Mengungkap Budi Daya Peternakan Ayam Cianjur

POULTRY INDONESIA-- Seiring pesatnya pertumbuhan bisnis peternakan ayam ras, Kabupaten Cianjur pun tak ingin tertinggal. Baik dalam  komoditas ayam ras pedaging, ayam petelur, hingga ayam lokal, Kabupaten Cianjur  ikut bersaing dengan daerah lainnya. Berbagai kendala tak menyurutkan niat untuk terus berbenah.

Logo dan slogan “Cianjur Jago” menghiasi berbagai sisi di Kabupaten Cianjur. Stiker di mobil-mobil pemerintahan, poster layanan sosial, hingga patung-patung kecil di pinggir jalan , banyak bertemakan ayam. Ciri khas Kabupaten Cianjur dengan ayam pelungnya coba ditunjukkan melalui berbagai cara. Pemerintah setempat seolah  ingin menyadarkan masyarakat, bahwa Cianjur Jago bukan hanya slogan, namun sebuah keyakinan, bahwa Cianjur akan hebat dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk lewat ciri khas ayamnya.

Cianjur menjadi daerah dengan lahan yang potensial untuk bisnis peternakan. Hal itu membuat para investor ingin menginvestasikan modalnya untuk membuka kandang di daerah tersebut. Jalur akses yang mudah dan jarak yang tidak terlalu jauh baik dari Kota Bogor, Jakarta dan Bandung membuat Kabupaten Cianjur memilki daya tarik tersendiri bagi para investor. Secara geografis, Kabupaten Cianjur terbagi ke dalam tiga wilayah, yaitu Cianjur Utara, Cianjur Tengah dan Cianjur Selatan.

Cianjur utara merupakan daerah pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor yang terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango. Wilayahnya juga meliputi daerah wisata alam Puncak dengan ketinggian sekitar 1.450 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain produsen ayam ras pedaging dan petelur, Cianjur juga merupakan habitat asli dari ayam pelung.

Ayam pelung merupakan salah satu jenis ayam lokal khas asli Indonesia yang memiliki karakteristik yang unik. Ciri yang paling menonjol adalah postur badan yang besar dan kokoh serta memiliki suara berkokok yang berirama dan lebih panjang dari jenis ayam lainnya. Sehingga, masyarakat di wilayah Jawa Barat pada umumnya sering mengadakan kontes ayam pelung.

Produksi, konsumsi dan distribusi

Menurut data yang dihimpun Poultry Indonesia dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Cianjur, pada tahun 2016, terdapat 3.986.538 ekor ayam lokal. Sedangkan untuk ayam ras petelur (layer) sebanyak 1.617.913 dan 7.974.917 ekor untuk ayam ras pedaging (broiler). Dapat dilihat dari angka tersebut, populasi unggas di Kabupaten Cianjur didominasi oleh budi daya broiler. Hal tersebut dikarenakan Kabupaten Cianjur memiliki akses yang dekat dengan kota-kota besar.

Selain itu, suhu yang relatif sejuk serta memiliki lahan yang luas sangat berpotensi untuk dijadikan tempat membuka usaha budi daya unggas. Dengan jumlah populasi tersebut, sepanjang tahun sampai bulan November 2016, Kabupaten Cianjur mampu menghasilkan sekitar 36 ribu ton broiler, 850 ton daging ayam petelur (apkir), serta 3.790 ton daging ayam lokal. Untuk produksi telur, sampai bulan November 2016, Kabupaten Cianjur mampu menghasilkan 15 ribu ton telur ayam ras, dan 2.485 ton telur ayam lokal.

Dari segi konsumsi daging ayam, Kabupaten Cianjur sepanjang tahun hingga bulan November 2016 mengkonsumsi kurang lebih 6.062 ton untuk ayam ras pedaging, 1.291 ton untuk daging ayam ras petelur, dan 2.351 ton daging ayam lokal. Daging ayam ras pedaging masih sangat digemari oleh masyarakat Cianjur karena mengingat produksinya yang melimpah di dalam daerah.  Sayangnya, hanya sekitar 17 persen dari total produksi ayam ras pedaging yang mampu diserap oleh konsumen lokal. Maka, harga live bird di Cianjur akan sangat bergantung pada konsumen di kota-kota besar tujuan.

Ketika di kota-kota besar seperti Jabodetabek, dan Bandung sedang surplus atau kelebihan pasokan karkas, otomatis harga live bird akan jatuh untuk mengimbangi permintaan yang jauh lebih sedikit daripada barang yang tersedia. Untuk konsumsi telur sendiri, Cianjur mengkonsumsi setidaknya 5.553 ton telur ayam ras, dan 1.389 telur ayam lokal. Sama halnya dengan konsumsi daging, pangsa pasar Cianjur hanya mampu menyerap sekitar 36 persen dari total produksi telur wilayah Cianjur. Maka, dengan hampir dua pertiga produksi didistribusikan ke luar wilayah Cianjur. Harga telur juga sangat bergantung pada permintaan di kota pemasaran telur tersebut.

Penanganan penyakit unggas

Ihwal penanganan penyakit pada unggas, secara lokal masih belum ada penyakit yang harus dilakukan penanganan secara khusus. “Kalau bicara unggas, yang biasa muncul itu adalah flu burung. Awalnya ada tahun 2002-2003, sedangkan terakhir kali ada laporan itu tahun 2012,” jelas Kharisudin selaku tim Dokter Hewan Divisi Kesehatan Hewan Disnakkanlut Kabupaten Cianjur. “Memang masih ada kejadian flu burung, namun adanya di peternak tradisional,” ujar Agung Riyanto, Selaku Kasi Kesehatan Hewan Disnakkanlut Kabupaten Cianjur.

Kunci dari pencegahan penyebaran penyakit yang menimbulkan potensi epidemik adalah sosialisasi ke masyarakat, tentang bagaimana cara pencegahan dan perlakuan apabila sudah terjangkit suatu penyakit. Sinergi antara peternak dan tenaga ahli di bidangnya sangat diperlukan untuk meminimalisir angka kejadian penyakit sebelum menjadi outbreak.

”Kalau tidak ada orang lapangan itu sulit. Kami hanya segelintir orang menangani 32 kecamatan, repot memang,” kata Agung. Selain daripada sosialisasi, program vaksinasi secara berkala terus digalakkan oleh tim kesehatan hewan Cianjur. “Yang paling utama dan menjadi fokus kami adalah sektor 4 yaitu sektor peternakan rakyat. Karena dari sektor 1 sampai dengan 3 itu adalah skala industri yang sudah memiliki tenaga ahli sendiri,” terang Agung.

Kendala budi daya ayam

Masalah utama yang dimiliki oleh Kabupaten Cianjur adalah pembangunan yang masih belum merata. Cianjur memiliki 32 kecamatan, 342 desa dan 6 kelurahan yang memiliki medan perbukitan dan pegunungan di bagian utara serta dataran rendah yang terdiri dari bukit kecil diselingi oleh pegunungan yang melebar ke Samudera Hindia. Kondisi inilah yang membuat cianjur memiliki masalah akses terbatas terhadap daerah-daerah di beberapa bagian. Pembangunan masih terfokus di wilayah tengah, sedangkan wilayah Selatan dan Utara masih berkutat dengan keterbatasan akses.

Hal tersebut tentunya perlu ditanggapi karena akan menghambat potensi daerah tersebut dan mengurangi mobilitas perekonomian. Selain itu, sulitnya mengatur hilir mudik kendaraan angkutan ternak unggas dari luar daerah yang berpotensi sebagai carrier atau media penyebaran penyakit, juga menjadi kendala. Sehingga perlu dilakukan pencegahan-pencegahan di kandang seperti pemberian desinfeksi terhadap kendaraan ternak tersebut.

 

Untuk baca tulisan selanjutnya klik di sini 

- Adam Rahadian, Domi Sattyananda -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com