Masih Seputar Masalah Klasik

Beberapa permasalahan klasik seperti gumboro, ND (Newcastle Disease), AI (Avian Influenza), dan penyakit lainnya masih terjadi di peternakan ayam di Indonesia, polanya sama dan selalu ada. 

Penyebaran virus flu burung atau AI masih menjadi ancaman serius bagi peternak, namun pada tahun 2015 kejadiannya masih bersifat sporadis.

Menurut drh. Christina Lilis L, Technical Support PT Medion ketika ditemui Poultry Indonesia di Ciparay, Bandung (17/11), tahun ini terjadi peningkatan laporan khusus AI, terutama pada musim kemarau. Padahal di tahun-tahun sebelumnya kasus AI meningkat pada musim penghujan.

Lilis melanjutkan, secara umum setiap bulan serangan penyakit memiliki pola yang sama, selalu ada. “Berdasarkan pantauan Medion, pada bulan April terjadi lonjakan kasus penyakit. Pada ayam pedaging, ada lonjakan penyakit gumboro, CRD, CRD  kompleks, colibacillosis, dan korisa. Sementara pada ayam petelur, lonjakan penyakit yang terjadi adalah ND, AI, korisa, colibacillosis, cacingan, kolera, mikotoksin dan koksidiosis, seperti tampak pada Grafik 1, dan 2,” bebernya. “Tren kasus serangan penyakit pada ayam pedaging dan petelur banyak terjadi di musim hujan dan musim pancaroba/kemarau basah. Kasus penyakit kemudian menurun jumlahnya di bulan Juli, dan berangsur-angsur meningkat kembali bulan Agustus hingga Oktober,” terangnya.

Peter Yan, Vice President Director PT Medion menambahkan bahwa kasus penyakit AI tahun 2015 berdasarkan hasil sequencing Medion menunjukkan perbedaan gejala dari tahun sebelumnya. Perbedaan terjadi dengan munculnya virus flu burung clade 2.3.2 dari yang biasanya dengan clade 2.1.3. Bahkan fenomena serangan wabah ini juga mempengaruhi gejala yang berbeda pula seperti musim dan mengganggu produktivitas. “Tahun 2014, wabah AI menyerang ketika musim hujan, tahun 2015 kasus AI mulai menyerang musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli. Kasus AI yang terjadi pada tahun 2015, berdampak pada penurunan produktivitas terutama pada layer,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan oleh drh. Arief Hidayat, Technical Department PT Mensana Aneka Satwa. Menurutnya, AI yang sekarang merebak di Indonesia kini bukan hanya dari clade 2.1.3 saja, namun juga clade 2.3.2. “Data kami di lapangan menunjukkan bahwa virus AI dari 2.3.2 sudah banyak terdeteksi di lapangan secara serologis, hasil sequencing DNA pada uji serologis menunjukkan seperti itu,” papar Arief. Meskipun begitu, Indonesia belum terjamah oleh virus H7N9 yang beberapa waktu lalu sempat menghebohkan dunia perunggasan di China. “Untuk H7N9 kita belum menemukan sampai saat ini, tentu saja belum boleh juga membuat vaksinnya, namun tetap saja kita harus waspada,” tukas Arief.

PT Sanbio Labiratories juga angkat bicara mengenai perkembangan virus AI sepanjang tahun 2015 ini. Drh. Arini Nurhandayani, MM., selaku General Manager Veterinary Biologicals PT Sanbio Laboratories menyatakan bahwa kasus AI di tahun 2015 relatif turun. Namun dengan adanya infeksi virus AI dari clade 2.3.2 peternak dianjurkan untuk melakukan vaksinasi dengan vaksin untuk clade 2.3.2. “Sering ada laporan ayam milik peternak sudah divaksin AI, namun masih kena juga, makanya kita menganjurkan vaksinasinya ditambahkan dengan yang mengandung clade 2.3.2,” tukas Arini. Ia melanjutkan bahwa virus AI termasuk virus yang mudah bermutasi dan diperkirakan akan berubah-ubah komponen DNA-nya paling cepat 2 tahun sekali. Terlebih lagi dengan kondisi Indonesia yang beriklim tropis, penyakit seperti AI juga butuh perhatian khusus. “AI mudah bermutasi karena banyak faktor, salah satunya lingkungan. Virus ini selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan, sudah sifat virusnya mudah bermutasi, lingkungan berubah-ubah, manajemen buruk, hal tersebutlah yang membuat rentan,” tuturnya. Ia kerap mengingatkan kepada peternak agar memperbaiki manajemen pemeliharaan terutama pada biosekuriti.

Sementara itu, drh. Yusman Friyadi, Technical Service Coordinator PT Vaksindo Satwa Nusantara mengatakan ND adalah penyakit viral yang masih luar biasa menjangkit di semua sektor, artinya penyakit ini menjadi momok yang merugikan, frekuensinya bisa sampai 10-12%, dan selain itu penyakit viral yang harus digarasbawahi adalah hubungannya dengan IB. Menurut Yusman, di beberapa tempat seperti Jawa Timur, 2-3 bulan terakhir ini cukup marak. Mungkin orang hanya melihat sebagai tren penurunan produksi saja, tapi kami melihat di sisi itu 2 penyakit tersebut memegang peran penting.

“Mengenai AI, data dari pemerintah karena surveilannya di sektor 4 kelihatannya trennya menurun. Pun di industrial, saya rasa dengan program vaksinasi, prevalensi kejadian juga menurun dari tahun ke tahun. Tapi memang harus diakui, spot-spot tertentu selalu ada. Contohnya 2-3 bulan terakhir ini banyak sekali laporan seputaran Jabotabek sampai Banten, kemudian beberapa titik di Jawa Timur. Kalau diperhatikan memang itu adalah kantong-kantong produksi unggas, jadi wajar-wajar saja kejadian itu ada, tetapi memang trennya menurun,” ungkapnya. drh. I Wayan Mudita, Sales Manager PT Sanbe Farma juga mengatakan bahwa tren kejadian AI tidak sebanyak tahun lalu. “AI dan ND baru muncul sejak peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan, semester pertama tahun ini AI dan ND tidak booming seperti tahun lalu, faktornya mungkin sebagian besar dipengaruhi oleh cuaca, di mana keberadaan virus di lapangan terkikis oleh suhu yang tinggi,” papar Wayan Mudita.

Drh. Muhammad Azhar, Koordinator URC-PHMS Pusat Direktorat Kesehatan Hewan, Kementan mengungkapkan, sejak Januari hingga Oktober 2015 total kejadian AI yang terdata oleh tim tim respon cepat Kementan (Kementerian Pertanian) sebanyak 106 kejadian. Hal ini menurun dibandingkan 2 tahun yang lalu, di mana terjadi sebanyak 470 kejadian pada tahun 2013 dan sebanyak 346 kejadian di tahun 2014. Jika dilihat dari data ini, tren kejadian AI yang menyebabkan kematian pada unggas cenderung menurun. Adapun sebaran kejadian AI di Indonesia selama Januari hingga Oktober 2015: Jawa Barat 31 kejadian, Lampung sebanyak 14 kejadian, Banten 8 kejadian, Yogyakarta 7 kejadian, Sulawesi Selatan sebanyak 7 kejadian, Riau sebanyak 6 kejadian, Jawa Tengah sebanyak 6 kejadian, Jakarta sebanyak 4 kejadian, Sumatera Selatan sebanyak 4 kejadian, Gorontalo sebanyak 3 kejadian, Sulawesi Utara sebanyak 3 kejadian, Sulawesi Tengah sebanyak 3 kejadian, Sulawesi Barat sebanyak 2 kejadian, Kalimantan Selatan sebanyak 2 kejadian, untuk Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara, Bengkulu dan Sumatera Barat masing-masing terjadi sebanyak 1 kejadian.

 

AI serang puyuh

Dari data yang diperoleh Azhar pun, diketahui bawah AI menyerang puyuh. Pada Oktober 2015 ini ada sebanyak 7 kejadian AI terdeteksi di 4 provinsi yaitu provinsi Jawa Barat dengan 2 kejadian, di mana 1 kejadian di Kecamatan Tamansari, Tasikmalaya dan 1 kejadian di Kecamatan Pagaden, Subang. Provinsi Banten dengan 2 kejadian yaitu 1 kejadian di Kecamatan Curug, Tangerang dan 1 kejadian di Kecamatan Rangkasbitung, Lebak. Provinsi Sulawesi Selatan dengan 2 kejadian yaitu 1 kejadian di Sinjai, Kecamaatan Sinjai Selatan dan 1 kejadian di Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Selanjutnya kasus ini terjadi di Provinsi Sumatera Barat dengan 1 kejadian di Kecamatan Lurah Ampalu, Padang Pariaman.

 

 

IB varian

Usaha budidaya terus dilakukan tapi hasilnya tidak optimal, ini merupakan kondisi yang sulit bagi peternak ayam. Banyak faktor yang mengganggu produksi di antaranya kualitas sapronak (sarana produksi ternak), manajemen pemeliharaan hingga penyakit. IB menjadi salah satu penyakit yang menghambat produksi di kandang, sehingga penyakit ini perlu dilawan.

Gumboro atau yang dikenal dengan penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) juga dilaporkan serupa dengan AI dan ND pada semester kedua tahun 2015. Menurut drh. Dewi Nawang Palupi, Product & Registration Manager PT Sanbe Farma, kasus gumboro biasanya marak di musim penghujan. “Mungkin karena musim penghujan tahun ini agak telat, maka kejadian gumboro pun juga dilaporkan baru-baru ini,” tukas Dewi. Vaksinasi untuk mencegah kasus gumboro bisa dibilang susah-susah gampang, hal tersebut terjadi karena karakteristik virus gumboro sangat jauh berbeda dengan lain, seperti ND misalnya. “ND kan vaksinnya bisa bersifat cross proctection karena virusnya mirip-mirip kode genetiknya, tapi kalau gumboro beda. Makanya dibutuhkan teknik tersendiri dalam vaksinasi gumboro,” terangnya.

Dewi mencontohkan, di lapangan biasanya terjadi kasus kematian broiler akibat kegagalan vaksininasi gumboro. “Peternak mengatakan vaksinnya terlalu keras. Padahal bukan salah vaksinnya, melainkan penerapan vaksinasinya yang salah,” tutur Dewi. Maksud Dewi, dalam vaksinasi gumboro dibutuhkan kejelian, misalnya riwayat kasus gumboro, tingkat kematiannya dan sebagainya. “Vaksin gumboro kan biasanya ada dua yang mild dan intermediate plus. Harus dikaji dulu peternakannya, high risk, low risk ataumiddle risk gumboro. Jika memang tidak pernah ada atau hampir tidak pernah ada penyakit gumboro, peternak disarankan agar menggunakan vaksin gumboro yang bersifat mild dulu baru yang intermediate. Sebaliknya jika daerah tersebut beresiko tinggi, tinggal dibalik saja program vaksinasinya,” jelasnya.

Sementara menurut drh. Andi Wijanarko, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia), ada dua kelompok IB yang sudah dikenal oleh peternak yaitu IB respiratory (sistem pernapasan) dan IB nephropathogenic (ginjal). Namun, belakangan ini ditemui IB varian QX (Qindao, China) yang dikenal dengan IB Pinguin.

Penyakit ini sudah terdeteksi sejak beberapa tahun lalu dan di tahun 2015, kasus penyakit ini juga ditemukan di beberapa daerah. “Saya sudah mengamati hampir seluruh wilayah Jawa ini sejak 2 tahun yang lalu,” ungkapnya. Menurut Andi, saat musim panas ini IB Pinguin muncul lagi. Ayam petelur yang terserang penyakit ini akan memperlihatkan bentuk fisik seperti Pinguin dan saluran reproduksinya seperti indung telur (ovarium) dan saluran sel telur (oviduct) dipenuhi dengan air. “Ovarium berisi cairan hingga 1 liter dan targetnya oviduct makanya disebut hidrosalping,” ungkapnya.

Kasus penyakit ini ditemukan pada layer muda hingga dewasa. “IB pinguin ini biasanya menyerang ayam dengan umur antara 6 hingga 8 minggu, kemudian muncul lagi menjelang puncak produksi,” katanya. Penyakit ini juga bisa menular kepada ayam yang sehat. Andi mengatakan bahwa penyebaran penyakit ini sangat cepat. “Jika kandang ayam yang sudah terserang penyakit ini, dalam waktu 16 – 18 jam penyakit ini sudah menyebar,” jelasnya. Kalau seperti ini, Andi merasa khawatir dengan ayam yang lainnya. Ia juga mengingatkan meskipun angka kematian tidak tinggi, namun produksinya pasti jatuh.Selengkapnya simak di Edisi Cetak Majalah Poultry Indonesia Desember 2015

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com