak mengundang lalat datang, semak belukar dan rerumputan disekitar kandang lebih baik dihilangkan, serta melakukan pemberian vitamin pada ayam untuk menambah stamina dan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Jika semua itu dilakukan dengan baik, ayam-ayam sehat, peternak pun dapat tidur nyenyak. 

- Farid Dimyati -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com