Pasar Daging Ayam Brazil vs Inggris

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah konferensi World Poultry Science Association yang berlangsung di Cambridge, Inggris, para wakil asosiasi terkait menyampaikan paparannya tentang situasi pasar produk unggas di masing-masing negara. 

Salah satu yang dieksplor adalah perbandingan antara kondisi di Brazil sebagai eksportir unggas terbesar dunia, dan Inggris sebagai tuan rumah, sebagaimana dilaporkan oleh Jackie Linden dalam the poultry site. Konferensi ini diorganisir oleh Peter van Horne dari Wageningen University, Belanda dan Jason Gittens dari ADAS, Inggris.

 

Keberhasilan sektor perunggasan Brazil

Tentang keberhasilan sektor perunggasan Brazil, Dr. Dirceu Talamini dari institut riset Embrapa memulai dengan penjelasan soal kondisi geografis Brazil yang merupakan negara terluas kelima di dunia, dengan wilayah mencakup 851 juta hektar, di mana 41%-nya adalah hutan Amazon, 26% merupakan padang rumput dan 7% merupakan lahan pertanian yang rutin digarap. Kendati banyak wilayahnya yang merupakan kawasan yang dilindungi, karena secara lingkungan sensitif dan atau diperuntukkan bagi suku asli setempat, namun masih ada banyak sekali lahan untuk budidaya pertanian dan peternakan. Secara umum Brazil juga memiliki iklim yang menguntungkan dan karenanya wilayah Brazil merupakan 12% dari sumber mata air tawar dunia.

Input untuk produksi perunggasan sangat berlimpah, dengan biaya yang relatif rendah dan kualitas kelas ekspor, jelas produk perunggasan Brazil memiliki keunggulan komparatif. Sektor perunggasan telah terintegrasi secara penuh dan hal ini membantu seluruh rantai supply terhubung dan terkoordinasi. Perusahaan-perusahaan unggas Brazil JBS, SA dan BRF adalah di antara perusahaan unggas terkemuka dunia, yang dalam beberapa tahun terakhir secara agresif melakukan ekspansi ke sejumlah pasar di dunia.

Kombinasi sumber daya alam wilayahnya dengan teknologi terbaik yang tersedia serta dukungan pemerintah, perusahaan-perusahaan perunggasan Brazil telah berhasil membangun reputasi yang bagus untuk menghasilkan produk-produk berkualitas ekspor dengan harga yang kompetitif. Semua faktor positif tersebut membawa dampak positif pada peningkatan produksi yang sangat mengesankan. Pada tahun 2014, jumlah output daging ayam Brazil mencapai lebih dari 13 juta ton, meningkat 439 persen sejak 1990.

Selain sebagai kampiun ekspor daging ayam dunia, — dan sejumlah komoditi pertanian lain — konsumsi daging ayam per kapita masyarakat Brazil juga terbilang tinggi, yakni 45,7 kg per tahun. Angka ini kian mengesankan jika dibandingkan dengan konsumsi ayam per kapita tahun 1970-an yang nyaris 0 kg, dan kini mengambil alih daging sapi yang sebelumnya merupakan protein hewani favorit negeri Samba. Angka pertumbuhan produksi, ekspor dan konsumsi domestik daging ayam jauh di atas daging sapi atau babi.

Negara bagian Parana telah menggantikan Santa Catarina sebagai sentra produksi ayam terbesar, sementara wilayah Barat Tengah menunjukkan peningkatan dengan kontribusi 15% produksi total ayam Brazil.

Dr. Talamini juga menjelaskan bahwa standar hidup masyarakat di wilayah produksi unggas dan babi juga lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Ada masalah infrastruktur di beberapa wilayah yang menjadi kendala ekspansi dan ekspor. Di sini diperlukan dukungan pemerintah untuk membangun pelabuhan, jalan, dan jaringan rel kereta api untuk menghubungkan dengan sentra-sentra produksi peternakan yang terus berkembang. Peternakan-peternakan ayam yang baru dibangun pada umumnya dilengkapi dengan peralatan modern dengan kontrol lingkungan, sistem air minum dan pakan yang serba otomatis, seringkali memiliki hingga 50 kandang dalam satu lokasi yang sangat luas.

Perkembangan tersebut di atas, dibarengi dengan perkembangan genetik dan pemberian pakan, memberi kontribusi signifikan pada efisiensi produksi rata-rata, sehingga saat ini Brazil bisa memroduksi 2,6 kg broiler selama 40 hari dengan FCR sekitar 1,7. Performa demikian dengan efisiensi di rantai supply menjadikan Brazil salah satu produsen daging ayam dengan biaya produksi terendah di dunia, ujar Dr. Talamini.

Namun Dr. Talamini juga mengemukakan adanya kebijakan pemerintah untuk menaikkan upah tenaga kerja dan mengontrol harga listrik yang kemungkinan akan memengaruhi perusahaan-perusahaan unggas Brazil untuk mempertahankan biaya produksi unggas murah.

 

Sektor perunggasan Inggris

Wabah avian influenza (AI), kontaminasi Campylobacter dan standar kesejahteraan yang tinggi merupakan tiga tantangan utama yang dihadapi sektor daging ayam Inggris, demikian menurut Andrew Large, Chief Executive Officer dari British Poultry Council (BPC).

Ada tiga wabah AI yang terjadi di beberapa flok unggas komersial Inggris pada tahun 2014 lalu, yang untungnya tidak menyebar ke tempat lain berkat biosekuriti yang diterapkan dengan bagus. Namun dengan adanya wabah AI tersebut, kini Komisi Eropa menetapkan aturan 12 minggu yang harus diterapkan wilayah yang terkena wabah AI. Artinya, bebas AI tidak bisa diumumkan kecuali jika 12 minggu sejak AI terakhir terlampaui dan stamped out dilakukan. Menurut Large, Komisi Eropa juga mempertimbangkan larangan membuka peternakan di sekitar perairan terbuka yang disinggahi burung yang bermigrasi.

Sementara itu industri perunggasan Inggris juga menghadapi tantangan Campylobacter menyebabkan 280.000 kasus penyakit per tahun. Kendati kontrol bakteri telah dilakukan, dan seluruh mata rantai supply berkomitmen mengurangi kontaminasi Campylobacter, namun hingga kini Campylobacter masih hadir di 70% produk ayam yang dijual retailer.

Produsen dan processor memasok 47% daging unggas yang dikonsumsi masyarakat Inggris, dan 92% di antaranya adalah daging ayam, 3% daging kalkun, 2% daging bebek, dan 0,1% daging angsa. Angka penjualan produk unggas pada tahun 2014 mencapai  6,9 miliar poundsterling dari sekitar 2500 peternakan. Industri perunggasan mempekerjakan lebih dari 79.000 orang.

Pasar Inggris pada umumnya menyukai daging bagian dada, yang sebagian diimpor dari negara lain di Eropa dan Brazil, sementara produk dark meat (paha) dan bagian lain diekspor. Dominasi retailer di pasar domestik Inggris menunjukkan bahwa daging ayam merupakan komoditi dengan sedikit upaya branding.

Pasar didominasi oleh ayam standar dengan biaya produksi sekitar  4 poundsterling per ekor, sementara harga ayam free-range dua kali lipat harga tersebut, dengan pangsa pasar 4,5%. Selain itu ada produk ayam organik dengan harga 16 poundsterling per ekor dan pangsa pasar 0,5%. Permintaan produk daging ayamfree-range dan ayam organik turun semenjak krisis tahun 2008, dan belum ada tanda akan pulih dalam waktu dekat. Elis Helinna Koresponden Poultry Indonesia di New York.

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com