Memberdayakan Rumput Laut sebagai Bahan Pakan Unggas

Kebutuhan pangan dari olahan ternak kian meningkat dari waktu ke waktu. Imbasnya, kebutuhan pakan pun terus bertambah untuk memenuhi permintaan produksi. Dinamika supply dan demand pada industri peternakan tersebut mau tidak mau membuat para produsen berupaya mencari alternatif sehingga kebutuhan masyarakat dapat ditangani. Sementara, ketersediaan bahan pakan saat ini sangat terbatas.


POULTRY INDONESIA - Kuantitas produksi pakan salah satunya ditentukan oleh ketersediaan lahan. Namun faktanya, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, lahan untuk ditanami bahan pakan berkurang setiap tahunnya. Jumlah sawah di Indonesia misalnya, telah mengalami penyusutan hingga 100 ribu hektar per tahun. Sementara kebutuhan terhadap hasil pertanian menunjukkan grafik yang terus meningkat. Jika pakan berkurang, maka produksi pangan pun berkurang. Akibatnya, kualitas gizi masyarakat Indonesia terancam mengalami penurunan.


Pemanfaatan lahan untuk produksi pakan, khususnya untuk unggas, belum dilakukan secara merata di Indonesia. Bahkan, lahan pangan yang ada pun lambat laun tergerus oleh lahan industri dan pembangunan fisik secara besar-besaran. Sementara itu, potensi di perairan juga banyak tercemar oleh limbah-limbah yang berbahaya.

Ketidakmerataan produksi pun akhirnya berpengaruh pada jumlah produksi yang kecil. Sehingga, bahan pakan kemudian diimpor dari negara-negara yang lebih produktif. Hal itu berdampak bukan hanya terhadap harga bahan baku pakan, namun juga semangat petani yang lesu karena komoditasnya kalah saing dengan produk impor.
Upaya mendapatkan bahan pakan berkualitas ternyata tidak selalu dihasilkan dari negara lain.

Saat ini, para peneliti dan pelaku industri peternakan Indonesia sedang mengembangkan potensi rumput laut sebagai bahan pakan yang baik. Hal ini menjadi angin segar mengingat hasil tanaman laut bisa menutupi kebutuhan terhadap hasil tanaman darat yang terbatas. “Jika kita lihat ke depan, sebetulnya rumput laut ini bisa mensubsidi daratan, karena lahan kita di daratan itu terbatas. Jadi kalau kita bisa memanfaatkan, maka akan menjadi kesempatan yang baik,” ungkap Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jafi Alzagladi, Selasa (11/10/2016).


Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan di bidang perikanan dan kelautan Indonesia sebagai penghasil karaginan (carragenan) yang bernilai ekonomis tinggi. Karaginan yang dihasilkan tersebut bisa dimanffaatkan dalam industri farmasi dan makanan, di antaranya sebagai stabilisator (stabilizer), bahan pengental (thickener), pembentuk gel (gelling agent), pengemulsi, dan lain sebagainya.

Pada sektor pakan unggas, rumput laut bisa menjadi feed additive dengan kandungan yang baik. Peneliti Departemen Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Linawati Hardjito, menjelaskan bahwa rumput laut memiliki potensi yang besar untuk digunakan dalam pakan unggas. “Rumput laut ini potensial sekali untuk digunakan sebagai campuran pakan. Dia memiliki zat-zat yang baik untuk untuk ketahanan unggas,” ujar perempuan yang akrab disapa Prof. Lina tersebut.


Berdasarkan warnanya, rumput laut diklasifikasikan menjadi tiga jenis. Pertama green (chlorophyta) yang memiliki jenis ulva. Kedua red (rhodophyta) yang memiliki jenis euchema dan gracilaria dan terakhir adalah brown (phaeophyta) dengan jenisnya sargassum dan turbinaria. Data yang dihimpun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, menunjukkan bahwa Indonesia telah menghasilan rumput laut sebanyak 11.269.341 ton pada 2015 lalu.

Dari jumlah tersebut, Provinsi Sulawesi Selatan adalah daerah yang paling banyak menghasilkan rumput laut, dengan produksi sebesar 3.292.009 ton. Jumlah produksi secara keseluruhan itu pun diproyeksikan bertambah seiring permintaan pasar yang juga meningkat, salah satunya untuk keperluan pakan unggas.


Penggunaan rumput laut sebagai pakan unggas lebih ditujukan sebagai bahan pelengkap, dalam hal ini feed additive, yang mampu membuat kualitas unggas menjadi lebih baik. Menurut Linawati, rumput laut akan sulit untuk menggantikan posisi jagung, selain karena harganya, juga karena kecenderungan masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan jagung untuk pakan.

Meski begitu, Linawati tidak menutup kemungkinan menyoal rumput laut yang digunakan untuk mengganti bahan pati-patian dalam pakan. “Binder itu kan biasanya pakai pati-patian, dan harganya di bawah enam ribu, lebih murah dari rumput laut. Tapi dosisnya mencapai 10-30%, sedangkan untuk pemakaian rumput laut hanya 2%. Meski harganya tinggi, perhitungan saya masih masuk. Karena persentase penggunaannya berbeda jauh,” ujar Linawati.


Selama ini, menurut Linawati, masyarakat lebih banyak menggunakan rumput laut untuk pakan ikan, sementara pada sektor unggas belum terlalu berkembang. Penggunaan rumput laut untuk pakan unggas memang harus melewati langkah-langkah tertentu, sebelum akhirnya menjadi bahan pakan yang aman dan berkualitas.

“Kami kan biasanya hydrolyzed, namun untuk unggas itu tidak mau yang mengandung fiber dan es yang terlalu tinggi. Jika begitu, maka harus ditekan dulu fibernya sampai rendah. Kita punya teknologinya, namun hingga saat ini memang belum terlalu dikembangkan,” kata Linawati. Dia juga menambahkan, bahwa dirinya baru mengetahui potensi besar rumput laut untuk pakan unggas setelah berbincang dengan salah satu produsen pakan unggas dalam sebuah diskusi.


Masih menurut Linawati, jika rumput laut digunakan sebagai bahan pakan unggas, maka banyak keuntungan yang akan didapatkan. Rumput laut yang digunakan sebagai feed additive akan memiliki fungsi imunostimulan yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh secara spesifik. Selain itu, rumput laut yang dikonsumsi oleh unggas juga akan tidak mudah terkena penyakit. “Perusahaan multinasional di beberpa negara sudah menggunakan rumput laut, sementara kita belum terlalu memikirkan itu. Kita harus mulai karena kita pun sudah punya teknologinya untuk memotong serat rumput laut menjadi molekul yang lebih kecil,” jelas Linawati.


Salah satu produsen feed additive, CV Sekar Jaya Abadi, melalui Nurfaizin, mengatakan bahwa rumput laut memiliki kandungan yang sangat baik jika digunakan sebagai pakan unggas. Menurunya, di dalam rumput laut terdapat kandungan nutrisi seperti antioksidan dan mineral yang baik jika dimanfaatkan secara benar. “Rumput laut punya beta karoten yang berfungsi sebagai antioksidan. Selain itu, terdapat pula astaxanthin, yang cocok sebagai feed additive,” papar Nurfaizin. Dia juga menegaskan bahwa selama ini astaxanthin masih banyak diimpor. Dengan adanya pemberdayaan produksi rumput laut, Nurfaizin berharap jumlah impor dapat dikurangi, bahkan diputus secara keseluruhan.


Dari segi ekonomi, Nurfaizin menjelaskan, jika rumput laut memiliki peluang yang cukup besar. Harga rumput laut kering berkisar di angka Rp 7.500 per kilogram. Namun, ketika sudah diproses dan menjadi feed additive yang mengandung astaxanthin, maka harganya bisa mencapai Rp 150.000 per kilogram. Untuk membuat feed additive sebanyak satu kilogram, dibutuhkan rumput laut lebih dari 10 kilogram, dan untuk kualitas yang baik bisa mencapai puluhan kilogram. “Di dalamnya terdapat kandungan nutrisi yang sangat cocok jika digunakan untuk feed additive,” ungkapnya.


Pernyataan Nurfaizin juga diperkuat dengan penelitian I Putu Kompiang. Dalam peneltiian Pengaruh Ragi: Saccharomyces Cerevisiae dan Ragi Laut sebagai Pakan Imbuhan Probiotik terhadap Kinerja Unggas (18-21), menjelaskan, bahwa suplementasi ragi laut atau Saccharomyces Cerevisiae dapat menggantikan fungsi antibiotic sebagai growth-promotor.

Dengan begitu, rumput laut akan memberikan banyak manfaat bagi unggas jika diolah secara tepat. Unggas akan mendapatkan nutrisi yang proporsional dan menekan potensi munculnya berbagai penyakit. Sehingga, penggunaan obat-obatan pun bisa dikurangi. Namun hasil tersebut harus didukung dengan diseminasi penumbuhan jenis rumput laut khusus untuk pakan.

Tantangan produksi dan inovasi

Potensi yang dimiliki rumput laut untuk penggunaan pada sektor pakan unggas memang besar. Namun, hal itu tidak akan terwujud tanpa didukung dengan produksi dan inovasi yang serius. Kendala yang ada saat ini lebih kepada permintaan pasar dan pengolahan rumput laut. Produksi rumput laut secara besar-besaran akan menjadi hal yang percuma jika tidak diiringi penyerapan pasar dan inovasi yang baik. Hal itu kemudian akan membuat layu semangat produsen rumput laut, sebab harganya menjadi tidak stabil, dan penggunaan yang tidak tepat sasaran.

Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jafi Alzagladi, memaparkan, bahwa belum ada data yang spesifik tentang permintaan rumput laut dalam industri pakan. Oleh karenanya, dia berharap pihak-pihak terkait, termasuk asosiasi dan produsen, bisa bekerja sama dalam memajukan usaha rumput laut.

“Sejauh ini belum ada angka jelas mengenai permintaan rumput laun untuk pakan. Karenanya, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, belum bisa fokus menangani pemberdayaan rumput laut untuk pakan,” jelas dia. Jafi pun akan mengupayakan pendataan secara teliti mengenai potensi supply and demand rumput laut untuk industri pakan sesegera mungkin.


Tidak hanya soal produksi, Jafi juga menyarankan inovasi dan penelitian terhadap rumput laut untuk penggunaannya di bidang peternakan agar lebih digencarkan. “Saya pun berharap Kementerian Pertanian bisa menindaklanjuti secara serius inovasi ini. Penelitian dan pengembangan terhadap rumput laut adalah hal yang penting untuk diwujudkan,” papar Jafi.

Dia juga meyakini bahwa rumput laut bisa menjadi hal yang menguntungkan jika dikembangkan dengan serius. “Kita yakini dengan teman-teman tentang feed additive. Itu bisa berdampak pada pengurangan penggunaan vaksin. Daya tahan juga naik, pasti akan baik. Jika kualitas ternak baik, maka konsumen akan puas. Orang-orang pun memilih pangan yang aman, harga juga bisa kompetitif.”

Direktur Pakan Ditjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Coco Kokarkin, juga menyoroti hambatan dalam upaya pemberdayaan rumput laut sebagai pakan. Dia membaginya ke dalam dua bagian. Pertama, adalah tantangan dalam segi produksi. Di dalamnya terdapat hasil produksi yang kurang terserap pasar, terbatasnya permodalan, terbatasnya ketersediaan bibit unggul, belum adanya zonasi untuk budi daya, terbatasnya informasi dan teknologi, minimnya akses ke sentra produksi, hingga produksi yang masih tergantung musim dan permintaan pasar.


Selain itu, ada pula tantangan dalam segi pemasaran dan pengolahan. Seperti masalah rendahnya kualitas produksi, kurang jelasnya masalah supply and demand hingga pembentukan pasar rumput laut yang belum terorganisir. “Ini menjadi tugas bersama. Jika ingin memanfaatkan rumput laut untuk diolah menjadi pakan, maka banyak hal yang perlu diperhatikan,” jelas Coco.

Sejauh ini, menurut Coco, pakan dari rumput laut lebih banyak digunakan pada sektor perikanan daripada perunggasan. Seperti yang dilakukan oleh Dwi Sulistiawati dari Universitas Tadulako, menggunakan limbah euchema sebanyak 10-15% dari bahan pakan untuk ikan bandeng.


Penggunaan rumput laut untuk pakan ikan memang sudah menjadi andalan bagi beberapa pihak. Terbukti, ikan yang mengonsumsi rumput laut memiliki kandungan gizi dan bentuk yang baik, seperti ikan baronang yang sering kali menjadi menu andalan di daerah pesisir.

Penggunaan rumput laut untuk pakan unggas secara tepat juga akan membuat performa unggas meningkat, dan akan menghasilkan keuntungan bagi produsen, serta kepuasan bagi konsumen. Karenanya, perhatian serius pemerintah untuk memberdayakan rumput laut sebagai bahan pakan unggas menjadi harapan yang perlu direalisasikan sebaik mungkin. 

- Adam Rahadian Ashari -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com