Tekan Aflatoksin pada Jagung dengan Limbah Cucian Kefir

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi datangnya penyakit yang merugikan di sektor agrobisnis. Dalam budi daya jagung, penyebaran aflatoksin ternyata bisa diminimalisasi dengan biokontrol asal limbah cucian kefir.

 

Oleh Pusporini, Haeruman Alamsyah, Tri Laras Wigati, Mia Rahmawati

 

POULTRY INDONESIA - Potensi sektor perunggasan sangat besar untuk dikembangkan mengingat pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan pangan hewani asal ternak. Daging dan telur unggas masih dijadikan andalan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional karena harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan komoditas daging ternak besar.

Hal inilah yang menyebabkan industri peternakan unggas di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data dari Direktorat Jenderal Peternakan tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan populasi ayam ras pedaging rata-rata sebesar 3,76 persen setiap tahun. Sementara, untuk populasi ayam ras petelur mengalami peningkatan sekitar 4,03 persen setiap tahunnya. Sementara, populasi ayam buras dan jenis unggas lainnya juga meningkat.

Peningkatan industri perunggasan di Indonesia juga diikuti dengan peningkatan jumlah kebutuhan pakan ternak. Hal tersebut merupakan dampak yang pasti terjadi mengingat pakan merupakan investasi terbesar dalam keberhasilan suatu usaha peternakan. Menurut Dewanti dan Sihombing dalam jurnal Buletin Peternakan Volume 36 Nomor 1 (2012), biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pakan mencapai 76,16 persen dalam usaha peternakan ayam buras.

Pakan yang berkualitas baik diperoleh dari bahan pakan yang baik pula kualitasnya. Rendahnya kualitas bahan pakan akan berdampak pada rendahnya performa ternak yang dihasilkan. Hal ini sudah tentu berakibat pada penurunan pendapatan peternak.

Belum lagi risiko penurunan kesehatan ternak akibat kontaminasi mikroba patogen dalam bahan pakan sehingga menyebabkan peternak harus mengeluarkan biaya obat-obatan yang lebih besar. Oleh karena itu, produsen pakan ternak maupun peternak harus dapat menekan resiko kerusakan pakan atau bahan pakan agar kualitasnya tetap terjaga.

Salah satu bahan pakan ternak unggas yang masih menjadi andalan ialah biji-bijian, terutama jagung. Sampai sekarang jagung masih menjadi komponen terbesar dalam pakan ayam ras yang belum tergantikan. Jagung merupakan sumber energi dan penyusun utama dalam campuran pakan untuk ayam pedaging (50 pesen dalam ransum), juga digunakan sebagai sumber energi dalam pakan konsentrat untuk ternak non ruminansia lainnya seperti babi dan di negara Amerika sebagai bahan pakan ruminansia (Cooke et al, 2008 dalam Umiyasih dan Wina, 2008).

Daliani dan Ramon (2006) menyatakan bahwa ternak unggas terutama ayam ras pedaging sangat menyukai jagung, karena jagung selain kandungan nutrusinya sangat dibutuhkan ternak ayam juga memberi keuntungan lain terhadap penampakan warna pakan yang menjadi kekuning-kuningan.

Selain itu jagung mengandung xanthopfil yang merupakan zat pemberi pigmen warna kuning dibagian kaki dan kulit pada ayam ras pedaging. Mengingat kebutuhannya yang cukup tinggi dalam industri perunggasan, maka kualitas jagung sebagai bahan pakan sangat penting untuk diperhatikan. Berikut ini nilai nutrisi yang ada pada jagung:

Kualitas jagung di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim yang ada. Iklim Indonesia cenderung tropis dengan kelembapan udara cukup tinggi. Suhu udara rata-rata tiap tahun sekitar 27-28 derajat celsius dengan kelembapan udara sekitar 84 persen (sumber: www.bps.co.id, 2015). Kondisi suhu dan kelembapan yang demikian menyebabkan risiko jagung mengalami kerusakan menjadi lebih tinggi, terutama kerusakan akibat investasi kapang atau jamur.

Kapang yang sering menjadi penyebab penurunan kualitas jagung di Indonesia dan negara tropis lainnya ialah kapang Aspergillus flavus. Kapang Aspergillus flavus dapat tumbuh optimal pada rentang suhu 20-30 derajat celsius dengan kelembapan optimal 80 persen (Mizana dkk., 2016). Kapang Aspergillus flavus dapat menginfeksi tanaman jagung mulai dari lahan hingga penanganan pascapanen.

Kapang Aspergillus flavus memiliki berbagai dampak merugikan bagi ternak, peternak, hingga konsumen. Kapang Aspergillus flavus menghasilkan metabolit berupa aflatoksin. Kontaminasi aflatoksin mulai terjadi pada suhu 26,30 derajat celsius, dan kandungan aflatoksin terus meningkat sejalan dengan peningkatan suhu hingga mencapai 31,20 derajat celsius (Kasno, 2004).

Keberadaan aflatoksin dalam pakan tenak dapat menyebabkan pertumbuhan yang terhambat dan kerusakan pada organ hati, karena aflatoksin bersifat hepatotoksik dan karsinogenik, serta menjadi penyebab terjadinya aflatoksikosis.

Dampak penumpukan aflatoksin di dalam tubuh ternak dapat menyebabkan penurunan sistem imun sehingga berdampak pada penurunan produksi daging maupun telur. Dampak tersebut sudah tentu merugikan bagi peternak karena akan menyebabkan peningkatan biaya produksi dan penurunan pendapatan.

Infestasi aflatoksin tidak hanya berhenti di dalam tubuh ternak, namun akan menjadi residu di dalam produk yang dihasilkan, baik berupa telur, daging, maupun susu. Widiastuti (2014) menyebutkan bahwa keberadaan residu aflatoksin pada produk ternak dan produk olahannya perlu mendapat perhatian yang serius karena keberadaannya akan bermuara pada manusia.

Penanganan yang dapat dilakukan untuk mencegah kontaminasi aflatoksin pada bahan pakan, terutama jagung, ialah dengan menekan pertumbuhan kapang Aspergillus flavus. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memanfaatkan mikroorganisme kompetitor bagi kapang Aspergillus flavus ataupun dengan cara menciptakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan kapang tersebut.

Mikroorganisme yang sering dimanfaatkan ialah jenis dari Bakteri Asam Laktat (BAL). BAL tersebut dapat diperoleh dari starter berbagai minuman fermentasi misalnya yogurt dan kefir. Namun belum banyak yang memanfaatkan air limbah cucian kefir sebagai salah satu sumber BAL.

Air limbah cucian kefir dihasilkan dari pencucian biji kefir setelah digunakan. Biji kefir berbentuk menyerupai gumpalan putih-kekuningan dengan ukuran diameter sekitar 0,3-3,5 sentimeter (Plesass et al., 2017). Biji kefir (grain kefir) merupakan gugus polisakarida, yang disebut kefiran, yang tersusun dari beberapa jenis mikroorganisme menguntungkan dari jenis bakteri, yeast, dan fungi.

Plessas et al. (2017) menyebutkan bahwa berbagai mikroorganisme dalam biji kefir membentuk hubungan sinbiotik yang terdiri dari yeast (Kluyveromyces, Candida, Saccharomyces dan Pichia), bakteri asam laktat (LactobacillusLactococcusLeuconostocStreptococcus) dan juga bakteri asetat.

Selama inkubasi dalam pembuatan kefir, biji kefir direndam dalam susu selama 6-8 jam, lalu biji kefir ditiriskan. Dari proses tersebut, pada biji kefir akan tersisa sedikit nutrien susu berupa laktosa, protein, lemak, dan lainnya. Oleh karena itu, biji kefir perlu dibersihkan (dicuci) dengan air matang yang dingin.

Dari proses inilah dihasilkan limbah air cucian kefir yang masih mengandung mikroorganisme biji kefir (BAL, yest, dan bakteri asetat). Kandungan mikroorganisme dalam limbah cucian biji kefir inilah yang potensial digunakan sebagai agen biokontrol untuk menekan pertumbuhan kapang Aspergillus flavus.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan jagung pipilan yang terkontaminasi kapang Aspergillus flavus, yang diperoleh dari pasar tradisional di wilayah Purwokerto, Jawa Tengah. Kontaminasi kapang Aspergillus flavus dapat diamati dengan kasat mata yang ditandai dengan adanya bubuk berwarna abu-abu kehijauan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan limbah cucian biji kefir mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus flavus yang dilihat dari besarnya nilai asam lemak bebas (Free Fatty Acid/ FFA) dan kadar aflatoksin.

Perlakuan yang diberikan terdiri dari dua faktor, yaitu konsentrasi limbah cucian biji kefir yang diberikan (0, 25, 50, 75, 100 persen) dan lamanya penyimpanan (0, 1, 2, 3, 4 minggu). Sampel jagung diambil sebanyak 300 gram untuk masing-masing kombinasi perlakuan, disemprot dengan 30 mili liter larutan limbah cucian biji kefir. Selanjutnya dilakukan pengeringan jagung dengan cara dioven pada suhu 60 derajat celsius selama 2x24 jam untuk mengurangi kadar air bebas pada jagung setelah penyemprotan.

Kadar air jagung yang disimpan dalam penelitian ini rata-rata sebesar 10-11 persen, hal tersebut untuk menghindari pertumbuhan kapang. Menurut Food and Agriculture Organization (2001) jagung pipil kuning dengan kadar air

Besarnya kadar FFA jagung dan bahan lainnya sangat dipengaruhi oleh tingkat kerusakan kandungan lemak di dalamnya. Semakin tinggi kandungan kapang Aspergillus flavus dalam suatu bahan, maka tingkat kerusakan lemak bahan juga semakin tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh kemampuan kapang menghasilkan enzim lipase yang akan memecah lemak menjadi asam-asam lemak dan trigliserida.

Pada penelitian ini diketahui bahwa kandungan FFA tertinggi diperoleh pada konsentrasi limbah cucian biji kefir 100 persen yang disimpan selama 2 minggu. Namun, data yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi limbah cucian biji kefir yang diberikan. Pasalnya, limbah cucian biji kefir yang disemprotkan pada permukaan jagung bersifat asam, sehingga pada saat pengukuran kadar FFA, kandungan asam laktat akan terhitung sebagai asam lemak bebas. Hal tersebut yang menyebabkan kadar FFA jagung sudah berbeda-beda sejak lama penyimpanan 0 minggu.

Indikator lain tingkat pencemaran kapang Aspergillus flavus pada jagung dan bahan pakan ialah dari kadar aflatoksinnya. Hasil analisis kadar aflatoksin yang dilakukan menunjukan data sebagai berikut:

Kode

B1

B2

G1

G2

Total

Keterangan

K0L1

3,75

4,17

3,55

6,86

18,33

K0L1: LC 0% disimpan selama 1 minggu

K0L4

5,80

8,88

6,70

15,40

36,78

K0L4: LC 0% disimpan selama 4 minggu

K1L1

4,04

3,85

5,75

6,90

20,54

K1L1: LC 25% disimpan selama 1 minggu

K1L4

8,80

10,70

10,05

19,45

49,00

K1L4: LC 25% disimpan selama 4 minggu

K4L1

3,55

3,15

6,80

4,11

17,61

K4L1: LC 100% disimpan selama 1 minggu

K4L4

15,66

9,90

6,75

10,25

42,56

K4L4: LC 100% disimpan selama 4 minggu

Sumber: Laboratorium Bahan Pakan, IPB (2017)

Penggunaan limbah cucian biji kefir terbukti mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus flavus pada jagung selama penyimpanan, dengan hasil terbaik dicapai dari konsentrasi limbah cucian biji kefir 100 persen yang disimpan selama 1 minggu.

Limbah cucian kefir yang masih mengandung BAL, yeast, dan bakteri asetat menghasilkan asam laktat yang menyebabkan pH jagung selama penyimpanan menjadi turun di bawah pH optimum untuk pertumbuhan kapang Aspergillus flavus. Adapun pH optimum pertumbuhan Aspergillus flavus ialah 6, sementara dengan adanya penyemprotan limbah cucian biji kefir, pH penyimpanan bisa mencapai 4-4,5.

Mekanisme menguntungkan tersebut dapat dipertahankan hingga penyimpanan selama 1 minggu, selebihnya kadar aflatoksin meningkat. Hal tersebut karena mikroorganisme dalam limbah cucian biji kefir hanya menempel pada bagian permukaan biji jagung dan hanya memiliki sumber nutrisi (laktosa) dari sisa pembuatan kefir. Sehingga pada minggu selanjutnya mikroba limbah cucian biji kefir mengalami fase death dan tidak menghasilkan asam laktat.

Pada saat itulah kapang Aspergillus flavus kembali tumbuh sehingga kadar aflatoksin pada jagung meningkat pada penyimpanan di minggu selanjutnya.

Berdasarkan analisis kadar aflatoksin dapat diketahui bahwa jagung yang digunakan sebagai sampel tidak hanya terinfeksi kapang Aspergillus flavus, namun juga terinfeksi Aspergillus parasiticus. Hal tersebut ditandai dengan kemunculan aflatoksin tipe G1 dan G2.

Menurut Widiastuti (2014), Aspergillus flavus hanya menghasilkan aflatoksin B1 dan B2, sedangkan A. parasiticus menghasilkan keempat jenis AF utama (AFB1, AFB2, AFG1 dan AFG2). Keempat jenis aflatoksin tersebut memiliki sifat-sifat karsinogenik yang hampir sama.

Kandungan aflatoksin dari hasil penelitian ini masih berada di bawah standar maksimum untuk pakan ayam broiler dan petelur. Standar Nasional Indonesia tentang pakan No.01-3930-1995 dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) serta Keputusan Presiden (Keppres) No. 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan Standar Nasional, PP dan Keppres menyebutkan bahwa standar maksimum aflatoksin untuk pakan itik petelur 20 ppb, ayam pedaging dan petelur 50 ppb, babi 50 ppb, konsentrat ayam pedaging dan petelur 50 ppb dan konsentrat sapi perah maupun sapi potong 200 ppb.

Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa limbah cucian biji kefir mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus flavus pada jagung selama penyimpanan.

Namun, masih perlu dilakukan penelitian juga pada jagung yang belum terinfeksi agar dapat diketahui daya tahan limbah cucian biji kefir dalam mencegah pertumbuhan kapang Aspergillus flavus sehingga nantinya dapat diformulasikan larutan biokontrol yang tepat dan mudah diaplikasikan oleh petani jagung maupun peternak.

 

Periset adalah mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

 

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com