Peternak Yang Aktif Berorganisasi

Tak hanya menjalani jabatan sebagai Ketua Umum GOPAN, Herry Dermawan turut pula menjabat beberapa jabatan di organisasi lain yang membuatnya sibuk dengan kegiatan. 

 

Selain menjabat sebagai Ketua Umum GOPAN, apalagi kegiatan bapak?

Memang dasarnya saya sudah seorang aktivis dari dulu. Sehingga banyak organisasi yang saya lakukan untuk mengisi waktu saya. Selain menjabat sebagai Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), saya turut pula menjabat sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) di Ciamis, Majelis Pembina Daerah Provinsi Pramuka, Ketua Persatuan Peternak Ayam Nasional (PPAN), Ketua Komite Penyuluh Pertanian Kabupaten Ciamis, Ketua DPD PAN Kab. Ciamis, Dewan Pakar PUI Ciamis, Wakil Ketua Apindo Kab. Ciamis, juga sekretaris Persatuan Golf Indonesia (PGI).

Saya lahir dan besar di Surabaya, sejak kelas 3 SMP saya belajar pencak silat hingga kini menjadi Ketua IPSI di Ciamis. Usai lulus pendidikan SD hingga SMA di Surabaya saya melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Mataram (Unram) dengan mengambil jurusan Fakultas Peternakan.

Awal terjun ke dunia peternakan, karena saya menyenangi pedesaan dan menurut saya peternakan bidang yang paling mudah dan sedikit saingannya. Namun ternyata kuliahnya tidak semudah yang saya perkirakan. Lulus sebagai insinyur peternakan pada tahun 1984, saya lalu bekerja di PT Bamaindo yang merupakan pabrik pakan di Sidoarjo dari tahun 1985-1992 sebagai TS kemudian naik menjadi Supervisor dan terakhir menduduki jabatan sebagai Marketing Manager.

Merasa cukup bekerja di perusahaan, saya kemudian memutuskan untuk usaha sendiri dengan membangun Rinjani PS di daerah Ciamis hingga kini.

 

Bagaimana Bapak membagi waktunya? 

Waktu bagi saya tidak masalah, tinggal bagaimana caranya kita bisa membagi waktu tersebut. Kegiatan yang paling banyak menyita waktu saya saat ini ada 3, yakni pertama usaha, anggota dewan, dan terakhir GOPAN. Untuk usaha yang sudah berjalan dan berada di Ciamis, saat ini dipegang oleh profesional, namun tetap saya harus mengawasi sekali waktu. Selain itu juga dibantu oleh anak saya yang pertama, sehingga tidak terlalu memberati saya.

Jadi sebenarnya tidak terlalu repotlah, sementara saat ini saya juga tinggal di Bandung, sehingga untuk mobilitas tidak terlalu sulit. Ketika harus menjadi anggota dewan Jawa Barat dan kemudian harus mengurusi GOPAN di Jakarta, itu mudahlah. Jakarta-Bandung cukup dekat kok.

Cuma memang agak bingung ketika kepentingannya bareng. Jika kepentingan bareng itu, dengan waktu yang bersamaan, saya harus bisa memutuskan dengan acara yang bersamaan ini dampaknya lebih besar mana. Kalau misal acara di GOPAN dampaknya lebih banyak, ya saya memilih untuk datang ke acara GOPAN. Kalau di dewan itu mungkin ada keterwakilan, karena dewan itu kan kolektif kolegial. Kalau urusan bisnis sebulan 2-3 kali kunjungan itu kan sudah cukup mewakili untuk pemantauan.

 

Apa rencana Bapak dalam memimpin GOPAN?

Jadi Alhamdulillah, ketika saya memimpin GOPAN ini sudah dalam keadaan baik. Ibarat bayi yang baru lahir, saya menerima kepengurusan ini dalam keadaan yang sudah bisa berjalan. Sudah bisa menulis dan mengenal abjad. Saya tinggal meneruskan. Tidak perlu dari nol karena periode sebelumnya sudah sangat bagus. Rencana ke depan tentunya penguatan di internal, bagaimana setiap anggota dapat merasakan ikut di GOPAN. Bukan berarti selama ini tidak ada, ada tetapi saya ingin lebih meningkatkan. Karena tantangannya sekarang sudah jauh berbeda. Jadi kami akan ada rapat rutin, kami juga akan rencanakan kunjungan ke beberapa anggota di daerah. Supaya tahu persoalan di daerah-daerah, mungkin persoalan di daerah itu berbeda dengan persoalan di pulau Jawa. Kita tahu sendiri BEP (Break Event Point) ayam di pulau Jawa dan di luar pulau Jawa pasti beda, jauh lebih mahal di luar pulau Jawa karena ongkos angkut dan lainnya.

Sebelum berbicara eksternal kita bicara internal dahulu. Untuk membangun kekompakan yang sudah dijalin sebelumnya agar menjadi lebih baik lagi. Organisasi di daerah juga harus berkembang, sehingga nanti akan kita data dan kita ajak bersama agar bisa satu suara. Ke depan, semoga GOPAN menjadi organisasi yang bisa mensejahterakan anggotanya, untuk itu kita akan memantapkan organisasinya dulu. Untuk memantapkan organisasinya, dibutuhkan orang-orang yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan dananya.

Selain itu, dengan program eksternal bagaimana caranya GOPAN dapat membina hubungan dengan semua organisasi khususnya organisasi terkait dalam bidangnya, misal ASOHI, GPMT, GPPU dan organisasi lain, terutama juga dapat membina komunikasi dengan pemerintah.

Memakmurkan peternak merupakan tujuan mulia kami, cuma yang terpenting bagaimana caranya. Memuliakan peternak itu merupakan meningkatkan pendapatan peternak, sehingga bagaimana peternak tidak rugi. Nah supaya tidak rugi itu bagaimana caranya? Beternak ayam itu kan masalahnya cuma 2 yang berkaitan dengan untung dan rugi, yaitu bibit DOC dan pakan. Kalau DOC dan pakan terkendali, insyaallah peternak pasti untung. Masalahnya di Indonesia itu kan DOC belum terkendali dengan baik, dalam hal jumlah dan harga. Pakan juga terkendali dengan baik, peternak pasti untung. Tetapi jangan lupa, kalau itu sudah selesai bukan berarti masalah selesai. Masih ada masalah lain, yaitu distribusi. Artinya distribusi itu antara peternak rakyat dengan peternak besar. Saat ini peternak rakyat hanya tinggal 20 persen saja, saya ingin ke depan bagaimana caranya bisa tercapai 60-70 persen kembali dipegang peternak rakyat, namun tanpa mengurangi eksistensi peternak besar.

 

Apakah ada saran dari GOPAN untuk pemerintah dan bagaimana menghadapi MEA?

Sudah banyak masukan dari kami untuk pemerintah. Kita hidup di suatu negara, tentunya tidak mungkin pula negara akan membiarkan rakyatnya bangkrut. Terkait dengan masukan-masukan melalui Direktorat Jenderal Peternakan, Kementerian Pertanian, sudah banyak yang kami berikan. Contohnya, kami berikan masukan bagaimana caranya peternak rakyat ini porsinya bisa ditambah, peternak besarnya mengalah. Kemudian kami juga bahkan memberikan masukan untuk membuat aturan yang jelas untuk perunggasan. Karena kami menganggap di Indonesia sampai detik ini tidak satu aturan pun yang mengatur perunggasan. Kami hanya menggunakan satu undang undang saja, yaitu UU No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan UU No.41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Itu sudah sering kami diskusi mengenai hal itu, bahkan hari kemarin (15/12) kami diskusi pula dengan KPPU tentang perunggasan, apa yang terjadi sekarang, kemarin dan harapannya yang akan datang.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) itu bukanlah suatu hal yang harus kita takuti. Sebenarnya untuk masalah teknologi, bukan jaminan suatu usaha bisa hidup atau tidak. Memang inefisiensi terjadi, tetapi jangan lupa juga dengan kandang yang berukuran kecil-kecil itu berarti resiko juga terbagi dengan banyak. Kita bandingkan saja dengan kandang populasi 2.000 sampai 3.000-an sebanyak 10 kandang, dibandingkan dengan 1 kandang yang berukuran besar langsung. Resikonya akan kecil yang populasinya sedikit.

Tapi masalah teknologi memang benar, dengan kandang terbuka tidak masalah. Kenapa harus kita berpikir untuk kandang tertutup, bukannya saya tidak berorientasi kandang tertutup, tapi jika dengan kandang terbuka saja sudah cukup kenapa tidak? Kalau semuanya menginginkan kandang tertutup, tentunya semua peternak rakyat butuh modal untuk memulai membuat kandang tersebut. Tapi lambat laun, tentunya kami akan mengarah ke kandang tertutup, seperti halnya saat ini adanya modifikasi kandang terbuka dengan adanya penambahan kipas angin, exhaust, dll.

Dan jangan lupa, peternak rakyat di Ciamis yang kecil-kecil itu menghidupi banyak orang. Daya ekonominya sangat luar biasa. Jumlah peternak di Ciamis sekitar 15.000-an peternak dengan populasi rata-rata 3.000-an. Sangat besar itu jika dikumpulkan.

 

Bagaimana perkembangan SPR perunggasan di Ciamis? 

Sentra Peternakan Rakyat (SPR) yang dicanangkan oleh Ditjen PKH, merupakan suatu program yang sangat bagus dan kebetulan program SPR itu sudah dikerjakan oleh Ciamis sekitar 70 persen dari program tersebut. Artinya program SPR yang ada merupakan program yang identik yang sudah dijalankan oleh peternak di Priangan Timur. Jadi Ciamis tinggal menyempurnakan, kalau ada persyaratan sampai 100 persen ternyata Ciamis sudah jalan sampai 70 persen.

Konsep yang dilakukan peternakan di Ciamis itu ternyata sama dan sebangun dengan konsep SPR, ada perbedaan sekitar 30 persen. Nah itulah yang nanti kami tambahkan menjadi SPR beneran. Dan konsep SPR tersebut sangat bagus. Sementara di Ciamis, konsep yang sudah jalan tidak pernah kami namai konsep tersebut. Dulu, kami pakai nama kemitraan tapi karena sekarang kemitraan dipakai namanya oleh perusahaan besar. Begitu kami ngomong kemitraan ayam, orang otaknya langsung perusahaan besar. Jadi kami tidak pakai nama kemitraan lagi.

 

Nama              : Ir. H. Herry Dermawan.

Alamat             : Jl. Siliwangi No.63 Ciamis.

Istri                 : Yuli Wardani

Anak               : 1. Bagus Sugiarto (28)

2. Rio Zulkarnaen (24)

3. Ayu Kartikasari (20)

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com