Salah satu perusahaan ternama di industri nutrisi dan kesehatan hewan, PT DSM Nutrition Indonesia menyelenggarakan seminar “Sustainable Growth in The Post AGP Era” yang berlangsung di Hotel Mercure Serpong Alam Sutera dan JW Marriott Surabaya, berturut-turut pada 27 – 28 Februari 2018. Seminar ini membahas mengenai alternatif pengganti AGP dengan pendekatan baru, yaitu melalui penggunaan kombinasi enzim dan eubiotik.
Jason Park, General Manager DSM Indonesia, dalam sambutannya menjelaskan poin-poin penting dalam meningkatkan performa hewan, yaitu genetik, manajemen, kesehatan, dan nutrisi. “Kami ingin membagi pengetahuan kami untuk mencari solusi pengganti AGP,” ucap Jason. Sementara itu, Rika Riantika, National Sales Manager PT DSM Nutrition Indonesia mengatakan, DSM telah menyediakan eubiotik dan enzim yang produknya sudah hadir di Indonesia. “Untuk hasil lebih optimal, semua itu juga harus diikuti oleh manajemen dan biosekuriti secara ketat,” ujarnya.
Peserta seminar yang hadir kali ini tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta dan Surabaya, tetapi datang pula dari berbagai daerah di Indonesia. Selain agenda seminar, di akhir acara juga terdapat pembagian door prize dengan hadiah menarik, seperti produk enzim DSM, TV hingga smartphone.
Perkembangan genetik ayam modern
Tony Unandar, private poultry farm consultant, dalam pemaparannya menjelaskan mengenai perkembangan genetik pada ayam modern. Setelah dilakukan penelitian yang memakan waktu bertahun-tahun, tepatnya pada akhir tahun 2000, para ahli menemukan gen penting pada ayam, yaitu gen yang bertanggung jawab pada metabolic competent sebagai penentu kecepatan metabolik di tingkat sel. “Pada tahap ini perkembangan genetik ayam sudah melibatkan matrial genetik, sehingga kita tahu bahwa ayam modern bukanlah rekayasa genetik,” ungkapnya.
Kesehatan saluran pencernaan sangat penting bagi ayam modern, seperti gastrointestinal (GI) tract yang berperan untuk menerima makanan dan membantu dalam penyerapan nutrisi. “Perkembangan GI tract yang baik sejak awal mampu mencapai efisiensi pakan,” pungkas Tony.
Permasalahan pada GI tract yang paling banyak ditemukan salah satunya akibat faktor lingkungan terutama ketika kondisi heat-stress. “Apalagi jika dikaitkan dengan pada kondisi AGP-free seperti saat ini, maka sangat penting meningkatkan penjagaan pada kesehatan,” ujar Tony. Ia juga menekankan agar meningkatkan peran mikroflora dalam saluran pencernaan yang salah satunya berfungsi memperlambat pertumbuhan patogen.
Penggunaan eubiotik
Di sisi lain Dr. Rolando Valientes, Regional Category Manager – Eubiotic, Asia Pacific berbicara mengenai pendekatan terpadu AGP-free dalam produksi unggas, diantaranya membahas peran manajemen dan nutrisi terhadap kesehatan hewan.
Selain manajemen dan nutrisi, ia mengatakan bahwa untuk mencapai kesehatan hewan juga perlu didukung dengan biosekuriti yang ketat baik di eksternal maupun internal dan perlunya melakukan biocheck atau sistem penilaian. Vaksinasi dan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab juga mempengaruhi kesehatan hewan.
Mengacu dari hal tersebut, Rolando memperkenalkan konsep baru untuk menghadapi AGP-free, yakni dengan menggunakan eubiotik. Eubiotik merupakan produk non-antibiotik yang bisa menjaga kesehatan dan performa hewan dengan memodulasi flora usus. Eubiotik bisa berbentuk produk tunggal atau kombinasi seperti asam organik, komponen essential oil ditambah dengan asam benzoat dan probiotik.
Kombinasi asam benzoat dan essential oil kemudian dikembangkan oleh DSM sehingga menghasilkan produk CRINA® Poultry Plus (CPP). “Eubiotik dapat digunakan sebagai alat untuk menggantikan antibiotik dan membantu untuk memproduksi daging ayam yang aman,” ujar Rolando.
Suatu percobaan dilakukan dengan menggunakan eubiotik pada broiler dan layer di Brasil dengan tantangan kepadatan tinggi, kontaminasi air minum, dan pakan tanpa antikoksidia dan fitase. Hasilnya, CPP terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan ayam yang cukup signifikan dan memperbaiki feed conversion ratio (FCR) dibandingkan dengan menggunakan AGP.
Kombinasi enzim

Demonstrasi untuk menggambarkan cara kerja enzim dalam usus.
Alternatif pengganti antibiotik lainnya yang umum digunakan oleh industri peternakan adalah enzim. Salah satu permasalahan yang cukup krusial adalah adanya kandungan non-starch polysaccharide (NSP) dalam bahan baku yang memiliki kadar berbeda-beda sehingga membutuhkan enzim untuk membantu penyerapan nutrisi dari pakan tersebut.
David Zhu, MSc., Ph.D., Regional Technical Manager (Enzymes) DSM Nutrition Products, Asia Pacific dalam pemaparannya mengatakan, NSP yang soluble dapat menyebabkan viskositas tinggi. Tingginya viskositas ini dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri berlebih dalam usus proksimal.
RONOZYME® MultiGrain dari DSM berbentuk granule thermostabile meskipun dalam pemanasan lebih dari 90°C dimana lapisan granule dengan enzim didistribusikan di dalam core matrix. Enzim ini juga bisa diterapkan pada berbagai bahan baku, seperti jagung, dedak padi, DDGS (Destillers Dried Grains with Solubles), dan lainnya.
Percobaan telah dilakukan di Inggris untuk menguji performa broiler. Secara scientific efek RONOZYME® MultiGrain telah terbukti memiliki manfaat yang menguntungkan. “Mampu menurunkan viskositas, lebih mudah dalam penyerapan nutrien, memperlambat pertumbuhan bakteri, hingga menghidrolisis insoluble NSP,” jelas David.
Di balik produk yang unggul terdapat proses pembuatan dan pengembangan yang kompleks. Visualisasi pengembangan RONOZYME® MultiGrain ini digambarkan oleh Ninfa Rangel Pedersen, Ph.D., selaku Science Manager, Novozymes.
DSM dan Novozyme bekerja sama sejak 20 tahun lalu untuk mengembangkan produk nutrisi hewan. “Kami membawa inovasi yang signifikan kepada industri agar bisa mendapatkan manfaat lebih dan mencapai efisiensi pakan, kami berkomitmen tentang itu,” ujar Ninfa.
Visualisasi secara mikroskopi dilakukan untuk melihat aktivitas enzim di dalam bahan pakan. Ninfa juga menunjukkan banyaknya data berbentuk visual dari hasil mikroskopi yang menunjukan kandungan yang yang terdapat dalam bahan baku pakan.
Peran enzim pada kesehatan hewan
Sementara itu, Dr. Phang Siew Chung, Regional Technical Manager – Poultry, DSM Nutritional Products – APAC, menjelaskan mengenai enzim dalam pakan dan seputar kesehatan usus hewan. Ia juga memaparkan, pendekatan terpadu perlu dilakukan karena masalah kesehatan hewan multifaktorial.
“Permasalahan yang kompleks diatasi dengan solusi yang kompleks pula, tidak bisa dengan intervensi tunggal,” ujar Phang. Untuk itu, solusi mengontrol kesehatan adalah dengan mengkombinasikan usaha dari manajemen, nutrisi pada pakan, strategi penggunaan additive, dan vaksinasi. Ia melanjutkan, hanya melalui sinergi tersebut hewan akan mampu mencapai kesehatan secara optimal.
Jajaran produk enzim dan eubiotik dari DSM telah terbukti mampu menjadi solusi dan telah digunakan secara global, seperti Enzim RONOZYME®HiPhos, RONOZYME® ProAct, RONOZYME® MultiGrain, RONOZYME® AX, dan RONOZYME® HiStarch HiStarch serta Eubiotik CRINA® Poultry Plus, Vevovital dan Cylactin. Setelah penghapusan AGP, penggunaan enzim dan eubiotik dapat menanggulangi risiko yang bisa terjadi pada produksi ternak. Adv