Modernisasi Industri Perunggasan di Vietnam

 

Oleh: Arief Daryanto, PhD

 

POULTRY INDONESIA - Industri perunggasan di Vietnam memiliki prospek yang sangat cerah. Pertumbuhan industri ini yang signifikan terutama karena peningkatan jumlah penduduk, peningkatan tingkat pendapatan dan perubahan preferensi budaya. Semakin terbukanya perekonomian Vietnam (kerjasama Pasar Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Trans-Pacific Partnerships (TPP)) juga telah membuka pintu kesempatan baru bagi pertumbuhan industri perunggasan yang lebih cepat.

Tiga komoditas utama peternakan di Vietnam adalah daging babi, daging ayam dan daging sapi. Sementara pasokan daging babi dapat memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi negara ini mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan unggasnya. Banyak perusahaan asing yang kemudian memasuki pasar industri perunggasan di Vietnam karena adanya perjanjian perdagangan regional yang baru (MEA dan TPP) yang memanfaatkan teknologi budi daya yang lebih maju, keuntungan skala ekonomi (economies of scale) dan tersedianya pakan yang lebih murah.

Kehadiran perusahaan asing ini berperan penting dalam memodernisasikan industri perunggasan di Vietnam melalui pengembangan rantai nilai yang modern, skala perusahaan yang besar dan terintegrasi (integrasi vertikal), peningkatan efisiensi, peningkatan produktivitas, peningkatan keahlian dalam mengelola rantai nilai tambah (value chain management), mulai memperhatikan keamanan pangan (food safety dan biosecurity) dan prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam proses produksi "from farm to table".

 Ancaman bagi Produsen Lokal

 Pasar industri perunggasan di Vietnam yang tumbuh pesat dengan keterlibatan sejumlah pemain asing baru tentu saja hal ini menimbulkan ancaman bagi produsen lokal. Pemerintah Vietnam juga sudah lama membuka impor daging ayam. Harga daging ayam impor lebih rendah bila dibandingkan dengan daging ayam yang diproduksi secara lokal. Perusahaan asing terutama mengandalkan skala ekonomi dan akses terhadap pakan murah memungkinkan mereka memasuki persaingan di pasar dengan biaya produksi yang lebih rendah. 

Produsen unggas di Vietnam sangat menyadari bahwa tanpa meningkatkan produktivitas dan efisiensi, maka peternak lokal pada akhirnya akan kehilangan pasar mereka ke pesaing regional dan internasional. Biaya produksi yang lebih tinggi karena teknologi yang rendah dan inefisiensi serta produktivitas yang lebih rendah, memberikan peluang investasi bagi perusahaan luar dan investor yang lebih modern dan memiliki skala ekonomi untuk memasuki pasar di Vietnam.

Para ahli mengatakan daging ayam Vietnam pada saat ini tidak bisa bersaing dengan impor daging ayam dari produsen top dunia, namun ada juga yang berkeyakinan bahwa rasa mungkin lebih penting daripada harga. Di Hanoi yang merupakan pasar terbesar unggas di Vietnam, mayoritas konsumen masih percaya bahwa pho ayam tidak asli atau tidak maknyus kecuali dibuat dengan ayam buras lokal (local free-range chicken). Pho ayam di dalamnya terdapat mie beras, dedaunan rempah, kaldu, serta potongan daging ayam. Pho ayam adalah kuliner yang sangat terkenal di Vietnam.

Ayam buras lokal harganya hampir dua kali lipat harga ayam ras broiler. Keunggulan kompetitif ayam buras lokal "ga ta" ini adalah adanya diferensiasi produk yang menonjolkan kekhasan tersendiri. Daging ayam buras lokal "ga ta" tidak terlalu keras atau terlalu lunak, dan kulitnya renyah, tidak berlemak. Sementara ayam ras dagingnya terlalu empuk dan pahanya kering sehingga kalau dimasak Pho hasilnya "berantakan".

Semangat mengandalkan produk ayam buras lokal menghadapi tantangan dengan kehadiran kesepakatan TPP yang menjanjikan tarif impor nol. Pembebasan tarif impor merupakan daya tarik bagi para produsen yang paling kompetitif di dunia untuk lebih jauh menggarap  pasar ayam di Vietnam. Beberapa investor Asia bahkan sekarang datang mengetuk pintu untuk mengeksplorasi potensi ekspor ayam buras lokal di Vietnam.

Orang Vietnam saat ini mayoritas masih bangga dengan ayam buras lokal mereka. Tapi saat TPP berlaku, maka semakin terbuka lebar ketersediaan daging ayam ras yang lebih murah dan tidak ada jaminan konsumen tetap mengandalkan daging ayam lokal mereka atau tidak ada jaminan bahwa selera mereka tidak akan pernah berubah.

 Modernisasi merupakan keniscayaan

 Dominasi peternakan skala kecil menghambat keuntungan produksi produsen lokal, sehingga mereka tidak berhasil dengan sukses di pasar. Produktvitas peternak ayam buras di Vietnam lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga terdekat Thailand. Sebagai contoh, pada saat ini  peternakan skala besar ayam lokal rata-rata membutuhkan 49 hari untuk menghasilkan ayam 2,2 kilogram, dan untuk peternakan ayam buras (lokal) jauh lebih lama. Sementara "benchmark" dunia membutuhkan waktu sekitar 30-35 hari dengan "feed conversion rate (FCR)" yang lebih rendah.

Faktor lain yang membuat daya saing ayam ras dan buras di Vietnam lebih rendah karena sebagian besar bahan baku untuk proses produksi ayam diimpor, mulai dari bibit (GPS dan PS), obat hewan hingga pakan ternak. Akibatnya, harga produk ayam di Vietnam 1,5 kali lebih tinggi, atau bahkan dua kali lipat di dunia.  Sejauh ini Vietnam tidak dapat bersaing dengan Thailand dimana harganya hanya $ 1,2 untuk menghasilkan satu kilogram ayam, dibandingkan dengan $ 1,6 per kilogram di Vietnam.

Konsumen Vietnam sangat menyukai daging ayam bawah (CLQ) dan sayap, sementara di negara eksportir daging ayam kedua jenis potongan daging ayam tidak disukai. Karena tidak memiliki nilai jual tinggi, maka kedua potongan tersebut dijual dengan harga sangat murah di pasar-pasar negara berkembang termasuk di Vietnam.

Kehadiran CLQ dan sayap (wings) merupakan ancaman bagi produsen lokal. Daging paha ayam (CLQ) yang diimpor dari Amerika Serikat dijual dengan harga yang sangat murah di Vietnam. Paha ayam yang sangat murah ini mengancam keberlangsungan produksi ayam ras di Vietnam mengingat harganya di bawah biaya pokok produksi para peternak lokal di Vietnam.

Dengan pajak impor 19-20 persen, produk CLQ diimpor ke Vietnam dengan harga hanya sebesar VND22.000-25.000 per kilogram, jauh lebih rendah daripada biaya produksi lokal VND28.000-30.000 per kilogram. Karena data statistik yang buruk, industri perunggasan di Vietnam pun pada saat ini mengalami fenomena "over supply" sehingga harga Live Bird ayam ras pun sering tertekan ke bawah. Banyak produsen skala kecil yang mengeluhkan bahwa harga ayam ras yang berlaku di pasar sering lebih rendah dari biaya pokok produksi mereka.

 Kunci sukses

Faktor-faktor penggerak dalam rangka peningkatan daya saing perunggasan di Vietnam bersifat multidimensi, terkait dengan dimensi kinerja ekonomi, efisiensi bisnis, efisiensi kepemerintahan dan infrastruktur. Belajar dari "best practices" di negara-negara eksportir daging ayam, faktor-faktor penggerak daya saing antara lain adalah (a) adanya iklim investasi yang kondusif, (b) adanya perusahaan skala besar yang terintegrasi dengan manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan sesuai dengan permintaan pasar, (c) adanya infrastruktur rantai dingin yang modern mengingat komoditas dan produk daging ayam yang mudah rusak, (d) adanya dukungan kuat produksi jagung dan kedelai lokal yang melimpah dan berkualitas baik, dan (e) adanya kerjasama kemitraan (contract farming) yang saling menguntungkan antara perusahaan besar (inti) dan plasmanya.

Industri perunggasan lebih bersifat “demand driven”. Industri perunggasan di Vietnam menyadari bahwa industri ini memiliki prospek yang sangat baik. Ke depan permintaan terhadap produk-produk peternakan ayam ras selalu meningkat karena beberapa faktor, yaitu pertama, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan pendapatan, semakin banyaknya penduduk kelas menengah, urbanisasi, perubahan gaya hidup (life style), harapan hidup semakin besar dan penduduk usia tua.

Kedua, seiring dengan peningkatan daya beli (purchasing power), permintaan terhadap makanan yang siap masak (ready to cook) dan siap santap (ready to eat) semakin meningkat. Ketiga, semakin banyaknya QSR (Quick Service Restaurant) yang menawarkan beragam produk olahan daging ayam ras. Keempat, semakin banyak konsumen terkait dengan alasan kesehatan beralih dari daging merah (red meat) ke daging “putih” ayam. Kelima, produk ini memiliki peran sebagai penyedia protein hewani yang paling murah dibandingkan dengan komoditas-komoditas peternakan lainnya.

Dalam rangka menghadapi tuntutan kenaikan permintaan di atas, maka bagi para pelaku usaha yang terlibat dalam rantai nilai industri perunggasan di Vietnam, tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk terus meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, resiliensi dan daya saing daging ayam ras dan buras. Peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, resiliensi dan daya saing dapat dilakukan dengan berbagai upaya di sepanjang rantai nilainya (value chain).

Upaya-upaya tersebut antara lain adalah (a) peningkatan produktivitas (yield), (b) efisiensi dan ketersediaan bahan baku pakan secara lokal yang melimpah dan berkualitas terutama jagung dan kedelai, (c) peningkatan efisiensi dan kualitas dalam industri pakan nasional, (d) peningkatan kemampuan (skills) dan manajemen produksi di tingkat kandang, (e) peningkatan nilai tambah (value added) di tingkat pengolahan, (f) peningkatan ketersediaan infrastruktur sistem pemasaran rantai dingin dan (g) peningkatan “branding” di tingkat konsumen. Selain itu tidak kalah penting adalah peningkatan keamanan pangan melalui pengembangan “tracking and tracing”.

 

 

- Penulis merupakan Ahli Ekonomi Industri Peternakan Sekolah Bisnis IPB dan Adjunct Professor, Business School, University of New England, Australia -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com