Swollen Head Syndrome pada Unggas

POULTRY INDONESIA--MALANG Distribusi penyakit saluran pernapasan di area peternakan unggas hingga kini tak kunjung padam. Beberapa faktor seperti lingkungan, status antibodi host dan peran biosecurity memiliki cukup andil dalam manifestasi terjangkitnya penyakit. Salah satu penyakit pernapasan yang cukup membuat resah karena menyumbang angka kesakitan 1%-100% walaupun angka kematiannya hanya 1%-5%, yaitu Swollen Head Syndrome (SHS) atau si penyakit sombong “Besar Kepala” pada unggas.

SHS pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan menyerang saluran pernapasan bagian atas kalkun. Penyakit ini terdiri dari grup A dan grup B yang keduanya mampu menyerang ayam dan kalkun. Penyakit dengan gejala kepala membesar dan bengkak pada wajah ini disebabkan oleh Avian Pneumovirus (APV). Biasanya SHS menyerang layer di masa mencapai puncak produksi sekitar 8 – 12 minggu sehingga penurunan produksi telur dapat mencapai 30% tanpa memperlihatkan perubahan bentuk dan kualitas telur.

Kematian dari ayam petelur yang terserang SHS sangat rendah, berkisar 0,1% – 0,5%, namun kerugian ekonomis yang cukup tinggi disebabkan oleh adanya gangguan produksi telur antara 5 – 30%. Sedangkan pada broiler infeksi terjadi di umur 3 – 4 minggu atau menjelang panen. SHS diketahui memiliki kesamaan dengan penyakit IBD yaitu bersifat imunosupresif. Dimana penyakit pernapasan yang bersifat imunosupresif akan memicu timbulnya infeksi pernapasan yang disebabkan oleh mikroorganisme lainnya sehingga tingkat kesakitannya semakin kompleks.

Pola kejadian SHS di lapangan mayoritas sifatnya musiman dan sering sekali terjadi pada area peternakan yang kurang baik dalam managemen pemeliharaan dan lingkungan kandang. Namun belakangan ini angka kejadia SHS makin meninggi baik pada peternakan komersial broiler maupun layer serta breeding farm. Penyebab utamanya adalah tingginya kadar ammonia dalam kandang dikarenakan beberapa faktor diantaranya lingkungan kandang yang kurang bersih terutama kandang yang dengan sistem litter, sirkulasi udara (ventilasi) yang kurang baik dan populasi kandang ternak yang terlalu padat.

Penularan penyakit ini dapat terjadi baik secara direct maupun indirect. Secara langsung, SHS ditularkan melalui sekresi hidung dan trakea dari unggas sakit ke unggas sehat (hewan peka) dengan status antibodi yang mulai menurun. Secara tidak langsung, SHS ditularkan melalui kelengkapan kandang, petugas atau anak kandang, pakan dan minum yang tercemar oleh virus tersebut.

Pada awal infeksi, ayam terlihat matanya berair, kemudian bersin-bersin. Selanjutnya mata ayam tertutup dan 1/3 leher bagian atas terasa tertarik karena terjadi dislokasi. Pada kondisi advance, muncul gejala yang disebut “head rolling”. Virus penyebab SHS ini berkembang biak pada alat respirasi bagian atas, terutama lapisan epitel bersilia pada trakhea . Seperti diketahui, silia-silia tersebut berfungsi sebagai alat penghambat atau pencegah infeksi bakteri atau virus sekunder lain. Infeksi ikutan ini mengakibatkan isolasi virus penyebab SHS agak sulit dilakukan,di samping gejala klinisnya mirip dengan coryza.

 Perbedaan gejala klinis antara coryza dan SHS terletak pada area terjadinya kebengkakan karena akumulasi cairan. Pada coryza, daerah pembengkakan terjadi pada area sinus infraorbitalis. Sedangkan pada kasus SHS, terjadi pembengkakan bahkan pengkejuan pada area facialis (intramandibular, intrakutan dan intrasinovial), dorsal kepala dan pial. Selain itu, akumulasi cairan pada kasus coryza berbau anyir atau amis, sedangkan pada SHS cairan tidak berbau.

Pembengkakan akibat SHS terjadi ketika sudah ada investasi dari bakteri. Mayoritas bakteri yang bertindak sebagai infeksi sekunder kasus SHS adalah E.coli. Golongan bakteri lainnya yg tururt berperan dalam angka kesakitan penyakit ini diantaranya, Haemophillus , Mycoplasma dan Pasteurella. Bila dilakukan bedah bangkai maka akan ditemukan kemerahan di daerah kranum kepala (hiperemi) dan 1/3 bagian atas paru-paru sebagai akibat tekanan dari akumulasi cairan.

Pada kasus infeksi virus, pengobatan hanya digunakan untuk mengobati infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri. Preparat sulfa dan oksitetrasiklin kerap digunakan dalam pengobatan penyakit SHS. Berbagai imunostimulan juga dapat digunakan dalam menginduksi sistem imun. Pencegahan dilakukan dengan program vaksinasi menggunakan vaksin aktif dan diulang dengan vaksin inaktif.

Ayam broiler yang dipelihara pada daerah resiko tinggi dan sering terjadi infeksi virus SHS perlu dipertimbangkan untuk dilakukan vaksinasi dengan vaksin aktif pada umur antara 4-14 hari melalui tetes mulut atau lewat air minum yang diberi susu skim, tergantung situasi dan kondisi  lingkungan di masing-masing peternakan. Vaksinasi SHS pada ayam petelur menggunakan vaksin aktif pada umur 8-12 minggu dan di-booster pada umur 17-18 minggu.

Vaksinasi SHS untuk breeding farm dilakukan dengan memberikan vaksin aktif pada umur 8-12 minggu dan diulangi pada umur16-18 minggu atau 4 minggu sebelum periode awal produksi. Di samping uji serum netralisasi atau imunofluoresen yang dapat digunakan pada uji serologik utmtuk memantau status antibodi unggas. Di samping langkah-langkah vaksinasi tersebut, para peternak juga perlu melakukan pencegahan secara internal seperti memperbaiki sanitasi kandang, sirkulasi udara dan mengatur distribusi ternaknya agar dalam satu kandang kepadatannya tidak terlalu tinggi.

- drh.Febry Kusumaning E.S.M.Vet., -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com