Menyibak Kontroversi Jagung bersama Pataka

 

POULTRY INDONESIA, JAKARTA - Pusat Kajian Pertanian, Pangan dan Advokasi (Pataka), melalui Bincang-Bincang Agribisnis, kembali menggelar diskusi publik untuk yang ke-19 kalinya, dengan tema “Kontroversi Jagung”.

Acara itu terselenggara di Pomelotel, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, pada Selasa (23/5). Tema tersebut diangkat dalam rangka menyoroti kelangkaan pasokan jagung di beberapa wilayah.
Pada acara itu, terdapat narasumber yang ahli di bidangnya, yang khusus didatangkan untuk mengupas masalah secara komprehensif.

Mereka adalah Direktur Komersial Perum Bulog Febriyanto, Perwakilan Komisi IV DPR RI Ir. Ichsan Firadus MS, Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional Ir. Maxdeyul Sola, serta Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof. Dwi Andreas Santosa. Selain itu, ada pula beberapa perwakilan dari pihak asosiasi, seperti Ketua Dewan Pembina Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Tri Hardiyanto, Presiden Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Ir. Musbar, serta Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dr. Enny Sri Hartati.

Diskusi publik tersebut menitikberatkan pada stok jagung yang menipis di kalangan pelaku usaha peternakan mandiri yang melakukan self mixing di daerah Jawa Timur. Di samping itu, harga yang tinggi membuat Harga Pokok Produksi menjadi meningkat.

Menurut Musbar, memang stok jagung di Pulau Jawa masih ada, namun jumlahnya terbatas. "Harga jagung di Blitar Rp 4.600 per kilogram. Di Jawa ada, tapi sedikit. Kemudian dari Bulog itu kan harus bayar di muka, barangnya datang seminggu kemudian. Sementara peternak ini sedang banyak yang rugi, karena telur jatuh sampai Rp 13.000 per kilogram. Sekarang saja baru naik ke Rp 18.000 per kilogram. Akhirnya mending kita beli dari pakan pabrikan, bisa kredit," papar Musbar.

Menurut pihak Bulog, memang jagung tersedia di beberapa wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, bukan tanpa kendala, karena jagung tersebut ada di wilayah yang memang akses terpencil dan terbatas.
"Kemarin cek di Sulawesi ada barangnya, tapi bagaimana kita mau beli kalau akses transportasinya tidak ada. Mau ditarik ke Jawa pelabuhannya jauh sekali. Malah, ada yang tidak punya pelabuhan. Hal tersebut otomatis akan menaikkan harga barang yang kami jual," jelas Febriyanto.

Selanjutnya, diskusi pun berjalan interaktif dengan argumentasi yang keluar dari berbagai pihak. Peserta yang hadir dalam diskusi itu pun sepakat bahwa permasalahan jagung perlu diurus secara total dari hulu hingga hilir, di segala sektor, sehingga kondisi kelangkaan dan harga yang tinggi dapat diminimalisasi.

 

- Domi Sattyananda -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com