Penyakit Egg Drop Syndrome yang Terlupakan

Penyakit Egg Drop Syndrome (EDS) merupakan penyakit viral pada unggas yang disebabkan oleh Avian Adenovirus tipe I. Hospes alami adalah itik dan angsa, tetapi ayam petelur merupakan hospes alternatif yang dilaporkan banyak menderita kerugian akibat infeksi virus EDS.

Penyakit ini pada ayam petelur teramati sehat tetapi bertelur dengan kerabang tipis sampai telur tanpa kerabang. Pada umumnya terjadi pada awal periode bertelur, sehingga puncak produksi tidak pernah tercapai. Penanganan penyakit sejauh ini terkendali apabila peternak sudah melaksanakan vaksinasi, namun mengapa dewasa ini masih dapat muncul di lapangan?.

Penyakit EDS pertama sekali dilaporkan oleh Van Eck dkk., 1976, pada suatu kasus penurunan produksi telur di peternakan ayam petelur yang terjadi di Belanda. Sejak saat itu banyak kasus penurunan produksi telur yang disebabkan oleh virus EDS tersebut, yang dilaporkan meluas ke seluruh dunia, terutama pada tahun 1980 dan 1990-an. Wabah penyakit EDS banyak dilaporkan pada ayam petelur, tetapi terjadi juga pada kalkun dan burung puyuh. Hospes alami virus EDS pada unggas air terutama pada itik dan angsa. Beberapa spesies unggas air lainnya pernah dilaporkan membawa antibodi penyakit EDS. Virus EDS pada unggas air tersebut tidak menimbulkan gejala klinis dan dapat bertindak sebagai reservoir penyakit.

Menurut International Committee on Taxonomy of Viruses, penyebab virus EDS merupakan virus yang termasuk dalam keluarga Adenoviridae, genus Adenovirus, Virus Adenovirus tipe I, sebagai Duck Adenovirus tipe I. Hess (2010) dalam review tentang Adenovirus memasukkan EDS sebagai virus grup III dari Aviadenovirus dan merupakan satu satunya virus penyebab penyakit dalam kelompok tersebut. Virus EDS merupakan virus DNA yang tidak beramplop, tetapi tetap peka terhadap berbagai agen kimia, seperti formaldehyde 0,5% atau glutaraldehyde 0,5%, dan desinfektan lain. Secara fisik virus dapat diinaktivasi pada pemanasan suhu 600C selama 30 menit, namun tahan pada pemanasan pada suhu 560Cselama 3 jam.

Penyebaran virus EDS secara klasik terjadi secara vertikal dari induk ke anaknya, meskipun kasusnya sangat jarang dilaporkan.  Dalam beberapa kasus, ayam yang terinfeksi pada saat embrio, maka ayam tidak mengekresikan virus atau juga tidak merangsang munculnya antibodi/kekebalan terhadap penyakit EDS, sampai ayam layer bertelur kurang lebih pada posisi produksi sebesar 50%. Pada kondisi tersebut kemudian virus dapat menjadi aktif dan dieksresikan dari ayam serta menyebabkan penyebaran lateral menjadi lebih efisien. Infeksi dalam suatu kelompok ayam pada suatu flok ini, akan memungkinkan terjadi pencemaran virus ke lingkungan, sarana, dan prasarana peternakan. Kotak telur, alat dan fasilitas transportasi peternakan, pakan dan minum, bahkan pekerja kandang dapat terkontaminasi yang selanjutnya akan menjadi sarana yang baik sekali dalam penyebaran virus EDS. Penyebaran virus EDS juga dapat difasilitasi oleh itik atau angsa ke ayam komersial, terutama karena pencemaran virus dalam minum ayam, oleh kotoran ayam yang terkontaminasi ekskreta oviduk melalui kloaka.

Dalam suatu infeksi buatan, masa inkubasi penyakit bervariasi dari 7 sampai 9 hari, meskipun dilaporkan gejala klinis penyakit tidak muncul sampai 17 hari pasca infeksi.  Ayam yang terinfeksi virus EDS akan terjadi viremia, virus menyebar ke berbagai organ limfoid terutama lien dan thymus. Infundibulum dari oviduk merupakan organ yang terinfeksi secara konsisten dan menyebabkan ovarium menjadi tidak aktif serta dapat terjadi atropi/pengecilan oviduk. Pada kasus yang alami lesi tersebut merupakan lesi yang paling teramati. Infeksi buatan EDS menunjukkan bahwa pada hari ke-7 sampai ke-20 pasca infeksi, virus EDS telah dapat ditemukan dalam kelenjar pembentuk kerabang yang berbentuk kantong di uterus serta bagian lain dari oviduk. Replikasi virus tersebut memacu keradangan dan bahkan udema pada kelenjar pembentuk kerabang yang berbentuk kantong dan menyebabkan kerabang telur menjadi abnormal. Sejauh ini diketahui bahwa virus EDS tidak bereplikasi pada mukosa usus, namun diketemukannya virus pada feses terjadi karena kontaminasi ekskreta yang berasal dari oviduk. Infeksi virus EDS pernah dilaporkan dapat menyebabkan splenomegali, calon telur lembek/membubur dalam rongga abdomen/perut.

Pada kasus infeksi EDS, secara klinis akan dapat diamati beberapa perubahan kualitas kerabang telur, yaitu pada awalnya terjadi depigmentasi telur. Setelah beberapa telur teramati terjadi depigmentasi yang terlihat pada penurunan kualitas warna telur. Pada ayam petelur yang biasanya berwarna coklat akan tampak mulai memudar yang cenderung memutih dan menipis.  Pada telur dengan kerabang tipis juga teramati telur dengan kerabang yang kasar seperti berpasir, atau juga bergranula kasar pada sisi satu ujung telur. Kualitas telur menurun dengan diikuti kerabang lunak dan akhirnya banyak diketemukan telur yang tanpa kerabang.

Penurunan produksi dapat cepat terjadi, berlangsung beberapa minggu (selama 4 sampai 10 minggu), serta dapat terjadi penurunan produksi telur mencapai 40%. Kasus infeksi alami EDS juga dapat diamati telur yang berukuran kecil. Beberapa kasus dilaporkan albumin telur menjadi cair, tetapi tidak selalu dapat diamati pada kasus EDS. Penurunan produksi dengan penurunan kualitas telur ini sangat dikacaukan dengan beberapa penyakit lain yang mempunyai gejala klinis sangat mirip. Kasus penyakit IB juga mampu menyebabkan penurunan produksi yang sangat tinggi, serat kualitas telur menjadi sangat jelek. Pengalaman lapangan penulis pada kasus IB. penurunan kualitas telur lebih kepada telur menjadi tidak simetris “mlethot” meskipun kerabang telur juga  menjadi tipis, namun telur tetap mempunyai kerabang. Pada kasus IB selain asimetrisitas, jika dipecah dan diamati putih telur cenderung selalu encer. Penurunan produksi telur yang diikuti penurunan kualitas telur juga harus dibedakan dari penyakit bakterial, seperti koli kompleks, Salmonellosis dll. Untuk itu, penegakan diagnosis diperlukan konfirmasi dengan uji laboratoris yang relevan.

Menurut pengamatan penulis di lapangan, kasus EDS banyak dilaporkan juga di Indonesia, di sekitar tahun 1990-an. Misalnya yang penulis alami terjadi di DIY, pada tahun tersebut banyak kasus EDS teramati pada peternakan ayam petelur, karena banyak farm yang belum menerapkan program vaksinasi EDS. Dewasa ini, penulis beberapa kali mendapatkan kasus terindikasi EDS, dan bahkan telah berhasil dikoleksi virus penyebabnya. Menurut data kasus tersebut, penyakit EDS muncul pada dasarnya disebabkan oleh dua hal mendasar. Beberapa kasus EDS muncul karena peternak beranggapan bahwa sejauh ini tidak pernah mengalami kasus EDS dan oleh karenanya peternak memutus program vaksinasi yang dijalankan, akibatnya adalah kemudian di peternakan yang bersangkutan muncul kasus EDS. Munculnya kasus EDS bukan langsung karena tidak vaksinasi tetapi lebih karena kasus mikotoksin. Hal tersebut tidak lepas dari masalah bahan baku, kualitas jagung dan katul yang seringkali tidak disadari oleh peternak. Kondisi tersebut didukung oleh faktor iklim dan kelembaban di Indonesia yang sangat mendukung perkembangan jamur sebagai produsen mikotoksin tersebut. Di samping itu, kelalaian peternak terhadap manajemen yang sudah peternak set-up dan sepakati sendiri dalam penanganan bahan baku, kadang juga menjadi andil munculnya kasus mikotoksin di lapangan. Dampak imunosupresi mikotoksin menyebabkan imunitas dan respon vaksinasi tidak optimal, atau bahkan terdepresi, akibatnya muncul berbagai kasus penyakit, termasuk kasus EDS.

Penyebaran penyakit EDS terindikasi lambat, di samping itu  ayam juga teramati sehat. Dengan demikian pada kasus EDS lebih sulit dikenali dan bahkan sulit dilakukan seleksi. Sejauh ini pencegahan utama dilakukan dengan vaksinasi, namun demikian perlu dipahami bahwa respon vaksinasi terhadap virus EDS tidak akan berkembang sampai ayam berusia 4 -5 minggu, oleh karena itu pada umumnya program vaskinasi EDS dilakukan pada saat pullet berumur 14 sampai 15 minggu. Titer antibodi protektif hasil vaksinasi yang terbentuk dapat bertahan sampai satu tahun. Sejauh ini vaksinasi EDS dianggap selalu menunjukkan proteksi yang memadai, tanpa ada kebocoran di lapangan. Namun demikian perlu dilakukan monitoring terhadap titer antibodi sebelum dan setelah divaksinasi. Titer antibodi hasil vaksinasi berkisar 28sampai 29, sedangkan pada kasus yang terekspos virus EDS sebelum vaksinasi, titer antibodi dapat mencapai di atas 212. Pada monitoring tersebut jika terdapat ayam yang positif, antibodi virus EDS tanpa vaksinasi di-culling, karena dianggap sebagai pembawa virus. Demikian juga ayam yang bertelur positif terindikasi virus EDS harus di-culling. Ayam dalam satu floks dan floks yang berdekatan harus dimonitor titer antibodi pada saat terindikasi, setidaknya dua kali dalam interval seminggu. Pemberian antibiotik pada kasus penyakit EDS bisa dipahami untuk mengendalikan peluang bakteri patogen berkembang dan memperparah infeksi. Di samping itu, peningkatan kualitas biosekuriti di peternakan, meningkatkan daya tahan tubuh ayam, mencegah kasus yang berkaitan dengan imunosupresi, dan perbaikan manajemen peternakan ayam merupakan pilar penting dalam mencegah kasus penyakit EDS di lapangan. Staf Bagian Mikrobiologi FKH UGM dan Praktisi Perunggasan.

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com