Tetaskan Saja Sendiri

Bisa mempersiapkan bibit unggas yang akan diternakkan, merupakan harapan bagi beberapa peternak. Mesin tetas merupakan teknologi yang bisa penuhi harapan itu dan teknologi ini terus berkembang. 

Peternak terancam rugi menjadi topik yang sering dibahas di media cetak maupun online dan kondisi ini menjadi perbincangan “hangat” antara peternak dengan pemerintah. Menurut peternak bahwa selain harga pakan dan daya beli masyarakat mulai rendah akibat dolar terus meningkat, ancaman “gulung tikar” ini diakibatkan oleh berbagai faktor di antaranya harga pokok produksi (HPP) peternakan sebut saja bibit unggas seperti bibit ayam (DOC), bibit itik (DOD) dan bibit puyuh (DOQ) yang ingin dipelihara terus mahal dan peternak berharap pemerintah bisa memperbaiki kondisi ini.

 

Perlu solusi

Bencana ini harus dilalui, namun juga harus diantisipasi. Para pakar bisnis sering memberikan solusi untuk mengatasi keterpurukan ini dengan melakukan inovasi dan meningkatkan kreativitas. Solusi ini juga berlaku di sektor peternakan, salah satunya menghasilkan bibit sendiri dengan cara penetasan. Penggunaan mesin tetas sejatinya dapat meningkatkan keuntungan peternak. Ini merupakan penggalan kalimat yang bisa kita baca pada halaman pertama dari buku yang berjudul “Membuat Sendiri Mesin Tetas Praktis” karya Abdul Wakhid. Menurut pria yang aktif dalam mengembangkan peternakan itik ini, bahwa dalam usaha peternakan, penetasan telur merupakan hal penting dalam kelangsungan usaha.

Namun banyak anggapan dari peternak bahwa mesin tetas masih mahal dan sulit dibuat. Kenyataannya, modal membuat sendiri satu unit mesin tetas tidak lebih dari Rp.1 juta dan proses pembuatan mesin tetas mudah dan cepat. “Mesin tetas praktis berskala rumah tangga ini cocok digunakan untuk menetaskan berbagai jenis telur, seperti telur itik, ayam kampung, ayam ras hingga puyuh, dengan tingkat keberhasilan hingga delapan puluh persen,” jelasnya.

Untuk membantu peternak dalam membuat mesin tetas, penulis yang berdomisili di desa Karanganyar, Kecamatan Pangurangan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ini juga menjelaskan tahapan dalam membuat mesin tetas praktis, mulai memilih sumber panas, mengontrol suhu dan kelembaban, membuat wadah telur, ruang penetasan, membuat konstruksi mesin tetas, menyiapkan teropong telur hingga cara mengoperasikannya. Selain itu, buku setebal 78 halaman ini juga dilengkapi dengan tips perlakuan selama penetasan dan dan trik mengantisipasi kegagalan saat proses penetasan.

 

Praktis

Terlepas dari informasi teknis, buku yang dicetak pertama kali pada tahun 2014 dengan ukuran 15 cm x 23 cm ini juga menjelaskan tentang analisis usaha penetasan telur. Menurutnya, pebisnis penetasan telur relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pebisnis pembesaran unggas. “Karena itu, peluang usaha dalam bidang ini masih terbuka lebar,” tulisnya. Pada bagian ini, penulis juga berbagi pengalaman menganalisis usaha mulai dari asumsi, biaya investasi, biaya operasional hingga pendapatan yang akan diperoleh dari bisnis ini. “Besarnya keuntungan yang diperoleh oleh peternak tergantung pada besarnya kapasitas ruang penetasan,” tegasnya.

Sudah barang tentu, pola hidup yang serba praktis saat ini juga diaplikasikan dalam penulisan buku terbitan AgroMedia ini. Ukuran yang minimalis sangat mudah dibawa ke mana-mana. Selain ukuran yang kecil, isi buku ini ditata sedemikian rupa sehingga mudah diterapkan di lapangan. Selamat membaca dan mencoba.Edoarbet

 

Judul               : Membuat Sendiri Mesin Tetas Praktis

Penulis            : Abdul Wakhid

Penerbit          : PT. AgroMedia Pustaka

Halaman         : vi + 78 hlm

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com