Peternak Harus Bersiap Menghadapi Pelarangan AGP

Foto bersama setelah melakukan seminar yang berlangsung di Hotel Santika, Jakarta.

 

POULTRY INDONESIA, JAKARTA - Bertempat di Hotel Santika TMII Jakarta (25/7), Pinsar Indonesia bersama Elanco mengadakan seminar tentang antimikrobial dalam industri peternakan, mengusung tema “Perspektif Industri Peternakan yang Sehat, Bersih, dan Bertanggungjawab”.

Pada kesempatan tersebut, Singgih Januratmoko selaku ketua umum Pinsar Indonesia dalam sambutannya mengatakan, bahwa seminar seperti ini sangatlah penting, karena dapat menambah wawasan khususnya bagi para peternak. “Mulai Januari tahun 2018, penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) dilarang, sudah seharusnya kita menyiapkan solusinya dari sekarang,” ujar Singgih.

Dia menambahkan bahwa penggunaan AGP secara global akan turun yang kemudian pada akhirnya akan dilarang secara total karena erat kaitannya dengan isu keamanan pangan. Dari seminar ini diharapkan akan muncul solusi-solusi untuk meminimalisir penggunaan AGP, sehingga pangan yang dihasilkan nantinya dapat lebih sehat.

Dalam seminar tersebut tampak hadir para narasumber berpengalaman, di antaranya Kasubdit Pengawasan Obat Hewan Diten PKH drh. Ni Made Ria Isriyanti, Ph.D., Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D., serta global scientist on antimicrobial Dr. Shabbir Simjee.

Pada kesempatan itu, Ria Isriyanti mengatakan, sesuai amanat UU No. 18 Tahun 2019 juncto UU No. 41 Tahun 2014 pada Pasal 22 Ayat 4C, berbunyi setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan atau antibiotik imbuhan pakan.

Namun jika melihat kasus di lapangan, ketika AGP tidak diberikan ke ternak, maka dapat terjadi outbreak yang lebih berisiko, sehingga pemerintah juga masih membuka kelonggaran sampai dengan 31 Desember 2017 sesuai dengan Permentan No.14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan.

Dalam Pasal 17 disebutkan bahwa dalam hal keperluan terapi, antibiotik dapat dicampur dalam pakan dengan dosis terapi dan lama pemakaian paling lama tujuh hari. Pemakaian obat hewan dalam pakan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sesuai dengan petunjuk dan di bawah pengawasan dokter hewan.

“Ada 92 produk yang terkena dampak peraturan ini, dan kami sudah mengambil langkah yang harus dilakukan sehingga pada tahun 2018 tidak ada kekosongan obat-obat antibiotik untuk kepentingan terapi,” ujar Ria. Seperti misalnya antikoksi tetap boleh digunakan namun dengan perubahan registrasi sesuai klasifikasinya untuk terapi.

Menurut pembicara seminar yang lain, Shabbir Simjee, mengungkapkan bahwa isu tentang penggunaan antibiotik di Eropa muncul sejak tahun 1995. Hal tersebut terjadi saat sebuah rumah sakit di Denmark menemukan gejala adanya resistentensi antibiotik yang diduga terjadi akibat penggunaan antibiotik pada hewan yang berlebihan. Sehingga, mulai saat itu muncul kampanye untuk pembatasan bahkan pelarangan penggunaan AGP. Namun menurutnya, sampai saat ini belum ada satu negara pun yang benar-benar bebas antibiotik. Antibiotik masih tetap digunakan untuk pengobatan maupun treatment.

Sementara itu, Desianto B. Utomo melihat dari sisi yang lain. Keberhasilan sebuah usaha perunggasan tidak serta merta dipengaruhi oleh pelarangan penggunaan AGP. Akan tetapi ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan seperti manajemen pemeliharaan, kualitas DOC dan pakan. “Saat ini memang belum ada yang seekonomis AGP. Oleh karenanya perlu peningkatan manajemen seperti biosekuriti yang lebih baik untuk keberhasilan usaha perunggasan,” ujarnya.

- Farid -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com