Musim Penghujan Tiba Waspadai Serangan AI

Avian Influenza (AI) atau biasa disebut penyakit flu burung seakan tidak pernah habis untuk dibahas. Selain sifatnya yang ganas dan mudah bermutasi, faktor musim juga mempengaruhi penyebaran penyakit ini.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dari famili Orthomyxoviridae ini terbilang sangat trengginas dalam meluluhlantahkan populasi ternak, bahkan menjadi momok bagi manusia. Sudah lebih dari satu dekade juga virus ini menghantui peternakan unggas di Indonesia dan setiap tahun pun kejadian selalu berulang seakan virus ini enggan angkat kaki dari bumi ibu pertiwi.

 

Sukses meneror Indonesia

Sejak pertama kali kasus flu burung dilaporkan di Indonesia pada 2003 yang lalu, setiap tahun kejadian penyakit AI terus berulang. Tidak hanya pada unggas, manusia pun kadang harus meregang nyawa akibat keganasan AI. Bahkan kepanikan pun pernah melanda Indonesia hingga masyarakat enggan mengkonsumsi daging, telur, maupun produk olahan unggas karena merasa tidak aman dari AI.

            Yang terbaru kejadian AI terjadi pada 17 Desember 2015 yang lalu di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebanyak 2.000 ekor burung puyuh mati mendadak hanya dalam waktu tiga hari saja, petugas Dinas Pertanian dan Peternakan (DISPERTAN) Sukoharjo langsung menerjunkan petugasnya untuk melakukan pemantauan di lapangan.

            Petugas melihat kondisi burung puyuh yang mati dengan mengambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.  Hasilnya diketahui sebanyak 2.000 burung puyuh milik peternak yang mati mendadak positif terserang penyakit mematikan dari virus flu burung.

            Disinyalir serangan virus flu burung terjadi karena beberapa faktor penyebab. Yakni karena kondisi lingkungan lembab dan kondisi kebersihan kandang kurang layak. Selain itu, faktor musim juga mendukung, hal tersebut karena kondisi burung puyuh yang menurun, akibatnya virus flu burung dengan mudah dan cepat berkembang biak hingga mematikan ribuan ekor burung puyuh dengan singkat.

 

Waspada sebelum wabah terjadi

Meski tak seheboh seperti dulu saat awal kemunculannya di tahun 2003, saat ini penyakit flu burung masih saja mengancam peternakan unggas. Bahkan sejak ditemukannya virus flu burung clade baru 2.3.2 di akhir 2012, penyakit tersebut turut mengancam peternakan itik dan burung puyuh. Menyadari hal ini, maka  kewaspadaan peternak terhadap wabah flu burung harus ditingkatkan, terutama ketika memasuki musim hujan.

            Berdasarkan data dari Medion di tahun 2014, kasus flu burung relatif meningkat sejak 2012 – 2014 (Grafik 1). Selain itu, kejadian flu burung justru terjadi pada musim basah/penghujan terutama pada bulan November – April seperti yang ditunjukkan pada Grafik 2.

Grafik 1. Kasus AI Selama 2012 – 2014

           

(Sumber : Medion, 2014)

 

Grafik 2. Kasus AI Selama 2012 – 2014 (Dalam Bulan)

 

 

 

(Sumber : Medion 2014)

 

            Mengapa musim hujan?, bukan musim kemarau?. Perlu diingat bahwa virus AI termasuk virus yang tidak tahan panas. Virus ini bisa mati dengan pemanasan 60oC selama 30 menit dan 56o C selama 3 jam. Sebaliknya, virus AI tahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22o C dan 30 hari pada suhu 0o C. Virus AI juga peka terhadap kondisi sangat kering. Jadi, ketika musim kemarau virus tersebut tidak tahan berada di lingkungan luar dalam waktu lama dan lebih banyak berkembang saat musim hujan. Virus AI menetap di dalam air, kotoran ayam (feses), dan bahan-bahan organik. Selain itu, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi mengapa wabah AI sampai saat ini tetap eksis di Indonesia. Faktor tersebut antara lain:

 

  1. Perubahan iklim secara ekstrim hingga menyebabkan stres dan menurunnya daya tahan tubuh ayam, sehingga memicu munculnya berbagai penyakit unggas, termasuk AI.
  2. Masih banyaknya peternakan ayam ras dan itik komersial skala kecil, khususnya di wilayah rawan AI, yang masih belum menerapkan biosekuriti secara ketat dan vaksinasi dengan tepat.
  3. Para peternak unggas skala kecil masih menjual unggas (ayam dan itik) yang diduga sakit AI ke pedagang/pengumpul unggas sehingga AI menyebar secara cepat melalui rantai pemasaran unggas.

 

Jangan lupakan juga, bahwa virus AI yang kini beredar di Indonesia bukan hanya clade 2.1.3, tetapi juga virus yang berasal dari clade 2.3.2 yang dapat menyerang itik, burung puyuh, dan kemungkinan juga unggas lainnya.

 

Suka berubah-ubah

Dalam sebuah seminar beberapa waktu yang lalu, dikatakan oleh Prof. Charles Rangga Tabbu bahwa virus AI yang sekarang ini sudah bukan AI yang seperti dulu. Maksudnya adalah, selain perbedaan dari jenis virus yang menyerang, gejala klinis yang ditemukan pasca mati (post mortem) akan berbeda dibandingkan dengan serangan AI satu dekade yang lalu, walau tidak menutup kemungkinan juga ada kesamaan. Intinya adalah virus AI rajin melakukan mutasi genetik, hal tersebut wajar, karena sifat makhluk hidup yang terus bertahan untuk hidup. Nantinya temuan post mortem yang didapat apapun itu, hendaknya ditindaklanjuti dengan uji laboratorium untuk lebih make sure siapa dalang di balik kematian ayam-ayam kita.

AI yang sekarang tidak hanya menyerang saluran pernafasan saja, mereka juga dapat menyerang semua organ tubuh seperti sistem pencernaan, sistem saraf, dan bahkan sel endotel pembuluh darah. Karena menyerang sel endotel pembuluh darah inilah maka pada kasus AI biasanya akan ditemukan perdarahan hampir di seluruh organ tubuh unggas.

Pada layer, kejadian AI seringkali muncul dalam bentuk penurunan produksi telur atau kematian yang terus-menerus, tetapi dalam jumlah yang tidak tinggi. Pada itik, gejala klinis yang muncul umumnya berupa leher terpuntir (tortikolis), lumpuh, kejang, inkoordinasi, mata abu-abu dan mati mendadak. Sedangkan pada burung puyuh dan broiler, gejala klinisnya terkadang tidak spesifik, meskipun pada beberapa kasus masih ditemukan cyanosis (kebiruan) pada jengger ayam.

Perubahan patologi anatomi (hasil bedah bangkai) juga berubah, jika dulu terdapat gejala pernapasan dengan perubahan organ yang jelas, sekarang perubahan yang dominan akibat virus AI clade 2.3.2 ditemukan pada ovarium, lemak perut, lemak jantung, dan otak. Misalnya terlihat folikel telur yang lembek dan mengalami perdarahan parah, bintik pendarahan pada lemak perut dan jantung, serta pendarahan di otak.

Selain perubahan tersebut, ditemukan pula dilatasi (pelebaran) pembuluh darah oviduct, ginjal bengkak, dan hati menjadi rapuh. Pada serangan AI clade 2.3.2, selain perubahan tersebut, pernah ada laporan kasus di mana pada oviduct ayam terdapat kista (benjolan berisi cairan), tetapi saat ini hal tersebut masih jarang muncul. Dengan semakin beragam dan sulitnya menentukan penyebab penyakit dengan pemeriksaan patologi anatomi saja, maka uji laboratorium seperti PCR dan ELISA dewasa ini merupakan sebuah keniscayaan sebagai peneguhan diagnosis dan tindakan selanjtunya.

 

Bisa diminimalisir

            Kunci utama dari pengendalian AI dan bahkan semua jenis penyakit  ialah dengan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh unggas melalui vaksinasi, suplementasi, serta penerapan biosekuriti. Ada 3 poin penting yang menjamin keberhasilan vaksinasi AI, yaitu:

  1. Tepat vaksin. Untuk mengendalikan AI, penggunaan vaksin yang homolog dengan virus lapang sangat dianjurkan karena akan memberikan perlindungan optimal.
  2. Tepat aplikasi. Selain harus tepat vaksin, aplikasi vaksinasi AI juga harus dilakukan dengan tepat. Hal ini meliputi persiapan peralatan (alat suntik), thawing (proses peningkatan suhu) vaksin, handling (memegang dan melepas) ayam, cara menyuntik, dosis pemberian vaksin, dan penanganan botol bekas vaksin.
  3. Tepat waktu. Hal ini berkaitan dengan program vaksinasi. Program vaksinasi AI sebaiknya disusun berdasarkan tinggi atau rendahnya challenge (tantangan) virus AI di lapangan dan baseline titer di masing-masing peternakan.

 

Pelaksanaan vaksinasi AI pada broiler, terutama saat musim penghujan sangat dianjurkan. Programnya cukup dilakukan 1 kali pada umur 4-5 hari bersamaan dengan vaksinasi ND aktif (tergantung kondisi ayam), atau pada umur 10 hari menggunakan vaksin AI tunggal.

 Kejadian AI di ayam pedaging sebenarnya tidak lepas dari turunnya antibodi maternal AI. Pada umur 3 minggu, titer antibodi maternal sudah tidak protektif lagi sehingga umur tersebut adalah saat paling rawan bagi ayam terserang AI. Selain itu, karena dari data lapangan, AI biasa menginfeksi ayam pedaging umur > 3 minggu, maka vaksinasi AI pertama pada ayam pedaging sebaiknya dilakukan umur 4 atau 10 hari.

 Meski dengan vaksinasi tidak membebaskan 100% ayam dari AI, namun paling tidak dengan vaksinasi bisa menekan potensi terjangkitnya penyakit tersebut dan jika ada serangan AI, ayam relatif lebih tahan. Vaksinasi juga akan menekan shedding virus sehingga cemaran virus AI di lapangan bisa ditekan.

Pada layer, vaksinasi dianjurkan dilakukan 3 kali sebelum masuk masa produksi telur dan minimal 2 kali setelah lewat puncak produksi. Hal ini disesuaikan dengan rekomendasi dari Food and Agriculture Organization (FAO). Beberapa penelitian dan trial di lapangan menyebutkan bahwa dengan melakukan 2 kali vaksinasi sebelum fase produksi, titer antibodi AI dapat mencapai standar protektif dan mampu melindungi ayam dari serangan AI. Yang menjadi masalah saat ini, tantangan AI semakin tinggi akibat kehadiran clade2.3.2, sehingga titer antibodi hasil 2 kali vaksinasi tersebut tidak selamanya berada di level protektif sampai umur puncak produksi. Akibatnya, mendekati puncak produksi, ayam rawan terserang AI. Maka dari itu, program 3 kali vaksinasi AI sebelum masa produksi sangat dianjurkan.

Dengan maraknya kejadian AI pada unggas selain ayam, peternak unggas lain semacam itik, burung puyuh, dan lain sebagainya hendaknya memproteksi ternaknya dengan vaksin AI. Terlebih lagi apabila daerah tempat peternakan kita tidak jauh dengan lokasi peternakan lain yang terserang AI, faktor risikonya akan lebih tinggi. Jangan lupakan juga peningkatan biosekuriti, baik hygiene personal, kebersihan kandang, transportasi, dan lain sebagainya. Suplementasi ternak juga perlu diberikan agar kondisi dan performanya tetap stabil dan baik, sehingga sulit terserang penyakit. Drh. Rabi’atul Adawiyah  Praktisi Perunggasan, Tangerang Selatan.

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com