Pertumbuhan Konsumsi Ayam Dunia

Konsumsi unggas dunia diperkirakan akan terus tumbuh di masa depan, dan kawasan Asia memainkan peran besar di dalamnya, kendati ekonomi yang melemah akan membatasi pertumbuhannya. 

Pada tahun 2015 Asia diperkirakan dihuni oleh hampir 60% dari total 7,3 miliar penduduk dunia (lihat tabel). Antara tahun 2000 hingga 2015, populasi global meningkat sekitar 1,2 persen per tahun. Angka ini diperkirakan akan turun menjadi 0,8% pada tahun 2050, demikian tulis Terry Evans dalam the poultry site.

Kawasan dengan pertumbuhan penduduk tercepat adalah Afrika, yang mencatat pertumbuhan lebih dari 2% per tahun, dan sebaliknya Asia hanya tercatat 0,5% pertumbuhan penduduk per tahun. Alhasil, penduduk Asia yang tadinya 61% total populasi dunia turun menjadi 54%. Sementara seperempat populasi dunia akan menghuni benua Afrika pada tahun 2050, naik dari persentase saat ini yang kurang dari 16%. Sementara itu jumlah penduduk kawasan Eropa diperkirakan akan surut dari 743 juta menjadi 709 juta.

Jika saat ini Cina memiliki populasi terbesar dengan 1,402 miliar, pada tahun 2028 India akan menjadi negara terpadat dengan 1,454 miliar penduduk.

 

Proyeksi konsumsi ayam

Jika produksi ayam diproyeksikan meningkat di sebagian besar negara karena meningkatnya profitabilitas, pertumbuhan ekonomi yang melesu di negara-negara maju dan negara sedang berkembang bisa berdampak membatasi peningkatan konsumsi.

Perkiraan pertumbuhan global pada 2015 adalah 2,8%, meningkat menjadi 3,2% pada tahun 2017. Untuk negara sedang berkembang, rata-rata pertumbuhannya adalah 4,4% dan akan naik mejadi 5,4%. Di Cina, pertumbuhannya turun dari 7,1% menjadi 6,9% pada tahun 2017, sedangkan di India meningkat dari 7,5% menjadi 8%.

Seiring dengan meningkatnya pendapatan, permintaan daging juga meningkat, dibandingkan dengan permintaan serealia. Pada tahun 2030, konsumsi daging dunia akan meningkat menjadi 45,3 kg per kapita dari 41,3 kg pada tahun 2015. Dari total angka ini, daging unggas diperkirakan mengambil porsi 17,2 kg pada 2030, meningkat dari 13,8 kg pada tahun 2015 ini. Dengan demikian, bagian daging unggas diperkirakan meningkat dari 33% menjadi sekitar 38%. Di negara-negara sedang berkembang, konsumsi unggas diperkirakan akan meningkat hingga 33,3%, dari 10,5 kg menjadi 14 kg per kapita.

Faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan konsumsi daging unggas total adalah perubahan jumlah populasi, pertumbuhan pendapatan riil, harga ayam yang relatif lebih murah dibanding daging lain, dan perubahan preferensi diet masyarakat. Konsumsi daging unggas dunia pada tahun 2011 rata-rata 14,5 kg per kapita, naik 32% dari 11 kg pada tahun 2000. Di Asia, peningkatan konsumsi tak sampai 3 kg per kapita per tahun, dari 6,6 kg menjadi 9,5 kg.

Tentu saja angka-angka tersebut tidak mencerminkan konsumsi aktual di setiap negara, melainkan memperkirakan pasokan unggas yang tersedia untuk konsumsi yang bisa digunakan untuk menghitung perkiraan perdagangan global (ekspor/impor) yang akan terjadi. Juga harus dipertimbangkan, bahwa kendati jumlah konsumsi total meningkat, rata-rata konsumsi per kapita bisa saja turun jika laju pertumbuhan penduduk jauh di atas ketersediaan daging ayam.

Negara-negara  dengan konsumsi ayam yang tinggi tentu saja adalah negara-negara industri yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit. Sementara negara-negara sedang berkembang ada yang konsumsi daging ayamnya kurang dari 2 kg per kapita per tahun, seperti India.

Sementara itu Cina memiliki angka konsumsi per kapita daging unggas yang tergolong tinggi, yakni 13 kg. Penduduk Cina juga lebih menyukai daging babi dibanding jenis daging lain. Dengan pengaruh urbanisasi dan peningkatan pendapatan, masyarakat Cina membeli lebih banyak daging babi dibanding daging ayam. Bahkan akhir-akhir ini di Cina terjadi over supply daging ayam akibat merebaknya wabah avian influenza dan ditutupnya pasar unggas hidup. Kendati peningkatan pendapatan riil meningkatkan kemampuan beli produk unggas di sebgian besar masyarakat, namun yang lebih penting bagi pertumbuhan konsumsi daging ayam adalah meratanya peningkatan pendapatan di semua lapisan masyarakat, utamanya di negara-negara sedang berkembang.

Ayam merupakan sumber protein hewani yang paling murah, sangat penting di negara-negara sedang berkembang di mana sejumlah besar populasi memiliki pendapatan yang rendah. Kendati demikian, di banyak negara, protein yang murah ini masih tak terjangkau akibat infrastruktur yang tidak mendukung. Atau terjadi kesenjangan antara serapan pasar dan produksi akibat buruknya infrastruktur, sehingga terkadang produsen mengaku over produksi, namun konsumen masih membayar terlalu mahal daging ayam.

Sementara itu di negara-negara maju, perubahan konsumsi daging ayam lebih kepada kebiasaan makan, seperti tersedianya beragam variasi produk olahan ayam di restoran-restoran atau outlet-outlet cepat saji yang juga berdampak meningkatnya penjualan daging ayam.

Menurut laporan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), konsumsi per kapita produk hewani di negara-negara sedang berkembang masih kurang dari sepertiga daripada konsumsi di negara-negara industri. Ini berarti masih ada potensi yang signifikan untuk meningkatkan kontribusi produk hewani dalam diet masyarakat, baik dalam jumlah maupun persentase. Koresponden Poultry Indonesia New York, dari berbagai sumber.

 

Tabel 1. Populasi Manusia (juta orang)

Tahun

2000

2010

2015

2020

2030

2040

2050

Afrika

808

1031

1166

1312

1634

1999

2393

Amerika

842

943

991

1038

1120

1183

1228

Asia

3717

4165

4385

4582

4887

5080

5164

Eropa

729

740

743

744

736

724

709

Oceania

31

37

39

42

47

52

57

Dunia

6128

6916

7325

7717

8425

9039

9551

 

Tabel 2. Konsumsi Daging Dunia (kg/kapita, equivalen berat karkas)

 

1997/1999

2015

2030

Dunia

36,4

41,3

45,3

Negara Sedang Berkembang

25,5

31,6

36,7

Afrika Sub Sahara

9,4

10,9

13,4

Afrika Timur & Utara

21,2

28,6

35,0

Amerika Latin & Karibia

53,8

65,3

76,6

Asia Selatan

5,3

7,6

11,7

Asia Timur

37,7

50,0

58,5

Negara Industri

88,2

95,7

100,1

 

Tabel 3. Konsumsi Daging (kg/kapita, equivalen berat karkas)

 

1997/1999

2015

2030

Dunia      
   Daging Sapi

9,8

10,1

10,6

   Domba & Kambing

1,8

2,1

2,4

   Daging Babi

14,6

15,3

15,1

   Daging Unggas

10,2

13,8

17,2

Negara sedang Berkembang      
   Daging Sapi

6,1

7,1

8,1

   Domba & Kambing

1,7

2,0

2,4

   Daging Babi

10,8

12,0

12,2

   Daging Unggas

6,9

10,5

14,0

 

 
- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com