Waspada, Virus HPAI H5N8 Kembali Ancam Eropa dan Asia

POULTRY INDONESIA-- Akhir tahun 2016, wabah H5N8 pada peternakan unggas komersial merebak di Eropa yang disebabkan oleh adanya migrasi burung liar pada musim gugur dengan mortalitas yang lebih tinggi dari serangan pertamanya, dengan clade yang sama 2.3.4.4 pada tahun 2014-2015.

Dalam laporan European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC)  bulan Oktober hingga Desember 2016 tercatat bahwa telah terjadi outbreak HPAI H5N8 pada di 14 negara Eropa yaitu Perancis, Austria, Kroasia, Denmark, Jerman, Hungaria, Belanda, Polandia, Romania, Serbia, Finlandia, Swedia, Swiss dan Rusia. Sedangkan pada waktu yang sama negara-negara di luar Eropa seperti Iran, India, Israel dan Mesir juga melaporkan adanya kejadian ini. Tunisia dan Ukraina juga melaporkan adanya outbreak virus HPAI A (H5) yang diduga H5N8.

Virus H5N8

Tidak seperti H5N1, Virus Influenza A subtipe H5N8 adalah virus yang dikenal tidak terlalu patogen pada manusia namun sangat patogen pada unggas domestik dan unggas liar. Virus H5N8 adalah salah satu subtype Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) tipe A dengan mortalitas sangat tinggi pada unggas domestik dapat mencapai 100% dan indeks patogenisitas 3 pada ayam (Kim et al., 2013).

Seperti yang ditemukan pada outbreak yang terjadi di Korea Selatan di tahun 2014, kemampuan virus ini untuk tidak menimbulkan gejala klinis pada burung liar (subklinis) meningkatkan risiko penyebaran dan outbreak avian influenza melalui migrasi burung saat pergantian musim. Bebek domestik dan liar biasanya tidak menimbulkan gejala klinis namun menjadi carrier atau pembawa virus H5N8.

Hemmaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA) yang ditemukan pada virus yang menyerang Jerman di tahun 2016 mengindikasikan bahwa virus H5N8 ini berbeda dengan yang ditemukan di Eropa tahun 2014 dan 2015 namun masih dalam satu grup clade 2.3.4.4 dan dilaporkan adanya perubahan genetik pada virus H5N8. Virus avian influenza yang merupakan virus RNA dari keluarga Orthomyxoviridae yang memiliki sifat antigenic shift dan antigenic drift.

Kedua sifat ini dimiliki virus influenza tipe A yang memudahkan virus AI ini mudah berubah dan bermutasi dimana antigenic shift dapat mengakibatkan perubahan total gen penyandi HA dan NA sehingga bisa terjadi rekombinasi antara varian AI. Sedangkan antigenic drift dapat menyebabkan mutasi pada gen yang menyandi glikoprotein HA dan NA sehingga sistem imun host lebih susah merespon virus.

Awal munculnya H5N8 di Ireland

Outbreak pertama H5N8 terjadi di Irlandia pada tahun 1983 (Murphy, 1986). Pada outbreak ini virus H5N8 menyerang ayam kalkun dengan mortalitas tinggi dengan gejala klinis nafsu makan turun, depresi, diare, dan gangguan syaraf. Pada outbreak ini didapatkan dua isolate yaitu isolat kalkun A/turkey/Ireland/1378/83 (H5N8)  dan isolat bebek A/duck/Ireland/113/84 (H5N8), di mana telah dikonfirmasi bahwa kedua virus yang diisolasi di Irlandia ini menyebabkan penyakit dan kematian pada ayam, kalkun, burung puyuh, namun tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali pada bebek (Swayne, 2009).

Munculnya kembali H5N8

Setelah outbreak di tahun 1983 tidak ada laporan kasus H5N8 hingga ditemukan lagi 2001 pada burung liar di New Jersey, Amerika, saat dilakukan monitoring lingkungan. Outbreak yang besar di Asia ditemukan di Korea pada Januari 2014 yang diawali dari kasus yang terjadi di Tiongkok Timur pada tahun 2010 dimana virus H5N8 Asia yang ditemukan berbeda dengan virus Amerika. Virus yang menyerang Asia merupakan hasil dari re-assortment (penggabungan) segmen virus dari H5 dengan subtype yang lain seperti H5N1, H5N5 dan subtype yang mengandung N8, dimana bukan merupakan evolusi dari H5N8 yang terdahulu ( Lee et.al, 2014; Zhao et. al., 2013).

Pada tahun 2014, Korea memusnahkan lebih dari 10 juta unggas atau 6% dari total populasi unggasnya. H5N8 juga dideteksi pada November 2014 di Eropa di mana terjadi outbreak pada peternakan di Belanda, Jerman, dan Inggris. Pada saat yang bersamaan virus ini juga terdeteksi pada peternakan unggas dan unggas liar di Jepang. Penelitian Dalby dan Iqbal (2015) juga menunjukkan kemungkinan sumber dan rute penyebaran H5N8 di Eropa dan Jepang pada bulan November dan Desember  2014 berasal dari satu populasi yang sama dan dimungkinkan karena adanya migrasi burung liar.

Pada bulan Oktober 2016 kasus H5N8 pertamakali dilaporkan pada angsa liar di Hungaria, diikuti oleh laporan outbreak pada unggas komersial dan unggas liar di Austria, Hungaria dan Jerman, Kroasia, Denmark, Polandia dan Swiss. Masih belum diketahui secara pasti bagaimana HPAI H5N8 yang dibawa oleh burung liar menyerang ke unggas komersial pada peternakan-peternakann indoor close house di Eropa pada tahun 2016, terlebih lagi penyebaran terjadi pada negara-negara Eropa  yang berjauhan secara geografis.

Pada bulan November 2016, kejadian H5N8 kembali muncul di Belanda pada unggas liar dan unggas di kebun binatang diikuti pada tanggal 26 November 190.000 bebek di musnahkan dari 6 peternakan. Kasus H5N8 juga dilaporkan di India, Israel, Korea Selatan, Taiwan dan Rusia.

Kejadian H5N8 terus merebak, Ireland kembali diserang H5N8 pada Desember 2016 tepatnya di sebuah peternakan dekat Tetney, Louth (tempat di mana outbreak pertama muncul) di Ireland. Outbreak pada bulan Desember 2016 ini menyebabkan kematian dan pemusnahan 5.000 ekor kalkun. Akhir bulan Desember 2016 outbreak H5N8 juga terjadi kembali di Korea Selatan, Jepang, Jerman dan United Kingdom.

Jerman melakukan pemusnahan massal pada ribuan unggas untuk menyetop penyebaran. Korea Selatan sendiri telah memusnahkan 18.4 juta unggas hingga Desember 2016 sejak laporan pertama di bulan November. Jepang telah melaporkan 5 outbreak sejak akhir November dengan total sekitar 800 ribu ayam dimusnahkan dalam satu bulan.

Pencegahan dan penanganan

Di Indonesia sendiri belum ada laporan resmi mengenai H5N8 namun, perlu adanya kewaspadaan terhadap HPAI H5N8 yang mungkin bisa muncul, bukan hanya dari migrasi namun dari re-assortment virus H5 subtipe yang lainnya. Pencegahan bisa dilakukan dengan memperkuat biosecurity dan vaksinasi. Biosecurity sangat penting untuk mencegah challenge masuk, baik H5 subtipe yang sudah ada maupun yang baru.

Dengan memperkuat biosecurity tidak ada kesempatan virus masuk, bereplikasi dan bermutasi di dalam flock. Pihak-pihak berwenang juga harus meningkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan laju keluar masuk unggas dalam dan luar negeri untuk mencegah masuknya H5N8 ke Indonesia.

Risiko zoonosis dari penyakit untuk menular ke manusia ini tergolong rendah namun apabila melihat sejarah evolusi gene HA pada virus H5N1, orang-orang yang memiliki kontak langsung pada unggas atau karkasnya seperti dokter hewan, peternak, dan pekerja kandang memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi. Melihat kemungkinan terjadinya risiko zoonosis (penularan dari hewan ke manusia atau sebaliknya), perlu adanya kolaborasi dan komunikasi dari bidang kesehatan masyarakat dan veteriner yang berwenang untuk membuat rencana pencegahan dan kontrol AI pada unggas dan burung untuk mencegah adaya infeksi.

-  drh. Istianah Maryam Jamilah -

Our Partners

Our Instagram

Our Pages

Contact Us

Address:
Komp. Mangga Dua Square Blok E. No. 23, Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 Jakarta 14430 - Indonesia

Phone: +62 21 62318153

Fax: +62 21 62318154

Email:
redaksi@poultryindonesia.com
advertisement.poultryindonesia@gmail.com
sirkulasi@poultryindonesia.com
promo.poultryindo@gmail.com