Pentingnya Peningkatan Daya Saing Industri Perunggasan dalam Memasuki Era MEA 2015

Sejak 31 Desember 2015, pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak lagi berupa slogan atau wacana tetapi telah menjadi realitas. MEA sebagai pasar regional yang terintegrasi memiliki potensi yang luar biasa, di mana 10 negara ASEAN bergabung menjadi satu kesatuan masyarakat ekonomi dengan total populasi lebih dari 600 juta, total GDP sekitar $2.5 triliun dengan total perdagangan intra-regional sebesar $1 triliun.

Dengan semakin bebasnya aliran barang, jasa dan investasi serta tenaga kerja di pasar MEA membuat intensitas persaingan semakin ketat dan sengit. Persaingan yang sangat sengit ini sering kali disebut sebagai “hyper competition”.  Persaingan yang semakin sengit menuntut kejelian dan kegesitan tersendiri dalam memperebutkan peluang ekonomi dan bisnis yang tercipta dalam pasar MEA tersebut.

Tidak ada pilihan lain selain kita semua harus berbenah diri untuk meningkatkan daya saing. Kita harus siap berubah (be ready to change). Setelah itu, sesuai kapabilitas dan kompetensi yang kita miliki kita harus terus menerus dan tidak kenal kata lelah untuk mengenali kesempatan bisnis yang tumbuh di pasar MEA(recognising opportunities), memilih strategi yang tepat (strategic selection), menghimpun sumber daya(assembling resources) dan kemudian mengimplementasikan rencana pengembangan bisnis. Jika tahapan-tahapan tersebut kita lakukan dengan perhitungan yang matang, cermat dan hati-hati, mudah-mudahan kita mendapatkan kesempatan menjadi “pemenang” dalam kancah pertandingan di tingkat pasar MEA.

 

Prospek industri perunggasan yang positif

Dalam menghadapi MEA 2015, industri peternakan unggas memiliki peluang (opportunities) dan tantangan(challenges) yang harus segera dibenahi. Industri perunggasan yang didominasi oleh broiler (ayam ras) merupakan produk pangan yang memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan di level pasar regional seperti MEA ini. Permintaan terhadap komoditas dan produk unggas ini akan selalu meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Dari sisi permintaan, komoditas dan produk perunggasan terus meningkat dikarenakan adanya pertambahan penduduk, pertumbuhan pendapatan, semakin banyaknya penduduk kelas menengah, meningkatnya urbanisasi, semakin besarnya harapan hidup dan penduduk usia tua. Di samping itu, dengan peningkatan pendapatan maka terjadi diversifikasi konsumsi pangan menuju komoditas bernilai tinggi (high-value commodities), pola pengeluaran makanan bergeser dari biji-bijian dan makanan pokok ke sayur-mayur, buah, daging (sapi dan unggas), susu, telur dan ikan. Permintaan makanan yang “ready-to-cook” dan “ready-to-eat” yang terbuat dari daging ayam dan telur juga semakin meningkat, terutama di daerah perkotaan.

Dari sisi penawaran, produksi dan produktivitas perunggasan terutama ayam ras meningkat dengan pesat. Hal ini antara lain disebabkan adanya perubahan teknologi yang semakin modern sehingga menyebabkan siklus produksi yang semakin pendek (pertumbuhan yang lebih cepat dan tingkat kematian yang rendah), FCR (Feed Conversion Ratio) yang semakin rendah, dan sistem produksi perunggasan yang semakin terintegrasi. Perubahan teknologi dalam budidaya ayam ras membuat harga komoditas dan produk daging (dan telur) lebih rendah dibandingkan dengan daging-daging yang lain.

Pentingnya peningkatan daya saing

Menghadapi MEA, segenap pemangku kepentingan (stakeholders) seharusnya saling bahu-membahu, saling mendukung dan mengesampingkan ego sektoral agar efisiensi dan daya saing ekonomi kita semakin tinggi. Pasalnya, salah satu persoalan yang dihadapi Indonesia adalah masih rendahnya daya saing.

Dari perspektif makro, daya saing menunjukkan sejauh mana negara dalam kondisi pasar bebas dan adil dapat memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar internasional, sekaligus dapat mempertahankan dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat dalam jangka panjang (Garelli, 2002). Sementara dari perspektif mikro, daya saing didefinisikan sebagai pertumbuhan produktivitas yang berkelanjutan yang didorong oleh kualitas operasi dan strategi bisnis, kualitas lingkungan bisnis dan iklim ekonomi makro yang sehat dan kondusif (Yener, 2002).

Menurut World Economic Forum (WEF), pada tahun 2015-2016 peringkat daya saing Indonesia masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Peringkat daya saing Indonesia yang masih rendah tidak terlepas dari masih banyaknya permasalahan baik pada tataran makro maupun mikro. Pada tataran makro misalnya, yang masih merupakan permasalahan adalah penguatan koordinasi dan sinergitas kebijakan antara pusat dan daerah, penyempurnaan tata kelola birokrasi, pemberantasan korupsi, serta percepatan peningkatan pembangunan infrastruktur. Selaras dengan itu, pada tataran mikro, daya saing komoditas, barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan modal juga merupakan pekerjaan rumah yang seyogyanya segera dituntaskan. Meskipun Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan baik pada tataran makro maupun mikro, tetapi kita sejatinya tidak perlu memiliki sikap khawatir secara berlebihan. Optimisme dengan senantiasa melakukan perbaikan harus terus dilakukan.

Dalam konteks industri perunggasan, peningkatan daya saing industri perunggasan salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan kinerja infrastruktur dan kelembagaan. Peningkatan kinerja infrastruktur dan kelembagaan membutuhkan strategi yang kreatif dan inovatif, mulai dari aspek hulu hingga aspek hilir, mulai dari pembibitan hingga makanan yang tersaji di atas meja makan. Dengan kata lain perlu perbaikan yang holistik dan terintegrasi dengan melibatkan para pemangku kepentingan baik para pelaku industri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan lain-lain.

Perbaikan (modernisasi) infrastruktur pun perlu terus dilakukan agar produktivitas dan efisiensi dalam industri perunggasan dapat semakin meningkat. Modernisasi infrastruktur tersebut harus dilakukan mulai dari pakan, kandang, kesehatan, energi dan air serta pemasaran sampai konsumen akhir.

Selain modernisasi infrastruktur fisik, optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi juga perlu terus ditingkatkan. Pengembangan e-marketing misalnya akan membuat komoditas dan produk unggas yang dihasilkan akan (a) berorientasi kepada kepentingan konsumen, (b) produknya terdiferensiasi (menggunakan kemasan dan bermerek), (c) mengedepankan fungsi grading dan label, (d) memperhatikan keamanan pangan dan keterlacakan (traceability), (e) mengedepankan kreasi nilai (value creation), (f) posisi pengecer (retailer) menjadi garda terdepan, dan (h) struktur kelembagaan pasar, aliran produk, informasi dan kontrol yang terintegrasi. Sayang sekali hingga saat ini pasar unggas kita masih didominasi oleh “live birds”dan dijual melalui pasar-pasar tradisional (wet market).

 

Grand Design yang jelas dan tearah

Upaya-upaya perbaikan kinerja infrastruktur dan kelembagaan tentu saja tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, perlu waktu, sumberdaya dan komitmen dari para pemangku kepentingan untuk secara bersama-sama menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan tugas dan fungsinya. Oleh karena itu perlu adanya Grand Design (GD) industri perunggasan secara nasional yang bersifat holistik, komprehensif dan tidak parsial (fragmented) yang dapat dijadikan panduan bersama menuju industri perunggasan yang berdaya saing dan berkeadilan

GD perunggasan nasional harus dibuat dengan jelas dan terarah. GD harus memuat tujuan ke arah mana industri perunggasan akan kita bawa. GD harus memuat sasaran yang jelas dan SMART. SMART singkatan dari “Specific, Measurable, Achievable, Relevant and Time-bound”.

GD harus mempertimbangkan perkembangan dinamika faktor internal dan eksternal yang dihadapi oleh industri perunggasan. Terkait faktor internal misalnya, bagaimana memanfaatkan peningkatan permintaan komoditas dan produk unggas di dalam negeri serta bagaimana merespon ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait impor bahan baku pakan. Terkait faktor eksternal misalnya, bagaimana memanfaatkan peluang pasar MEA yang sangat menarik dan bagaimana menghadapi persaingan dengan produsen komoditas dan produk unggas di kawasan ASEAN seperti Thailand dan Vietnam, maupun luar kawasan seperti Brazil, Amerika Serikat (AS) dan Argentina.

Last but not the least, saya teringat dengan kata-kata bijak yang disampaikan oleh Charles Darwin, penemu teori Evolusi Manusia. Ia menyatakan bahwa … “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change”. Kata-kata bijak dari Charles Darwin di atas sangat tepat untuk menggambarkan fenomena globalisasi ekonomi yang ditandai oleh semakin ketatnya persaingan antar negara melalui MEA ini. Para pelaku usaha yang memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat dalam menghadapi tantangan global yang dinamis, merekalah yang mampu bersaing dan bertahan. Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Sekolah Bisnis IPB.

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com