Selaraskan Dua Profesi Sekaligus

Peternakan Rakyat (SPR) yang di dalamnya ada Sekolah Peternakan Rakyat. Di mana di situ kami mempunyai misi mencerdaskan peternak-peternak sejati yang mereka memang senang beternak tetapi ilmu pengetahuan dan teknologinya masih kurang dikuasai. Dengan background saya sebagai seorang akademisi, kami tahu akan adanya perbedaan itu, adanya jarak antara realitas lapangan dan kemampuan perguruan tinggi. Nah, di sinilah kami memberikan pengetahuan ini ke mereka dengan program SPR ini.

 

Apa yang mendasari munculnya SPR dan sejak kapan muncul ide ini?

 

Karena selama ini saya melihat bahwa peternak sebagai objek pembangunan, tetapi kita tidak pernah berbicara dengan peternak untuk membangun. Saat inilah yang sedang saya lakukan dengan peternak, yakni berbicara dengan peternak untuk membangun peternakan.

Konsep SPR ini muncul sejak akhir tahun 2012. Saya sudah mulai memikirkan untuk pembenahan peternakan ini. Di mana tentunya melalui proses panjang, sampai akhirnya saya memiliki konsep konsolidasi peternak itu setelah saya menggeluti kondisi peternak kecil hampir lebih dari 13 tahun.

Setelah melalui waktu yang panjang tersebut, saya berfikir bahwa ini semua tidak bisa dibiarkan begitu saja, di mana peternak disuruh beternak sendiri-sendiri. Harus bisa kolektif, harus ada minimum jumlah yang dipelihara. Dan harus dikelola seperti bisnis perusahaan-perusahaan besar. Bedanya dengan perusahaan, peternakan ini dikelola secara kolektif. Kalau tidak dijalankan seperti itu, sampai kapan pun tidak akan memiliki posisi tawar. Peternak-peternak kecil tersebut akan lebih banyak dikerjain orang.

Oleh karena itu, pikiran saya sejak awal, waktu itu belum saya beri nama SPR. Tapi pikiran awal saya ialah, bagaimana mereka itu bisa berbisnis kolektif secara profesional. Makanya saya banyak belajar ilmu manajemen dan bisnis di IPB. Di mana saya mengamati betul akan pola dan kinerja yang ada selama ini, cuma bedanya dengan yang saya terapkan di peternakan ini ialah dikelola secara kolektif.

Oleh karena itu, yang saya ajak benar-benar peternak kecil yang hanya memiliki 2 atau 3 ekor. Karena kebanyakan mereka semua tidak mengerti akan bagaimana cara berbisnis dengan baik dan membudidayakan ternak.

 

Jadi konsep SPR ini yang membuat Bapak terpilih menjadi Dirjen PKH?

Ya mungkin saja, karena waktu itu saya presentasikan terus mungkin dapat nilai bagus. Akhirnya secara lelang saya menang. Saya tidak tahu nilai apalagi yang dinilai dari saya ketika proses lelang jabatan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

 

Selain SPR, konsep apa lagi yang ingin Bapak kerjakan?

 

Selain konsep SPR yang sedang saya jalankan, berikutnya ialah menata industri peternakan. Jika SPR tadi merupakan konteks yang kecil, sementara yang ini di industrinya. Berbarengan dengan yang kecil tadi dikuatkan, nah yang besar-besar ini juga harus ditata untuk bisa bersaing. Jadi yang besar ini harus mulai berfikir ekspor, jika berfikir ekspor berarti mereka berfikir daya saing. Kalau berfikir daya saing, mereka mulai memikirkan inputnya harus rendah dan outputnya harus tinggi. Nah semua pikiran mengenai efisien-efisien harus ada di situ.

Sehingga dari situ, mereka akan tahu kendala apa saja yang membuat efisiensi kita itu rendah. Pikiran seperti ini harus dibuka, supaya semua orang sadar. Ketika kita bisa ekspor, otomatis kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga murah, sudah pasti itu.

Jadi kalau kita pikirannya hanya memenuhi dalam negeri, kita akan ketakutan terus kalau diserang. Tetapi jika kita sudah memikirkan ekspor, insyaallah di dalam negeri juga akan kepenuhan dengan harga yang bersaing. Nah, saya mulai mengajak ke sana. Bahwa itu bisa atau tidak, mari kita sama-sama bekerja. Dicoba dulu, semuanya. Baik itu untuk industri sapi maupun unggas, sama polanya. Harus bisa, cara dan strategi seperti apa yang akan dilakukan. Tapi yang jelas menekan input dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas, membesarkan output sehingga bisa bersaing di luar.

Nah itu nanti ada hubungannya antara yang kecil dan besar bisa bermitra seperti apa, karena yang kecil tadi sudah konsolidasi melalui SPR dan kompak sehingga memungkinkan berkolaborasi dengan yang besar. Karena jaminan keberlanjutannya ada, bisnisnya pun juga bisa jalan karena sudah besar dengan minimum kepemilikan jumlah ternak.

 

Apakah konsep SPR ini sama dengan pola kemitraan?

 

Sangatlah berbeda antara konsep SPR dengan pola kemitraan. Jika pola kemitraan, antara yang punya uang, modal, teknologi kepada orang yang hanya punya tenaga. Memang ada positif dan negatifnya, tetapi dari sisi bisnis akan tercipta “jadi kuli di negeri sendiri”. Nah kami tidak ingin seperti itu, yang kami inginkan dari inti plasma menjadi sama-sama mitra. Betul-betul bermitra, jika mereka berhimpun yang tadinya sendiri-sendiri menjadi kelompok. Membuat mereka memiliki posisi tawar, karena mereka sudah kompak. Tapi kalau sendiri-sendiri, mau menawar untuk mendapatkan yang bagus saja belum tentu bisa.

Jadi beda, SPR dengan inti-plasma itu berbeda. Harapan saya kalau SPR ini jalan, inti-plasma akan tutup karena mereka merasa punya kemandirian dan kedaulatan untuk menentukan diri sendiri.

 

Seperti apa perkembangan SPR saat ini?

 

Kalau mengatakan perkembangan SPR seperti apa, lebih ke arah bagaimana cara berfikir. Fisik itu nomor 2 setelah itu. Tapi cara berfikir ini yang dari waktu ke waktu mulai berbeda. Jaringan mulai luas, pihak yang tertarik untuk peduli juga semakin bertambah.

Seperti halnya yang telah berjalan di Bojonegoro, tadinya mereka sendiri-sendiri dengan mengandangkan sapi mereka sendiri. Namun setelah ikut SPR hampir 2 tahun, di situ banyak dosen, mahasiswa pula banyak yang berinteraksi. Mereka melihat sendiri apa yang dilakukan mahasiswa. Membuat mereka para peternak sadar dan tahu bahwa perlunya mereka mengelompokkan sapinya. Karena untuk mendapatkan kotoran yang lebih banyak, sehingga dapat pula menghasilkan gas bio yang lebih banyak. Mereka membuat kandang koloni dengan bantuan dari dinas setempat yang tidak penuh. Sementara untuk kekurangannya mereka iuran masing-masing. Mereka bangun kandang bersama, tenaga dari mereka pula, sehingga mereka itu mau mendirikan dengan pengorbanan juga. Karena mereka merasa kepemilikan bersama, sehingga mereka berfikir untuk menjaganya dan membangunnya bersama. Seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Yang saya maksud ya seperti ini, ada perubahan pola pikir.

 

Apakah Bapak masih mengajar di tengah kesibukan sebagai Dirjen?

 

Saya masih tetap mengajar di kampus, karena memang saya diberi kesempatan setiap hari Sabtu untuk tetap mengajar. Dan itu merupakan hiburan bagi saya. Karena jika menjalani rutinitas sebagai Dirjen, saya harus banyak menerima keluhan orang, curhat, minta saran dan memberi saran. Semuanya ingin mengeluarkan uneg-unegnya, dan saya harus banyak mendengar. Nah, obat satu-satunya giliran saya untuk berbicara yakni dengan mengajar. Sabtu itulah saya mengajar selama 2 jam untuk bisa berbicara terus, dengan mengajarkan “Kebijakan dan Strategi Peternakan” di kampus Baranangsiang. Jadi bukan suatu beban bagi saya, melainkan hiburan yang menyenangkan. Jadi pas, yang saya ajarkan ialah tentang kebijakan. Kebetulan juga saya seorang Dirjen, sehingga tinggal menerapkan saja, memberikan informasi terkini, perkembangan di peternakan kepada mahasiswa.

 

Jika harus memilih, pekerjaan mana yang Bapak pilih?

 

Menjadi seorang Dirjen tentunya lebih bermanfaat kepada banyak orang daripada menjadi dosen. Sementara dosen, hanya memberikan ilmu sementara ilmunya dipakai atau tidak itu tidak peduli dan tidak berdampak banyak terhadap perubahan. Sementara kalau Dirjen, dampaknya sangatlah besar. Namun, jika dilihat dari kenyamanannya dan hidup tenang tentulah profesi seorang dosen sangatlah nyaman. Karena tidak ada resiko sama sekali.

Dan saat ini saya belum cukup merasa puas akan pekerjaan saya ini, karena memang belum berhasil. Mengompakkan para pelaku peternakan saja saya belum bisa. Bagaimana membuat semua orang kompak, taat sama aturan, semua benar-benar demi nasional untuk dapat membangun negeri, itu belum bisa. Dan itu memang tidak mudah, semoga saja saya bisa berhasil.

 

Apa kesibukan Bapak di luar pekerjaan?

 

Sekarang ini hampir tidak ada, semua untuk di kantor Ditjen PKH ini. Pulang langsung istirahat, mau renang tidak bisa, apalagi tenis juga tidak bisa. Ya betul-betul habis untuk bertemu dengan orang. Jadi hobi saya ya bertemu dengan orang, berorganisasi dan bekerja. Aulia.

 

Curriculum Vitae :

 

Nama                           : Dr. Ir. Muladno, MSA.,

Istri                              : Alm. Dr. Ir. Sri Sulandari Muladno

Anak                           : 1. Ausie Andri (25)

                                      2. Endi Muladno (17)

Alamat Rumah            : Tanah Baru F1 No.16, RT 005 RW IX, Kelurahan Tanah Baru, Bogor.

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com