Waspada 2016

Kasus penyakit pada ayam cukup tinggi saat musim kemarau selama tahun 2015. Sehingga, peternak ayam harus lebih waspada lagi terhadap penyakit yang akan menyerang ayam di saat musim hujan, memasuki tahun mendatang.

Merebaknya penyakit IB-QX di beberapa daerah di Indonesia, cukup menjadi perhatian, karena memang kerugian yang disebabkan oleh penyakit ini sangat “menjengkelkan” yakni afkir individual. Menurut drh. Sigit Pambudi, Technical Departement Manager PT Romindo Primavetcom, mendiagnosa IB-QX berdasarkan gejala klinis seperti Pinguin dengan edema atau timbunan cairan yang luar biasa di oviduk. “Nah penimbunan cairan ini pasti bukan sesuatu hal yang tiba-tiba. Peternak terutama layer selama ini melihat IB-QX hanya pada saat produksi, padahal infeksinya sejak dari awal masa pemeliharaan pullet. Artinya, penguatan vaksinasi, program manajemen dan lain-lain dilakukan sejak awal pemeliharaan. Sejak masa-masa pullet harus diperketat,” ujar Sigit.

Sigit mengatakan, penyakit ini membutuhkan waktu yang agak panjang untuk timbul gejala klinis. Namun, jika ditemukan harus segera dilakukan afkir individual sepanjang masa pemeliharaan. “Jadi ketika ditemukan, ayam langsung dikeluarkan, supaya shedding virus tidak terus menerus terjadi,” ucapnya. Pengalamannya, ketika peternak melakukan afkir individual, tidak terjadi penularan ke flok-flok lain. Namun, ketika tidak dilakukan langsung dapat menyebar ke flok lainnya.

                Adapun  untuk mencegah penyakit tersebut, dengan melakukan vaksinasi IB live (aktif), 3 kali vaksinasi pada saat periode pullet yakni pada umur 1 minggu, sekitar umur 31-40 hari dan sekitar umur 70-80 hari. Jika killed (inaktif), biasanya dilakukan bersamaan ND, IB dan EDS.

            Sigit menerangkan bahwa IB-QX banyak ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. IB-QX mulai merebak di Indonesia sejak 5 tahun lalu, namun memang tidak banyak orang yang terlalu paham. Terjadi peningkatan, karena peternak sudah mengenal penyakit ini.

            Sebenarnya, proses isolasi dan identifikasi virus ini sangat sulit, dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa tanda-tanda yang ditimbulkna belum tentu QX. Tapi tidak sedikit juga yang menilai tanda-tanda yang diperlihatkan ayam yang terkena adalah QX, sudah khasnya seperti itu. “Ayam tidak sampai puncak. Baru menuju puncak tapi sudah mulai goyah. Seharusnya umur 24 minggu sudah mencapai puncak, tapi produksi mundur seminggu kemudian grafiknya di bawah standar. Dan sebelum puncak langsung turun lagi, nah jika tidak dilakukan afkir individual akan berlanjut terus setiap periode,” terangnya.

 

Riset terhadap IB-QX

            Ketika ditemui di kantornya di Gunung Putri Bogor (19/11), Yusman mengklaim bahwa Vaksindo merupakan perusahaan yang pertama kali mencetuskan permasalahan IB di Indonesia adalah hal yang penting, dan harus diakui bahwa tidak banyak riset yang dilakukan terhadap penyakit ini, cenderung stagnan dari tahun ke tahun. “Kita melihat masalah ini sudah lama sekali, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan. Selalu terpatri dalam pikiran bahwa IB serotipenya banyak sekali dan sulit untuk mengelompokkannya. Tetapi berangkat dari hal itu, kita mencoba mencari tahu,” ujar Yusman.

            Yusman mengatakan, Eropa sudah cocern jauh sebelum Indonesia, dan jika bicara Asia khususnya negara kita, Vaksindo melihat ini adalah musuh yang belum teridentifikasi dengan baik. Maka dari itu, sejak 2009 lalu Vaksindo mulai melakukan riset dan pada tahun 2010 mengeluarkan vaksin yang mengandung strain QX, di mana sediaannya masih dalam bentuk inaktif. “Produk kami diterima pasar, dan hampir 6 tahun ini responnya cukup positif. Namun tentu saja kami terus melakukan perbaikan di sana-sini, karena memang riset di IB ini tidak banyak yang dilakukan. Dan mungkin baru tahun ini produsen vaksin melakukan hal yang sama, karena memang sebenarnya kita bicara secara riil di lapangan, itulah yang terjadi,” terangnya.

            QX, lanjutnya, penyebarannya sangat cepat sekali karena viral disease. “Kami pernah melakukan suatu survei dari kantong-kantong peternakan ayam di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera. Survei yang kami lakukan secara serologis, melihat screening-nya hasilnya hampir semua area positif mengandung serotipe QX. Tapi kalau bicara berapa banyak yang terkena mungkin antara 2-5%, artinya jika kita tidak jeli melakukan diagnosa yang tepat, mungkin akan lewat. Karena biasanya peternak melihatnya ketika menjelang afkir, baru kelihatan buncit-buncit. Baru sadar kalau kondisi tersebut adalah penyakit IB-QX,” akunya.

            Yusman lanjut menerangkan, sementara ini memang Vaksindo masih fokus pada vaksin inaktif untuk Qx ini, karena memang konsep dasar dari vaksinasi IB adalah bagaimana kita memperkuat cellular immunitydan humoral immunity. Untuk cellular, pilihan vaksin yang tersedia di lapangan memang tidak begitu banyak, kebanyakan masih berkutat tipe klasik, tapi ada beberapa produsen yang mulai mengeluarkan tipe varian untuk vaksin aktif. “Untuk vaksin inaktif, karena kami melihat ini penting. Bicara di layer atau breeder, proteksinya lama dan panjang, dan ini tidak bisa di-cover dengan cellular immunity saja, tetapi harus dibutuhkan sistem humoral immunity yang tangguh. Vaksindo melakukan riset memang untuk melengkapi vaksin yang sudah ada,” jelasnya.

            Nah yang harus kita ingat, tambahnya, IB ini adalah penyakit yang menyerang di setiap umur, mulai DOC sampai masa hidupnya mempunyai peluang yang sama terinfeksi penyakit ini. Inilah yang menjadi dasar, kombinasi aktif dan inaktif memberikan proteksi di sana.

Namun, menurut DR. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si., Balai Besar Penelitian Veteriner (IRCVS) Badan Litbang Pertanian Kementan RI, memang secara gejala klinis, gejala yang mirip virus IB Qx diduga banyak ditemukan di lapang, namun sampai saat ini kami di bidang penelitian belum menemukan secara ilmiah pembuktian tentang adanya virus IB Qx di Indonesia baik secara molekuler/genetik dan koch postulate.

“Penelitian kami menemukan banyaknya varian-varian IB lainnya yang mirip dengan virus IB asal Taiwan atau China namun tidak memiliki kedekatan genetik dengan virus IB Qx.  Namun demikian sampai sekarang kami masih melakukan analisis terhadap virus-virus IB di lapang untuk mengetahui karakter dan profil virus IB yang bersirkulasi di Indonesia,” tuturnya.

Peluang terinfeksinya suatu peternakan ayam terhadap IB Qx, ujar Indi, tentunya tergantung dulu apakah virus ini telah bersirkulasi di Indonesia, jika belum dapat dibuktikan apakah virus ini telah bersirkulasi dan menyerang peternakan ayam di Indonesia tentu sangat sulit untuk mengetahui apakah vaksin yang beredar mampu mengatasi virus IB Qx ini, perlu penelitian dan kajian lanjutan.

 

Harus terus dipantau

            Perkembangan virus AI perlu dipantau secara kontinyu. Lilis mengatakan virus AI clade 2.1.3 dan 2.3.2 sudah menyebar di pulau Jawa, Bali Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sudah dikatakan pada sebelumnya bahwa selama 2015 terjadi peningkatan laporan kasus AI, terutama di musim kemarau padahal di tahun-tahun sebelumnya kasus AI dilaporkan trennya meningkat di musim hujan. “Penyebab hal ini diduga karena terjadi perkembangan/perubahan karakteristik virus AI, sehingga perlu diwaspadai,” tambah Lilis.

            Indi juga mengatakan, pada 2016 nanti AI masih menjadi prioritas. Virus AI yang bersirkulasi telah banyak mengalami mutasi. Berdasarkan penelitian kami, telah bersirkulasi virus H5N1 yang mengalami genetic drift (mutasi titik), genetik shift (percampuran genetik) antara virus H5N1 dengan virus AI lainnya , baik yang low pathogenic ataupun pencampuran genetik antara  clade virus H5N1 yang beredar di Indonesia dan juga virus AI low pathogenic lainnya.

Yang menjadi perhatian, menurut Indi, adalah beberapa metode sensitif yang banyak digunakan oleh laboratorium uji, baik milik pemerintah ataupun swasta yang digunakan seperti RT-PCR untuk mendeteksi penyakit AI terkini harus segera di-update, karena hasil penelitian kami membuktikan banyak primer (sekuen nukleotida  pendek) yang digunakan untuk mendeteksi virus H5 tidak dapat mendeteksi dengan baik banyak virus AI yang bersirkulasi di lapang. “Sehingga hasilnya menjadi false negatif, seperti negatif virus H5N1, namun sesungguhnya positif teridentifikasi virus H5N1.  Tentunya hal ini sangat membahayakan dalam mendiagnosa penyakit berbahaya seperti penyakit AI yang bersifat menular ke manusia (zoonosis),” akunya. “Kami menyarankan untuk menggunakan beberapa set primer dalam metode RT-PCR sebelum memutuskan sampel tersebut negatif AI,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, peluang masuknya virus AI dari luar Indonesia juga harus diwaspadai, serta hasil temuan temuan penelitian tentang host baru virus AI juga mungkin akan banyak terpublikasi sejalan dengan meningkatnya kapasitas atau kemajuan teknologi biologi molekuler yang dimiliki oleh Indonesia.Selengkapnya simak di Edisi Cetak Majalah Poultry Indonesia Desember 2015

- -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com