Stabilisasi Harga Pakan lewat PLB Dipertimbangkan

Para pembicara dalam diskusi yang berlangsung di Kementerian Pertanian, Senin (13/3). 

POULTRY INDONESIA-- Pusat Logistik Berikat (PLB), yang berada di bawah naungan Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dianggap mampu menstabilkan harga pakan dan daging.

Fasilitas PLB dinilai efektif dalam mengurangi biaya dwelling time bahan pakan hasil impor. Dengan begitu, importir dapat menekan biaya proses angkut barang dari luar menuju dalam negeri.

Asumsi tersebut kemudian dibahas lebih lanjut di Gedung C Kementerian Pertanian, yang dihadiri oleh beberapa pihak terkait. Pada diskusi itu, terdapat Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Perwakilan Ditjen Bea Cukai, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta Sekdir Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Diskusi itu mengarah pada kemungkinan pebisnis di dunia perunggasan, untuk mengoptimalkan peran PLB.

Pada acara yang berlangsung pada Senin (13/3) tersebut, Ketua GPMT Desianto B. Utomo mengatakan, bahwa sekitar 65 persen dari pakan ternak, digunakan untuk unggas.

Karenanya, jika biaya pakan bisa ditekan, maka akan berdampak pada harga daging yang ideal. “Salah satunya, kita coba dengan mengurangi dwelling time tersebut,” kata Desianto.

Senada dengan Desianto, Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan Kemenko Bidang Perekonomian, Jafi Alzagladi, juga menganggap ini sebuah langkah yang patut dicoba. Tentu, dengan segala pertimbangan yang harus sudah matang.

“Kita harus melakukan akselerasi untuk mengatasi disparitas harga. Panjangnya supply chain memang berpengaruh. Biaya transportasi perlu diminimalisasi,” jelas dia.

Sementara itu, Sekdir Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Nasrullah, mengatakan, bahwa seluruh pihak yang terkait dalam bisnis perunggasan, perlu bahu-membahu menciptakan harga yang stabil. Karena, salah satu faktor gagalnya upaya ekspor daging dari Indonesia, adalah ketidakcocokan harga dengan negara yang dituju.

“Bagaimanapun, pengeluaran untuk pakan perlu diturunkan,” ujarnya. Dia juga mengingatkan untuk memberdayakan hasil panen lokal untuk pakan. Jangan mengandalkan impor jagung.

Sinergi antara Bea Cukai, Kementan, Kemenko Bidang Perekonomian, serta GPMT, dipandang sebagai peluang yang baik oleh Kepala Seksi PLB Direktorat Fasilitas Kepabeanan, Dorothea Sigit. Menurutnya, dwelling time dapat dipangkas secara signifikan dengan adanya PLB. Sehingga, biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pakan tidak membubung tinggi.

“Barang bisa langsung dibongkar, kemudian dibawa ke PLB, lalu diambil nantinya oleh konsumen,” katanya. Selain itu, menurut Sigit, PLB bisa mencatat barang masuk, mengontrol stok nasional, serta bisa menampung produk dalam negeri.

Namun, saat diskusi, ada beberapa audiens yang masih menyangsikan pemanfaatan PLB dalam urusan pakan ternak. Pasalnya, belum diatur toleransi untuk penambahan berat barang yang ditimbun di dalam PLB. Karena, jika berat barang lebih banyak daripada data yang tertulis, akan dikenakan biaya tambahan.

Sementara, bahan pakan yang diimpor bisa saja mengalami penambahan berat secara alami. Selain itu, jika terdapat kekurangan muatan, PLB cenderung tidak bertanggung jawab.

Namun, diskusi tersebut pun mengarah pada beberapa poin. Pertama, bahwa harga daging ayam tergantung pada kondisi hulu, termasuk urusan pasokan bahan pakan. Kedua, toleransi berat dan jenis barang perlu lebih dipertimbangkan. Ketiga, Permentan soal karantina harus terus dimatangkan, dan, terakhir, diharapkan dengan optimalisasi PLB, proses dwelling time dapat dipangkas sesingkat mungkin. 

 

- Adam -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com